Langsung ke konten utama

Postingan

Kasta Pembaca

Berhubung target nulis saya sudah terpenuhi semalam, saya mau nulis sesuatu yang agak sedikit berfaedah. Iya, bener, selama ini tulisan-tulisan saya di blog, di platform, enggak semuanya berfaedah. Kalaupun ada yang udah diterbitin, berarti itu keberuntungan yang disengajakan Tuhan. Bleh! Oke, pembuka ini ngelantur bener. Haha
Jadi ceritanya topik tulisan ini sudah mau saya posting sejak pembicaraan personel DK dan alumni kekom beberapa bulan yang lalu, tapi berhubung saya orangnya sering omong doang, artikel itu baru terealisasi sekarang. Kami waktu itu sedang membahas tentang komentar pembaca tulisan kami di berbagai platform kepenulisan. Tipikal komentar pembaca kan macem-macem, ada yang kejam sekali kayak ibu tiri, ada yang mau ngekritik pedas tapi mancing dulu pake pertanyaan, ada yang manis banget kayak es krim. Dengan adanya keberagaman gaya komentar ini, kami memunculkan istilah baru dalam dunia pembacaan tulisan dengan istilah ‘Dedek Gemes’. Istilah umumnya Dede Gemes ini ad…
Postingan terbaru

23:49- 04:53

23:49 Bram tiba-tiba bangun, padahal baru sekitar dua jam yang lalu matanya berat, lelap lenyap. Kesadarannya terseret, dipaksa masuk dan terjebak di dunia tempat Freddy Krueger—si jelek keriputan yang doyan menclok di lampu merah, mengganggu orang buta tak berdaya dengan cakar besi hadiah natalan dari santa sebelum dia tercatat sebagai anak bandel dari tahun ke tahun—berada. Mungkin.
Bram bangkit, merayap mencari minum, menyalakan rokok lalu berjalan malas ke kamar mandi.

Hujan masih berjatuhan riang di tanah terkutuk sekitar, dibungkus gelap dan dingin yang tak peduli. Saat ini tempat kos-kosan 3x4 Bram bagai antartika berdebu yang penuh dengan tikus kutub dan kecoa kutub. Temannya, Anoa Kutub sedang pulang ke rumah yang jaraknya hanya satu setengah jam menggunakan motor. HOMSWITHOM. Ia mudik rutin dua kali seminggu untuk sekedar menyetor durja dan mengabarkan bahwa dia layak disebut ‘masih hidup’ oleh ibunya yang over protective. Atau mungkin ibunya hanya ingin menunjukan kekuasaan…

Kelir Slindet - Review

Saya lihat buku ini di dalam ralam rak bacaan salah satu teman di goodread.com.
Menarik, dari segi judul. 
Entah apa arti dari frasa tersebut, sampai sekarang saya masih belum tahu. Saya hanya tahu arti kata 'kelir". Yang pertama, berarti latar putih dalam pagelaran wayang kulit. Arti kedua adalah warna. Sedangkan arti kata "slindet" sendiri saya tidak tahu.

Novel ini mengambil latar tanah Indramayu. Terus terang saya tidak tahu bagaimana rupa daerah tersebut, tetapi dari pendeskripsian latar yang baik, saya bisa membayangkannya. Yang menarik dari novel ini adalah pemilihan diksi. Kata-kata daerah yang dipakai asing di telinga, tetapi mengasyikkan untuk dibaca. Telembuk, adalah kata yang terngiang di telinga saya sepanjang saya membaca. Artinya adalah pelacur. 

Penulis rupanya mengerti, bagaimana mengikat pembaca pada ceritanya. Seks, tidak yang lain. Entah mengapa, jika berhubungan dengan selangkangan, manusia seperti terpaku di tempat, enggan ke mana-mana, dan penulis…

Thirty Things I Want To Do

Satu lagi buku antologi cerpen terbit di awal 2018! Buku ini berisi tiga puluh kisah menarik yang katanya cocok untuk kado hari kasih sayang, yang (katanya lagi) jatuh di tanggal 14 Februari.

Tiga penulis Dimensi Kata ikut andil di dalamnya; Narazwei, Tutut Laraswati, dan Johanes Jonaz. Sebenarnya, kumpulan cerpen ini adalah ide iseng Johanes Jonaz yang gaya-gayaan ikut kuis #30thingsIWantToDo dari internet. Idenya adalah menuliskan tiga puluh kegiatan yang akan dilakukan dalam tiga puluh hari secara spontan. Ia sudah berhasil menulisnya dalam blog pribadi, satu kegiatan setiap hari, selama tiga puluh hari.

Nah,  sebagai sebagai penulis yang juga aktif di platform kepenulisan storial.co, ia melempar ide ini kepada penulis lain. Tentunya dalam format berbeda. Ia menantang untuk mengembangkan tiga puluh ide yang sudah ia tentukan menjadi tiga puluh cerita fiksi. Dari situ, terkumpul dua puluh penulis yang ikut dalam proyeknya.

Pada suatu hari, penerbit Histeria tertarik untuk mencetak …

Resep Cupcake Sederhana Tanpa Dilan

Ini bukan Dilan yang romantis, yang membuat jantung hati dedek gemes ketar-ketir. Bukan pula Romeo yang rela menenggak racun demi Juliet, atau Jack yang bersedia kedinginan dan tenggelam demi keselamatan Rose. Ini hanya buku sederhana berjudul Monyet Cokelat.


Tuhan, Selamatkan Aku

Tuhan, selamatkan aku dari perawan-perawan yang sok kesepian, dari janda manis yang senantiasa resah,  dan dari gemulainya sikap istri tetangga yang jarang pakai kutang.
Andai cinta senihil itu, mungkin sudah kubagi potongannya dengan Irma, SPG sabun colek yang bodinya sepanas kos-kosan tigaratus ribu rupiah tanpa putaran kipas di barat Jakarta. Atau Ririn, pegawai kantoran yang rajin luluran dan minum obat pelangsing tiap subuh, dan Trias yang super cantik, kulit mulus bak malaikat dan mata yang sanggup berkali-kali menenggelamkan rasionalitas, tapi otaknya sedangkal comberan depan restor Western itu.
Cinta dan realitasnya adalah hitung-hitungan pengorbanan, pamrih dan perjuangan, lantas semua itu equivalent-nya adalah taik anjing berkalkulasi. Hakikatnya hanya soal kesepian dan keresahan yang tambah dalam.
Lalu keresahan lain muncul ketika telat datang bulan. Dasar amatiran!


Z, 2010

Minggu [Puisi]

Mungkin Tuhanmu mengenalku Berbingkai doa hari minggu Di sudut bibirmu yang rekat Di dekat nasib yang tertulis
Tanpa namaku