Langsung ke konten utama

Postingan

PUISI “AKU INGIN” SAPARDI DJOKO DAMONO

PUISI “AKU INGIN” SAPARDI DJOKO DAMONO
AKU INGIN Karya: Sapardi Djoko Damono Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. (1989)
Salah satu puisi dari Sapardi Joko Damono dari manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” adalah puisi “Aku Ingin.” Puisi angkatan 66 ini cukup singkat dan bermakna namun bisakah kita menemukan kejanggalan dalam puisi ini? ---------- Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
Hujan adalah “masa depan” awan. Awan adalah “cikal bakal” hujan. Yang menjadikan awan tiada sebagai awan dan mengada sebagai hujan bukanlah hujan itu sendiri, melainkan variable-variabel lainnya, misalnya angin, gunung yang ditabrak awan sehingga awan tadi terberai menjadi hujan, perbedaan suhu, atau kuantitas uap air yang terkumpul …
Postingan terbaru

TIPU-TIPU PENULIS MULA

"Tolong belikan dulu mama pulsa Simpati 50 ribu di nomor baru mama. 081219333344. Sekarang ya! Penting. Mama sekarang di rumah sakit. Nanti mama ganti uangnya."
"Ini Bapak, tolong belikan pulsa dua puluh ribu karena Bapak lagi ada masalah di kantor polisi. Jangan telepon/ sms, nanti Bapak yang telepon."

Kalau ada sms semacam di atas, kalian pasti sudah bisa nebak si pengirim sms niatnya mau apa. Kalau dulu sih, saya diamkan, tapi kalau lagi kesel saya jawab: "Makmu ndangak!"

Zaman sekarang apa pun bisa digunakan untuk cari duit. Lupakan halal dan haram sejenak, kita fokus duit dan bisnis. Menipu tidak lagi menjadi mata pencaharian para kriminal, tetapi juga pelaku bisnis. Lahannya pun bukan lagi yang umum, semisal MLM yang bisa merambah golongan apa pun; kere, kaya, sehat, sakit, berpendidikan, profesional, dan lain sebagainya. Dunia menulis pun yang peminatnya tidak terlalu banyak bisa menjadi objek tipu-tipu.
Beberapa waktu yang lalu saya dicurhati teman in…

Pulang Kampung Bersama Api Awan Asap (sebuah review)

Api Awan Asap adalah salah satu pemenang sayembara DKJ pada tahun 1998, menduduki posisi ketiga (tempat pertama dikuasai Saman). Mengingat kekisruhan dan segala camuh di Ibu Kota, rasanya menakjubkan sayembara ini masih bisa berlangsung—dan saya menemukan bukunya untuk mengenang.
1998 adalah tahun yang istimewa. Sebagai tahun kelahiran, tahun kampung saya dijajahi tangan-tangan ‘orang luar’, dan tahun bencana kabut asap pertama kali muncul di bumi Tambun Bungai.
Api Awan Asap bercerita tentang suku Dayak Banuaq dan kisah cinta segitiga antara Jue, Nori, dan Sakatn. Kedua konflik ini—seperti minyak dan air—terpisah walau berada dalam satu mangkok yang sama. Cerita bermula dari upacara Nori dan Sakatn. Setelah 20 tahun menunggu, saling tarik-ulur pernyataan cinta, dan akhirnya prosesi lamaran yang alot: akhirnya kedua sejoli itu memutuskan menikah dengan berbagai syarat.
Namun tiba-tiba, Pune—anak perempuan Nori—terjerembab dalam sebuah lobang yang dalam hingga sajen darah kerbau di tangan…

Bukan Cara Menanggapi Komentar Pembaca

Minuman kami belum setengahnya tandas saat ia bertanya: "Bagaimana menanggapi komentar dalam tulisan kita?".

Tingkatan Penulis Menurut Stephen King

Beberapa waktu lalu saya kebetulan membaca sebuah buku kecil dari novelis populer Amerika, Stephen King. Judulnya On Writing. Buku ini bukan karya fiksi, melainkan sebuah memoar sekaligus uraian tentang menulis. King menulisnya sebagai sebuah terapi, untuk menghadapi trauma. Sebelumnya, ia mengalami kecelakaan. Ia tertabrak oleh sebuah van ketika tengah berjalan-jalan di suatu sore.

[Mini Review] Novel Karung Nyawa

Karung Nyawa adalah novel horor-misteri lokal yang digarap dengan apik oleh Haditha. Tak main-main dengan konsep lokal yang diusungnya, bahkan penamaan bab pun menggunakan ejaan hitungan Jawa.  Dialog-dialognya kental dengan bahasa Jawa logat sehari-hari, renyah, tapi juga langsung tembus ke masalah, jadi ngalir banget. 
Berikut ini adalah kesanku setelah membaca Karung Nyawa karya Haditha.

Kasta Komentar Pembaca Cerita Daring

Pada tulisan sebelumnya yang ditulis oleh Tutut Laraswati, sudah dijereng artikel tentang pembagian kasta pembaca. Nah, kali ini saya mau ngelanjutin tulisan Tutut dengan tipe-tipe komen pembaca. 
Seiring dengan berkembangnya teknologi, media kepenulisan daring semakin banyak. Sebut saja Wattpad, Storial, Webnovel, Figment, Penana, Bookslife, dan lain sebagainya. Lambat laun, kepopularan buku cetak semakin dikejar oleh buku-buku daring. Selain lebih praktis dan ramah lingkungan, media daring juga menjanjikan lahan untuk meraup rupiah dari tulisan kita. Media daring pun lebih longgar. Sebuah karya tulis bisa langsung aja nyelonong terbit, tanpa lewat pintu editor dan seleksi yang ketat. Ini yang membuat mutu tulisan daring lebih rendah. Karena saringannya jebol, maka banyak tulisan tampil bugil apa adanya. Jadi, jangan heran kalau menemukan tulisan yang (sorry to say) bikin mata sepet hanya dengan membaca paragraf pertama.
Sama seperti penulis luring, penulis daring pun punya fans yang b…