Bagian
5
Cara
Bernapas di Dalam Air
Enam
bulan pasca-kejadian.
Dunia
ternyata tidak berakhir saat arsip terbakar. Dunia hanya... berubah format.
Hidup tanpa indra penciuman (anosmia) rasanya seperti menonton film asing tanpa subtitle. Awalnya membingungkan, membuat frustrasi, dan aku sering salah menebak alur cerita. Tapi lama-kelamaan, aku mulai memperhatikan hal-hal lain: intonasi suara, gerak tubuh, cahaya di mata.
Aku
berhenti menjadi Konsultan Forensik. Tentu saja. Seorang pelacak yang
kehilangan hidungnya sama tidak bergunanya dengan pelukis yang kehilangan
tangannya. Klien-klienku pergi. Reputasiku sebagai penyihir aroma
lenyap.
Dan
anehnya, aku tidak merasa miskin.
Sekarang
aku bekerja di toko bunga kecil milik teman lama. Ironis, bukan? Mantan pemilik
hidung paling tajam di Jakarta kini bekerja merangkai lili dan mawar yang
baginya tidak berbau apa-apa.
Bagiku
sekarang, bunga hanyalah bentuk geometri yang cantik. Mawar adalah spiral
merah. Melati adalah bintang putih kecil. Aku merangkai mereka berdasarkan
warna dan tekstur, bukan berdasarkan komposisi aroma.
Dan
ternyata, pelanggan menyukainya. Mereka bilang rangkaian bungaku terlihat tenang.
Mungkin karena aku tidak lagi berusaha menciptakan harmoni bau yang rumit. Aku
hanya menyusun kebisuan.
CATATAN
HARIAN: ADAPTASI NEUROLOGIS
Otak
manusia memiliki plastisitas yang menakjubkan.
Ketika
satu input diputus, input lain diamplifikasi.
Dulu,
ketika aku mencium bau kopi, aku bisa membedakan notes tanah, buah, dan
tingkat keasaman. Sekarang, aku hanya merasakan panas cangkirnya di telapak
tanganku. Aku merasakan kekentalan cairan itu di lidahku. Aku mendengar suara
seruputan orang di sebelahku.
Realitas
menjadi lebih taktil. Lebih fisik.
Aku
tidak lagi hidup di dunia uap. Aku hidup di dunia benda padat. Dan di dunia
benda padat, hantu masa lalu sulit menembus masuk.
Sore
ini, Elian menjemputku.
Hujan
baru saja reda.
Kami
duduk di bangku taman kota. Dulu, tempat ini adalah neraka bagiku. Bau tanah
basah (geosmin) akan memicu memori kematian nenek. Bau sampah yang
membusuk di selokan akan memicu rasa jijik.
Sekarang?
Aku
menarik napas panjang. Udara masuk ke paru-paruku. Dingin. Segar.
Kosong.
“Bagaimana
harimu?” tanya Elian. Dia sedang mengupas jeruk.
Aku
melihat jari-jarinya merobek kulit oranye itu. Cipratan minyak atsiri keluar
dari pori-pori kulit jeruk. Secara visual, aku tahu itu baunya tajam. Tapi
hidungku tidak melaporkan apa-apa.
“Tenang,”
jawabku. “Seorang ibu membeli buket tulip untuk makam anaknya. Dia menangis.
Dulu, aku pasti akan mencium bau kesedihan—asin dan apek—darinya, dan aku akan
ikut terpuruk. Tadi, aku cuma melihat air matanya. Aku memberinya tisu. Aku
memegang pundaknya. Aku hadir di sana, tanpa terbebani analisis kimiawi.”
Elian
tersenyum. Dia menyodorkan seiris jeruk padaku.
“Mau?”
Aku
menerimanya. Memasukkannya ke mulut.
Rasanya
asam dan manis. Hanya itu. Rasa dasar yang dideteksi lidah. Tidak ada nuansa
aroma.
Tapi
teksturnya meletup di mulutku. Segar.
“Kau
merindukannya?” tanya Elian tiba-tiba.
Pertanyaan
yang sudah ratusan kali kutanyakan pada diriku sendiri di depan cermin.
Apakah
aku merindukan kemampuan membaca dosa orang lain?
Apakah
aku merindukan kemampuan mengetahui kapan susu akan basi sebelum tanggal
kedaluwarsa?
Apakah
aku merindukan peta yang memberitahuku di mana aku berada?
Aku
menatap Elian.
Wajahnya
sekarang bukan lagi misteri. Garis-garis di sekitar matanya saat dia tersenyum,
cara dia memiringkan kepala saat berpikir... itu adalah peta baruku.
“Kadang-kadang,”
aku jujur. “Rasanya seperti kehilangan kaki. Ada sindrom phantom scent.
Kadang aku pikir aku mencium bau gosong, padahal tidak ada apa-apa. Otakku
masih mencoba mencari pola lama.”
Aku
menelan jeruk itu.
“Tapi...
aku lebih suka versi ini. Versi di mana aku tidak tahu segalanya.”
“Kenapa?”
“Karena
ketidaktahuan membuatku harus percaya,” jawabku pelan.
Ini
adalah pelajaran terbesar dari singularitas cintaku dengan Elian.
Dulu,
aku tidak butuh kepercayaan. Aku punya verifikasi. Aku tidak perlu percaya
pacarku setia, aku bisa mencium ketiadaaan parfum wanita lain. Aku tidak
perlu percaya makanan ini enak, aku bisa mencium molekulnya.
Sekarang?
Aku
tidak tahu apakah Elian berbohong atau jujur. Aku tidak bisa mencium
feromonnya.
Jadi,
aku harus memilih untuk percaya padanya.
Dan
pilihan itu—tindakan iman itu—membuat hubungan ini terasa jauh lebih manusiawi
daripada semua hubungan forensikku di masa lalu.
“Cinta
bukan tentang membedah bukti,” kataku, mengutip pemikiran yang baru saja
mendarat di kepalaku. “Cinta adalah keberanian untuk berjalan dalam gelap tanpa
membawa senter.”
Elian
meraih tanganku. Menggenggamnya erat.
“Kau
tidak berjalan dalam gelap, Kara. Kau cuma berjalan tanpa mencatat koordinat
GPS.”
Kami
terdiam lagi.
Matahari
terbenam. Langit berubah ungu.
Di
momen itu, terjadi sesuatu yang ganjil. Angin berhembus. Dan untuk sepersekian
detik—mungkin hanya satu milidetik—aku menangkap sesuatu. Bukan bau yang jelas.
Bukan bau yang bisa dinamai. Hanya sebuah sensasi... kehangatan. Seperti bau
roti yang baru matang dari jarak sepuluh kilometer. Seperti bau... rumah.
Aku
tersentak sedikit. Hidungku kembang kempis. Apakah itu tadi... bau Elian? Ataukah
itu hanya halusinasi otakku yang merindu?
Sinyal
itu hilang secepat dia datang. Kembali hampa. Tapi aku tidak panik. Aku tidak
berusaha mengejarnya. Aku tidak berusaha menganalisisnya.
Aku
membiarkannya lewat.
Mungkin,
kemampuan itu tidak hilang total. Mungkin dia hanya tidur. Mungkin dia akan
muncul sesekali, bukan sebagai alat navigasi, tapi sebagai hadiah kejutan.
Seperti pelangi. Kau tidak bisa mengandalkan pelangi untuk membangun rumah,
tapi kau bisa menikmatinya saat dia ada.
“Kenapa
senyum-senyum?” tanya Elian.
Aku
menggeleng. “Tidak apa-apa.”
Aku
bersandar di bahunya. Aku menutup mata. Aku bernapas. Inhalasi. Eksalasi.
Oksigen
tidak berbau. Nitrogen tidak berbau. Zat-zat yang paling penting untuk
kehidupan ini tidak memiliki aroma. Mereka tidak meninggalkan jejak sejarah.
Mereka tidak peduli masa lalu. Mereka hanya ada di sini, di detik ini,
menghidupiku.
Ternyata,
untuk hidup utuh, aku tidak perlu mencium seluruh dunia. Aku hanya perlu
belajar bernapas di dalamnya. Seperti ikan di dalam air. Aku tidak mencium
airnya. Aku adalah bagian dari airnya.
Dan
akhirnya, arsip itu benar-benar tertutup.
.jpg)