Xylathea - Sebuah Peta Tanpa Koordinat (3)

 

Bagian 3
Mekanika Kuantum dalam Secangkir Kopi




 

Tiga minggu.

Sudah tiga minggu aku menjadikan Elian sebagai subjek eksperimen yang tidak disadarinya. Kami bertemu enam kali. Tiga kali minum kopi, satu kali menonton film bisu di bioskop alternatif, dan dua kali hanya berjalan kaki tanpa tujuan di trotoar Sudirman saat Car Free Day.

Setiap pertemuan adalah sesi otopsi bagiku.

Aku duduk di hadapannya di sebuah kedai kopi sempit di Cikini. Di meja kami, dua cangkir Cold Brew sedang berjuang melawan kondensasi. Bau kopi tersebut agresif: cokelat hitam yang gosong, fermentasi winey yang tajam, dan sedikit bau sabun cuci piring lemon yang tidak dibilas bersih oleh barista.

Dunia berteriak lewat bau. Tapi Elian? Dia tetap menjadi ruang hampa.

“Kau menatapku lagi seperti aku ini mikroskop,” kata Elian, tidak mengangkat wajah dari buku sketsa kecilnya. Dia sedang menggambar orang-orang yang lewat. Garis-garis cepat. Abstrak.

“Aku mencoba mencari variabel yang hilang,” jawabku jujur.

Aku memang sengaja memancingnya hari ini. Aku ingin melihat retakan pada topeng Masa Kini-nya. Manusia tidak mungkin stabil selamanya. Jika aku bisa membuatnya marah, takut, atau bernafsu, kelenjar apokrinnya harus memproduksi sesuatu. Norepinephrine. Dopamine. Androstadienone.

Apa pun. Beri aku satu molekul saja untuk dibaca.

“Variabel apa?” tanyanya.

“Kau terlalu bersih, Elian. Itu tidak manusiawi. Manusia itu kotor. Kita ini reaktor kimia yang bocor. Kita memancarkan kecemasan kita lewat keringat. Kau... kau seperti boneka manekin yang diajari bernapas.”

Kalimatku kasar. Sengaja. Aku ingin menghinanya.

Elian berhenti menggambar. Dia meletakkan penanya perlahan. Gerakannya tidak tersentak (tidak ada lonjakan adrenalin). Dia menatapku lurus.

“Kara,” suaranya lembut, tapi ada berat yang berbeda di sana. “Kau terobsesi pada output. Pada apa yang keluar dari tubuh. Pernahkah kau berpikir bahwa mungkin aku tidak memancarkan apa-apa karena aku tidak menahan apa-apa?”

“Itu melanggar hukum biologi,” sanggahku cepat. “Emosi adalah reaksi biokimia. Kau tidak bisa mencegahnya menguap.”

“Emosi itu seperti tamu,” balas Elian. Dia menunjuk pintu kedai. “Mereka datang, mengetuk pintu, aku persilakan duduk sebentar, lalu mereka pergi. Kau? Kau menyandera tamu-tamumu. Kau mengunci mereka di ruang bawah tanah sampai mereka membusuk. Dan bau busuk itulah yang kau sebut sebagai Kebenaran.”

Aku terdiam. Tersengat.

Metafora itu terlalu akurat.


FILE: CATATAN_KULIAH_FISIKA #009

TOPIK: EFEK PENGAMAT (THE OBSERVER EFFECT)

 

Dalam mekanika kuantum, tindakan mengamati sebuah sistem akan mengubah sistem tersebut. Elektron berperilaku sebagai gelombang jika tidak dilihat, dan berubah menjadi partikel padat saat diukur.

Realitas tidak objektif. Realitas tergantung pada siapa yang melihatnya.

Masalahku dengan Elian adalah: Semakin keras aku mencoba “mengukur” dia dengan hidungku, semakin kabur data yang kudapat.

Apakah dia benar-benar tidak berbau?

Atau... apakah kehadiranku—dengan segala skeptisisme dan beban masa laluku—yang menciptakan interferensi gelombang sehingga sinyalnya menjadi nol?

Apakah aku yang membuatnya menjadi hampa?


Kami keluar dari kedai kopi saat matahari mulai turun. Cahaya oranye memantul di gedung-gedung kaca, menciptakan ilusi bahwa kota ini sedang terbakar.

Kami berjalan menuju stasiun Gondangdia. Trotoar sempit. Motor-motor nekat naik ke trotoar, klakson bersahutan. Bau asap knalpot dua tak—campuran oli samping terbakar dan bensin timbal—sangat menyengat. Aku menutup hidungku dengan punggung tangan. Kepalaku pening.

“Kau baik-baik saja?” tanya Elian.

“Polusi,” gumamku. “Terlalu banyak input.”

“Fokus pada satu hal,” katanya. “Jangan mencoba mencium seluruh kota.”

“Aku tidak bisa memilih! Hidungku tidak punya kelopak mata, Elian. Aku tidak bisa menutupnya!” Nada suaraku meninggi. Rasa frustrasi yang kutumpuk selama berminggu-minggu akhirnya retak. “Kau tidak mengerti rasanya hidup di tempat pembuangan sampah memori orang lain!”

Tiba-tiba, sebuah motor ojek online melaju kencang dari arah berlawanan, melawan arus, nyaris menyambar bahuku.

“Awas!”

Elian menarik tangannya. Dia menggenggam pergelangan tanganku dan menarikku ke arahnya, menjauhkanku dari tepi jalan.

Tubuh kami bertabrakan.

Wajahku menabrak dadanya. Hidungku menempel pada kain kemeja katunnya.

Di detik itu, seharusnya aku mencium ledakan aroma.

Keterkejutan (adrenalin). Panas tubuh. Residu deterjen. Mungkin sedikit bau keringat karena kami sudah berjalan 15 menit.

Tapi yang terjadi adalah Glitch.

00:00:01

Dunia menjadi bisu.

00:00:02

Bukan hanya Elian yang tidak berbau.

Tiba-tiba, bau asap knalpot hilang.

Bau aspal panas hilang.

Bau got yang menguap dari selokan hilang.

Bau gorengan dari gerobak di ujung jalan hilang.

00:00:03

Rasanya seperti seseorang baru saja mencabut kabel audio dari sebuah film yang sangat berisik. Visualnya masih ada—motor lewat, orang berteriak, lampu merah berkedip—tapi track aromanya terhapus total.

Duniaku menjadi datar. 2D. Steril.

Aku terkesiap, mundur selangkah, melepaskan diri dari pelukannya. Aku menghirup udara rakus, seperti orang tenggelam yang baru muncul ke permukaan.

Aku mencoba mencari bau apa pun. Sampah. Polusi. Apa saja!

Nihil. Hanya udara kosong. Oksigen tawar.

“Kara?” Elian memegang bahuku. “Kau pucat.”

Aku menatapnya dengan horor.

“Apa yang kau lakukan padaku?” bisikku.

“Apa?”

“Kau... kau mematikan duniaku.”

Perlahan, samar-samar, bau itu kembali. Bau bensin. Bau debu. Tapi intensitasnya turun 50%. Seperti volume yang dikecilkan paksa.

Aku gemetar. Bukan karena takut ditabrak motor tadi. Tapi karena selama tiga detik dalam pelukan Elian, untuk pertama kalinya seumur hidupku, aku merasakan hening.

Dan keheningan itu menakutkan. Tanpa bau, aku merasa buta. Tanpa bau, aku tidak tahu di mana aku berada. Tanpa bau, aku kehilangan orientasi waktu.


FLASHBACK: MEDAN, 1998

 

Aku berumur enam tahun.

Nenek terbaring di tempat tidur kayu jati yang besar. Ruangan itu gelap, tirai ditutup.

Semua orang bilang Nenek cuma sakit flu. Ibu bilang Nenek akan sembuh besok. Dokter bilang Nenek butuh istirahat.

Tapi aku tahu mereka bohong.

Saat aku masuk ke kamar itu, baunya bukan bau obat atau minyak angin. Baunya manis. Terlalu manis. Seperti bunga sedap malam yang sudah mulai cokelat pinggirnya. Seperti daging buah nangka yang terlalu matang sampai hampir busuk.

Itu bau sel-sel yang menyerah. Bau nekrosis mikroskopis.

“Nenek bau tanah,” kataku polos pada Ibu.

Ibu menampar mulutku pelan. “Jangan ngomong sembarangan!”

Dua jam kemudian, Nenek meninggal.

Sejak hari itu, aku belajar: Kata-kata orang dewasa adalah fiksi. Bau adalah satu-satunya nabi yang tidak pernah berdusta. Bau memberitahuku ending cerita sebelum hal itu terjadi.


Aku masih menatap Elian. Jantungku berpacu. Keringat dinginku sendiri mulai tercium—bau asam cuka yang tajam (ketakutan murni).

Tapi Elian tetap netral. Dia masih berbau seperti ozon. Seperti air hujan. Dan sekarang aku sadar, mungkin dia bukan sekadar anomali. Mungkin dia adalah obat penawar.

Atau mungkin dia adalah racun yang akan membunuh identitasku sebagai Si Pembaca Bau.

“Ayo,” kata Elian pelan, melepaskan tanganku tapi tetap berdiri dekat untuk melindungiku dari lalu lintas. “Kita cari tempat duduk. Napasmu berantakan.”

Aku menurut. Kakiku lemas.

Di kepalaku, sebuah hipotesis baru mulai terbentuk. Sebuah hipotesis yang jauh lebih mengerikan daripada hantu atau sosiopat. Bagaimana jika tubuhku memilih untuk berhenti mencium dunia, agar bisa fokus mencintai dia?

Bagaimana jika ini bukan kerusakan, melainkan evolusi?

Sistem sarafku sedang melakukan re-wiring.

Dan aku tidak yakin apakah aku siap kehilangan kutukan yang selama ini menjadi satu-satunya alat navigasiku.

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama