MAZMUR DARI RAHIM YANG
MURTADRetno Dumilah Wijayanti
Gereja Katedral itu berdiri angkuh di jantung kota, sebuah monumen Gotik yang menusuk langit, seolah ingin melubangi ozon agar doa-doa bisa lebih cepat sampai ke telinga Tuhan. Tapi bagiku, Magdalena—nama baptis yang kini terasa seperti baju kesempitan—menara itu lebih mirip jarum suntik raksasa yang menyuntikkan opium ke dalam vena umat manusia.
Aku
duduk di bangku paling belakang, pada kayu jati tua yang keras. Di depan sana,
di altar yang bermandi cahaya kuning keemasan, seorang imam sedang mengangkat
piala.
“Inilah
darah-Ku...”
Lonceng
berbunyi. Ting... ting... ting...
Umat
berlutut. Ratusan kepala menunduk serentak. Mereka percaya bahwa pada detik
ini, anggur di dalam cawan itu telah berubah substansinya menjadi darah ilahi. Transubstantiation.
Sebuah mukjizat kimiawi yang tidak bisa dibuktikan di laboratorium manapun,
kecuali di laboratorium iman.
Aku
tidak berlutut. Aku tetap duduk tegak, menyilangkan kaki, dan menyalakan rokok
elektrikku diam-diam. Asap tipis berbau mint keluar dari mulutku,
berbaur dengan asap kemenyan yang mengepul dari pendupaan.
Dulu,
aku adalah bagian dari punggung-punggung itu. Aku adalah seorang novisiat.
Calon biarawati. Aku pernah mencium lantai kapel dengan penuh kerinduan,
menyerahkan keperawananku pada mempelai pria yang tak kasat mata: Yesus.
Tapi
itu dulu. Sebelum aku menemukan bahwa Tuhan tidak tinggal di dalam tabernakel
emas itu. Tuhan, jika Dia ada, lebih suka tinggal di tempat-tempat yang
dianggap najis oleh para klerus: di selokan, di rumah bordil, dan di dalam
keraguan manusia.
Imanku
tidak hilang. Ia hanya retak. Dan melalui retakan itulah, cahaya yang
sesungguhnya—cahaya yang menyilaukan dan membakar—akhirnya bisa masuk.
Lima
tahun lalu. Aku sedang menyelesaikan tesis teologiku tentang Ekofeminisme
dan Maria Magdalena. Dosen pembimbingku adalah Romo Stefanus, seorang
intelektual gereja yang kharismatik, dengan rambut perak dan mata yang teduh
seperti kolam pembaptisan.
Kami
sering berdiskusi sampai larut malam di perpustakaan biara. Membahas Santo
Agustinus, membahas dosa asal, membahas mengapa Hawa dianggap sebagai pintu
gerbang neraka hanya karena dia ingin tahu (memakan buah pengetahuan).
“Gereja
dibangun di atas patriarki, Magda,” kata Romo Stefanus suatu malam, sambil
menuangkan wine ke gelas kami. “Tapi kita butuh struktur. Tanpa
struktur, spiritualitas akan menjadi anarki.”
“Tapi
Romo,” bantahku, “bukankah Yesus sendiri seorang anarkis? Dia melanggar hukum
Sabat. Dia bergaul dengan pelacur. Dia membalikkan meja pedagang di bait Allah.
Kenapa Gereja sekarang justru menjadi pedagang aturan?”
Romo
Stefanus tersenyum. Senyum yang menyiratkan: kamu cerdas, tapi kamu naif.
Malam
itu, diskusi teologis berubah menjadi eksplorasi antroposentris. Tangan Romo
Stefanus, yang biasa memegang hosti suci, menyentuh tanganku. Ada getaran.
Bukan getaran roh kudus, tapi getaran libido.
Kami
bercinta di antara rak buku yang memuat ribuan tahun dogma tentang pengekangan
hawa nafsu.
Itu
bukan pemerkosaan. Itu konsensual. Bahkan, bagiku, itu adalah eksperimen
spiritual. Aku ingin tahu, apakah langit akan runtuh jika seorang calon
biarawati dan seorang imam menyatukan tubuh mereka?
Ternyata
langit tidak runtuh. Tidak ada petir. Yang ada hanya desahan, keringat, dan bau
buku tua.
Namun,
yang menghancurkan imanku bukanlah seks itu sendiri. Tapi apa yang terjadi
sesudahnya.
Pagi
harinya, Romo Stefanus pergi ke kamar pengakuan dosa. Dia mengaku pada imam
lain, menerima absolusi (pengampunan), dan sejam kemudian dia sudah memimpin
misa dengan wajah suci tanpa cela. Dia mencuci dosanya semudah mencuci tangan.
Sementara
aku?
Aku
merasa kotor bukan karena seksnya, tapi karena kemunafikan sistemnya. Bagi
laki-laki (imam), dosa seks adalah kelemahan daging yang bisa dimaafkan. Bagi
perempuan (biarawati), itu adalah jatuhnya mempelai Kristus, sebuah noda
permanen.
Romo
Stefanus tetap menjadi Romo yang terhormat. Aku dikeluarkan dari biara.
Di
situlah aku sadar: Dogma agama sering kali hanyalah manajemen reputasi
laki-laki. Tuhan dijadikan stempel untuk melegitimasi standar ganda. Imanku
retak bukan karena aku berhenti percaya Tuhan, tapi karena aku berhenti percaya
pada humas-Nya di bumi.
***
Ada
dua jenis spiritualitas.
Pertama,
Spiritualitas Plastik. Ini adalah jenis yang diproduksi massal oleh institusi
agama. Ia awet, tidak bisa membusuk, tapi juga tidak bernyawa. Ia berbentuk
aturan, dogma, dan ritual yang kaku. Ia steril. Ia takut pada kotoran. Ia
memisahkan yang sakral (gereja/masjid) dengan yang profan (pasar/kamar tidur).
Tujuannya adalah ketertiban sosial.
Kedua,
Spiritualitas Organik. Ini seperti kompos. Ia berasal dari pembusukan
pengalaman hidup: kegagalan, dosa, sakit hati, orgasme, dan kematian. Ia bau,
kotor, dan berantakan. Tapi dari sanalah kehidupan baru tumbuh. Spiritualitas
ini tidak takut pada tubuh. Ia merayakan darah menstruasi sama sucinya dengan
air suci.
Pemberontakanku
adalah perpindahan dari Plastik ke Organik.
Gereja
mengajarkan bahwa tubuh adalah penjara jiwa. Plato juga bilang begitu (Soma
Sema). Gnostisisme membenci materi.
Tapi
aku, sebagai perempuan, mengalami Tuhan melalui tubuh.
Saat
aku menstruasi, aku merasakan siklus bulan dan gravitasi semesta bekerja dalam
rahimku.
Saat
aku melahirkan (aku punya anak sekarang, anak haram menurut gereja, anak suci
menurutku), aku merasakan kekuatan penciptaan ex nihilo—dari tiada
menjadi ada.
Kenapa
imam laki-laki yang tidak punya rahim berani mendiktekan teologi tubuh padaku?
Mereka
memuja Tuhan yang berdarah di kayu salib (darah kematian), tapi jijik pada
perempuan yang berdarah setiap bulan (darah kehidupan). Ini adalah cacat logika
yang fatal.
Aku
bukan lagi calon biarawati. Aku adalah kurator seni. Sebuah profesi yang mirip
dengan imam: kami sama-sama menafsirkan simbol untuk memberi makna pada
kekosongan hidup orang kaya.
Malam
ini ada pembukaan pameran tunggal seniman muda, Tuhan yang Telanjang.
Lukisan-lukisannya provokatif. Ada Yesus yang digambarkan sedang tertawa
terbahak-bahak sambil memegang botol bir. Ada Maria yang sedang menyusui bayi
sambil merokok.
Pengunjung
berbisik-bisik. Sebagian tersinggung, sebagian pura-pura mengerti demi terlihat
intelektual.
Tiba-tiba,
aku melihat sosok itu. Romo Stefanus.
Dia
datang bukan memakai jubah, tapi kemeja batik. Dia sudah tua sekarang. Rambut
peraknya menipis. Dia datang bersama sekumpulan donatur gereja yang juga
kolektor seni.
Mata
kami bertemu.
Ada
jeda sejenak. Jeda di mana sejarah lima tahun lalu diputar ulang dalam
kecepatan tinggi.
Dia
mendekatiku. Wajahnya ramah, topeng diplomatiknya masih sempurna.
“Magda?
Apa kabar? Lama sekali tidak melihatmu di misa,” sapanya. Suaranya masih sama,
suara bariton yang dulu membuatku basah sekaligus takut.
“Saya
masih misa, Romo. Tapi altar saya beda,” jawabku dingin.
“Oh?
Di mana parokimu sekarang?”
“Di
sini,” aku menunjuk dadaku, lalu menunjuk lukisan-lukisan di dinding. “Di dunia
yang nyata. Di mana Tuhan tidak perlu disembunyikan di balik bahasa Latin dan
dupa.”
Romo
Stefanus tersenyum masam. “Kamu masih marah. Kemarahan itu racun bagi jiwa,
Magda.”
“Bukan
marah, Romo. Tapi sadar.” Aku menyesap wine-ku. “Marah adalah emosi anak
kecil yang mainannya diambil. Saya tidak kehilangan mainan. Saya hanya sadar
bahwa mainan itu palsu.”
“Gereja
tidak sempurna, Magda. Isinya manusia berdosa. Tapi Sakramen tetap suci.”
“Sakramen?”
Aku tertawa kecil. “Romo, setiap kali saya melihat perempuan miskin di pinggir
jalan membagi nasinya untuk kucing liar, itu sakramen. Itu ekaristi yang lebih
nyata daripada roti tipis yang Romo bagikan di gedung ber-AC.”
Wajah
Romo Stefanus mengeras. Dia tidak suka didebat, apalagi oleh mantan muridnya,
mantan bawahannya.
“Kamu
tersesat, Nak. Kamu mengganti Tuhan dengan Ego-mu sendiri. Itu bahaya
spiritualitas tanpa dogma, bentuk narsisme.”
“Mungkin,”
jawabku tenang. “Tapi setidaknya narsisme saya jujur. Saya tidak berlindung di
balik jubah suci untuk menutupi libido saya. Saya tidak butuh pengakuan dosa
dari laki-laki lain untuk merasa bersih. Saya bertanggung jawab atas kotoran
saya sendiri.”
Kalimat
itu menohoknya. Dia tahu aku sedang bicara tentang malam di perpustakaan itu.
Tentang kemunafikannya.
Dia
mundur selangkah. “Saya doakan kamu kembali ke jalan terang.”
“Simpan
doa Romo,” kataku. “Doa Romo tidak laku di pasar Tuhan yang saya sembah.”
Dia
pergi, menghilang di kerumunan sosialita yang wangi. Aku berdiri sendiri di
depan lukisan Maria yang merokok. Aku mengangkat gelasku pada lukisan itu. Cheers,
Bunda. Kita sama-sama perempuan yang disalahpahami oleh sejarah laki-laki.
Aku
keluar dari galeri. Hujan turun deras. Jakarta yang panas dan berdebu seketika
berubah menjadi basah dan melankolis.
Biasanya
orang akan berteduh. Tapi aku berjalan menembus hujan.
Air
hujan membasahi gaun sutraku, menembus kulit, menyentuh tulang. Dingin. Tapi
menyegarkan.
Inilah
baptisan yang sesungguhnya. Bukan percikan air yang diatur oleh imam di bejana
marmer. Tapi air yang jatuh langsung dari langit, tanpa perantara, tanpa
birokrasi, tanpa tarif stola.
Spiritualitas
yang memberontak tidak mencari Tuhan di tempat tinggi. Ia mencari Tuhan di
kedalaman.
Gereja
mengajarkan kita untuk menengadah ke atas (ascension), melupakan bumi,
menuju surga yang abstrak.
Spiritualitasku
mengajarkan untuk menunduk ke bawah (descension), merangkul bumi,
mengakar pada realitas yang becek.
Aku
teringat konsep Kintsugi dari Jepang. Seni memperbaiki keramik yang
pecah dengan emas. Keretakan itu tidak disembunyikan, tapi ditonjolkan. Keramik
itu menjadi lebih indah karena ia pernah pecah.
Imanku
adalah mangkuk Kintsugi itu.
Ia
pernah pecah berkeping-keping oleh kemunafikan, oleh kekecewaan, oleh logika
yang menolak dongeng. Tapi aku menyatukannya kembali, bukan dengan lem dogma,
tapi dengan emas kesadaran.
Bahwa
Tuhan itu Misteri.
Bahwa
Agama itu Peta, bukan Wilayah.
Bahwa
Dosa seringkali hanya label sosial untuk ketidakpatuhan pada kekuasaan.
Aku
berjalan terus. High heels-ku berbunyi di trotoar basah.
Di
sebuah sudut jalan, aku melihat seorang ibu tunawisma sedang menyusui bayinya
di bawah emperan toko yang tutup. Wajahnya kusam, tapi matanya bersinar saat
menatap anaknya.
Aku
berhenti.
Inilah
Natal. Inilah Incarnation. Tuhan menjadi daging. Bukan di kandang domba
2000 tahun lalu di Betlehem yang sudah jadi objek wisata, tapi di sini, di
emperan toko Glodok.
Aku
merogoh tasku. Mengeluarkan semua uang tunai yang ada. Memberikannya pada ibu
itu.
Dia
kaget. “Mbak... ini apa...”
“Ambil,
Bu,” kataku. “Doakan saya.”
“Doa
apa, Mbak?”
“Doakan
agar saya tetap berani menjadi pendosa yang jujur, daripada menjadi orang suci
yang palsu.”
Ibu
itu tidak mengerti teologiku. Dia hanya mengerti uang itu bisa menyambung hidup
dan untuk kebutuhan anaknya. Dia mengangguk dan tersenyum. Senyum ompong yang
tulus.
***
Aku
sampai di apartemenku. Basah kuyup.
Aku
melepas bajuku, berdiri telanjang di depan cermin.
Aku
melihat tubuhku. Payudara yang mulai turun. Perut yang ada bekas stretch
mark kehamilan. Bekas luka di lutut.
Ini
adalah bait Allahku.
Aku
tidak butuh perantara.
Aku
tidak butuh pria berjubah untuk memberitahuku mana yang benar dan salah. Nurani
adalah nabi yang paling keras suaranya, jika kita berani mendengarkan di tengah
kebisingan ayat-ayat yang diteriakkan.
Aku
mengambil buku harianku. Menulis sebuah kredo baru. Syahadat pemberontak.
Aku
percaya pada Tuhan yang Maha Paradoks.
Yang
ada dalam orgasme pelacur dan doa pertapa.
Yang
ada dalam keraguan Thomas dan penyangkalan Petrus.
Aku
percaya bahwa tubuhku adalah wahyu yang belum selesai ditulis.
Aku
menolak iman yang buta.
Aku
memeluk iman yang melihat, meski yang dilihatnya adalah kegelapan.
Karena
hanya dalam gelap, kita bisa melihat bintang.
Aku
menutup buku itu.
Di
luar, hujan masih turun. Membasuh kota yang penuh dosa. Air hujan tidak
membedakan mana atap katedral, mana atap rumah bordil. Ia memberkati semuanya.
Dan
itulah jenis Tuhan yang aku imani. Tuhan yang tidak memilih kasih. Tuhan yang
retak, yang merembes masuk melalui celah-celah ketidaksempurnaan kita.
