ADG - Gadis yang Memelihara Hujan di Kamar Mandi

 


 

Sebuah piano memiliki sekitar 230 senar yang ditarik dengan tegangan total mencapai 20 ton. Itu adalah monster mekanis yang tidur di dalam peti kayu yang elegan. Jika dibiarkan sendiri, monster itu akan memberontak. Kayu akan melengkung, felt (kain laken) akan mengeras, dan senar akan melonggar karena entropi alami. Tugasku adalah datang, membawa tas kulit berisi kunci stem dan garpu tala, lalu memaksa monster itu kembali tunduk pada hukum fisika dan harmoni.

Panggilan itu datang pada hari Kamis sore. Sekretaris dari perusahaan penyedia jasa stem piano tempatku bekerja memberiku secarik kertas post-it berwarna kuning.

“Apartemen The Langham, Lantai 27. Unit 2704. Grand Piano Steinway Model B. Keluhan: Suaranya terdengar basah.”

“Basah?” tanyaku. “Maksudnya muffled (redam)?”

“Klien bilang basah, Damar. Dia bersikeras dengan kata itu. Dia bilang nadanya seperti direndam air.”

Aku mengangkat bahu. Orang kaya sering menggunakan metafora yang buruk untuk menjelaskan hal teknis. Aku memasukkan peralatan ke dalam tas, lalu berangkat.

Gedung apartemen yang kudatangi adalah jenis tempat di mana udara di lobinya berbau uang lama dan disinfektan mahal. Lift membawaku naik dengan kecepatan yang membuat telingaku meletup pelan. Lantai 27. Lorongnya sunyi, dilapisi karpet tebal yang menelan suara langkah kakiku.

Aku menekan bel unit 2704.

Pintu dibuka oleh seorang wanita.

Kesan pertamaku, dia pucat. Bukan putih gading, tapi pucat transparan, seolah-olah dia baru saja menghabiskan waktu bertahun-tahun di dalam gua bawah tanah. Rambutnya hitam legam, dipotong pendek sebahu. Dia mengenakan sweater rajut warna biru laut yang terlalu besar untuk tubuhnya yang kurus, dan celana bahan katun longgar.

“Anda teknisi piano?” tanyanya. Suaranya pelan, seperti suara gesekan kertas.

“Ya. Nama saya Damar.”

“Silakan masuk. Jangan tanya soal AC. Saya tidak menyalakannya.”

Aku masuk. Unit itu luas, minimalis, dan dingin, bukan dingin AC, tapi dingin alami seperti di dalam ruang bawah tanah. Tidak banyak perabotan. Hanya sofa abu-abu, sebuah rak buku yang setengah kosong, dan di dekat jendela besar yang menghadap cakrawala kota Jakarta yang penuh polusi, berdiri benda itu.

Steinway & Sons Model B. Sebuah instrumen yang indah. Hitam mengkilap, panjangnya hampir tujuh kaki. Piano yang serius untuk pianis yang serius.

Aku berjalan mendekatinya, meletakkan tasku. Aku membuka penutup tuts.

“Apa masalahnya?” tanyaku profesional.

Wanita itu berdiri agak jauh. “Coba mainkan nada C tengah,” katanya.

Aku menekan tuts C tengah. Teng.

Suaranya tidak sumbang. Frekuensinya tepat 261.6 Hz. Tapi... ada sesuatu yang lain. Timbre-nya. Karakter suaranya tidak tajam dan bulat seperti layaknya Steinway. Suaranya memiliki decay (ekor nada) yang pendek dan berat.

Benar kata klien itu. Suaranya terdengar... basah. Seperti suara lonceng yang dipukul di dalam kolam renang.

“Bisa Anda mendengarnya?” tanyanya.

“Ya. Hammer-nya (pemukul senar) terasa berat. Mungkin felt-nya menyerap kelembapan. Apa Anda sering membuka jendela?”

“Tidak pernah.”

Aku memeriksa higrometer, alat pengukur kelembapan yang kubawa. Jarumnya menunjukkan angka 85%. Sangat tinggi. Idealnya piano disimpan di kelembapan 45-50%. Ruangan ini adalah hutan tropis bagi piano.

“Kelembapan di ruangan ini tidak wajar, Nona,” kataku. “Ini akan merusak soundboard. Kayunya bisa membengkak dan retak. Anda harus menyalakan dehumidifier.”

Wanita itu tersenyum tipis. Senyum yang menyedihkan.

“Itu tidak akan berguna,” katanya. “Sumber airnya tidak bisa dimatikan.”

“Apakah ada pipa bocor?”

“Bukan pipa,” dia menunjuk ke arah lorong pendek yang menuju kamar mandi utama. Pintu kamar mandi itu tertutup rapat. “Di sana. Hujan turun di sana.”

Aku menatapnya, lalu menatap pintu itu.

“Hujan?”

“Ya. Hujan lokal. Hanya di kamar mandi saya.”

Jika ini adalah cerita horor murahan, aku pasti sudah lari. Tapi ini bukan. Ini adalah Jakarta di siang hari bolong, di apartemen mewah, dan aku adalah teknisi yang rasional. Aku berasumsi dia gila, atau mungkin sedang membuat lelucon metaforis yang tidak kupahami.

“Boleh saya lihat?” tanyaku. “Uap air dari kamar mandi bisa merusak piano seharga dua milyar rupiah ini.”

“Silakan,” katanya. “Tapi jangan bawa payung. Itu tidak sopan bagi hujannya.”

Aku berjalan menuju pintu kamar mandi. Aku memegang gagang pintu yang terasa dingin dan licin karena kondensasi.

Aku memutarnya, dan membukanya.

Hal pertama yang menyergapku adalah suara. Suara gemuruh halus. Ssshhh...

Lalu bau. Bau tanah basah, bau ozon, dan bau aspal yang baru tersiram air. Bau yang seharusnya ada di jalanan saat musim monsun, bukan di lantai 27.

Dan kemudian, aku melihatnya.

Kamar mandi itu luas, dilapisi marmer hitam. Ada bathtub putih berdiri bebas di tengah ruangan. Dan dari langit-langit kamar mandi, tepatnya dari plafon gipsum yang biasa saja, air turun.

Bukan tetesan bocor. Bukan semprotan shower.

Itu hujan.

Butiran air yang jatuh secara acak, dengan intensitas gerimis lebat. Air itu jatuh membasahi lantai marmer, mengisi bathtub, mengalir ke saluran pembuangan. Tidak ada pipa yang pecah. Plafonnya tidak terlihat hancur. Air itu seolah-olah memanifestasikan dirinya sendiri beberapa sentimeter di bawah plafon, lalu jatuh karena gravitasi.

Aku melangkah masuk.

Bajuku langsung basah. Airnya dingin. Rasanya benar-benar seperti air hujan, sedikit asam, segar. Aku menengadahkan tangan. Air terkumpul di telapak tanganku. Nyata. Basah.

Aku mundur keluar dan menutup pintu. Suara gemuruh itu teredam kembali.

Aku berbalik. Wanita itu masih berdiri di dekat piano, menatapku dengan ekspresi datar.

“Namaku Alina,” katanya. “Dan sudah enam bulan hujan tidak berhenti di sana.”

Aku berdiri di sana, air menetes dari ujung hidung dan rambutku, membasahi karpet mahalnya. Otakku, yang terbiasa dengan logika mekanis piano, mencoba mencari penjelasan. Kondensasi AC sentral? Halusinasi massal? Trik sulap?

“Bagaimana...” suaraku tercekat. “Bagaimana ini mungkin?”

“Saya tidak tahu,” jawab Alina. Dia berjalan ke dapur pantry, menuangkan air ke ketel listrik. “Mau teh? Earl Grey. Cocok untuk cuaca mendung, kan?”

Aku duduk di sofa, masih basah kuyup. Dia memberiku handuk kecil dan secangkir teh panas.

“Awalnya hanya mendung,” Alina bercerita sambil duduk di kursi seberang, kakinya ditekuk ke dada. “Uap kabut di dekat wastafel. Lalu gerimis. Lalu semakin lebat. Teknisi gedung sudah datang lima kali. Mereka membongkar plafon, mengecek pipa tetangga di lantai atas. Nihil. Kering. Tapi begitu mereka menutup plafonnya lagi... hujan turun.”

“Kenapa Anda tidak pindah?”

“Karena hujan ini milik saya,” katanya sederhana. “Dia mengikuti saya. Dulu di rumah lama saya di Menteng, dia turun di ruang cuci. Saat saya pindah ke sini, dia pindah ke kamar mandi. Setidaknya di sini ada saluran air yang bagus, jadi tidak banjir.”

Dia bicara seolah sedang membicarakan kucing peliharaan yang bandel, bukan fenomena supernatural.

“Dan piano itu?” tanyaku, kembali ke wilayah keahlianku.

“Saya pianis konser. Dulu. Sebelum ini terjadi. Sekarang... suaranya berubah. Dia ikut sedih karena kelembapan ini. Bisakah kamu memperbaikinya? Saya tidak minta dia kering sempurna. Saya hanya minta dia... tidak terdengar seperti sedang tenggelam.”

Aku menatap piano Steinway itu. Kayu dan besinya sedang berjuang melawan atmosfer yang mustahil.

“Saya bisa mencobanya,” kataku. “Tapi ini bukan perbaikan permanen. Selama hujan itu ada, piano ini akan terus berubah.”

“Tidak apa-apa,” kata Alina. “Tidak ada yang permanen di dunia ini, kan?”

Setelahnya, aku mulai datang setiap hari Kamis dan Senin.

Secara teknis, piano tidak perlu distem sesering itu. Tapi Alina membayarku tiga kali lipat dari tarif standar, dan kantor pusatku tidak keberatan selama uang masuk.

Lagipula, aku tidak datang hanya untuk menyetem.

Aku datang untuk hujan itu.

Ada kualitas adiktif dari anomali di apartemen Alina. Di luar sana, Jakarta panas, berdebu, dan bising. Di dalam unit 2704, ada mikrokosmos yang melankolis dan tenang, yang membuatku memiliki ritual baru.

Aku akan datang pukul dua siang. Aku akan menyetem piano selama satu jam. Aku harus menaikkan pitch-nya sedikit lebih tinggi dari standar 440 Hz, karena kelembapan membuat kayunya mengembang dan nadanya cenderung turun. Aku harus menggeser posisi hammer agar memukul senar di titik yang lebih keras untuk mengimbangi suara yang basah.

Setelah selesai menyetem, Alina akan menyeduh teh.

Lalu kami akan melakukan hal yang paling aneh. Kami akan duduk di kamar mandi.

Alina meletakkan dua kursi plastik di dalam kamar mandi yang luas itu. Kami duduk di sana, di pinggir area hujan, kadang-kadang membiarkan kaki kami basah, kadang memakai jas hujan plastik transparan.

Kami duduk diam, mendengarkan suara hujan yang menimpa keramik dan permukaan air di bathtub.

“Kau tahu kenapa hujan turun?” tanyaku pada minggu ketiga.

“Menurutmu?” dia balik bertanya.

“Mungkin karena kau terlalu kering di dalam,” kataku asal. “Hukum keseimbangan alam. Semesta mencoba melembapkan jiwamu.”

Alina tertawa. Tawanya pendek dan rapuh. “Teori yang bagus, Damar. Tapi kurasa justru sebaliknya. Aku rasa aku terlalu penuh. Aku penuh dengan hal-hal yang tidak bisa kukeluarkan. Kesedihan. Kemarahan. Memori. Mereka menguap dari pori-poriku, naik ke plafon, berkondensasi, dan jatuh kembali sebagai hujan. Ini siklus hidrologi emosi.”

“Jadi ini air matamu?”

“Mungkin. Tapi rasanya tawar. Aku pernah mencicipinya.”

Aku menjulurkan tangan, menangkap air hujan itu, dan menyesapnya sedikit. Benar. Tawar. Segar. Seperti air pegunungan.

“Kau sendirian?” tanyaku.

“Semua orang sendirian saat hujan, Damar. Itu sebabnya orang suka hujan. Hujan memberikan alasan yang sah untuk tidak melakukan apa-apa dan untuk tidak menemui siapa-siapa. Hujan adalah dinding privasi yang paling sempurna.”

Aku mulai memahami Alina. Dia bukan wanita yang sakit. Dia adalah wanita yang telah selesai dengan dunia. Dia telah menarik diri ke dalam menara gadingnya, dan semesta merespons dengan memberinya cuacanya sendiri.

Dan aku... aku mulai merasa nyaman di sana. Kehidupan datarku yang penuh dengan metronom dan kopi arabika tiba-tiba terasa kurang. Aku butuh kelembapan ini. Aku butuh ketidakpastian ini.

Suatu sore, aku partitur Claude Debussy, Estampes: Jardins sous la pluie (Taman di Bawah Hujan).

“Mainkan untukku,” pinta Alina.

Aku bukan pianis yang handal, tapi setidaknya aku bisa bermain. Aku duduk di depan Steinway yang sudah kustem.

Aku memainkan Debussy. Nadanya mengalun, bercampur dengan suara gemuruh hujan asli dari kamar mandi yang pintunya sengaja dibuka.

Itu adalah duet yang paling surealis. Piano yang kayunya membengkak karena uap air, dimainkan diiringi hujan abadi di lantai 27.

Alina duduk di sofa, memejamkan mata. Untuk pertama kalinya, aku melihat rona merah di pipinya. Dia terlihat hidup.

“Terima kasih,” bisiknya setelah aku selesai. “Rasanya seperti berenang.”

Bulan kedua. Intensitas hujan meningkat.

Sekarang bukan lagi gerimis lebat. Sekarang badai.

Saat aku membuka pintu kamar mandi, angin kencang bertiup dari dalam, membawa butiran air yang tajam. Suara guruh terdengar menggema di antara dinding keramik. Bathtub meluap. Saluran air berjuang keras menelan volume air yang turun.

“Ini semakin buruk,” teriakku, mengalahkan suara hujan.

Alina berdiri di ambang pintu, basah kuyup tanpa jas hujan. Baju putihnya menempel di tubuh, memperlihatkan tulang selangkanya yang tajam.

“Bukan buruk,” katanya. “Ini puncaknya. Musim penghujan akan segera berakhir.”

“Apa maksudmu?”

“Aku lelah, Damar. Menjadi pawang hujan itu melelahkan.”

Dia menatapku. Matanya gelap dan dalam.

“Maukah kau melakukan satu hal untukku?” pintanya.

“Apa?”

“Tutup pintu kamar mandi itu. Dari luar. Kunci. Dan jangan buka sampai besok pagi.”

“Kau... kau mau di dalam?”

“Ya. Aku butuh berendam. Berendam yang panjang.”

“Tapi airnya meluap, Alina! Kau bisa kedinginan. Kau bisa...”

“Tolong,” potongnya lembut. Tangannya yang dingin menyentuh pipiku. “Hanya ini yang kubutuhkan. Biarkan aku menyatu dengan cuacaku sendiri.”

Ada otoritas yang mutlak dalam suaranya. Otoritas seseorang yang telah membuat keputusan final.

Aku ragu. Logikaku berteriak bahwa itu salah. Itu berbahaya. Tapi bagian lain dariku, bagian yang telah terhipnotis oleh melankolia apartemen ini, mengangguk.

Alina masuk ke dalam kamar mandi. Dia masuk ke dalam tirai air yang deras. Dia menoleh sekali, tersenyum, senyum paling tulus yang pernah kulihat di wajahnya, lalu duduk di dalam bathtub yang meluap.

Aku menutup pintu. Suara gemuruh badai itu teredam, tapi masih terdengar mengerikan.

Aku memutar kunci dari luar. Klik.

Aku berdiri di depan pintu itu selama berjam-jam. Mendengarkan suara air. Kadang aku mendengar senandung pelan. Kadang aku mendengar suara kecipak air, seperti seseorang yang sedang menyelam.

Malam itu, aku tidak pulang. Aku tidur di sofa ruang tamu, ditemani Steinway yang bisu.

Aku bermimpi aku adalah seekor ikan yang berenang di dalam piano. Senar-senarnya adalah ganggang laut, dan hammer-nya adalah batu karang. Airnya jernih dan tenang.

Aku terbangun saat matahari pagi menembus jendela apartemen.

Hening.

Benar-benar hening. Tidak ada suara gemuruh. Tidak ada suara shhh...

Aku melompat dari sofa, berlari menuju pintu kamar mandi.

Aku memutar kunci, membuka pintu.

Kering.

Lantai marmer itu kering. Bathtub itu kosong dan kering. Plafon gipsum itu putih bersih, tanpa noda air.

Dan Alina tidak ada.

Tidak ada tubuh. Tidak ada pakaian basah. Tidak ada jejak.

Ruangan itu berbau sabun lavender dan... debu. Bau ruangan yang sudah lama tidak dipakai.

Aku mencari ke seluruh apartemen. Lemari pakaian kosong. Rak buku kosong. Dapur bersih, tidak ada cangkir bekas teh.

Seolah-olah Alina tidak pernah ada di sana. Seolah-olah dia telah menguap bersama hujan yang diciptakannya.

Satu-satunya yang tertinggal adalah piano itu.

Aku berjalan mendekati Steinway Model B itu. Aku membuka penutupnya. Di atas soundboard kayu cemara yang berwarna keemasan, aku melihat jejaknya. Kayunya melengkung. Serat-seratnya membesar dan kasar. Dan di bagian dalam piano, di sela-sela senar baja, terdapat genangan air kecil yang belum mengering.

Jernih.

Aku mencelupkan jariku ke dalamnya, lalu menjilatnya.

Asin.

Kali ini rasanya asin. Seperti air mata.

Aku duduk di bangku piano. Aku menekan tuts C tengah.

Teng.

Suaranya berubah. Tidak lagi basah. Tidak lagi redam. Suaranya tajam, nyaring, tapi memiliki kualitas gema yang aneh. Suara yang kopong. Suara yang menyiratkan bahwa sesuatu yang esensial telah hilang dari intinya.

Aku mengemasi peralatanku. Aku tidak menyetem piano itu hari itu. Tidak ada gunanya menyetem instrumen yang sudah kehilangan jiwanya.

Aku keluar dari unit 2704, menutup pintu di belakangku. Aku tidak melapor ke manajemen gedung. Aku tidak melapor polisi.

Untuk apa? Siapa yang akan percaya bahwa seorang wanita larut dalam hujan lokal di kamar mandinya sendiri?

 

***

 

Dua tahun telah berlalu.

Aku masih bekerja sebagai teknisi piano. Aku masih bangun pukul enam, menyeduh kopi, dan mendengarkan Bill Evans.

Tapi ada yang berubah dalam pendengaranku.

Setiap kali aku menyetem piano, aku mencari suara basah itu. Aku mencari ketidaksempurnaan yang indah itu. Tapi semua piano yang kutemui terdengar kering. Terdengar steril. Terdengar mati.

Aku sering melihat ramalan cuaca. Setiap kali hujan turun di Jakarta, aku akan keluar. Aku akan berdiri di tengah hujan tanpa payung, membiarkan diriku basah kuyup.

Orang-orang menatapku aneh. Pria dewasa berdiri diam di trotoar saat badai. Tapi aku tidak peduli. Aku memejamkan mata, merasakan butiran air memukul wajahku. Aku mencoba merasakan apakah hujan ini sama dengan hujan di lantai 27. Aku mencoba mengecap rasanya.

Tawar. Selalu tawar. Hujan kota ini hanyalah air yang jatuh dari langit, polutan yang terbilas. Tidak ada kesedihan di dalamnya. Tidak ada memori Alina.

Terkadang, di malam-malam yang sangat sepi, aku merasa tubuhku sendiri mulai berubah. Aku merasa persendianku ngilu saat mendung. Aku merasa kulitku menjadi lembap tanpa alasan. Dan kemarin, saat aku sedang menyikat gigi di depan cermin wastafelku yang retak, aku melihatnya.

Uap air.

Cermin itu berembun, padahal aku tidak menyalakan air panas. Aku menengadah ke plafon kamar mandiku yang kotor dan berjamur. Satu tetes air jatuh.

Tes.

Jatuh tepat di pipiku. Dingin. Aku tersenyum. Aku menunggu tetes kedua.

Mungkin aku tidak perlu mencari Alina lagi. Mungkin, entah bagaimana, kesedihan itu menular seperti virus, dan sekarang giliran aku yang harus memelihara cuaca di dalam kotak betonku sendiri.

Aku mematikan lampu, duduk di lantai kamar mandi, dan menunggu hujan turun.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama