Xylathea - Sebuah Peta Tanpa Koordinat (4)

Bagian 4
Kebutaan Putih (White Blindness)



 

Hujan turun di luar apartemen Elian seperti tirai statis yang memisahkan kami dari Jakarta.

Malam itu, untuk pertama kalinya, aku tidak pulang. Kami tidak banyak bicara. Tidak ada rayuan klise, tidak ada musik jazz pengantar tidur. Hanya suara hujan dan napas.

Saat dia menyentuhku, insting pertamaku adalah—seperti biasa—mengumpulkan data. Aku mendekatkan hidung ke lekuk lehernya, mencari jejak feromon androstenol untuk mengukur tingkat gairahnya, atau kortisol untuk mengukur keraguannya.

Aku mencari bukti kimiawi bahwa dia menginginkanku. Karena bagiku, cinta tanpa bukti kimia hanyalah halusinasi penyair.

Tapi nihil.

Kulitnya berbau seperti... kulit. Hangat. Netral.

Seperti kertas kosong yang belum ditulis.

“Berhenti menganalisis, Kara,” bisiknya. Napasnya menyapu telingaku.

Dan di situlah pertahananku runtuh.

Karena aku tidak bisa membaca bau tubuhnya, otakku kehilangan pegangan. Aku tidak punya peta. Aku tersesat di dalam dirinya.

Biasanya, bercinta bagiku adalah aktivitas forensik. Aku mencium bau mantan kekasih di sela-sela rambut pasanganku, aku mencium bau keraguan, aku mencium bau kebohongan. Tapi dengan Elian, yang ada hanya Kini.

Hanya sensasi kulit bertemu kulit. Gesekan. Panas.

Tanpa masa lalu. Tanpa masa depan.

Otakku, yang selama 28 tahun bekerja seperti prosesor overheat yang merekam setiap partikel bau, tiba-tiba berhenti berputar. Kipas pendingin mati. Lampu indikator padam.

Aku jatuh tertidur dalam keadaan yang belum pernah kualami seumur hidup: Hening Sempurna.

 

***

 

Cahaya matahari pagi yang brutal menembus jendela tanpa gorden. Aku membuka mata. Langit-langit kamar berwarna putih. Ada suara burung gereja di balkon. Ada suara dengkuran halus Elian di sebelahku.

Secara visual, semuanya normal. Resolusi tinggi. Warna tajam. Tapi ada yang salah. Rasanya... sepi. Terlalu sepi.

Biasanya, bangun pagi adalah serangan teror. Hidungku seharusnya langsung dibombardir oleh bau mulut pagi hari (bakteri sulfur), bau debu karpet yang dipanaskan matahari, bau sisa hujan semalam yang menguap dari aspal di bawah sana, dan bau kopi dari tetangga sebelah.

Pagi ini? Kosong.

Aku duduk tegak. Jantungku mulai memukul rongga dada. Aku menarik napas dalam-dalam. Tidak ada bau selimut apek. Tidak ada bau kayu lemari.

Aku menoleh ke arah Elian. Dia masih tidur, telanjang dada. Aku mendekatkan wajahku ke ketiaknya. Titik paling jujur dari tubuh manusia. Aku menghirup kuat-kuat sampai paru-paruku sakit.

Tidak ada.

Sama sekali tidak ada.

Bukan hanya bau Elian yang hilang (itu sudah biasa), tapi kemampuanku untuk mencium ketiadaan itu pun hilang.

Duniaku telah menjadi datar. Duniaku kehilangan sumbu Z-nya. Tanpa bau, ruangan ini terasa seperti gambar 2D di layar monitor. Palsu. Plastik.

Aku melompat turun dari tempat tidur, berlari ke dapur kecil Elian. Aku membuka toples kopi. Aku membenamkan hidungku ke dalam biji kopi Arabika yang hitam dan berminyak itu.

Harusnya itu bau surga yang pahit. Harusnya itu bau tanah vulkanik dan proses roasting yang agresif. Tapi yang kuterima hanyalah udara hampa.

Seperti menghirup styrofoam.

“Tidak, tidak, tidak...” suaraku pecah.

Aku membuka kulkas. Mengambil lemon tua. Mengirisnya dengan kuku. Menempelkannya ke hidung.

Nihil.

Aku berlari ke kamar mandi. Membuka botol pemutih pakaian. Zat kimia yang bisa membakar bulu hidung.

Aku menghirupnya.

Tidak ada rasa perih. Tidak ada bau klorin. Hanya udara dingin yang masuk ke tenggorokan.

Aku mundur, menabrak wastafel, dan merosot ke lantai.

Arsipku terbakar. Perpustakaanku runtuh.

Aku buta.


DRAFT EMAIL (TIDAK TERKIRIM)

KEPADA: Dr. Sjahrir, Sp.S (Neurolog)

SUBJEK: KERUSAKAN SISTEM TOTAL / SOS

 

Dok,

Ini terjadi pagi ini. Anosmia total. Tiba-tiba. Tidak ada gejala prodromal. Tidak ada flu, tidak ada trauma kepala, tidak ada polip.

Saya menduga ini psikosomatis, atau mungkin mekanisme pertahanan neuroplastis yang ekstrem. Hipotesis saya: Amygdala saya mengalami short-circuit.

Dok, saya tidak bisa bekerja. Saya tidak bisa mengetahui apakah orang berbohong. Saya tidak bisa mengetahui apakah makanan ini basi. Saya tidak tahu siapa saya.

Tanpa bau, memori saya terasa... jauh. Saya mencoba mengingat Nenek, tapi bayangannya kabur karena saya tidak bisa memanggil kembali bau kamarnya. Saya kehilangan akses ke database hidup saya sendiri.

Apakah ini permanen? Apakah virus cinta bisa memformat hard drive?

Tolong balas. Saya merasa seperti hantu.


“Kara?”

Elian berdiri di ambang pintu kamar mandi. Matanya menyipit, menyesuaikan dengan cahaya, rambutnya berantakan. Dia melihatku duduk di lantai keramik dingin, memegang botol pemutih.

“Apa yang kau lakukan?”

Aku menatapnya dengan tatapan liar. Untuk pertama kalinya, aku melihat dia hanya sebagai gambar. Aku tidak bisa mencium kehadiran biologisnya. Dia terasa asing. Dia terasa seperti render komputer.

“Kau mencurinya,” desisku.

Elian mengerutkan kening, berlutut di depanku. “Mencuri apa?”

“Hidungku!” teriakku. Aku melempar botol pemutih itu ke sudut ruangan. Botol itu menggelinding tanpa suara (atau mungkin ada suaranya, tapi kepanikan membuatku tuli sesaat). “Sejak bertemu kau, sistemku kacau. Dan sekarang... sekarang mati total. Aku tidak bisa mencium bau pemutih ini, Elian! Aku tidak bisa mencium apa pun!”

Elian terdiam. Dia tidak tampak kaget. Dia justru tampak... sedih.

“Aku tidak mencuri apa pun, Kara.”

“Jangan bohong! Tubuhmu... kekosonganmu itu... itu menular! Kau virus! Kau membuatku menjadi sepertimu. Kosong. Hampa. Tanpa sejarah!”

Aku menangis. Tapi bahkan air mataku terasa aneh. Biasanya aku bisa mencium bau garam dari air mataku sendiri. Sekarang hanya basah. Basah yang tak bermakna.

Elian mengulurkan tangan untuk menyentuh pipiku, tapi aku menepisnya.

“Jangan sentuh aku! Aku tidak tahu siapa kau kalau aku tidak bisa menciummu!”

“Kau tahu siapa aku,” kata Elian tegas. Dia menangkap pergelangan tanganku. Cengkeramannya kuat. Hangat. Nyata. “Lihat aku. Gunakan matamu. Dengarkan suaraku. Aku di sini. Di detik ini.”

“Aku tidak butuh detik ini!” racauku. “Aku butuh masa lalu! Aku butuh arsipku! Tanpa itu aku cuma seonggok daging yang lupa ingatan!”

“Arsip itu membebani langkahmu, Kara,” kata Elian lembut. Dia tidak melepaskan tanganku. “Mungkin... mungkin tubuhmu akhirnya memutuskan untuk meletakkannya. Supaya kau bisa berjalan.”

“Itu bukan keputusanmu! Itu bukan hakmu!”

“Itu bukan keputusanku. Itu keputusanmu. Bagian dari dirimu yang lelah menjadi tempat sampah memori orang lain... bagian itu akhirnya menang.”

Aku terisak. Tubuhku gemetar hebat.

Rasa kehilangan ini lebih menyakitkan daripada kematian.

Kehilangan hiperosmia bagiku seperti seorang pelukis yang tiba-tiba buta warna. Dunia masih ada bentuknya, tapi esensinya hilang.

“Apa gunanya aku kalau aku normal?” bisikku, suaranya nyaris hilang. “Kelebihanku adalah aku bisa melihat apa yang orang lain tidak lihat. Kalau aku sama seperti orang lain... aku siapa?”

Elian menarikku ke dalam pelukannya.

Aku meronta sebentar, lalu menyerah.

Wajahku terbenam di dadanya lagi.

Aku menunggu bau itu. Bau ozon. Bau hujan.

Nihil.

Hanya gelap.

Hanya detak jantungnya. Dug-dug. Dug-dug.

Ritme.

Hanya ada ritme.

“Kau adalah Kara,” bisik Elian di rambutku. “Bukan Kara si anjing pelacak. Bukan Kara si kurator bau busuk. Cuma Kara. Dan itu cukup.”

Aku ingin membantahnya. Aku ingin berteriak bahwa itu tidak cukup. Bahwa menjadi biasa adalah mimpi buruk terbesarku.

Tapi di dalam pelukan tanpa aroma itu, di dalam kehampaan sensorik yang menakutkan itu, ada satu hal kecil yang tumbuh.

Ketenangan.

Sangat tipis. Sangat rapuh.

Tapi dia ada di sana.

Otakku tidak lagi sibuk memproses data. Tidak ada notifikasi. Tidak ada analisis kimia.

Untuk pertama kalinya dalam 28 tahun, pikiranku diam.

Dan di dalam diam itu, aku menyadari sesuatu yang mengerikan: Aku tidak merindukan bau busuk dunia.

Aku hanya takut tidak punya tameng lagi.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama