Langsung ke konten utama

Postingan

Pengkritik Bodoh dan Penulis Pintar

Aku hampir saja menjatuhkan pisang goreng yang sudah kudinginkan dengan udara mulut saat Aiza tiba-tiba berteriak. Bukan hanya mengeluarkan suara melengking dari mulutnya, ia juga mengebrak meja, menggeser piring dan alas gelas beberapa inci dari posisi semula. Untungnya, kopi dan teh yang masih sisa separuh itu tidak tumpah. Aku masih selamat dari pekerjaan membersihkan meja dan membuat lagi larutan penyeimbang pisang goreng tersebut.
Belum sempat aku bertanya dan mengetahui apa yang terjadi, kesepuluh jari Aiza telah menari-menari di atas tuts laptop. Macam orang kesurupan, ia mengetik baris-baris kalimat dengan wajah ganas. Jika saja aku berubah menjadi pisang goreng sekarang, ia pasti akan langsung melahapku. Betapa nikmatnya jika itu terjadi.
"Kayanya aku harus berhenti nonton bokep deh," kataku, tapi Aiza tidak mendengarkan. Ia masih sibuk mengetik sesuatu yang tidak bisa kulihat. "Kau sedang apa?" Lagi-lagi pertanyaanku terabaikan. Layaknya dedaunan cokelat…
Postingan terbaru

fakta dan trik seputar menulis daring

Teknologi mengubah kehidupan. GImana? Setuju nggak? Ada yang tidak setuju? Sini saya lempar ke Timbuktu. 
Saya lihat kenyataannya pada rumah emak di desa. Saat liburan sekolah, saya sering 'dibuang' ke sana. Mungkin, pikir ibu saya, ini bisa mengurangi kerepotannya mengurus kebadungan saya. Ya, karena libur saya jadi kurang kegiatan dan semakin usil.
Di rumah emak, saya sering disuruh nemenin sepupu ke hutan untuk mencari ranting dan dahan kering untuk kayu bakar.  Pekerjaan ini sungguh mengasyikkan. Rasanya, seperti ikut bocah petualang. Kami bisa seharian penuh di hutan. Mencari kayu bakarnya sih cuman sebentar, yang lama adalah mencari sarang burung dan mandi di kali. 
Sesampai rumah hari sudah gelap. Kami berdua yang masih basah kuyup dan kedinginan menghangatkan diri di perapian sambil mendengarkan omelan nemak. "Seharusnya, kalian tidak menyentuh air setelah jam dua siang, jadinya seperti ini kan? Kedinginan! Lalu, bagaimana nanti kalau hujan dan ada banjir bandang?&qu…

Gadis Kretek - Review

Sinopsis Gadis Kretek karya Ratih Kumala.
Pak Raja sekarat. Dalam menanti ajal, ia memanggil satu nama perempuan yang bukan istrinya; Jeng Yah. Tiga anaknya, pewaris Kretek Djagad Raja, dimakan gundah. Sang Ibu pun terbakar cemburu terlebih karena permintaan terakhir suaminya ingin bertemu Jeng Yah. Maka berpacu dengan malaikat maut, Lebas, Karim, dan Tegar, pergi ke pelosok Jawa untuk mencari Jeng Yah, sebelum ajal menjemput sang Ayah.
Perjalanan itu bagai napak tilas bisnis dan rahasia keluarga. Lebas, Karim dan Tegar bertemu dengan buruh bathil (pelinting) tua dan menguak asal-usul Kretek Djagad Raja hingga menjadi kretek nomor 1 di Indonesia. Lebih dari itu, ketiganya juga mengetahui kisah cinta ayah mereka dengan Jeng Yah, yang ternyata adalah pemilik Kretek Gadis, kretek lokal Kota M yang terkenal pada zamannya.
Apakah Lebas, Karim dan Tegar akhirnya berhasil menemukan Jeng Yah?
Gadis Kretek tidak sekadar bercerita tentang cinta dan pencarian jati diri para tokohnya. Dengan latar Ko…

LITERASI MELAWAN KORUPSI

Pergike pasar sambil menari Jangan lupa membeli selada Ayokawan galakkan literasi Korupsi tiada, Indonesia jaya
Sebaitpantun itu mungkin bukan sesuatu yang wah untuk mengambarkan betapa Indonesia butuh melek aksara alias literasi, untuk menangkal korupsi dan menjadi negara yang jaya. Semua orang tentu akan merasa greregetan, bahkan kesal jika melihat ada orang yang melakukan korupsi. Korupsi bukan hanya menjalar di lingkup pejabat saja, bahkan lingkup masyarakat pada umumnya. Lalu apa hubungannya dengan literasi ?... Sanggupkah literasi melawan korupsi? Lalu apa itu definisi korupsi dan apa itu definisi literasi?
Korupsi atau rasuah (bahasa Latincorruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok) adalah tindakan pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, serta pihak lain yang terlibat dalam tindakan itu yang secara tidak wajar dan tidak legal menyalahgunakan kepercayaan publik yang dikuasakan kepada mereka untuk mendapatkan keunt…

Orang-orang Proyek - Review

Orang-Orang Proyek Ahmad Tohari



Novel garapan Ahmad Tohari ini bisa dikategorikan sebagai novel hasil reformasi. Yang saya tahu, novel ini ditulis bulan Mei 2001, cetakan pertama dibuat di tahun 2002, empat tahun setelah runtuhnya feodalisme ORBA. Dibuka dengan obrolan antara Kabul, si tokoh utama, dengan Pak Tarya yang gemar memancing, Ahmad Tohari mengetengahkan cerita penuh intrik dan kebusukan pemerintah kala itu melalui objek sebuah pembangunan jembatan yang katanya hanya proyek akal-akalan menjelang pemilu. 
Kabul, yang memimpin proyek pembangunan jembatan tersebut, adalah seorang insinyur yang idealis. Dalam pelaksanaannya, pembangunan dikotori oleh praktik-praktik tidak sehat yang bertentangan dengan nilai yang dianutnya. Dimulai dengan tender proyek yang dimenangkan oleh anak pejabat kader partai penguasa, lalu dijual pada kontraktor tempatnya bekerja. Proyek itu terus dirongrong oleh pemegang kekuasaan. Dati tuntutan untuk menyelesaikan jembatan sebelum perayaan ulang tahun par…

Pria Berpayung Hitam

Saat hujan turun, keanehan itu terjadi.
Biasanya aku menunggu saat-saat tersebut di balik jendela yang berhadapan langsung dengan halaman depan. Menunggu, sambil menyesap secangkir kopi hangat dan membaca buku. Lantas menghentikan semua prosesi membosankan tersebut saat ia, melintas di depan rumah dengan pandangan menerawang entah kemana.

Ia seorang laki-laki. Wajahnya selalu nampak sedih. Tubuhnya tak pernah basah meski hujan mengguyurnya sederas apapun. Seolah ada payung gaib di atas kepalanya, atau cangkang tak kasat mata membungkus badannya. Jujur, aku tidak pernah tahu siapa nama dan darimana asalnya. Padahal seringkali aku bermimpi pernah bertemu dengannya, di suatu tempat, dengan rentetan gambar yang tidak jelas: gang sempit, tangan-tangan, jas hujan kuning, dan kursi roda.

Seringnya, laki-laki aneh itu akan berdiri di tengah jalan yang tak pernah ramai. Mendongak, seolah berkabung pada langit yang tak mau menyentuhnya. Banyak orang telah menegurnya, tapi setelah itu banyak pula…