Museum Rasa Sakit di
Jalan Tunjungan
ADG
Ada ironi kosmik yang kejam dalam pilihan karierku. Aku menghabiskan hari-hariku untuk menghilangkan rasa sakit orang lain—menyuntikkan propofol dan fentanil, mematikan saraf, membuat manusia menjadi benda mati sementara—padahal aku sendiri tidak pernah merasakan sakit seumur hidupku.
Aku
menderita Congenital Analgesia. Sebuah kondisi genetik langka.
Saraf-sarafku berfungsi, tapi otakku menolak menerjemahkan sinyal bahaya
menjadi rasa nyeri.
Aku
bisa mencelupkan tanganku ke dalam air mendidih dan hanya merasakan panas,
bukan sakit. Aku pernah berjalan dengan kaki patah selama dua hari
karena aku hanya merasa kakiku agak tidak stabil, bukan menderita.
Duniaku
adalah dunia yang tumpul. Tanpa rasa sakit, kenikmatan pun terasa berjarak.
Ciuman wanita terasa seperti menempelkan daging ke daging. Orgasme terasa
seperti bersin: sebuah pelepasan mekanis yang singkat dan tidak berbekas. Aku
hidup di balik lapisan kaca tebal, menonton dunia yang penuh drama sensorik,
sementara aku sendiri mengapung di dalam akuarium yang sunyi.
Aku
tinggal di lantai atas sebuah gedung art deco tua di Jalan Tunjungan.
Gedung peninggalan Belanda dengan langit-langit tinggi, jendela-jendela besar
yang berdebu, dan lantai ubin bermotif catur yang dingin.
Surabaya
adalah kota yang panas dan lembap. Udaranya berat, seolah mengandung partikel
timah. Tapi di dalam apartemenku, aku menjaga suhu tetap dingin.
Malam
itu, hujan turun membasahi aspal Jalan Tunjungan, memantulkan lampu-lampu neon
hotel dan kafe. Aku sedang duduk di kursi kulitku, mendengarkan Miles Davis
meniup terompetnya yang melengking, sambil menyeduh kopi.
Aku
menumpahkan sedikit air panas ke punggung tanganku. Kulitku memerah. Melepuh.
Tapi aku hanya menatapnya dengan rasa ingin tahu akademis, seolah itu adalah
tangan orang lain.
“Kosong,”
gumamku pada bayanganku di cermin. “Kau hanyalah ruangan kosong yang dicat
putih.”
Sampai
kemudian, bel pintu berbunyi.
Seorang
wanita berdiri di sana. Dia basah kuyup. Dia memegang payung merah yang rusak. Tapi
yang paling menarik perhatianku bukan wajahnya yang cantik dan pucat, melainkan
cara dia berdiri.
Dia
berdiri dengan kemiringan yang tidak wajar. Bahu kirinya lebih tinggi. Kakinya
gemetar halus. Ada aura tegangan tinggi yang memancar darinya. Dia terlihat
seperti kabel listrik yang terkelupas dan memercikkan api di tengah hujan.
“Dokter
Arif?” tanyanya. Suaranya terdengar seperti kaca yang retak.
“Ya.”
“Nama
saya Nara. Seseorang bilang... Anda bisa membuat orang mati rasa.”
Dia
masuk ke apartemenku, menyeret kaki kirinya sedikit. Setiap langkah yang dia
ambil terlihat seperti perhitungan matematika yang rumit untuk meminimalkan
penderitaan.
Dia
duduk di sofa beludruku. Tubuhnya tegang.
“Minumlah,”
kataku, menyodorkan segelas air putih.
Dia
meminumnya. Tangannya gemetar begitu hebat hingga gelas itu beradu dengan
giginya. Kling.
“Ada
apa dengan tubuhmu?” tanyaku. Aku tidak bertanya sebagai dokter, tapi sebagai
pengamat.
“Semuanya,”
jawabnya. Dia meletakkan gelas. “Tulang belakangku retak tiga tahun lalu. Lutut
kiriku hancur ligamennya. Ada pen logam di pinggulku yang berkarat. Setiap kali
hujan turun... rasanya seperti ada paku yang dipukul masuk ke dalam sumsum
tulangku.”
Aku
menatapnya. Bagi orang awam, dia terlihat menderita. Tapi bagiku—pria yang
hidup dalam kehampaan sensorik—dia terlihat menyilaukan.
Tubuhnya
adalah sebuah orkestra rasa sakit. Saraf-sarafnya sedang memainkan simfoni
jeritan yang tidak bisa kudengar tapi bisa kurasakan getarannya. Dia begitu hidup.
Dia begitu penuh dengan sensasi.
“Obat
penahan sakit tidak mempan lagi,” lanjutnya. “Morfin membuatku tumpul dan
bodoh. Aku butuh... aku butuh istirahat. Tapi aku tidak mau tidur. Aku mau
sadar saat rasa sakit itu hilang.”
“Lalu
apa yang kau inginkan dariku?”
“Sentuh
aku,” bisiknya.
Aku
mengerutkan kening. “Apa?”
“Ada
rumor di kalangan penari tua,” katanya, menatap mataku tajam. “Bahwa ada dokter
hantu di Tunjungan. Dokter yang tidak bisa sakit. Dan karena dia hampa, dia
bisa menyerap sakit orang lain seperti spons.”
Itu
takhayul konyol. Secara medis, itu mustahil. Tapi saat Nara mengulurkan
tangannya yang kurus dan pucat ke arahku, aku merasakan dorongan impulsif yang
aneh.
Aku
mengulurkan tanganku. Ujung jariku menyentuh ujung jarinya.
Saat
kulit kami bersentuhan, aku merasakan sentakan di lenganku. Sebuah sensasi ngilu
yang asing merambat naik dari jariku ke bahuku.
Itu
bukan rasa sakitku. Itu rasa sakitnya.
Di
saat yang sama, bahu Nara turun. Ketegangan di wajahnya mengendur. Dia menghela
napas panjang, seolah baru saja melepaskan ransel berisi batu bata.
“Ya
Tuhan...” desisnya. Matanya terpejam.
Aku
menarik tanganku, terkejut. Sensasi ngilu di lenganku hilang seketika, kembali
menjadi kehampaan.
Nara
membuka matanya. Tatapannya liar, lapar.
“Jangan
berhenti,” pintanya. “Tolong. Ambil lagi. Ambil semuanya.”
Kami
tidak langsung bercinta malam itu. Kami melakukan sesuatu yang lebih intim: kalibrasi.
Aku
membawanya ke kamar tidurku yang luas dan minim perabot. Lampu jalan dari Jalan
Tunjungan masuk lewat jendela, menciptakan pola garis-garis cahaya oranye di
lantai.
Nara
duduk di tepi tempat tidur. Dia membuka blusnya, memperlihatkan punggungnya
yang penuh bekas luka operasi samar dan otot yang tegang seperti kawat baja.
“Di
sini,” dia menunjuk tulang belikatnya. “Di sini ada api.”
Aku
duduk di belakangnya. Aku meletakkan kedua telapak tanganku di punggungnya.
Sekali
lagi, sensasi itu membanjiriku. Rasanya bukan seperti menyentuh kulit. Rasanya
seperti mencelupkan tangan ke dalam bak berisi beling yang diaduk. Tajam.
Panas. Menyakitkan.
Tapi
bagiku, rasa sakit itu adalah ambrosia.
Selama
tiga puluh lima tahun aku hidup dalam mode mute. Sekarang, tiba-tiba
volume dinyalakan. Aku bisa merasakan tekstur penderitaannya. Aku bisa
merasakan denyut peradangannya.
Itu
memabukkan. Aku merasa darahku mendidih. Aku merasa jantungku memompa lebih
keras. Aku merasa terangsang. Aku ingin merasakan lebih banyak.
“Terus...”
desah Nara. Kepalanya terkulai ke belakang, bersandar di dadaku. “Sedot
racunnya, Dokter. Jadilah lintahku.”
Aku
mulai menggerakkan tanganku. Aku memijat bahunya, bukan untuk melemaskan otot,
tapi untuk mencari simpul-simpul rasa sakit itu.
Setiap
kali aku menekan titik yang meradang, aku merasakan lonjakan energi merah yang
menyengat tanganku, merambat ke tulang belakangku, dan meledak di otakku
sebagai kenikmatan murni.
Di
sisi lain, Nara semakin lemas. Tubuhnya yang tadinya kaku menjadi cair. Dia
meleleh di tanganku. Rasa sakitnya berpindah padaku, meninggalkannya dalam
keadaan anestesi yang sempurna.
“Rasanya
seperti salju...” gumamnya. “Tubuhku terasa seperti padang salju yang sunyi.”
Malam
itu, kami tidak melakukan penetrasi. Kami hanya duduk berjam-jam. Aku
menelusuri peta penderitaan di tubuhnya—lututnya yang retak, pinggangnya yang
berkarat, lehernya yang kaku.
Aku
menjadi tempat sampah bagi limbah sensoriknya. Dan aku memakannya dengan rakus.
Setelahnya
hubungan kami berubah menjadi simbiosis parasitisme.
Nara
datang setiap malam. Dia membutuhkan dosis ketiadaan-nya. Aku
membutuhkan dosis rasa sakit-ku.
Kami
mulai melangkah lebih jauh. Pijatan tidak lagi cukup. Transfer melalui kulit
punggung terlalu lambat. Kami membutuhkan koneksi yang lebih dalam. Mukosa
bertemu mukosa. Saraf bertemu saraf.
Malam
itu hujan badai di Surabaya. Guntur menggelegar, menggetarkan kaca jendela tua
apartemenku. Nara datang dengan gaun tipis. Dia sudah tidak sabar.
“Lututku
berteriak hari ini,” katanya. “Dan ada jarum di dalam kepalaku.”
“Ayo
ke tempat tidur,” kataku. Suaraku serak. Aku juga sudah lapar. Seharian aku
merasa hampa, merindukan sengatan listrik itu.
Kami
menanggalkan pakaian. Tubuh Nara adalah peta bencana yang indah. Pucat, kurus,
penuh memar samar. Tubuhku adalah kanvas kosong yang sehat tapi membosankan.
Saat
kami berbaring bersama, kulit kami menempel sepenuhnya. Transfer itu terjadi
seketika. Gelombang rasa sakit dari seluruh tubuhnya menghantamku seperti
tsunami. Aku tersentak, mengerang. Rasanya seperti dikuliti hidup-hidup. Tapi
aku tidak menarik diri. Aku memeluknya lebih erat.
“Masuklah,”
bisik Nara. “Sambungkan kabelnya.”
Saat
aku memasukinya, rasanya seperti menyolokkan steker ke stopkontak bertegangan
tinggi yang basah. Aku tidak merasakan kehangatan vagina yang biasa. Aku
merasakan diriku sedang memasuki medan ranjau.
Dinding-dinding
di dalam dirinya berdenyut dengan rasa sakit. Cedera panggulnya, syaraf
terjepit di tulang ekornya, semua itu terpusat di area intimnya.
Bagi
pria normal, ini akan mematikan ereksi. Tapi bagiku, ini adalah bahan bakar
roket.
Rasa
sakit itu mengalir masuk melalui penisku, merambat naik seperti api cair,
membakar setiap saraf yang selama ini tidur di tubuhku. Aku merasa penisku
bukan lagi organ daging, melainkan batang penangkal petir.
Aku
mulai bergerak. Setiap dorongan adalah pencurian. Aku menarik rasa sakit dari
pinggulnya. Sentakan. Aku menarik rasa ngilu dari tulang belakangnya. Sentakan.
Nara
mendesah panjang. Desahan itu bukan desahan gairah, tapi desahan kelegaan yang
orgasmitik.
“Kosongkan
aku...” bisiknya di telingaku. “Buat aku mati rasa. Buat aku hilang.”
Gerakanku
menjadi ritmis, mengikuti denyut penderitaannya.
Tarik.
Sedot. Telan.
Aku
membayangkan diriku sebagai mesin dialisis. Darah kotor penuh pecahan kaca
mengalir dari tubuhnya ke tubuhku, dan darah bersih yang dingin mengalir dari
tubuhku ke tubuhnya.
“Lebih
dalam,” pintanya. “Ada simpul rasa sakit di dasar perutku. Ambil itu.”
Aku
menekan lebih dalam. Ujung penisku menyentuh serviksnya.
BOOM.
Ledakan
rasa sakit itu luar biasa. Rasanya seperti menelan granat aktif. Kepalaku
pening. Penglihatanku memutih. Rasa sakit itu begitu intens hingga berubah
menjadi ekstase. Endorfin dan adrenalin membanjiri otakku yang kelaparan.
Aku
menggeliat di atasnya, mengerang kesakitan yang nikmat. Tubuhku kejang. Sementara
itu, di bawahku, Nara menjadi tenang. Sangat tenang. Wajahnya rileks total,
seolah dia sedang mengapung di Laut Mati. Matanya terbalik ke atas. Mulutnya
sedikit terbuka. Dia tidak merasakan apa-apa. Dia mencapai nirwana anestesi.
“Biru...”
gumamnya. “Semuanya biru dan diam...”
Kami
terus bergerak dalam tarian ganjil itu. Aku, sang dokter yang menggeliat
kesakitan karena kenikmatan. Dia, sang pasien yang diam mematung dalam orgasme
ketumpulan.
Kami
adalah dua kutub magnet yang saling menetralkan.
***
Bulan
kedua. Intensitasnya meningkat.
Aku
menjadi pecandu berat. Rasa sakit biasa tidak lagi memuaskanku. Aku butuh yang
lebih tajam. Lebih perih. Lebih menghancurkan.
Nara,
sebaliknya, menjadi semakin bergantung pada ketumpulan itu. Di siang hari, saat
rasa sakitnya kembali, dia menjadi histeris.
Suatu
malam, Nara datang dengan ide gila.
“Aku
berhenti minum obat radangku selama tiga hari,” katanya. Wajahnya berkeringat
dingin. Dia hampir tidak bisa berdiri. “Tubuhku sekarang adalah neraka, Arif.
Kebakaran total.”
Dia
tersenyum miring, senyum yang sakit.
“Kau
mau memadamkannya?”
Aku
menelan ludah. Ide itu menakutkan, tapi juga membuat penisku mengeras seketika.
“Ayo.”
Malam
itu, di kamar tidur yang berbau hujan dan kayu tua, kami melakukan ritual
berbahaya.
Kami
tidak melakukan foreplay. Kami langsung menuju inti reaktor. Saat aku
menyatukan tubuhku dengannya, dampaknya begitu keras hingga aku berteriak. Bukan
erangan tapi teriakan. Rasanya seperti seluruh kulitku dikupas. Rasanya seperti
setiap tulang di tubuhku dipatahkan satu per satu. Rasa sakit dari akumulasi
tiga hari tanpa obat di tubuh penari yang rusak itu berpindah padaku dalam satu
detik.
Itu
adalah overdosis. Tapi aku tidak berhenti. Aku tidak bisa berhenti.
Aku
memacu gerakanku. Aku ingin merasakan semuanya. Aku ingin merasakan patah hati
sel-selnya. Aku ingin merasakan jeritan mitokondrianya.
Aku
membayangkan kami berada di ruang operasi. Lampu sorot menyilaukan. Aku
membelah dadanya, merobek tulang rusuknya, dan memasukkan tanganku langsung ke
dalam jantungnya yang meradang.
“Ambil!
Ambil! Ambil!” teriak Nara. Dia mencakar punggungku, tapi dia tidak merasakan
kukunya merobek kulitku. Dia hanya merasakan kedamaian yang semakin dalam.
Darah
mengalir dari punggungku, tapi rasa sakit dari cakarannya tertutup oleh rasa
sakit yang ditransfer dari tubuhku ke tubuhku.
Aku
merasa otakku mulai meleleh. Sinapsis-sinapsisku terbakar. Terlalu banyak
tegangan. Metaforanya berubah. Kami bukan lagi dokter dan pasien. Kami adalah gedung
yang terbakar dan hujan.
Aku
adalah gedung itu. Api melahapku. Jendela-jendelaku pecah. Fondasiku runtuh.
Aku terbakar dalam penderitaan yang agung.
Dan
Nara adalah hujan yang turun di atas puing-puingku. Dingin. Acuh tak acuh.
Tenang.
“Aku
mati...” bisik Nara. “Aku mati, Arif. Ini indah.”
Dia
mencapai flatline. Bukan kematian jantung, tapi kematian sensorik total.
Dia menjadi boneka porselen. Dan aku mencapai puncakku.
Ejakulasiku
terasa seperti memuntahkan lahar panas. Rasa sakit itu mencapai titik didihnya,
lalu meledak menjadi cahaya putih yang menyilaukan.
Aku
ambruk di atasnya. Jantungku berdetak tidak beraturan. Napasku tersengal-sengal
seperti orang tenggelam. Seluruh tubuhku bergetar karena sisa-sisa rasa sakit
yang masih mengendap di otot-ototku.
Kami
berbaring di sana dalam diam.
Di
luar, Jalan Tunjungan masih basah oleh hujan. Lampu-lampu kota berkedip. Tapi
di dalam kamar, dua manusia baru saja bertukar jiwa.
Pagi
harinya, aku bangun dengan perasaan aneh.
Nara
masih tidur di sampingku. Dia terlihat damai, seperti anak kecil.
Aku
bangun dari tempat tidur. Kakiku menyentuh lantai ubin yang dingin.
Aduh.
Aku
tersentak.
Aku
melihat kakiku. Tidak ada luka. Tapi aku merasakan... dingin? Bukan, itu
sedikit ngilu karena lantai yang keras.
Aku
berjalan ke dapur. Aku menyeduh kopi. Tanpa sadar, aku menyentuh teko panas.
“Aw!”
Aku menarik tanganku refleks.
Aku
menatap jariku. Merah. Dan... sakit. Sakit yang nyata. Sakit yang tajam. Aku
tertawa. Tawa kecil yang kemudian berubah menjadi tawa histeris. Aku berjalan
kembali ke kamar tidur. Nara sedang menggeliat bangun. Dia membuka matanya. Dia
mencoba duduk.
“Arif,”
panggilnya.
“Ya?”
“Lututku...”
katanya, menyentuh kakinya. “Aku... aku bisa merasakannya sedikit. Tapi tidak
sakit. Hanya... ada. Aku bisa merasakan selimut menyentuh kakiku.” Dia
menatapku dengan mata berkaca-kaca. “Sakitnya tidak kembali sekuat dulu. Kau...
kau menyimpannya?”
Aku
mengangguk. Aku merasakan sisa-sisa ngilu di punggungku, di lututku, di
kepalaku. Transfer semalam terlalu besar. Sebagian rasa sakit itu tidak menguap
setelah orgasme. Sebagian rasa sakit itu mengendap. Menjadi permanen di
tubuhku.
Sarafku
telah belajar bahasa rasa sakit darinya. Otakku akhirnya mengerti cara
menerjemahkan sinyal bahaya.
“Aku
rasa aku tidak lagi kosong, Nara,” kataku, duduk di tepi tempat tidur,
membiarkan rasa nyeri di pinggangku menjalar—rasa nyeri yang indah.
Nara
merangkak mendekatiku. Dia bergerak lebih lancar dari sebelumnya. Dia
memelukku. “Kau sekarang adalah museumku,” bisiknya di leherku. “Kau menyimpan
semua koleksi rasa sakitku.”
“Dan
kau?”
“Aku
adalah pengunjung yang bebas. Aku bisa menari lagi, Arif. Mungkin pelan-pelan.
Tapi aku bisa menari tanpa ingin mati.”
Kami
menyadari kontrak baru kami. Ini bukan lagi sekadar transaksi satu malam. Ini
permanen.
Aku
akan terus menyerap rasa sakitnya, menyimpannya di dalam tubuhku, menjadikannya
bagian dari diriku. Aku akan menua dengan tubuh yang penuh nyeri yang bukan
milikku. Aku akan menderita rematik, radang sendi, dan sakit punggung yang
berasal dari karir balet yang tidak pernah kujalani.
Dan
sebagai gantinya, aku mendapatkan kehidupan. Aku mendapatkan perasaan. Aku
mendapatkan sensasi menjadi manusia.
Nara
mencium bibirku. Ciuman itu tidak lagi terasa seperti daging bertemu daging.
Ciuman
itu terasa manis, sedikit asin, dan ada sengatan kecil di bibirku yang
tergigit.
“Sakit,”
bisikku sambil tersenyum.
“Maaf,”
jawabnya, juga tersenyum.
“Lakukan
lagi,” pintaku.
Dan
di pagi yang mendung di Jalan Tunjungan, di dalam gedung tua yang penuh hantu
masa lalu, kami memulai hidup baru kami. Sebuah hidup di mana rasa sakit adalah
mata uang cinta, dan aku adalah orang terkaya di dunia.
