Bagian
2
Anomali
di Tengah Kebisingan Olfaktori
Pameran
itu bertajuk “The Void Within”. Sebuah galeri minimalis di kawasan
Jakarta Selatan yang dinding-dindingnya dicat putih absolut. AC sentral
berdengung halus, menjaga kelembapan di angka presisi untuk melindungi karya
seni.
Secara
visual, tempat tersebut menenangkan. Bersih. Kosong.
Secara
olfaktori, tempat tersebut adalah pasar malam.
Aku
berdiri di sudut ruangan, memegang gelas champagne yang tidak kuminum.
Di sekelilingku, kerumunan penikmat seni—atau orang-orang yang ingin terlihat
menikmati seni—berbaur. Bau mereka memekakkan telinga hidungku.
Ada
bau musk sintetik yang terlalu agresif dari seorang kritikus seni di
sebelah kanan (bau ego yang membengkak). Ada aroma floral layu bercampur
debu lemari tua dari kolektor wanita paruh baya (bau kesepian dan uang lama).
Dan yang paling parah, bau metalik tipis dari kegelisahan sosial yang
menguap dari hampir setiap pori-pori orang di ruangan ini. Mereka semua takut
dianggap bodoh karena tidak memahami lukisan kanvas kosong di depan sana.
Kecemasan
itu baunya asam. Seperti cuka apel yang ditumpahkan di atas aluminium.
Aku
meletakkan gelas. Kepalaku mulai berdenyut. Aku mengalami sensory overload.
Aku baru saja akan berbalik, memutuskan untuk pulang dan mengubur wajahku ke
dalam bantal yang sudah kucuci tanpa pewangi, ketika tiba-tiba...
Hening.
Bukan
hening suara. Musik ambien post-rock masih mengalun. Orang-orang masih
bergumam. Tapi ada satu titik buta di radar penciumanku. Sebuah lubang hitam
yang menyedot semua bau di sekitarnya.
Aku
menoleh.
Seorang
laki-laki berdiri tepat di depan instalasi utama—sebuah balok es yang perlahan
mencair. Dia mengenakan kemeja linen putih longgar dan celana katun. Posturnya
rileks, tangannya dimasukkan ke dalam saku.
Aku
mengernyit. Biasanya, aku bisa membaca seseorang dari jarak lima meter.
Dari
dia? Tidak ada.
Nol.
Apakah
hidungku rusak? Apakah receptor cilia di rongga hidungku akhirnya
menyerah karena kelelahan?
Aku
melangkah mendekat. Jarak tiga meter.
Masih
kosong.
Jarak
satu meter. Aku berdiri tepat di sebelahnya, berpura-pura mengamati balok es
itu. Aku menarik napas dalam-dalam, sebuah inhalasi forensik yang terukur. Yang
kudapatkan bukan bau manusia. Tidak ada jejak deterjen (apa dia tidak mencuci
baju?). Tidak ada residu sampo. Tidak ada bau keringat, feromon, kortisol, atau
hormon apa pun.
Dia
berbau seperti... udara di puncak gunung yang belum terjamah polusi.
Dia
berbau seperti ozon. Seperti listrik statis di layar televisi yang mati.
Seperti
air murni (H2O) yang telah disuling tujuh kali.
Ini
mustahil. Hukum Termodinamika Kedua menyatakan bahwa entropi selalu meningkat.
Tubuh manusia adalah mesin entropi; kita membakar energi, menghasilkan panas,
dan membuang limbah metabolisme setiap detik. Kita seharusnya bau.
“Indah,
ya?”
Suaranya
rendah, tenang. Dia tidak menoleh padaku. Matanya lekat pada balok es yang
meneteskan air ke lantai galeri.
Aku
tersentak. Butuh sekian detik untuk menyadari dia bicara padaku.
“Apanya?”
tanyaku. Suaraku terdengar defensif.
“Proses
menghilangnya,” jawabnya. Dia menunjuk balok es itu. “Dia tidak berusaha
menjadi bentuk yang permanen. Dia menerima bahwa takdirnya adalah mencair,
menjadi air, lalu menguap. Dia tidak melawan waktu.”
Aku
menatap profil wajahnya. Wajah yang... biasa saja. Tidak terlalu tampan, tidak
jelek. Wajah yang mudah dilupakan. Tapi kekosongan aroma tubuhnya membuatku
merinding. Seolah-olah aku sedang berdiri di sebelah hantu, atau hologram.
“Kau
tidak memakai parfum,” kataku. Itu bukan pertanyaan. Itu tuduhan.
Dia
akhirnya menoleh. Ada senyum tipis di bibirnya. Senyum yang tidak mencapai
matanya—bukan karena palsu, tapi karena matanya tampak begitu... jernih.
“Aku
tidak suka menutupi sesuatu,” jawabnya.
“Kau
juga tidak bau sabun. Atau keringat. Atau... masa lalu,” tembakku langsung.
Dia
tertawa kecil. Suara tawanya renyah, seperti kertas baru diremas. “Masa lalu?”
“Setiap
orang membawa bau dari mana mereka berasal,” ujarku, melupakan sopan santun.
Insting ilmiahku mengambil alih. Aku ingin membedahnya. “Bau rumah mereka. Bau
makanan yang mereka makan tadi siang. Bau orang yang mereka peluk tadi pagi.
Kau... kau seperti baru lahir lima menit yang lalu.”
Laki-laki
itu memiringkan kepalanya, seolah menganggap analisisku menarik tapi tidak
ofensif.
“Mungkin
karena aku tidak membawa apa-apa,” katanya ringan. “Namaku Elian.”
Dia
tidak mengulurkan tangan. Dia hanya mengangguk.
“Kara,”
jawabku singkat.
Kami
kembali diam. Menonton es mencair.
Untuk
pertama kalinya dalam hidupku, berdiri di sebelah manusia lain tidak terasa
meletihkan. Biasanya, berada dekat orang lain seperti mendengarkan lima stasiun
radio diputar bersamaan. Tapi Elian adalah white noise. Dia adalah
frekuensi kosong yang menenangkan sistem sarafku.
“Apa
kau... sakit?” tanyaku lagi. Aku tidak bisa menahan diri. Ada kondisi medis
tertentu di mana tubuh berhenti memproduksi bau khas, biasanya terkait dengan
disfungsi kelenjar apokrin. Atau mungkin dia sosiopat? Konon, psikopat murni
tidak memiliki lonjakan emosi, sehingga tidak memproduksi feromon kecemasan.
“Sakit?”
Elian tampak berpikir. “Tidak. Kurasa aku cuma... ada di sini.”
“Ada
di sini?”
“Di
detik ini,” dia menunjuk tetesan air yang jatuh. Plip. “Dan sekarang di
sini.” Plip. “Aku tidak hidup di lima menit yang lalu. Dan aku belum
hidup di lima menit ke depan.”
Kata-katanya
terdengar seperti omong kosong filosofis new age yang sering kudengar di
seminar motivasi. Tapi masalahnya, tubuhnya memvalidasi ucapannya.
Jika
dia cemas akan masa depan, harusnya ada bau asam adrenalin.
Jika
dia menyesali masa lalu, harusnya ada bau berat melankolia (sejenis aroma tanah
basah dan debu buku tua).
Tidak
ada.
Dia
bersih. Tabula Rasa.
FILE:
ARSIP_MEDIS_ALTERNATIF
JUDUL:
HIPOTESIS KOSONG
Sumber:
Jurnal Neurobiologi Kuantum (Edisi Terbatas)
Ada
teori radikal yang menyebutkan bahwa “Jejak Kimiawi” (Chemical Trail)
manusia adalah produk dari ketidakhadiran mental.
Ketika
kita stres memikirkan cicilan rumah bulan depan, tubuh memproduksi kortisol.
Baunya tajam.
Ketika
kita marah mengingat penghinaan sepuluh tahun lalu, tubuh memproduksi
noradrenalin. Baunya panas.
Bau
badan, pada dasarnya, adalah manifestasi biologis dari Resistensi terhadap
Saat Ini. Kita bau karena kita menolak untuk berada “di sini”. Kita bau
karena kita sibuk menyeret bangkai memori atau mengejar hantu masa depan.
Pertanyaannya:
Apa yang terjadi pada manusia yang mencapai kesadaran total akan “The Now”?
Manusia yang tidak memiliki resistensi mental?
Secara
teoritis, metabolisme mereka akan mencapai efisiensi sempurna. Tidak ada sampah
emosional. Tidak ada residu kimiawi.
Mereka
menjadi tidak terlihat oleh hidung sejarah.
Mereka
menjadi anomali.
“Mau
kopi?” tawarnya tiba-tiba.
Pertanyaan
itu begitu normal, begitu banal, sampai-sampai terasa aneh keluar dari mulut
anomali yang satu ini.
“Kopi?”
“Ada
kedai di seberang jalan. Kopinya biasa saja, tapi tempatnya tenang.”
Aku
ragu. Insting pertahananku berteriak. Orang ini asing. Orang ini tidak
terpetakan dalam databaselogi aroma yang kupelajari seumur hidup. Dia
variabel X yang tidak bisa dimasukkan ke dalam rumus.
Tapi
kemudian, embusan angin dari AC sentral membawa aroma tubuh kerumunan di
belakangku lagi—bau parfum mahal yang busuk, bau kepalsuan yang menyengat. Aku
merasa mual.
Aku
menoleh ke arah Elian. Di sekelilingnya, udara terasa sejuk. Zona bebas polusi.
Berada di dekatnya adalah satu-satunya cara aku bisa bernapas tanpa merasa
diserang.
“Oke,”
jawabku. “Tapi jangan harap aku basa-basi soal cuaca.”
Elian
tersenyum lagi. Kali ini, matanya sedikit menyipit.
“Aku
benci cuaca,” katanya. “Terlalu sering berubah.”
Kami
berjalan keluar galeri. Meninggalkan “The Void Within” yang palsu di
dalam sana, menuju kekosongan yang nyata yang berjalan di sampingku. Dan untuk
pertama kalinya, aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Biasanya,
hidungku sudah memberitahuku ending-nya bahkan sebelum cerita dimulai. Tapi
dengan Elian, aku buta.
Dan
itu... menakutkan sekaligus memabukkan.
