ADG - Gadis Panggilan

Gadis Panggilan
ADG


 

 

Istriku memiliki suhu tubuh yang anehnya selalu dua derajat di bawah rata-rata manusia normal.

Aku tidak tahu apakah itu fakta medis yang bisa dibuktikan dengan termometer raksa, atau hanya kesimpulan psikologis yang kubuat setelah lima tahun tidur di sampingnya. Namun, setiap kali kulitku bersentuhan dengan kulitnya di tengah malam, rasanya seperti menyentuh permukaan marmer di lobi bank yang dingin. Halus, mahal, kokoh, tapi menyerap panas tubuhku tanpa memberikan apa pun sebagai balasan.

Istriku adalah seorang kurator seni. Dia menghabiskan hari-harinya mengatur letak lukisan abstrak dan instalasi patung besi di galeri-galeri yang sunyi. Mungkin karena itulah dia menjadi seperti itu. Dia terbiasa dengan benda-benda yang tidak boleh disentuh. Dia terbiasa dengan label Jangan Disentuh yang tak kasat mata.

Di tempat tidur, dia seperti membangun benteng. Dia memiliki aturan ketat tentang sisi kasur. “Kau di sisi kiri, aku di sisi kanan,” katanya di tahun pertama pernikahan kami. Dia tidur memunggungiku, tubuhnya lurus dan kaku seperti mayat firaun yang diawetkan. Jika aku mencoba memeluknya—sebuah upaya putus asa untuk merasakan koneksi manusia—dia akan menegang, lalu menghela napas panjang yang menyiratkan gangguan, lalu bergeser menjauh.

“Panas, Tora,” gumamnya. Atau, “Aku lelah. Jangan mulai.”

Padahal aku tidak ingin seks. Seks dengan dia pun terasa seperti prosedur medis yang higienis. Efisien, cepat, dan minim keringat. Tidak, aku hanya ingin dipeluk. Aku ingin merasakan berat lengan seseorang di dadaku. Aku ingin merasakan napas hangat di tengkukku. Aku ingin tahu bahwa aku tidak sendirian di dalam kotak beton lantai lima belas ini.

Tapi dia sering pergi. Pameran di Singapura. Lelang di Hong Kong. Konferensi di Berlin. Dia pergi meninggalkan apartemen kami dalam keadaan rapi, steril, dan sunyi.

Kesunyian di apartemen kami memiliki kualitas akustik yang aneh. Jika aku menjatuhkan sendok di dapur, suaranya akan memantul di dinding-dinding minimalis, bergema selama tiga detik, lalu mati dengan cara yang menyedihkan. Aku bekerja sebagai sound engineer untuk studio rekaman foley. Aku tahu betul tentang suara. Dan suara di apartemenku adalah suara frekuensi rendah dari kesepian yang terakumulasi.

Itulah sebabnya, pada suatu malam yang hujan di bulan November, ketika istriku sedang berada di Tokyo selama seminggu, aku menelepon nomor itu.

Aku menemukannya di forum internet tersembunyi, di sela-sela iklan obat kuat dan jasa pijat plus-plus. Iklan itu sederhana, tanpa foto wanita berbikini, hanya teks putih dengan latar belakang hitam:

[Jasa Teman Tidur (Non-Seksual).]

[Hanya untuk tidur. Hanya untuk menemani. Jangan tanya nama asli. Jangan tanya masa lalu. Tarif per jam atau paket semalam.]

Aku menatap layar ponselku selama satu jam, menimbang moralitas pilihanku. Apakah ini selingkuh? Secara teknis, aku menyewa wanita lain. Tapi jika aku tidak menyentuhnya secara seksual, apakah itu tetap dihitung sebagai pengkhianatan? Atau apakah pengkhianatan terbesarku sebenarnya adalah mengakui bahwa istriku sendiri tidak bisa memenuhi kebutuhan dasar mamalia untuk mencari kehangatan?

Aku menekan tombol panggil.

Suara di ujung sana adalah suara pria tua yang serak, terdengar bosan.

“Agensi Mawar Hitam. Apa yang Anda butuhkan?”

“Paket semalam,” suaraku bergetar sedikit. “Aturannya... masih sama, kan? Tanpa seks?”

“Tanpa seks. Tanpa ciuman bibir. Tanpa ketelanjangan total. Klien wajib menyediakan tempat tidur bersih. Gadis kami akan datang jam sepuluh malam dan pergi jam enam pagi. Pembayaran tunai di muka, dalam amplop.”

“Baik.”

“Alamat?”

Aku memberikan alamatku.

“Namanya Kimi,” kata pria tua itu, lalu menutup telepon.

Malam itu, aku duduk di sofa ruang tamu, menunggu seperti terpidana mati menunggu eksekusi, atau mungkin seperti anak kecil menunggu Sinterklas. Di luar, hujan turun deras, membasahi kaca jendela besar apartemenku, mengubah lampu-lampu kota menjadi lukisan impresionis yang buram.

Bel pintu berbunyi tepat pukul sepuluh.

Aku membukanya. Di koridor berdiri seorang wanita muda.

Dia tidak seperti bayanganku tentang Gadis Panggilan. Tidak ada sepatu hak tinggi merah, tidak ada make-up tebal, tidak ada aroma parfum murahan yang menyengat.

Dia mengenakan trench coat warna krem yang sedikit kebesaran dan sepatu kets putih yang sudah agak kotor. Rambutnya dipotong bob pendek, hitam pekat. Wajahnya polos, tanpa riasan, dengan sedikit bintik-bintik cokelat di sekitar hidungnya. Dia terlihat seperti mahasiswa sastra yang baru pulang dari perpustakaan, atau kasir minimarket yang baru selesai shift malam.

“Tora?” tanyanya. Suaranya pelan, datar, namun memiliki tekstur yang lembut.

“Ya. Silakan masuk.”

Dia melangkah masuk, melepas sepatunya di area pintu masuk, dan menatanya dengan rapi. Dia melihat sekeliling apartemenku yang luas dan minimalis dengan tatapan menilai, namun tidak mengatakan apa-apa.

“Aku Kimi,” katanya.

“Aku sudah siapkan uangnya,” kataku canggung, menunjuk amplop putih di atas meja dapur.

Dia mengambil amplop itu, mengintip isinya sekilas, lalu memasukkannya ke dalam tas selempangnya. Transaksi selesai. Bisnis telah dilakukan. Sekarang, sisanya adalah... apa?

“Kau mau mandi dulu?” tanyaku. “Atau minum sesuatu?”

“Air putih saja,” jawabnya. “Lalu kita bisa langsung tidur. Aku lelah. Perjalanan ke sini macet karena hujan.”

Kepraktisannya membuatku sedikit terkejut, tapi juga lega. Tidak ada basa-basi menggoda. Dia profesional dalam arti yang paling aneh.

Aku memberinya segelas air. Dia meminumnya sambil berdiri di dapur, meneguknya cepat seperti kucing yang kehausan. Aku memperhatikannya. Ada sesuatu yang sangat biasa dari dirinya, namun kebiasaan itulah yang membuatnya menarik. Di dunia istriku yang penuh dengan estetika tinggi dan kepalsuan artistik, Kimi terasa nyata. Kasar, tapi nyata.

“Kamar mandinya di sana,” tunjukku. “Aku sudah siapkan handuk baru dan sikat gigi baru.”

Dia mengangguk dan menghilang ke kamar mandi.

Sepuluh menit kemudian, dia keluar mengenakan piyama yang dibawanya sendiri, kaos oblong abu-abu pudar bertuliskan nama sebuah band rock tua yang tidak kukenal, dan celana pendek katun longgar. Wajahnya segar sehabis dicuci. Dia berbau sabun mandi dan sampo apel murah.

Kami masuk ke kamar tidur. Ranjang King Size itu terasa terlalu besar untukku sendiri selama seminggu ini.

Kimi naik ke tempat tidur tanpa ragu. Dia mengambil posisi di sisi kiri, sisi yang biasanya ditempati istriku.

“Kau mau dipeluk, atau memeluk?” tanyanya, seolah sedang menanyakan apakah aku mau kopi hitam yang pakai gula atau tidak.

“Memeluk,” jawabku. “Dari belakang.”

“Oke. Lampunya tolong dimatikan.”

Aku mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur yang redup. Aku naik ke tempat tidur, bergeser mendekatinya. Jantungku berdebar kencang, bukan karena gairah seksual, tapi karena ketakutan yang aneh. Ketakutan bahwa ini akan gagal. Ketakutan bahwa dia akan terasa dingin seperti Elara.

Aku melingkarkan lenganku di pinggangnya. Punggungnya menempel di dadaku.

Dan seketika, aku merasakan gelombang kejut.

Dia hangat.

Sangat hangat. Tubuhnya memancarkan kalor seperti tungku kecil yang hidup. Aku bisa merasakan tulang rusuknya naik turun saat dia bernapas. Aku bisa merasakan detak jantung di punggungnya, beresonansi dengan dadaku. Dug-dug. Dug-dug.

Aroma sampo apel itu memenuhi hidungku, menggantikan aroma parfum mahal istriku yang biasanya menempel di bantal.

“Apakah ini tidak apa-apa?” bisikku.

“Sshhh,” desis Kimi pelan. “Tidurlah. Kau membayar untuk tidur.”

Dia benar. Aku memejamkan mata.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku tidak merasa sedang tidur di dalam peti mati marmer. Aku tidur memeluk gumpalan kehidupan yang nyata. Aku menyerap panas tubuhnya seperti kaktus menyerap air hujan setelah kemarau panjang. Aku tidak tahu siapa dia, dari mana asalnya, atau apa mimpi-mimpinya. Tapi malam itu, punggungnya adalah satu-satunya realitas yang kupercayai.

Hal itu kemudian menjadi adiksi. Lebih kuat dari nikotin, lebih merusak dari alkohol.

Setiap kali istriku pergi ke luar kota—dan dia semakin sering pergi—aku memanggil Kimi.

Rutinitas kami terbentuk dengan cepat. Dia datang pukul sepuluh. Dia minum segelas susu hangat (aku mengganti air putih dengan susu karena kupikir itu lebih nyaman untuk tidur). Dia mandi. Kami tidur.

Kami jarang berbicara. Kimi adalah Gadis Panggilan Bisu dalam naskah dramaku. Dia tidak pernah bertanya tentang istriku, meski foto pernikahan kami terpajang jelas di dinding kamar. Dia tidak pernah bertanya tentang pekerjaanku. Dia hanya datang, menjadi hangat, lalu pergi.

Tapi justru keheningan itulah yang membuatku terobsesi.

Karena dia diam, aku bisa memproyeksikan apa saja padanya. Aku membayangkan dia adalah seorang pelukis yang kesepian, atau seorang pianis yang kehilangan inspirasi, atau wanita yang sedang melarikan diri dari masa lalu yang kelam. Dia adalah kanvas kosong yang hangat.

Aku mulai melakukan hal-hal kecil yang menyedihkan.

Suatu malam, kuncir rambutnya tertinggal di meja nakas. Kuncir rambut murah berwarna hitam. Seharusnya aku membuangnya atau mengembalikannya. Tapi aku tidak melakukannya. Aku menyimpannya.

Aku mengambil sebuah kotak bekas sepatu lari Nike-ku. Aku memasukkan kuncir rambut itu ke dalamnya.

Minggu berikutnya, dia meninggalkan struk belanja minimarket di saku celananya yang tergeletak di lantai kamar mandi. Aku mengambilnya. Struk itu berisi daftar belanjaan: Roti tawar, dua kaleng bir, sebungkus rokok menthol, dan makanan kucing.

Aku menatap struk itu berjam-jam. Makanan kucing? Jadi dia punya kucing. Dia merokok menthol. Dia minum bir murahan.

Potongan-potongan informasi sepele itu terasa seperti harta karun bagiku. Itu adalah bukti bahwa Kimi ada. Bahwa dia bukan sekadar hantu yang muncul di apartemenku. Dia punya kehidupan di luar sana, kehidupan yang kasar, berantakan, dan normal.

Aku memasukkan struk itu ke dalam kotak sepatu.

Lama-kelamaan, kotak sepatu itu menjadi museum rahasia kegilaanku. Isinya bertambah: sebatang jepit rambut, bungkus permen mint yang dia buang di tempat sampah (yang kupungut kembali), dan sehelai bulu mata yang jatuh di bantal (ya, aku mengambilnya dengan pinset).

Aku mulai berbicara padanya saat dia sudah tertidur.

“Kau tahu, Kimi,” bisikku di telinganya yang tertutup rambut, saat napasnya sudah berat dan teratur. “Kadang aku berharap apartemen ini runtuh. Hanya supaya aku punya alasan untuk menelepon seseorang.

“Istriku tidak menyukai musik jazz yang kuputar. Dia bilang itu berisik. Jadi aku mendengarkannya pakai headphone. Hidupku penuh dengan suara yang diredam, Kimi.”

Dia tidak pernah menjawab. Dia hanya bernapas. Dan bagiku, napas itu adalah jawaban yang lebih memuaskan daripada semua percakapan intelektual yang pernah kumiliki dengan istriku tentang pasca-modernisme.

Aku mulai membandingkan mereka.

Kulit istriku: dingin, berbau lavender mahal, kencang karena yoga.

Kulit Kimi: hangat, berbau apel dan sedikit asap rokok, agak kasar di bagian siku.

Istriku adalah patung museum. Kimi adalah tanah liat yang masih basah.

Aku merasa aku jatuh cinta. Bukan cinta romantis yang ditulis penyair, tapi cinta parasit. Aku adalah parasit yang membutuhkan inangnya untuk tetap hangat. Dan Kimi, dengan bayaran satu juta rupiah per malam, bersedia menjadi inangku.

Bulan ketiga sejak kedatangan Kimi. Elara sedang di New York.

Hari itu hari Minggu. Aku kehabisan deterjen dan kopi, jadi aku pergi ke supermarket besar di pusat perbelanjaan, sekitar lima kilometer dari apartemenku. Biasanya aku belanja online, tapi hari itu aku ingin keluar, ingin melihat manusia.

Aku sedang berada di lorong makanan kaleng, menimbang-nimbang antara sup jamur atau sup tomat, ketika aku mendengar suara keributan di lorong sebelah. Lorong makanan ringan.

“Jangan bodoh! Kau pikir uang itu tumbuh di pohon?” suara seorang pria, kasar dan membentak.

“Aku butuh itu, Brengsek! Itu buat Ibu!” suara wanita membalas, melengking, tajam, penuh amarah.

Suara wanita itu.

Aku membeku. Kaleng sup jamur di tanganku terasa dingin. Aku mengenali tekstur suara itu, meski nadanya jauh berbeda dari bisikan lembut di kamar tidurku.

Aku mengintip lewat celah di antara rak keripik kentang.

Di sana, di lorong sebelah, berdiri Kimi.

Tapi itu bukan Kimi-ku.

Dia mengenakan kaos tanktop kotor dan celana jeans sobek-sobek. Wajahnya merah padam karena marah. Dia tidak terlihat tenang atau misterius. Dia terlihat... jelek. Wajahnya terdistorsi oleh kebencian. Dia sedang berteriak pada seorang pria kurus bertato yang memegang keranjang belanja.

“Kau habiskan semua uangku buat judi slot, Bangsat!” teriak Kimi, lalu dia meludah. Benar-benar meludah ke lantai supermarket yang bersih.

Pria itu mencengkeram lengan Kimi. “Diam kau, Pelacur! Kalau bukan karena aku, kau masih tidur di kolong jembatan!”

“Lepaskan!” Kimi memberontak, memukul dada pria itu dengan sebungkus besar keripik pedas. Bungkus itu pecah, remah-remah merah berhamburan ke lantai.

Orang-orang mulai berkumpul, berbisik-bisik, memandang jijik. Satpam mulai berlari mendekat.

Aku mundur. Jantungku berdetak begitu kencang sampai rasanya sakit.

Aku bersembunyi di balik rak sup kalengan. Napasku pendek. Aku merasa mual.

Itu Kimi. Gadis yang tidur di lenganku. Gadis yang kupeluk seperti boneka suci setiap malam. Gadis yang kuanggap sebagai dewi kehangatan yang turun dari langit untuk menyelamatkanku.

Ternyata dia hanyalah wanita kasar yang bertengkar soal uang judi di lorong supermarket. Dia punya pacar (atau suami?) yang brengsek. Dia punya masalah keluarga (“Buat Ibu,” katanya tadi). Dia meludah di lantai.

Realitas menghantamku seperti truk sampah.

Bau apel itu palsu. Itu hanya sampo murah untuk menutupi bau rokok dan keringat kemiskinan. Kehangatan itu bukan kehangatan mistis, itu hanya panas tubuh organisme yang sedang berjuang bertahan hidup di kota yang keras.

Struk belanja, kuncir rambut, kotak sepatu, semua harta karun di museumku tiba-tiba terasa menjijikkan. Sampah. Itu semua hanya sampah dari kehidupan orang lain yang menyedihkan.

Aku meninggalkan keranjang belanjaku begitu saja di lorong. Aku berlari keluar supermarket, menuju mobilku, gemetar hebat. Aku merasa dikhianati. Bukan karena dia berbohong—dia tidak pernah berbohong padaku—tapi karena realitasnya telah menodai fantasiku.

Aku ingin dia tetap menjadi kanvas kosong. Aku tidak ingin dia menjadi manusia dengan masalah yang rumit dan vulgar.

Aku tidak memanggilnya selama dua minggu.

Istriku pulang dari New York. Dia membawa oleh-oleh dasi sutra yang tidak akan pernah kupakai.

“Kau tampak kurus, Tora,” katanya saat kami makan malam. “Kau makan dengan benar selama aku pergi?”

“Ya,” jawabku sambil mengunyah pasta yang rasanya seperti karet.

Malam itu, kami tidur. Istriku kembali ke sisi kanannya, memunggungiku. Jarak di antara kami hanya sepuluh sentimeter, tapi rasanya seperti jurang selat Sunda.

Dingin itu kembali.

Aku berbaring di sana, menatap kegelapan. AC mendesis pelan. Aku mencoba mengingat rasa hangat punggung Kimi. Tapi bayangan itu kini tercemar oleh ingatan Kimi yang meludah di lantai supermarket.

Aku mencoba bertahan. Satu hari. Dua hari. Tiga hari.

Di hari keempat, aku merasa tulang-tulangku mulai membeku dari dalam. Rasa sepi itu bukan lagi sekadar emosi, tapi sudah berubah jadi rasa sakit fisik. Terasa ngilu di persendian. Menimbulkan rasa sesak di dada yang membuatku ingin menjerit.

Aku menyadari sesuatu yang mengerikan. Aku tidak peduli.

Aku tidak peduli kalau Kimi kasar. Aku tidak peduli kalau dia punya pacar brengsek. Aku tidak peduli kalau dia meludah.

Aku tidak membutuhkan Kimi yang asli. Aku membutuhkan Kimi yang bisa kupeluk dan kurasakan kehangatannya. Aku membutuhkan produk itu. Aku membutuhkan layanan itu.

Aku mengambil ponsel. Tangan istriku bergerak sedikit dalam tidurnya, tapi dia tidak bangun.

Aku pergi ke kamar mandi, mengunci pintu, dan menekan nomor Agensi Mawar Hitam.

“Paket semalam,” bisikku. “Kimi.”

Dia datang satu jam kemudian. Elara sedang tidur nyenyak di kamar utama. Dia minum pil tidur karena jetlag, jadi aman. Aku membawa Kimi ke kamar tamu yang jarang dipakai.

Saat aku membuka pintu apartemen, Kimi berdiri di sana dengan jas hujan kremnya yang biasa. Wajahnya tenang, datar, tanpa ekspresi. Tidak ada jejak wanita yang berteriak di supermarket. Dia kembali menjadi gadis bisu yang profesional.

“Hai,” sapanya pelan.

“Hai,” jawabku.

Aku melihat ada lebam samar di pergelangan tangannya. Bekas cengkeraman tangan pria itu, mungkin.

Aku tidak bertanya. Aku tidak mengatakan, “Aku melihatmu di supermarket.” Aku tidak menawarkan bantuan. Aku tidak bertanya apakah dia baik-baik saja.

Karena jika aku bertanya, aku akan mengakui realitasnya. Dan aku tidak mau realitas. Aku membayar untuk ilusi.

Kami masuk ke kamar tamu.

Dia minum susunya. Dia mengganti baju ke piyama kaos oblong yang sama.

Kami naik ke tempat tidur yang sempit. Lampu dimatikan.

“Peluk?” tanyanya.

“Peluk,” jawabku.

Aku melingkarkan lenganku di tubuhnya. Dia masih hangat. Sangat hangat. Jantungnya berdetak: Dug-dug. Dug-dug.

Aku menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma sampo apelnya. Sekarang aku tahu di balik aroma apel itu ada bau rokok menthol dan keringat amarah. Tapi aku tidak peduli.

Aku memeluknya lebih erat dari sebelumnya.

Di kamar sebelah, istri sahku tidur membeku seperti putri salju yang tidak akan pernah bangun. Di sini, di pelukanku, ada seorang wanita asing yang mungkin membenci hidupnya, yang melakukan ini demi uang untuk pacarnya yang penjudi.

Aku memejamkan mata.

Ini palsu. Aku tahu ini palsu. Kehangatan ini adalah komoditas yang kubeli, seperti listrik atau air PDAM.

Tapi saat ini, di tengah malam yang sunyi di pinggiran kota yang melankolis, matahari buatan tersebut adalah satu-satunya matahari yang kumiliki. Dan itu lebih dari cukup.

“Selamat tidur, Kimi,” bisikku ke dalam rambutnya.

Dia tidak menjawab. Dia hanya menghela napas panjang, dan membiarkan aku mencuri kehangatannya sampai pagi datang untuk menghapus segala mimpi. 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama