ADG - Kucing yang Meminum Cahaya Bulan

 


 

Segalanya dimulai dengan kucing itu.

Namanya Merkuri. Bukan nama yang lazim untuk seekor kucing, tapi dia memang bukan kucing yang lazim. Dia adalah seekor Russian Blue dengan bulu berwarna abu-abu perak yang berkilau seperti logam cair di bawah pencahayaan tertentu. Dia tidak mengeong. Dia hanya menatapmu dengan mata kuningnya yang tenang, seolah sedang menghitung sisa umurmu dalam satuan detik.

Dan Merkuri memiliki kebiasaan makan yang aneh.

Setiap malam, ketika bulan sedang purnama atau mendekati purnama, dia akan duduk di lantai dapur. Di sana, di atas ubin keramik putih yang dingin, pemilik rumah meletakkan mangkuk porselen berisi air. Cahaya bulan akan masuk melalui jendela kaca besar tanpa tirai, jatuh tepat ke dalam mangkuk itu, menciptakan pantulan bulat yang sempurna di permukaan air.

Merkuri tidak akan minum sampai pantulan bulan itu berada tepat di tengah mangkuk. Lalu, dengan lidah merah mudanya yang kasar, dia akan mulai menjilati air itu.

Bagi mataku, dia tidak sedang meminum air. Dia sedang meminum cahaya bulan. Dia sedang menelan satelit bumi itu sedikit demi sedikit, memasukkannya ke dalam perut kecilnya. Mungkin itulah sebabnya matanya bersinar dalam gelap.

Aku tinggal di rumah itu sendirian selama dua bulan.

Pemilik rumah itu, kawan lamaku yang bernama Tazaki, pergi ke Eropa untuk urusan bisnis keluarga yang tidak pernah dia jelaskan secara rinci. Tazaki adalah tipe orang yang memiliki banyak uang tapi sedikit kepribadian, seperti sebuah amplop mahal yang isinya kosong. Dia memintaku menjaga rumahnya, menyiram tanaman pakis tanduk rusanya yang rewel, dan tentu saja, melayani kebutuhan Merkuri.

“Kenapa kau tidak bawa dia ke penitipan hewan?” tanyaku saat dia menyerahkan kunci.

“Merkuri benci tempat asing,” kata Tazaki sambil merapikan dasi sutranya. “Dan dia benci orang asing. Tapi anehnya, dia sepertinya tidak keberatan denganmu. Mungkin karena kau... kau tahu, kau tidak terlalu ada.”

Itu bukan pujian, tapi juga bukan hinaan. Itu fakta. Aku adalah pria berusia tiga puluh empat tahun, lajang, bekerja sebagai penerjemah lepas untuk manual teknis mesin industri. Hidupku adalah serangkaian kalimat pasif. Aku tidak memancarkan hawa keberadaan yang kuat. Jika aku duduk di sebuah kafe, pelayan sering lupa membawakanku menu.

Jadi, aku pindah ke rumah Tazaki di kawasan perumahan elit di Jakarta Selatan. Rumah itu besar dan modern. Dinding-dindingnya dicat putih steril. Lantainya marmer Italia. AC sentral berdengung halus selama 24 jam, menjaga suhu tetap di angka 22 derajat Celcius, menciptakan iklim mikro yang terpisah dari panasnya Jakarta.

Rutinitasku sederhana.

Aku bangun pukul sembilan. Membuat kopi. Menerjemahkan cara kerja katup hidrolik sampai pukul dua siang. Merebus pasta untuk makan siang. Membaca novel tua. Lalu menunggu malam.

Malam adalah saat rumah itu benar-benar hidup dalam diamnya.

Aku akan duduk di meja dapur, memutar piringan hitam Keith Jarrett - The Köln Concert dengan volume rendah. Aku akan minum segelas whiskey murah, dan menonton Merkuri meminum bulan.

Kucing itu menjilati cahaya, dan aku menjilati kesepian. Kami adalah sepasang biarawan di kuil keheningan.

Sampai wanita itu mengetuk pintu dapur.

Itu terjadi di minggu kedua, pada pukul satu dini hari.

Ketukan itu pelan tapi tegas. Bukan di pintu depan, melainkan di pintu samping dapur yang terbuat dari kaca buram, yang langsung menghadap ke halaman samping.

Aku sedang mengamati Merkuri menyelesaikan ritual minumnya. Aku tersentak. Tidak ada orang yang bertamu jam segitu.

Aku membuka pintu. Seorang wanita berdiri di sana. Dia mengenakan gaun tidur sutra panjang berwarna biru tua, sewarna dengan langit malam. Kakinya telanjang. Rambutnya disanggul asal-asalan, menyisakan helai-helai yang jatuh di lehernya yang jenjang.

Dia cantik, dengan cara yang membingungkan. Wajahnya simetris, tapi matanya terlihat lelah, dikelilingi bayangan gelap tipis yang justru membuatnya terlihat dramatis, bukan sakit.

“Maaf mengganggu,” katanya. Suaranya rendah, serak basah, seperti suara gesekan sikat kawat pada drum snare. “Saya tetangga sebelah. Pagar pembatas kita rendah, jadi saya melompat lewat sana.”

Aku menatapnya, lalu menatap pagar tanaman di belakangnya. “Ada apa?”

“Saya kehabisan es batu,” katanya.

“Es batu?”

“Ya. Freezer saya rusak. Dan saya tidak bisa tidur kalau tidak minum air yang sangat dingin. Air yang menyakitkan gigi. Anda mengerti?”

Aku tidak mengerti, tapi aku mengangguk.

“Silakan masuk,” kataku.

Dia melangkah masuk ke dapur. Hawa dingin dari tubuhnya seolah mengalahkan dinginnya AC. Merkuri yang biasanya lari melihat orang asing, tetap duduk di tempatnya. Kucing itu menatap wanita itu, lalu mengeong pelan, suara yang jarang dia keluarkan.

“Siapa namanya?” tanya wanita itu, menunjuk Merkuri.

“Merkuri.”

“Nama yang bagus. Logam cair.” Dia tersenyum. “Saya Klara.”

“Saya...”

“Tidak perlu nama,” potongnya. “Nama hanya label untuk membedakan satu paket daging dari paket daging lainnya. Saya hanya butuh es.”

Aku mengambil mangkuk besar, mengisinya dengan es batu dari freezer kulkas Tazaki yang canggih.

Klara berdiri di tengah dapur, memeluk dirinya sendiri. Dia tampak seperti patung es yang sedang berusaha mempertahankan wujudnya agar tidak meleleh.

“Anda tidak bisa tidur?” tanyaku sambil menyerahkan mangkuk es.

“Saya sudah tidak tidur nyenyak selama tiga tahun,” jawabnya. “Suami saya diplomat. Dia sedang di Jenewa. Rumah saya terlalu besar. Kadang saya merasa rumah itu mencoba menelan saya pelan-pelan. Anda tahu rasanya?”

“Sedikit.”

Dia mengambil sebutir es batu dari mangkuk, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Dia mengulumnya. Aku bisa mendengar suara es itu retak di antara gigi-giginya. Krak.

Dia memejamkan mata, lehernya menengadah sedikit. Ada ekspresi kenikmatan yang ganjil di wajahnya, seolah rasa dingin itu adalah narkotika baginya.

“Terima kasih,” katanya setelah menelan lelehan es itu. “Ini menyelamatkan nyawa saya.”

Dia berbalik dan berjalan keluar, membawa mangkuk es itu, menghilang ke dalam kegelapan halaman samping seperti hantu.

Malam itu, setelah dia pergi, aku merasa dapur itu menjadi lebih luas. Dan lebih sepi. Merkuri menatap pintu yang tertutup itu, lalu kembali menjilati sisa-sisa cahaya bulan di mangkuknya.

 

***

 

Klara mulai datang setiap malam.

Selalu lewat pintu samping. Selalu jam satu atau jam dua pagi. Dan alasannya selalu sama, dia butuh es, atau dia butuh meminjam korek api, meski aku tidak pernah melihatnya merokok, atau dia hanya ingin mendengar suara jarum piringan hitam yang menyentuh vinil.

Kami jarang berbicara panjang lebar. Hubungan kami dibangun di atas fondasi keheningan dan observasi.

Aku belajar bahwa Klara adalah wanita yang terbuat dari kontradiksi. Dia istri diplomat yang kaya, tapi dia suka duduk di lantai dapur tanpa alas. Dia terlihat anggun, tapi dia memakan mentimun mentah dengan bunyi yang keras. Dia takut pada sinar matahari, dia menutup semua tirai rumahnya di siang hari, tapi dia terobsesi pada bulan.

“Merkuri menyukaimu,” kataku suatu malam. Kucing itu sedang tidur di pangkuan Klara, mendengkur keras seperti mesin diesel kecil.

“Itu karena kami sama,” kata Klara sambil mengelus punggung kucing itu. “Kami berdua bersifat cair.”

“Cair?”

“Ya. Kau tidak merasakannya? Tulang-tulangku rasanya lunak malam ini. Kalau aku tidak hati-hati, aku rasa aku bisa tumpah dari kursi ini dan menggenang di lantai.”

Aku menatapnya. Dia sedang minum gin langsung dari botolnya.

“Itu karena alkohol, Klara,” kataku rasional.

“Bukan,” dia menggeleng. Matanya menatapku lurus. “Bukan, bukan karena mabuk. Di siang hari, aku padat. Aku memakai topeng istri diplomat. Aku tersenyum kaku. Aku berjalan tegak. Tapi di malam hari, gravitasi menarikku lebih kuat. Ikatan molekulku melemah. Aku ingin meleleh.”

Dia meletakkan Merkuri di lantai. Lalu dia sendiri turun dari kursi, berbaring telentang di atas ubin dapur yang dingin.

“Cobalah,” katanya. “Lantainya dingin. Rasanya seperti mengapung di atas permukaan danau yang beku.”

Aku ragu sejenak, lalu ikut turun.

Kami berbaring bersebelahan di lantai dapur. Jarak bahu kami sekitar sepuluh sentimeter. Langit-langit dapur tinggi, dengan lampu gantung minimalis yang mati. Hanya cahaya bulan yang masuk, menciptakan kotak-kotak cahaya biru pucat di lantai.

“Apa yang kau rasakan?” tanya Klara.

“Dingin,” jawabku. “Dan keras.”

“Jangan melawan kekerasannya,” bisiknya. “Jadilah air. Air tidak pernah sakit saat dipukul. Air hanya membelah, lalu menyatu lagi.”

Aku memejamkan mata. Aku mencoba membayangkan tubuhku bukan terdiri dari daging dan tulang, melainkan kantong kulit berisi cairan hangat.

Aku mendengar napas Klara. Teratur. Dalam. Seperti suara ombak kecil yang menjilat pasir pantai.

Tiba-tiba, aku merasakan tangannya.

Dia tidak memegang tanganku. Dia meletakkan telapak tangannya di atas punggung tanganku yang tergeletak di lantai.

Kulitnya dingin. Sangat dingin.

Tapi anehnya, saat kulit kami bersentuhan, aku tidak merasakan batas. Biasanya, saat kau menyentuh orang lain, kau merasakan: “Ini kulitku, dan itu kulitmu.” Ada gesekan. Ada tekstur.

Tapi dengan Klara, rasanya seperti menuangkan air dingin ke dalam air hangat.

“Kau hangat,” bisiknya. “Bolehkah aku meminjam suhumu? Es batuku habis.”

“Silakan,” jawabku.

Malam itu, kami hanya berbaring di sana selama satu jam, tangan saling menumpuk, mendengarkan Merkuri minum, dan membiarkan batas-batas tubuh kami kabur oleh imajinasi dan kelelahan.

Aku mulai menyadari bahwa aku sedang jatuh ke dalam sesuatu yang dalam. Bukan cinta. Cinta terlalu padat dan berstruktur. Ini lebih mirip seperti tergelincir ke dalam rawa.

 

***

 

Malam ke-20. Bulan purnama penuh.

Cahaya di dapur begitu terang hingga rasanya hampir menyilaukan. Merkuri sedang dalam kondisi ekstase, menjilati mangkuk airnya dengan rakus, seolah dia takut bulan akan terbit dan menghilang sebelum dia sempat menghabiskannya.

Klara datang. Dia tidak memakai gaun tidurnya yang biasa. Dia hanya memakai kemeja pria kebesaran berwarna putih dan celana dalam.

Dia terlihat gelisah. Dia berjalan mondar-mandir di dapur.

“Ada apa?” tanyaku. Aku sedang memasak spaghetti aglio e olio. Aroma bawang putih dan minyak zaitun memenuhi udara.

“Aku merasa penuh,” katanya. “Rasanya seperti bendungan yang retak. Aku butuh... aku butuh ditumpahkan.”

Dia berhenti di depanku. Dia mematikan kompor.

“Jangan masak,” katanya. “Dengarkan aku.”

Dia menatapku dengan mata yang basah.

“Aku ingin kau melarutkanku.”

Dia menarik tanganku, membawaku kembali ke lantai dapur yang dingin.

Kami berbaring. Kali ini, dia tidak memberi jarak.

Dia membuka kancing kemejanya. Tubuhnya di bawah cahaya bulan terlihat bersinar, seolah dia sendiri terbuat dari porselen atau lilin.

Aku menyentuh pinggangnya. Dan sekali lagi, sensasi itu datang.

Aku tidak merasa menyentuh kulit. Aku merasa tanganku masuk ke dalam permukaan cairan yang kental. Seperti mencelupkan tangan ke dalam madu, atau merkuri.

Tidak ada tulang rusuk di bawah sana. Tidak ada otot yang tegang. Tubuhnya terasa menyerah sepenuhnya pada sentuhanku.

“Jangan dorong,” bisiknya di telingaku. “Jangan menusuk. Mengalir saja. Jadilah pelarut.”

Aku menindihnya, dan rasanya aku tenggelam ke dalam dirinya. Bukan hanya satu bagian tubuhku, tapi seluruh tubuhku. Dadaku yang menempel pada payudaranya terasa kehilangan soliditasnya. Perutku yang menempel pada perutnya terasa menyatu.

Kami menjadi satu genangan besar di lantai dapur.

Rasanya memusingkan. Aku tidak tahu lagi di mana kakiku berakhir dan kakinya bermula.

Dia tidak mendesah. Dia mengeluarkan suara humming rendah, getaran yang merambat dari tenggorokannya langsung ke dalam dadaku, menggetarkan paru-paruku.

Aku merasakan diriku kehilangan bentuk. Ego-ku, identitas-ku sebagai penerjemah manual teknis, sejarah masa laluku, semuanya larut. Aku bukan lagi “Aku”. Aku adalah cairan hangat yang sedang bercampur dengan cairan dingin.

Kami berguling pelan di lantai, seperti tetesan air raksa yang tumpah dari termometer pecah. Menggelinding. Menyatu. Memisah sebentar, lalu menyatu lagi dengan gaya kohesi yang tak terlawan.

Merkuri, si kucing, berhenti minum. Dia duduk di atas meja, menatap ke bawah ke arah kami.

Di mata kucing itu, mungkin kami terlihat seperti dua amoeba raksasa yang sedang melakukan fusi selular.

“Lebih cair...” bisik Klara. “Hilangkan bentukmu... jadilah uap...”

Ada momen di mana aku merasa seluruh berat badanku hilang. Aku merasa seringan awan. Aku merasa aku telah menjadi gas. Putih. Kosong. Dan sangat, sangat damai.

Klara mencengkeram bahuku, cengkeraman yang lemah, seolah tangannya terbuat dari air, dan dia menghembuskan napas panjang yang terdengar seperti angin melewati celah jendela.

Kami terdiam. Tergenang.

Cahaya bulan bergeser perlahan di lantai, melewati tubuh kami yang basah oleh keringat, atau mungkin kami memang benar-benar mencair.

Aku tetap di sana, di dalam dirinya, atau di sekitarnya, atau bersamanya. Aku tidak tahu preposisi mana yang tepat untuk menggambarkan penyatuan fasa zat kami.

“Kau meminumku,” bisik Klara pelan. “Dan aku meminummu.”

Dan itu adalah bentuk kanibalisme yang paling lembut.

Keesokan paginya, aku bangun di lantai dapur.

Punggungku sakit karena ubin yang keras. Realitas fisik kembali menghantamku. Tulangku kembali menjadi kalsium yang padat. Dagingku kembali menjadi serat protein.

Klara sudah tidak ada. Tapi jejaknya masih tersisa.

Di lantai, di tempat kami berbaring semalam, ada noda lembap yang belum kering. Bentuknya aneh, seperti peta sebuah benua yang belum ditemukan. Dan baunya. Baunya seperti air laut.

Aku duduk, memijat pelipisku. Apakah tadi malam hanya mimpi?

Tidak. Kemeja putih Klara tertinggal di kursi dapur. Kancingnya terlepas satu.

Merkuri duduk di dekat noda di lantai itu. Dia mengendus-endusnya, lalu menjilatnya sekilas. Kucing itu sepertinya menyetujui apa yang telah terjadi.

Malam setelahnya, Klara datang lagi.

Kami tidak membicarakan apa yang terjadi. Kata-kata akan memadatkan kembali apa yang sudah kami cairkan. Kami langsung menuju lantai.

Dan itu menjadi ritual baru. Ritual pelarutan.

Setiap malam, kami mencoba mencair lebih cepat. Kami mencoba menghilangkan tulang-tulang kami. Kami mencoba menjadi genangan yang sempurna.

Aku mulai merasa aneh di siang hari.

Saat aku mengetik terjemahan manual mesin, aku merasa jari-jariku lunak. Aku merasa jika aku menekan tombol keyboard terlalu keras, jariku akan meleleh masuk ke sela-sela tombol.

Saat aku minum air, aku merasa air itu tidak masuk ke perut, tapi menyebar langsung ke seluruh tubuhku, menjadikanku lebih encer.

Aku mulai takut pada matahari. Aku merasa jika aku keluar rumah di siang hari, aku akan menguap habis dan hilang menjadi awan di langit Jakarta.

Jadi aku menutup semua tirai. Aku hidup dalam kegelapan buatan, menunggu malam, menunggu Klara, menunggu saat di mana aku bisa berhenti menjadi manusia padat yang penuh beban.

Klara juga berubah. Dia semakin pucat. Semakin transparan.

Suatu malam, saat kami sedang mencair di lantai, aku melihat tangan kirinya.

Di bawah cahaya bulan, tangan itu terlihat benar-benar transparan. Aku bisa melihat pola ubin keramik di bawah telapak tangannya.

“Klara,” bisikku. “Kau menghilang.”

“Bagus,” jawabnya dengan mata terpejam. “Itu tujuannya. Aku ingin menjadi noda air yang hilang saat matahari terbit.”

“Tapi kalau kau hilang, aku bagaimana?”

“Kau juga akan hilang. Kita akan menjadi hujan, lalu turun ke laut, dan Merkuri akan meminum kita.”

Ada logika yang mengerikan dalam ucapannya.

Aku menyadari bahayanya. Kami sedang melakukan bunuh diri lambat. Kami sedang mengikis eksistensi kami sendiri melalui orgasme likuid. Tapi itu terlalu nikmat untuk dihentikan. Sensasi bebas dari gravitasi, bebas dari bentuk, bebas dari nama “Aku”, itu adalah candu terkuat di dunia.

Dua bulan berakhir, saat telepon dari Tazaki datang.

“Aku pulang besok,” katanya. Suaranya di telepon terdengar terlalu keras, terlalu padat, terlalu nyata. “Pesawatku mendarat jam sepuluh pagi. Terima kasih sudah menjaga rumah.”

Aku meletakkan telepon dengan tangan gemetar.

Besok.

Waktu kami habis.

Malam ini adalah malam terakhir. Bulan sudah tidak purnama lagi. Bulan sabit tipis menggantung di langit seperti kuku jari yang baru dipotong. Cahayanya lemah.

Klara datang. Dia tidak membawa es batu. Dia tidak membawa kemeja. Dia telanjang bulat, dibalut selimut tipis.

“Tazaki pulang besok,” kataku.

Klara mengangguk. Dia tidak tampak terkejut. “Diplomatku juga pulang lusa.”

Kami berdiri di dapur. Merkuri mengeong gelisah. Mangkuk airnya kosong karena bulan tidak memantul sempurna.

“Satu kali lagi?” tanya Klara.

“Kalau kita lakukan satu kali lagi... aku takut kita tidak akan bisa memadat lagi, Klara,” kataku jujur. “Aku rasa struktur molekulku sudah rusak.”

Klara mendekatiku. Dia menjatuhkan selimutnya.

“Siapa yang mau memadat lagi?” tanyanya. “Dunia padat itu menyakitkan. Sudut-sudut mejanya tajam. Kata-katanya kasar. Gravitasinya berat. Ayo kita habiskan sisa wujud kita malam ini.”

Dia memelukku. Dan seketika, aku merasakan kakiku goyah.

Kami jatuh ke lantai.

Malam itu, pelarutan itu terjadi dengan intensitas yang menakutkan.

Aku tidak lagi merasakan batas antara aku, Klara, dan lantai marmer. Aku merasa kami merembes masuk ke dalam pori-pori batu. Aku merasa kami mengalir di sela-sela nat keramik.

Aku melihat, atau bermimpi? bahwa tubuh Klara benar-benar kehilangan konturnya. Wajahnya menjadi pusaran air susu. Matanya menjadi dua pusaran tinta hitam yang berputar.

Aku masuk ke dalam pusaran itu.

Aku merasa Merkuri mendekat. Aku merasakan lidah kasarnya menyentuh... permukaanku.

Kucing itu menjilati kami. Dia meminum kami.

Aku merasakan diriku masuk ke dalam tubuh kucing itu. Menjadi bagian dari darahnya. Menjadi kilat di matanya.

Kemudian. Gelap.

Aku terbangun oleh suara bel pintu di pagi hari. Matahari menyengat masuk lewat celah tirai yang lupa kututup rapat.

Aku terbaring di lantai dapur. Sendirian. Aku meraba tubuhku. Padat. Keras. Sakit. Kepalaku berdenyut hebat, seolah otakku baru saja diperas hingga kering.

Aku duduk. Tidak ada Klara. Tidak ada noda air. Lantai itu bersih, kering, dan dingin. Hanya ada satu hal yang aneh. Di tengah dapur, mangkuk air Merkuri terbalik. Pecah menjadi dua belahan yang rapi. Merkuri duduk di atas meja, menatapku.

Bulunya tampak berbeda. Lebih berkilau. Lebih... cair. Dan matanya—aku bersumpah—memiliki kedalaman yang baru, seolah ada dua jiwa manusia yang berenang-renang kecil di dalam pupil vertikalnya.

Bel berbunyi lagi. Itu pasti Tazaki. Aku bangkit, memakai bajuku yang kusut, dan berjalan membuka pintu.

Tazaki berdiri di sana dengan koper-koper mahalnya, tampak segar, padat, dan nyata.

“Kau terlihat mengerikan, kawan,” katanya sambil menepuk bahuku. “Seperti orang yang dehidrasi berat. Kau lupa minum air?”

“Mungkin,” jawabku serak. “Aku lupa caranya minum.”

Aku mengambil barang-barangku. Aku tidak berpamitan pada Merkuri. Aku tidak berani menatap matanya lagi. Saat aku keluar dari gerbang rumah Tazaki, aku menoleh ke rumah sebelah. Rumah Klara.

Semua tirainya tertutup rapat. Rumah itu tampak seperti benteng yang tak tertembus.

Apakah dia ada di dalam sana? Apakah dia sedang menyambut suaminya dengan senyum diplomatik yang kaku?

Aku tidak tahu.

Aku pulang ke apartemenku yang sempit.

Sejak hari itu, aku memiliki masalah baru. Aku tidak bisa minum air.

Setiap kali aku melihat segelas air, aku merasa mual. Aku merasa melihat bayangan diriku sendiri di sana. Aku merasa melihat Klara.

Jadi aku hidup dengan memakan roti kering dan biskuit. Aku menjadi semakin kurus dan kering. Kulitku menjadi seperti kertas.

Tapi di malam hari, saat bulan purnama, aku akan duduk di balkon. Aku akan membuka mulutku lebar-lebar, menjulurkan lidah, dan mencoba menjilati cahaya bulan yang jatuh.

Berharap, hanya berharap, aku bisa mencair sekali lagi.

 

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama