Retno Dumilah Wijayanti - Museum Daging dan Memori yang Bocor

Museum Daging dan Memori yang Bocor
Retno Dumilah Wijayanti





 

Ada aroma yang spesifik dari waktu yang membusuk. Baunya seperti campuran kapur barus, debu vanili, dan kencing tikus yang telah mengering ratusan tahun. Di ruang konservasi lantai empat Perpustakaan Nasional ini, hidungku sudah kebal. Atau mungkin, paru-paruku memang sudah beradaptasi untuk bernapas dalam masa lalu.

Di bawah lampu sorot halogen yang dingin, tanganku—yang terbungkus sarung tangan lateks putih—bergerak hati-hati. Aku sedang memegang pinset, mengangkat serat kertas dluwang yang nyaris menjadi bubuk. Ini adalah halaman ke-40 dari sebuah manuskrip Jawa abad ke-19. Seratnya rapuh, seperti harapan orang miskin.

Jika aku bersin sedikit saja, sejarah ini akan hilang. Bubar. Kembali menjadi ketiadaan.

Orang-orang di kantor memanggilku Drupadi. Mungkin Bapakku, seorang dalang yang gagal dan pemabuk yang sukses, memberiku nama itu sebagai kutukan atau doa. Drupadi: perempuan yang ditarik rambutnya, yang kainnya hendak dilucuti di depan umum, tapi tak pernah telanjang karena keajaiban.

Namun, aku tidak percaya keajaiban. Aku percaya pada kimia. Aku percaya pada lem perekat methyl cellulose yang kugunakan untuk menyambung sobekan kertas. Tugasku adalah mencegah amnesia. Aku adalah restorator. Penjahit luka pada kertas.

“Dru, ada telepon dari Cipto,” suara rekan kerjaku memecah keheningan steril ruangan.

Jantungku berhenti sejenak. Bukan karena kaget, tapi karena firasat yang akhirnya mendarat.

Aku melepaskan sarung tangan lateks. Karet itu berbunyi plak saat menghantam kulitku yang berkeringat. Kulit ketemu kulit. Tiba-tiba aku sadar, apa bedanya kertas di meja ini dengan kulit perempuan tua yang sedang sekarat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo itu?

Kertas terbuat dari selulosa. Kulit terbuat dari kolagen. Keduanya merekam jejak. Keduanya bisa sobek, terbakar, dan lapuk.

Nenekku, Rarasati, adalah manuskrip berjalan yang sedang mengalami proses oksidasi cepat. Tinta di tubuhnya mulai luntur. Dan aku, cucunya yang terobsesi pada arsip, harus segera ke sana sebelum halaman terakhirnya menutup.

Jakarta di luar sana sedang mendung. Awan menggantung rendah, abu-abu dan berat. Aku memacu mobil menembus kemacetan Salemba. Di kepalaku, arsip-arsip berhamburan. Bukan arsip kertas, tapi arsip daging.

Rumah sakit selalu punya bau yang mencoba menipu kematian: antiseptik yang tajam, lantai yang terlalu bersih, dan aroma bunga sedap malam yang layu di vas meja resepsionis. Bau keputusasaan yang disamarkan higienitas.

Rarasati terbaring di ICU. Tubuhnya menyusut. Dulu dia perempuan yang berisi, tipe perempuan yang dalam lukisan Basuki Abdullah akan digambarkan sebagai simbol kesuburan ibu pertiwi. Pinggul lebar, dada penuh. Sekarang, dia hanya sekumpulan tulang yang dibungkus kulit transparan.

Pembuluh darahnya terlihat biru berkelok-kelok, seperti peta sungai di atlas kolonial Hindia Belanda.

Aku duduk di samping ranjangnya. Mesin EKG berbunyi ritmis. Beep... beep... Suara metronom yang menghitung mundur sisa napas.

Aku menyibakkan selimutnya sedikit. Kakinya dingin. Ada bercak-bercak hitam di betisnya—liver spots, tanda penuaan. Tapi bukan itu yang kucari. Mataku tertuju pada perut bagian bawahnya, tepat di atas garis rambut kemaluan yang kini memutih.

Ada jaringan parut di sana. Keloid yang menebal, kasar, dan mati rasa. Bentuknya tidak beraturan, abstrak seperti lukisan Affandi, tapi tanpa gairah.

Itu bukan bekas operasi caesar. Itu bukan bekas jatuh dari sepeda.

Itu adalah bekas sundutan rokok.

Sejarah resmi negara mencatat tahun 1965 sebagai tahun penyelamatan bangsa. Buku-buku sekolah mencatatnya sebagai kemenangan Pancasila. Tapi tubuh Rarasati mencatatnya sebagai bara api yang ditekan ke kulit perut.

Dulu, saat aku pertama kali melihat luka itu—waktu itu aku masih SD dan mengintip Nenek mandi—dia buru-buru menutupinya dengan handuk.

“Kenapa perut Nenek jelek?” tanyaku polos.

“Digigit nyamuk raksasa,” jawabnya pendek. Matanya gelap, segelap sumur tua di belakang rumah.

Sekarang aku tahu, nyamuk itu memakai sepatu lars dan seragam hijau. Nyamuk itu tidak menghisap darah, tapi menghisap keberanian.

Luka itu adalah arsip. Dalam teori kearsipan, ada istilah provenance atau asal-usul. Asal-usul luka ini adalah interogasi. Mereka tidak bertanya pada mulut Rarasati. Mereka bertanya pada rahimnya. Siapa bapak janin ini? Di mana suamimu bersembunyi?

Saat mulut bungkam, tubuh dipaksa bicara dengan bahasa nyeri. Dan tubuh Rarasati, yang saat itu masih muda, kencang, dan mungkin penuh gairah revolusioner, dihancurkan menjadi sekadar objek penderita.

Aku menyentuh keloid itu dengan ujung jariku. Kasar. Tubuh menolak lupa. Ketika otak mencoba menghapus trauma, kulit justru memproduksi jaringan ikat berlebih, membuat monumen kecil di atas daging. Seolah berteriak: Di sini! Pernah terjadi kebiadaban di sini!

Malam sebelumnya, aku bertengkar dengan Bimo.

Kami baru saja selesai bercinta. Bimo adalah arsitek. Laki-laki yang terobsesi pada garis lurus, beton ekspos, dan kaca. Dia merancang gedung-gedung tinggi di Sudirman yang memantulkan langit, gedung-gedung yang tidak punya masa lalu, yang seolah-olah turun dari langit langsung jadi. Bersih. Efisien. Tanpa ornamen.

Dia berbaring telentang, dadanya naik turun. Keringatnya berbau musk mahal.

“Kamu terlalu tegang, Dru,” katanya sambil menyalakan rokok. Asapnya mengepul, lalu hilang disedot exhaust fan. Bahkan asap rokok pun tidak boleh punya riwayat di apartemennya yang steril.

“Aku memikirkan Nenek,” jawabku. Aku sedang mengamati langit-langit kamar, mencari retakan. Tidak ada. Semuanya mulus.

“Nenekmu sudah tua. Wajar kalau sakit. Kamu nggak perlu mendramatisir.”

Aku menoleh padanya. “Mendramatisir? Bimo, kamu membangun gedung di atas tanah yang mungkin dulu kuburan massal, dan kamu bilang aku mendramatisir?”

Bimo mendengus. “Itu masalahmu, Dru. Kamu dan pekerjaanmu. Kamu hidup di masa lalu. Kamu mencium bau kertas tua setiap hari sampai lupa bau masa depan. Lihat Jakarta. Kita harus move on.”

Move on?” Aku tertawa getir. “Bagaimana bisa move on kalau kakimu masih tertancap di lumpur darah?”

Aku bangun, menarik selimut menutupi payudaraku. Tiba-tiba aku merasa telanjang di depan Bimo. Bukan telanjang fisik—dia sudah hafal setiap inchi tubuhku—tapi telanjang secara ontologis. Dia tidak melihatku sebagai Drupadi yang membawa beban sejarah. Dia melihatku hanya sebagai tubuh perempuan urban: fungsional, tersedia, dan seharusnya tidak rewel.

“Tubuh perempuan itu gudang, Bim,” kataku pelan.

“Gudang apa?”

“Gudang memori. Laki-laki menulis sejarah di tugu batu. Kami menyimpannya di rahim, di sel telur. Tahukah kamu soal epigenetika? Bahwa trauma nenekku bisa mengubah struktur genetik yang diwariskan ke ibuku, lalu ke aku. Ketakutan itu ada di DNA-ku. Saat aku cemas tanpa sebab, itu mungkin kecemasan Nenek saat mendengar suara truk tentara di tengah malam.”

Bimo mematikan rokoknya. Dia tampak bosan. “Kamu butuh liburan. Atau psikiater.”

Dia tidak mengerti. Bagi arsitek seperti dia, ruang adalah kekosongan yang harus diisi. Bagi restorator sepertiku, ruang adalah kepadatan yang harus dikupas lapis demi lapis.

Bimo mencintai tubuhku, tapi dia membenci sejarahku. Dia ingin dagingku yang kenyal, tapi menolak ingatanku yang keras.

 

***

 

Seorang perawat masuk mengganti kantong infus. Cairan bening menetes perlahan. Drip... drip...

Aku menatap dada Nenek yang kini kempis, menggantung seperti kantong teh bekas pakai. Payudara itu pernah menyusui lima anak. Payudara itu pernah menjadi sumber kehidupan. Tapi lebih jauh lagi, payudara itu menyimpan memori kolonial yang memalukan.

Nenek Rarasati adalah anak seorang Nyai.

Ibunya—buyutku—adalah gundik seorang administratur perkebunan Belanda di Ambarawa. Namanya Dasima (nama yang klise untuk nasib yang klise). Tuan Van Der Hout, lelaki Belanda itu, tidak pernah menikahi Dasima.

Dalam tatanan kolonial, tubuh perempuan pribumi adalah infrastruktur. Sama fungsinya dengan Jalan Raya Pos Daendels atau rel kereta api. Tubuh Nyai berfungsi menjaga kesehatan mental dan biologis laki-laki Eropa agar tetap produktif memeras kekayaan tanah jajahan.

Payudara Nyai Dasima adalah milik Tuan Van Der Hout. Tapi air susunya adalah ruang liminal, ruang ambang.

Anak-anak yang menyusu pada Nyai, anak-anak Indo itu, meminum nutrisi tropis sambil menyerap budaya Eropa. Di pangkuan Nyai, mereka belajar bahasa Belanda, tapi juga mendengar dongeng Kancil. Payudara Nyai adalah jembatan peradaban yang rapuh.

Nenek Rarasati tumbuh dengan rasa malu itu. Rasa malu sebagai anak haram. Bastard. Dia membenci tubuh indonya yang sedikit pirang. Maka seumur hidup, Rarasati berusaha menjadi Jawa Tulen. Dia menyanggul rambutnya ketat-ketat, berjemur di bawah matahari terik agar kulitnya menjadi cokelat. Dia memakai stagen yang membebat perut dan dadanya, menekan payudaranya agar tidak tampak menantang.

Rarasati ingin menghapus jejak Belanda dari tubuhnya. Dia ingin menjadi perempuan Indonesia yang baik. Dan definisi baik di era Orde Baru adalah: patuh, tidak berpolitik, dan menjadi pendamping suami (Dharma Wanita).

Aku melihat payudaraku sendiri di pantulan kaca jendela. Aku tidak memakai stagen. Aku memakai push-up bra buatan pabrik garmen di Tangerang. Payudaraku dibentuk untuk tatapan laki-laki, tapi dengan cara yang berbeda. Dulu ditekan tradisi, sekarang ditonjolkan pasar.

Apa bedanya? Tubuh kami tetaplah tanah sengketa. Diperebutkan, dibentuk ulang, diklaim.

Dokter jaga datang memeriksa pupil Nenek dengan senter. Cahaya kuning menembus mata yang keruh itu.

“Kesadarannya makin turun,” kata dokter itu datar. Dia bicara tentang Nenek seolah-olah Nenek adalah mesin mobil yang olinya bocor.

Aku mengangguk. Mataku turun ke pinggul Nenek yang tertutup selimut.

Dalam biologi evolusioner, panggul perempuan adalah sebuah kompromi yang menyakitkan. Agar manusia bisa berjalan tegak, panggul harus sempit. Tapi agar bisa melahirkan bayi dengan otak besar, panggul harus lebar. Hasilnya: melahirkan bagi manusia adalah proses yang paling menyakitkan dan mematikan dibanding mamalia lain.

Sakit itu adalah harga peradaban.

Tapi bagi negara, panggul Rarasati adalah alat demografi.

Aku ingat cerita Ibu. Tahun 1980-an. Program Keluarga Berencana (KB) sedang gencar-gencarnya. Tentara masuk desa bukan membawa senapan, tapi membawa alat kontrasepsi. IUD spiral.

Nenek dipaksa pasang spiral. Dia menangis. Dia ingin punya anak lagi karena anak bungsunya meninggal kena demam berdarah. Dia merasa rahimnya masih mampu. Tapi Petugas Lapangan bilang: Cukup. Dua anak cukup. Pembangunan butuh kendali populasi.

Rahim Rarasati dinasionalisasi.

Ovariumnya diatur oleh Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita). Siklus menstruasinya menjadi urusan statistik negara.

Lalu lihat aku sekarang. Aku memilih childfree. Aku memilih menolak fungsi biologisku. Dan orang-orang, bahkan keluargaku, menyebutku egois. Mereka bilang aku menyalahi kodrat.

Pola itu berulang dengan wajah berbeda. Ketika Nenek ingin anak, negara melarang. Ketika aku tidak ingin anak, masyarakat memaksa.

Kapan panggul ini menjadi milik kami sendiri? Kapan rahim ini merdeka dari intervensi asing—baik itu intervensi negara, agama, maupun adat?

Aku meraba perutku sendiri. Kosong. Dan aku merasa lega dalam kekosongan itu. Mungkin adalah bentuk perlawananku. Memutus rantai trauma dengan cara menutup pabriknya. Tidak akan ada lagi keturunan yang mewarisi ketakutan Rarasati. Garis luka itu berhenti di aku.

 

***

 

Jam tiga pagi. Jam anjing. Jam di mana batas dunia nyata dan dunia gaib menipis seperti tisu basah.

Nenek mulai gelisah. Napasnya tersengal-sengal lalu berhenti lama, lalu tersengal lagi. Matanya terbuka, menatap kosong ke langit-langit bangsal.

Tangannya menggapai-gapai udara. Mencakar sesuatu yang tak terlihat.

“Ulo... ulo...” desisnya. Ular.

Apakah dia melihat ular? Atau dia melihat selang infus yang melilitnya?

“Jendral... bajul... bajul putih...”

Bimo pasti akan bilang itu delirium. Halusinasi akibat urea yang menumpuk di otak. Gagal ginjal membuat racun membanjiri kesadaran. Otak menjadi kacau.

Tapi aku, Drupadi, yang biasa membaca serat kuno, tahu bahwa itu bukan sekadar kekacauan kimiawi. Itu adalah arsip yang bocor. File-file tersembunyi yang selama ini di-enkripsi oleh mekanisme pertahanan jiwanya, kini terbuka paksa.

Bajul Putih. Buaya Putih.

Simbol mistis Jawa penjaga sungai. Tapi dalam konteks memori Rarasati, Buaya punya makna politis yang mengerikan. Lubang Buaya. Mitos tentang perempuan-perempuan yang menari telanjang (tarian Harum Bunga) sambil menyilet wajah para jenderal.

Itu adalah fitnah terbesar abad ini. Fitnah yang menghancurkan jutaan nyawa. Dan Nenekku, meski dia bukan penari itu, dia menanggung getahnya. Dia melihat teman-temannya diangkut truk dan tidak pernah kembali. Dia melihat sungai di desanya berubah merah dan berbau amis besi.

Otaknya kini memutar ulang rekaman itu. Proyektor di kepalanya rusak, menampilkan potongan gambar secara acak: mayat mengambang, sepatu lars, ular sawah, wajah ibunya (Nyai Dasima), dan wajahku.

Tiba-tiba dia mencengkeram tanganku. Kuat sekali. Tenaga terakhir yang entah datang dari mana. Kukunya yang panjang menancap di kulitku, sakit.

“Mlayu, Nduk! Mlayu!” (Lari, Nak! Lari!)

Dia menyuruhku lari. Dari apa?

Dari sejarah? Dari laki-laki? Dari negara?

Aku mendekatkan wajahku ke telinganya. Mencium bau apek rambutnya yang jarang dicuci.

“Aku nggak akan lari, Nek,” bisikku. “Aku di sini. Aku mencatat. Aku akan menulis ulang semuanya. Nenek nggak perlu takut lagi.”

Cengkeramannya mengendur. Matanya berkedip sekali, lalu air mata menetes dari sudut matanya, jatuh ke bantal, merembes, hilang.

Air mata itu juga arsip. Cairan tubuh yang memuat hormon kortisol dan protein emosi. Sayangnya, air mata cepat menguap. Sejarah air mata adalah sejarah yang paling cepat hilang.

Sambil menunggu subuh yang enggan datang, aku merenung tentang bagian tubuh yang paling dikeramatkan sekaligus dinajiskan: Vagina.

Di perpustakaan, aku pernah membaca Serat Centhini. Di sana, seksualitas dibahas gamblang. Vagina (yoni) adalah pusat kosmos, sumber energi spiritual. Raja-raja Jawa kuno melakukan ritual seks tantrik untuk menyerap kesaktian.

Tapi peradaban modern—peradaban agama samawi dan moralitas borjuis—mengubah vagina menjadi sekadar lubang moral. Keperawanan menjadi mata uang. Selaput dara—selembar mukosa tipis yang tidak punya fungsi fisiologis penting—dijadikan patokan harga diri.

Nenek Rarasati hidup dalam rezim itu. “Jaga dirimu,” katanya selalu. Artinya: jaga selaput daramu. Jangan sampai pecah sebelum ada laki-laki yang membayarnya dengan akad nikah.

Tubuh perempuan dianggap seperti segel plastik pada botol minuman. Kalau sudah sobek, dianggap barang bekas.

Aku ingat pertama kali aku kehilangan keperawananku. Bukan karena perkosaan, untungnya. Tapi karena rasa penasaran dan pemberontakan. Usiaku 19 tahun. Di kamar kos seorang mahasiswa seni rupa yang bau cat minyak.

Sakit sedikit, lalu darah. Aku melihat darah itu di sprei. Dan aku merasa... biasa saja. Langit tidak runtuh. Aku tidak berubah jadi monster. Aku tetap Drupadi.

Ternyata mitos kesucian itu bohong. Vagina adalah otot. Dia elastis. Dia bisa meregang, dia bisa menjepit, dia bisa melahirkan, dan dia bisa menikmati gesekan. Dia bukan barang pecah belah. Dia lebih mirip memory foam—bisa kembali ke bentuk asal, tapi menyimpan jejak tekanan.

Aku ingin membisikkan ini pada Nenek: Nek, tubuh kita bukan kaca. Tubuh kita tanah liat. Kita bisa dibanting, diinjak, tapi kita bisa dibentuk ulang. Kita tidak pernah benar-benar rusak.

Tapi Nenek sudah terlalu jauh hanyut dalam komanya. Dia sudah berada di seberang sungai, di tempat di mana moralitas selangkangan tidak lagi relevan.

Azan subuh berkumandang dari masjid rumah sakit. Suaranya bersahutan, sember lewat pengeras suara yang karatan.

Di layar monitor, grafik jantung Nenek mendatar. Garis lurus yang konstan. Beeeeeeeeeeep.

Dokter masuk. Memeriksa nadi karotis. Menggeleng.

“Jam 04.45,” katanya mencatat di status pasien.

Rarasati sudah pergi.

Arsip itu telah ditutup. Perpustakaan daging itu telah terbakar habis.

Aku berdiri kaku. Tidak ada air mata. Hanya ada rasa dingin yang merambat dari ujung kaki ke ulu hati. Tapi kemudian, aku merasakan sesuatu yang aneh.

Ada desiran hangat di darahku. Seolah-olah ada transfusi yang tak kasat mata.

Aku merasa memori Rarasati—rasa sakitnya, rasa malunya, ketakutannya, tapi juga cinta diam-diamnya pada tanah ini—berpindah padaku. Bukan lewat kata-kata wasiat, tapi lewat resonansi. Aku adalah inang baru bagi sejarahnya.

Aku keluar dari ruang ICU. Lorong rumah sakit sepi.

Bimo tertidur di kursi tunggu lobi. Dia terlihat lelah dan, harus kuakui, sedikit manis saat tidur dan tidak bicara soal beton.

Aku tidak membangunkannya. Aku berjalan ke pintu kaca lobi, menatap Jakarta yang mulai bangun. Langit berwarna ungu memar, seperti kulit yang habis dipukul.

Tanganku merogoh saku, mengambil ponsel. Aku membuka aplikasi catatan.

Aku mulai mengetik. Bukan laporan kerja restorasi kertas. Aku mengetik sebuah cerita.

Pada mulanya adalah darah. Dan darah itu milik perempuan...

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama