-->

Jumat, 01 Juni 2018

author photo
bentar Dibaca

PUISI “AKU INGIN” SAPARDI DJOKO DAMONO

AKU INGIN
Karya: Sapardi Djoko Damono
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada.
(1989)

Salah satu puisi dari Sapardi Joko Damono dari manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” adalah puisi “Aku Ingin.” Puisi angkatan 66 ini cukup singkat dan bermakna namun bisakah kita menemukan kejanggalan dalam puisi ini?
---------
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Hujan adalah “masa depan” awan. Awan adalah “cikal bakal” hujan. Yang menjadikan awan tiada sebagai awan dan mengada sebagai hujan bukanlah hujan itu sendiri, melainkan variable-variabel lainnya, misalnya angin, gunung yang ditabrak awan sehingga awan tadi terberai menjadi hujan, perbedaan suhu, atau kuantitas uap air yang terkumpul kemudian menjadi hujan.
Apa yang akan ditiadakan jika yang hendak ditiadakan sudah tiada? Bukankah pada hakekatnya awan tidak kemudian tiada melainkan hanya berganti bentuk menjadi hujan?
PUISI “AKU INGIN” SAPARDI DJOKO DAMONO

Dalam  puisi di atas, perhatikan bait pertama, yang memuat 3unsur yaitu kayu, api dan abu.
--------------
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu.

Kata “ kayu kepada api yang menjadikannya abu” mempunyai hubungan kasualitas dan koheren yang pas. Tapi untuk yang bait kedua penulis kurang teliti ketika menuliskannya, banyak kata yang bisa dituliskan untuk membuat puisi tersebut estetis, misalnya subjeknya hujan menjadikan awan tiada atau berubah bentuk, diganti dengan angin, sehingga bait pertama dan kedua  bisa saling berhubungan.

Namun puisi mengikuti persepsi pembaca yang bebas menafsirkan makna terhadap puisi Sapardi. Beliau sendiri mengatakan bahwa biarlah puisi itu multitafsir.

 Api menjadikan kayu abu dan hujan menjadikan tiada, isyarat dan kata adalah cara. Sapardi selalu sederhana namun penuh makna bahwa mencintai tak perlu diucapkan  hanya perlu dirasakan bahwa itu ada. Mengubahnya bahkan memusnakan sosoknya bukan tanpa arti atau untuk hal sia-sia. Bukankah api memberi hangat dan hujan menumbuhkan alam? 

Pertanyaan lain tentu akan muncul “Bisakah hujan meniadakan awan?”

Hmm, jadi ingat kata-kata Picasso “Tidak semua orang adalah seniman, namun semua orang adalah kritikus.”

Sapardi sama dengan Affandi. Sama-sama ekpresionis, berbeda dengan seniman-seniman konseptual yang sibuk dengan riset yang sangat ilmiah, ekspresi berarti “pengalaman” lansung yang diangkat menjadi puisi atau lukisan. Affandi tidak butuh penggaris sebagaimana Sapardi tidak butuh fisika untuk menjelaskan karyanya. Ini soal konsep dan estetika, mengali kedalaman rasa melalui puisi “Aku Ingin” sang penyair sedang mengekspresikan rasa cinta dan ekspresi cinta pasti tidak logis bahkan anti logis.

Dari sini kejanggalan yang ditemukan bisa dipahami dan dimaklumi, bahwa penyair mengungkapan rasa cintanya yang tak terkatakan lewat kata-kata.

Salam Literasi.


This post have 2 comments

avatar
K. Niam Ansori delete 19 Juni 2018 07.29

Logika anda yang mempertanyakan bagaimana hujan bisa meniadakan awan, menurut saya itu cukup jeli.

Reply
avatar
ZETH delete 29 Juni 2018 14.47

Kukuhniam penulis di Kemudian dot com bukan ya?

Reply


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post