Bagian
1
Molekul
Nostalgia
Udara
di dalam gerbong MRT Jakarta arah Lebak Bulus selalu terasa seperti sup hangat
yang basi. Bukan karena pendingin udaranya mati—suhu tercatat 18 derajat
Celsius di panel digital—tapi karena kepadatan riwayat hidup yang berdesakan di
dalamnya.
Aku
tidak perlu membuka mata untuk tahu siapa yang berdiri di sebelah kiriku.
Laki-laki. Usia pertengahan empat puluhan.
Baunya
adalah komposisi yang menyedihkan dari ambisi yang gagal dan libido yang
ditahan-tahan. Base notes-nya jelas: asam laktat dari keringat dingin
yang mengering di balik kemeja poliester murah. Ada jejak kortisol—hormon
stres—yang begitu tajam, menusuk seperti jarum es di pangkal hidungku. Dia baru
saja dimarahi, atau mungkin dipecat.
Tapi
bukan itu yang membuatku mual.
Ada
middle notes yang lebih rumit: aroma samar aldehid sintetik.
Parfum perempuan. Murah. Jenis yang dijual literan di kios pinggir jalan. Itu
bukan bau istrinya. Aku tahu, karena bau itu bercampur dengan residu sabun cuci
deterjen floral di kerah bajunya—bau domestik, bau rumah tangga yang
stabil dan membosankan.
Jadi,
perselingkuhan kelas teri?
Laki-laki
itu membawa dosa di ketiaknya dan ketakutan di tengkuknya. Aku menahan napas,
mencoba memfilter udara lewat syal katun yang kulilitkan tiga lapis di leher.
Percuma. Molekul-molekul itu—partikel volatil yang melayang bebas—tidak peduli
pada privasi. Mereka menerobos masuk ke dalam rongga hidungku, menempel pada
reseptor silia, dan mengirim sinyal listrik langsung ke otakku tanpa permisi.
Orang
bilang mata adalah jendela jiwa. Omong kosong. Mata bisa menipu. Kita bisa
tersenyum saat hati hancur. Kita bisa mengangguk saat tidak setuju. Cahaya bisa
dibiaskan.
Tapi
bau? Bau adalah kejujuran biologis yang brutal.
FILE:
LOG_PRIBADI_KARA #402
SUBJEK:
KETIDAKADILAN ANATOMI
Masalah
utama evolusi manusia adalah desain sirkuit otaknya.
Ketika
matamu melihat sesuatu, sinyal itu dikirim ke thalamus dulu—pusat relai,
pos satpam logika—sebelum diteruskan ke korteks visual. Kau punya waktu sekian
milidetik untuk memproses, “Oh, itu ular,” atau “Ah, itu cuma tali.” Ada jarak.
Ada interpretasi.
Tapi
indra penciuman adalah bajingan anarkis.
Dari
bulbus olfactorius, saraf itu terhubung langsung—hardwired—ke amigdala
(pusat emosi) dan hippocampus (pusat memori). Tidak ada thalamus.
Tidak ada satpam. Tidak ada logika.
Kau
mencium bau tanah basah (geosmin), dan boom—kau tidak sedang
berdiri di trotoar Sudirman. Kau tiba-tiba kembali berumur tujuh tahun,
bersembunyi di kolong rumah nenek saat hujan deras.
Bau
tidak minta izin. Dia membajak kesadaran.
Bagi
orang lain, itu adalah nostalgia. Bagiku, itu adalah invasi.
Aku
turun di stasiun Blok M. Tempat itu adalah perpustakaan yang sedang membusuk,
dan aku adalah pustakawan yang dipaksa membaca semua bukunya sekaligus.
Jalanan
di luar stasiun berbau seperti logam panas dan karet terbakar. Knalpot. Aspal
yang meleleh. Tapi di sela-sela polusi itu, ada lapisan lain: bau amis darah
dari kucing yang terlindas tiga jam lalu, bau manis fermentasi dari sampah buah
di tong sampah restoran (etil asetat), dan bau ozon statis dari mesin
ATM.
Peta
di kepalaku tidak memiliki nama jalan. Tidak ada “Jalan Panglima Polim” atau “Jalan
Melawai”. Yang ada hanyalah koordinat aroma.
Zona
Amonia (toilet umum di tikungan).
Zona
Vanilin Hangat (toko roti yang menggunakan esens buatan).
Zona
Formalin (klinik kecantikan di lantai dua).
Aku
berjalan cepat menuju sebuah kafe privat di area tersembunyi. Klienku sudah
menunggu. Seorang wanita dengan setelan blazer seharga gaji setahun
buruh pabrik. Wajahnya tegang, dilapisi bedak tebal untuk menutupi pori-pori
kecemasan.
Di
atas meja, sebuah kemeja pria terlipat rapi dalam plastik ziplock.
“Namaku
Kara,” kataku dingin, duduk tanpa menjabat tangannya. Kontak fisik hanya akan
menambah noise. Tangan wanita itu bau hand sanitizer alkohol 70%
dan... sedikit aroma tembaga. Darah menstruasi? Atau dia baru saja memegang
uang koin dalam jumlah banyak?
“Anda...
Anda benar bisa melakukannya?” tanyanya. Suaranya bergetar.
Aku
tidak menjawab. Aku menarik plastik itu.
Ini
adalah pekerjaanku. Konsultan Forensik Privat. Polisi butuh bukti fisik, hakim
butuh saksi mata. Tapi orang-orang kaya yang insecure? Mereka butuh
kepastian batin. Mereka membayarku mahal untuk menjadi anjing pelacak manusia.
Aku
membuka klip plastik itu.
Udara
keluar.
Aku
tidak perlu mendekatkan hidungku ke kain itu. Baunya sudah meledak keluar
seperti jin dari botol.
Kemeja
itu milik suaminya. Dipakai dua hari lalu. Ada bau cologne mahal—kayu
cendana dan bergamot. Tapi di balik itu...
Aku
memejamkan mata, membiarkan molekul-molekul itu menyusun narasi di kepala
hitamku.
Ada
bau asap rokok cerutu (Kuba, bukan lokal). Ada bau truffle oil (makan
malam mewah). Dan kemudian, lapisan yang dicari wanita ini.
“Dia
tidak berselingkuh,” kataku datar.
Wanita
itu menghela napas, bahunya turun drastis. “Benarkah? Tapi dia pulang jam 3
pagi dan...”
“Dia
tidak berselingkuh dengan perempuan,” potongku.
Wajah
wanita itu membeku.
“Ada
bau latex steril,” jelasku, menunjuk titik tak terlihat di kemeja itu. “Bau
antiseptik rumah sakit. Dan bau samar... propofol. Obat bius.” Aku
menatap mata klienku. “Suamimu bukan pergi ke hotel. Dia pergi ke rumah sakit.
Mungkin operasi. Mungkin kemoterapi. Dia menyembunyikan penyakitnya darimu. Bau
ketakutan di kemeja ini lebih pekat daripada bau birahi.”
Wanita
itu terdiam. Air mata merusak lapisan bedaknya.
Aku
memasukkan kembali kemeja itu ke dalam plastik. Aku benci momen ini. Momen
ketika bau menjadi realitas, dan realitas menghancurkan harapan.
CATATAN
KAKI: TEORI PARTIKEL
Fisikawan
bilang materi tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan.
Setiap
kali kau bernapas, kau menghirup atom yang pernah ada di dalam paru-paru Julius
Caesar, atau atom yang pernah menjadi bagian dari kotoran Dinosaurus.
Bau
adalah bukti sejarah.
Ketika
seseorang pergi dari hidupmu, mereka tidak benar-benar pergi. Mereka
tertinggal. Di serat bantal. Di gagang pintu. Di udara yang kau hirup.
Tubuh
manusia hanyalah arsip biologis. Kantong kulit berisi air dan memori. Dan aku?
Aku dikutuk untuk menjadi pembacanya. Aku tidak bisa melupakan apa pun karena
dunia tidak pernah berhenti memancarkan bau masa lalunya.
Memori
bukan hantu. Memori adalah zat kimia.
Aku
keluar dari kafe itu dengan amplop berisi uang tunai.
Langit
Jakarta mulai abu-abu. Hujan akan turun. Aku bisa menciumnya—petrichor yang
menggantung di awan, sepuluh menit sebelum air menyentuh tanah.
Hujan
adalah satu-satunya hal yang kusukai. Hujan mencuci segalanya. Hujan menekan
bau-bau busuk itu kembali ke tanah, setidaknya untuk sementara.
Aku
berjalan menembus kerumunan manusia yang bergegas pulang. Bagi mereka,
kerumunan adalah visual warna-warni baju dan suara klakson. Bagiku, itu adalah
lautan feromon. Sinyal-sinyal kimiawi yang berteriak: Aku ingin kawin! Aku
lapar! Aku sakit! Aku sekarat!
Dunia
ini terlalu berisik.
Dan
aku tidak punya tombol mute.
