Segalanya dimulai dengan kucing itu.
Namanya
Merkuri. Bukan nama yang lazim untuk seekor kucing, tapi dia memang bukan
kucing yang lazim. Dia adalah seekor Russian Blue dengan bulu berwarna
abu-abu perak yang berkilau seperti logam cair di bawah pencahayaan tertentu.
Dia tidak mengeong. Dia hanya menatapmu dengan mata kuningnya yang tenang,
seolah sedang menghitung sisa umurmu dalam satuan detik.
Dan
Merkuri memiliki kebiasaan makan yang aneh.
Setiap
malam, ketika bulan sedang purnama atau mendekati purnama, dia akan duduk di
lantai dapur. Di sana, di atas ubin keramik putih yang dingin, pemilik rumah
meletakkan mangkuk porselen berisi air. Cahaya bulan akan masuk melalui jendela
kaca besar tanpa tirai, jatuh tepat ke dalam mangkuk itu, menciptakan pantulan
bulat yang sempurna di permukaan air.
Merkuri
tidak akan minum sampai pantulan bulan itu berada tepat di tengah mangkuk.
Lalu, dengan lidah merah mudanya yang kasar, dia akan mulai menjilati air itu.
Bagi
mataku, dia tidak sedang meminum air. Dia sedang meminum cahaya bulan. Dia
sedang menelan satelit bumi itu sedikit demi sedikit, memasukkannya ke dalam
perut kecilnya. Mungkin itulah sebabnya matanya bersinar dalam gelap.
Aku
tinggal di rumah itu sendirian selama dua bulan.
Pemilik
rumah itu, kawan lamaku yang bernama Tazaki, pergi ke Eropa untuk urusan bisnis
keluarga yang tidak pernah dia jelaskan secara rinci. Tazaki adalah tipe orang
yang memiliki banyak uang tapi sedikit kepribadian, seperti sebuah amplop mahal
yang isinya kosong. Dia memintaku menjaga rumahnya, menyiram tanaman pakis
tanduk rusanya yang rewel, dan tentu saja, melayani kebutuhan Merkuri.
“Kenapa
kau tidak bawa dia ke penitipan hewan?” tanyaku saat dia menyerahkan kunci.
“Merkuri
benci tempat asing,” kata Tazaki sambil merapikan dasi sutranya. “Dan dia benci
orang asing. Tapi anehnya, dia sepertinya tidak keberatan denganmu. Mungkin
karena kau... kau tahu, kau tidak terlalu ada.”
Itu
bukan pujian, tapi juga bukan hinaan. Itu fakta. Aku adalah pria berusia tiga
puluh empat tahun, lajang, bekerja sebagai penerjemah lepas untuk manual teknis
mesin industri. Hidupku adalah serangkaian kalimat pasif. Aku tidak memancarkan
hawa keberadaan yang kuat. Jika aku duduk di sebuah kafe, pelayan sering lupa
membawakanku menu.
Jadi,
aku pindah ke rumah Tazaki di kawasan perumahan elit di Jakarta Selatan. Rumah
itu besar dan modern. Dinding-dindingnya dicat putih steril. Lantainya marmer
Italia. AC sentral berdengung halus selama 24 jam, menjaga suhu tetap di angka
22 derajat Celcius, menciptakan iklim mikro yang terpisah dari panasnya
Jakarta.
Rutinitasku
sederhana.
Aku
bangun pukul sembilan. Membuat kopi. Menerjemahkan cara kerja katup hidrolik
sampai pukul dua siang. Merebus pasta untuk makan siang. Membaca novel tua.
Lalu menunggu malam.
Malam
adalah saat rumah itu benar-benar hidup dalam diamnya.
Aku
akan duduk di meja dapur, memutar piringan hitam Keith Jarrett - The
Köln Concert dengan volume rendah. Aku akan minum segelas whiskey
murah, dan menonton Merkuri meminum bulan.
Kucing
itu menjilati cahaya, dan aku menjilati kesepian. Kami adalah sepasang biarawan
di kuil keheningan.
Sampai
wanita itu mengetuk pintu dapur.
Itu
terjadi di minggu kedua, pada pukul satu dini hari.
Ketukan
itu pelan tapi tegas. Bukan di pintu depan, melainkan di pintu samping dapur
yang terbuat dari kaca buram, yang langsung menghadap ke halaman samping.
Aku
sedang mengamati Merkuri menyelesaikan ritual minumnya. Aku tersentak. Tidak
ada orang yang bertamu jam segitu.
Aku
membuka pintu. Seorang wanita berdiri di sana. Dia mengenakan gaun tidur sutra
panjang berwarna biru tua, sewarna dengan langit malam. Kakinya telanjang.
Rambutnya disanggul asal-asalan, menyisakan helai-helai yang jatuh di lehernya
yang jenjang.
Dia
cantik, dengan cara yang membingungkan. Wajahnya simetris, tapi matanya
terlihat lelah, dikelilingi bayangan gelap tipis yang justru membuatnya
terlihat dramatis, bukan sakit.
“Maaf
mengganggu,” katanya. Suaranya rendah, serak basah, seperti suara gesekan sikat
kawat pada drum snare. “Saya tetangga sebelah. Pagar pembatas kita
rendah, jadi saya melompat lewat sana.”
Aku
menatapnya, lalu menatap pagar tanaman di belakangnya. “Ada apa?”
“Saya
kehabisan es batu,” katanya.
“Es
batu?”
“Ya.
Freezer saya rusak. Dan saya tidak bisa tidur kalau tidak minum air yang
sangat dingin. Air yang menyakitkan gigi. Anda mengerti?”
Aku
tidak mengerti, tapi aku mengangguk.
“Silakan
masuk,” kataku.
Dia
melangkah masuk ke dapur. Hawa dingin dari tubuhnya seolah mengalahkan
dinginnya AC. Merkuri yang biasanya lari melihat orang asing, tetap duduk di
tempatnya. Kucing itu menatap wanita itu, lalu mengeong pelan, suara yang
jarang dia keluarkan.
“Siapa
namanya?” tanya wanita itu, menunjuk Merkuri.
“Merkuri.”
“Nama
yang bagus. Logam cair.” Dia tersenyum. “Saya Klara.”
“Saya...”
“Tidak
perlu nama,” potongnya. “Nama hanya label untuk membedakan satu paket daging
dari paket daging lainnya. Saya hanya butuh es.”
Aku
mengambil mangkuk besar, mengisinya dengan es batu dari freezer kulkas
Tazaki yang canggih.
Klara
berdiri di tengah dapur, memeluk dirinya sendiri. Dia tampak seperti patung es
yang sedang berusaha mempertahankan wujudnya agar tidak meleleh.
“Anda
tidak bisa tidur?” tanyaku sambil menyerahkan mangkuk es.
“Saya
sudah tidak tidur nyenyak selama tiga tahun,” jawabnya. “Suami saya diplomat.
Dia sedang di Jenewa. Rumah saya terlalu besar. Kadang saya merasa rumah itu
mencoba menelan saya pelan-pelan. Anda tahu rasanya?”
“Sedikit.”
Dia
mengambil sebutir es batu dari mangkuk, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.
Dia mengulumnya. Aku bisa mendengar suara es itu retak di antara gigi-giginya. Krak.
Dia
memejamkan mata, lehernya menengadah sedikit. Ada ekspresi kenikmatan yang
ganjil di wajahnya, seolah rasa dingin itu adalah narkotika baginya.
“Terima
kasih,” katanya setelah menelan lelehan es itu. “Ini menyelamatkan nyawa saya.”
Dia
berbalik dan berjalan keluar, membawa mangkuk es itu, menghilang ke dalam
kegelapan halaman samping seperti hantu.
Malam
itu, setelah dia pergi, aku merasa dapur itu menjadi lebih luas. Dan lebih
sepi. Merkuri menatap pintu yang tertutup itu, lalu kembali menjilati sisa-sisa
cahaya bulan di mangkuknya.
***
Klara
mulai datang setiap malam.
Selalu
lewat pintu samping. Selalu jam satu atau jam dua pagi. Dan alasannya selalu
sama, dia butuh es, atau dia butuh meminjam korek api, meski aku tidak pernah
melihatnya merokok, atau dia hanya ingin mendengar suara jarum piringan hitam
yang menyentuh vinil.
Kami
jarang berbicara panjang lebar. Hubungan kami dibangun di atas fondasi
keheningan dan observasi.
Aku
belajar bahwa Klara adalah wanita yang terbuat dari kontradiksi. Dia istri
diplomat yang kaya, tapi dia suka duduk di lantai dapur tanpa alas. Dia
terlihat anggun, tapi dia memakan mentimun mentah dengan bunyi yang keras. Dia
takut pada sinar matahari, dia menutup semua tirai rumahnya di siang hari, tapi
dia terobsesi pada bulan.
“Merkuri
menyukaimu,” kataku suatu malam. Kucing itu sedang tidur di pangkuan Klara,
mendengkur keras seperti mesin diesel kecil.
“Itu
karena kami sama,” kata Klara sambil mengelus punggung kucing itu. “Kami berdua
bersifat cair.”
“Cair?”
“Ya.
Kau tidak merasakannya? Tulang-tulangku rasanya lunak malam ini. Kalau aku
tidak hati-hati, aku rasa aku bisa tumpah dari kursi ini dan menggenang di
lantai.”
Aku
menatapnya. Dia sedang minum gin langsung dari botolnya.
“Itu
karena alkohol, Klara,” kataku rasional.
“Bukan,”
dia menggeleng. Matanya menatapku lurus. “Bukan, bukan karena mabuk. Di siang
hari, aku padat. Aku memakai topeng istri diplomat. Aku tersenyum kaku. Aku
berjalan tegak. Tapi di malam hari, gravitasi menarikku lebih kuat. Ikatan
molekulku melemah. Aku ingin meleleh.”
Dia
meletakkan Merkuri di lantai. Lalu dia sendiri turun dari kursi, berbaring
telentang di atas ubin dapur yang dingin.
“Cobalah,”
katanya. “Lantainya dingin. Rasanya seperti mengapung di atas permukaan danau
yang beku.”
Aku
ragu sejenak, lalu ikut turun.
Kami
berbaring bersebelahan di lantai dapur. Jarak bahu kami sekitar sepuluh
sentimeter. Langit-langit dapur tinggi, dengan lampu gantung minimalis yang
mati. Hanya cahaya bulan yang masuk, menciptakan kotak-kotak cahaya biru pucat
di lantai.
“Apa
yang kau rasakan?” tanya Klara.
“Dingin,”
jawabku. “Dan keras.”
“Jangan
melawan kekerasannya,” bisiknya. “Jadilah air. Air tidak pernah sakit saat
dipukul. Air hanya membelah, lalu menyatu lagi.”
Aku
memejamkan mata. Aku mencoba membayangkan tubuhku bukan terdiri dari daging dan
tulang, melainkan kantong kulit berisi cairan hangat.
Aku
mendengar napas Klara. Teratur. Dalam. Seperti suara ombak kecil yang menjilat
pasir pantai.
Tiba-tiba,
aku merasakan tangannya.
Dia
tidak memegang tanganku. Dia meletakkan telapak tangannya di atas punggung
tanganku yang tergeletak di lantai.
Kulitnya
dingin. Sangat dingin.
Tapi
anehnya, saat kulit kami bersentuhan, aku tidak merasakan batas. Biasanya, saat
kau menyentuh orang lain, kau merasakan: “Ini kulitku, dan itu kulitmu.” Ada
gesekan. Ada tekstur.
Tapi
dengan Klara, rasanya seperti menuangkan air dingin ke dalam air hangat.
“Kau
hangat,” bisiknya. “Bolehkah aku meminjam suhumu? Es batuku habis.”
“Silakan,”
jawabku.
Malam
itu, kami hanya berbaring di sana selama satu jam, tangan saling menumpuk,
mendengarkan Merkuri minum, dan membiarkan batas-batas tubuh kami kabur oleh
imajinasi dan kelelahan.
Aku
mulai menyadari bahwa aku sedang jatuh ke dalam sesuatu yang dalam. Bukan
cinta. Cinta terlalu padat dan berstruktur. Ini lebih mirip seperti tergelincir
ke dalam rawa.
***
Malam
ke-20. Bulan purnama penuh.
Cahaya
di dapur begitu terang hingga rasanya hampir menyilaukan. Merkuri sedang dalam
kondisi ekstase, menjilati mangkuk airnya dengan rakus, seolah dia takut bulan
akan terbit dan menghilang sebelum dia sempat menghabiskannya.
Klara
datang. Dia tidak memakai gaun tidurnya yang biasa. Dia hanya memakai kemeja
pria kebesaran berwarna putih dan celana dalam.
Dia
terlihat gelisah. Dia berjalan mondar-mandir di dapur.
“Ada
apa?” tanyaku. Aku sedang memasak spaghetti aglio e olio. Aroma bawang
putih dan minyak zaitun memenuhi udara.
“Aku
merasa penuh,” katanya. “Rasanya seperti bendungan yang retak. Aku butuh... aku
butuh ditumpahkan.”
Dia
berhenti di depanku. Dia mematikan kompor.
“Jangan
masak,” katanya. “Dengarkan aku.”
Dia
menatapku dengan mata yang basah.
“Aku
ingin kau melarutkanku.”
Dia
menarik tanganku, membawaku kembali ke lantai dapur yang dingin.
Kami
berbaring. Kali ini, dia tidak memberi jarak.
Dia
membuka kancing kemejanya. Tubuhnya di bawah cahaya bulan terlihat bersinar,
seolah dia sendiri terbuat dari porselen atau lilin.
Aku
menyentuh pinggangnya. Dan sekali lagi, sensasi itu datang.
Aku
tidak merasa menyentuh kulit. Aku merasa tanganku masuk ke dalam permukaan
cairan yang kental. Seperti mencelupkan tangan ke dalam madu, atau merkuri.
Tidak
ada tulang rusuk di bawah sana. Tidak ada otot yang tegang. Tubuhnya terasa
menyerah sepenuhnya pada sentuhanku.
“Jangan
dorong,” bisiknya di telingaku. “Jangan menusuk. Mengalir saja. Jadilah
pelarut.”
Aku
menindihnya, dan rasanya aku tenggelam ke dalam dirinya. Bukan hanya satu
bagian tubuhku, tapi seluruh tubuhku. Dadaku yang menempel pada payudaranya
terasa kehilangan soliditasnya. Perutku yang menempel pada perutnya terasa
menyatu.
Kami
menjadi satu genangan besar di lantai dapur.
Rasanya
memusingkan. Aku tidak tahu lagi di mana kakiku berakhir dan kakinya bermula.
Dia
tidak mendesah. Dia mengeluarkan suara humming rendah, getaran yang
merambat dari tenggorokannya langsung ke dalam dadaku, menggetarkan
paru-paruku.
Aku
merasakan diriku kehilangan bentuk. Ego-ku, identitas-ku sebagai penerjemah
manual teknis, sejarah masa laluku, semuanya larut. Aku bukan lagi “Aku”. Aku
adalah cairan hangat yang sedang bercampur dengan cairan dingin.
Kami
berguling pelan di lantai, seperti tetesan air raksa yang tumpah dari
termometer pecah. Menggelinding. Menyatu. Memisah sebentar, lalu menyatu lagi
dengan gaya kohesi yang tak terlawan.
Merkuri,
si kucing, berhenti minum. Dia duduk di atas meja, menatap ke bawah ke arah
kami.
Di
mata kucing itu, mungkin kami terlihat seperti dua amoeba raksasa yang sedang
melakukan fusi selular.
“Lebih
cair...” bisik Klara. “Hilangkan bentukmu... jadilah uap...”
Ada
momen di mana aku merasa seluruh berat badanku hilang. Aku merasa seringan
awan. Aku merasa aku telah menjadi gas. Putih. Kosong. Dan sangat, sangat
damai.
Klara
mencengkeram bahuku, cengkeraman yang lemah, seolah tangannya terbuat dari air,
dan dia menghembuskan napas panjang yang terdengar seperti angin melewati celah
jendela.
Kami
terdiam. Tergenang.
Cahaya
bulan bergeser perlahan di lantai, melewati tubuh kami yang basah oleh keringat,
atau mungkin kami memang benar-benar mencair.
Aku
tetap di sana, di dalam dirinya, atau di sekitarnya, atau bersamanya. Aku tidak
tahu preposisi mana yang tepat untuk menggambarkan penyatuan fasa zat kami.
“Kau
meminumku,” bisik Klara pelan. “Dan aku meminummu.”
Dan
itu adalah bentuk kanibalisme yang paling lembut.
Keesokan
paginya, aku bangun di lantai dapur.
Punggungku
sakit karena ubin yang keras. Realitas fisik kembali menghantamku. Tulangku
kembali menjadi kalsium yang padat. Dagingku kembali menjadi serat protein.
Klara
sudah tidak ada. Tapi jejaknya masih tersisa.
Di
lantai, di tempat kami berbaring semalam, ada noda lembap yang belum kering. Bentuknya
aneh, seperti peta sebuah benua yang belum ditemukan. Dan baunya. Baunya
seperti air laut.
Aku
duduk, memijat pelipisku. Apakah tadi malam hanya mimpi?
Tidak.
Kemeja putih Klara tertinggal di kursi dapur. Kancingnya terlepas satu.
Merkuri
duduk di dekat noda di lantai itu. Dia mengendus-endusnya, lalu menjilatnya
sekilas. Kucing itu sepertinya menyetujui apa yang telah terjadi.
Malam
setelahnya, Klara datang lagi.
Kami
tidak membicarakan apa yang terjadi. Kata-kata akan memadatkan kembali apa yang
sudah kami cairkan. Kami langsung menuju lantai.
Dan
itu menjadi ritual baru. Ritual pelarutan.
Setiap
malam, kami mencoba mencair lebih cepat. Kami mencoba menghilangkan
tulang-tulang kami. Kami mencoba menjadi genangan yang sempurna.
Aku
mulai merasa aneh di siang hari.
Saat
aku mengetik terjemahan manual mesin, aku merasa jari-jariku lunak. Aku merasa
jika aku menekan tombol keyboard terlalu keras, jariku akan meleleh
masuk ke sela-sela tombol.
Saat
aku minum air, aku merasa air itu tidak masuk ke perut, tapi menyebar langsung
ke seluruh tubuhku, menjadikanku lebih encer.
Aku
mulai takut pada matahari. Aku merasa jika aku keluar rumah di siang hari, aku
akan menguap habis dan hilang menjadi awan di langit Jakarta.
Jadi
aku menutup semua tirai. Aku hidup dalam kegelapan buatan, menunggu malam,
menunggu Klara, menunggu saat di mana aku bisa berhenti menjadi manusia padat
yang penuh beban.
Klara
juga berubah. Dia semakin pucat. Semakin transparan.
Suatu
malam, saat kami sedang mencair di lantai, aku melihat tangan kirinya.
Di
bawah cahaya bulan, tangan itu terlihat benar-benar transparan. Aku bisa
melihat pola ubin keramik di bawah telapak tangannya.
“Klara,”
bisikku. “Kau menghilang.”
“Bagus,”
jawabnya dengan mata terpejam. “Itu tujuannya. Aku ingin menjadi noda air yang
hilang saat matahari terbit.”
“Tapi
kalau kau hilang, aku bagaimana?”
“Kau
juga akan hilang. Kita akan menjadi hujan, lalu turun ke laut, dan Merkuri akan
meminum kita.”
Ada
logika yang mengerikan dalam ucapannya.
Aku
menyadari bahayanya. Kami sedang melakukan bunuh diri lambat. Kami sedang
mengikis eksistensi kami sendiri melalui orgasme likuid. Tapi itu terlalu
nikmat untuk dihentikan. Sensasi bebas dari gravitasi, bebas dari bentuk, bebas
dari nama “Aku”, itu adalah candu terkuat di dunia.
Dua
bulan berakhir, saat telepon dari Tazaki datang.
“Aku
pulang besok,” katanya. Suaranya di telepon terdengar terlalu keras, terlalu
padat, terlalu nyata. “Pesawatku mendarat jam sepuluh pagi. Terima kasih sudah
menjaga rumah.”
Aku
meletakkan telepon dengan tangan gemetar.
Besok.
Waktu
kami habis.
Malam
ini adalah malam terakhir. Bulan sudah tidak purnama lagi. Bulan sabit tipis
menggantung di langit seperti kuku jari yang baru dipotong. Cahayanya lemah.
Klara
datang. Dia tidak membawa es batu. Dia tidak membawa kemeja. Dia telanjang
bulat, dibalut selimut tipis.
“Tazaki
pulang besok,” kataku.
Klara
mengangguk. Dia tidak tampak terkejut. “Diplomatku juga pulang lusa.”
Kami
berdiri di dapur. Merkuri mengeong gelisah. Mangkuk airnya kosong karena bulan
tidak memantul sempurna.
“Satu
kali lagi?” tanya Klara.
“Kalau
kita lakukan satu kali lagi... aku takut kita tidak akan bisa memadat lagi,
Klara,” kataku jujur. “Aku rasa struktur molekulku sudah rusak.”
Klara
mendekatiku. Dia menjatuhkan selimutnya.
“Siapa
yang mau memadat lagi?” tanyanya. “Dunia padat itu menyakitkan. Sudut-sudut
mejanya tajam. Kata-katanya kasar. Gravitasinya berat. Ayo kita habiskan sisa
wujud kita malam ini.”
Dia
memelukku. Dan seketika, aku merasakan kakiku goyah.
Kami
jatuh ke lantai.
Malam
itu, pelarutan itu terjadi dengan intensitas yang menakutkan.
Aku
tidak lagi merasakan batas antara aku, Klara, dan lantai marmer. Aku merasa
kami merembes masuk ke dalam pori-pori batu. Aku merasa kami mengalir di
sela-sela nat keramik.
Aku
melihat, atau bermimpi? bahwa tubuh Klara benar-benar kehilangan konturnya.
Wajahnya menjadi pusaran air susu. Matanya menjadi dua pusaran tinta hitam yang
berputar.
Aku
masuk ke dalam pusaran itu.
Aku
merasa Merkuri mendekat. Aku merasakan lidah kasarnya menyentuh... permukaanku.
Kucing
itu menjilati kami. Dia meminum kami.
Aku
merasakan diriku masuk ke dalam tubuh kucing itu. Menjadi bagian dari darahnya.
Menjadi kilat di matanya.
Kemudian.
Gelap.
Aku
terbangun oleh suara bel pintu di pagi hari. Matahari menyengat masuk lewat
celah tirai yang lupa kututup rapat.
Aku
terbaring di lantai dapur. Sendirian. Aku meraba tubuhku. Padat. Keras. Sakit. Kepalaku
berdenyut hebat, seolah otakku baru saja diperas hingga kering.
Aku
duduk. Tidak ada Klara. Tidak ada noda air. Lantai itu bersih, kering, dan
dingin. Hanya ada satu hal yang aneh. Di tengah dapur, mangkuk air Merkuri
terbalik. Pecah menjadi dua belahan yang rapi. Merkuri duduk di atas meja,
menatapku.
Bulunya
tampak berbeda. Lebih berkilau. Lebih... cair. Dan matanya—aku
bersumpah—memiliki kedalaman yang baru, seolah ada dua jiwa manusia yang
berenang-renang kecil di dalam pupil vertikalnya.
Bel
berbunyi lagi. Itu pasti Tazaki. Aku bangkit, memakai bajuku yang kusut, dan
berjalan membuka pintu.
Tazaki
berdiri di sana dengan koper-koper mahalnya, tampak segar, padat, dan nyata.
“Kau
terlihat mengerikan, kawan,” katanya sambil menepuk bahuku. “Seperti orang yang
dehidrasi berat. Kau lupa minum air?”
“Mungkin,”
jawabku serak. “Aku lupa caranya minum.”
Aku
mengambil barang-barangku. Aku tidak berpamitan pada Merkuri. Aku tidak berani
menatap matanya lagi. Saat aku keluar dari gerbang rumah Tazaki, aku menoleh ke
rumah sebelah. Rumah Klara.
Semua
tirainya tertutup rapat. Rumah itu tampak seperti benteng yang tak tertembus.
Apakah
dia ada di dalam sana? Apakah dia sedang menyambut suaminya dengan senyum
diplomatik yang kaku?
Aku
tidak tahu.
Aku
pulang ke apartemenku yang sempit.
Sejak
hari itu, aku memiliki masalah baru. Aku tidak bisa minum air.
Setiap
kali aku melihat segelas air, aku merasa mual. Aku merasa melihat bayangan
diriku sendiri di sana. Aku merasa melihat Klara.
Jadi
aku hidup dengan memakan roti kering dan biskuit. Aku menjadi semakin kurus dan
kering. Kulitku menjadi seperti kertas.
Tapi
di malam hari, saat bulan purnama, aku akan duduk di balkon. Aku akan membuka
mulutku lebar-lebar, menjulurkan lidah, dan mencoba menjilati cahaya bulan yang
jatuh.
Berharap,
hanya berharap, aku bisa mencair sekali lagi.
