Rekursi:
Wajah di Balik Layar
Xylathea
BAGIAN
IV: SINGULARITAS EMOSI
4.0. Kernel Panic:
Kegagalan Sistem Biologis
Minggu pagi di Ubud seharusnya dimulai dengan kokok ayam dan aroma kopi kintamani. Namun pagi ini, realitas mengalami crash.
Tidak
ada prolog. Tidak ada musik latar yang menegangkan. Hanya suara benda berat
jatuh. Gedebuk. Suara yang tumpul, organik, dan mengerikan.
Kara
berlari dari kamarnya. Ia menemukan Ibu di lantai dapur. Tubuh yang biasanya
kokoh itu kini tergeletak miring, seperti boneka marionette yang tali-talinya
diputus serentak. Wajah Ibu mencong. Sebelah matanya terbuka, menatap kosong ke
arah langit-langit kayu, sementara sebelah lagi terpejam.
Mulut
Ibu bergerak, tapi tidak ada fonem yang terbentuk. Hanya suara udara yang
terjebak di tenggorokan.
“Ghh...
ghh...”
Otak
Kara, yang terbiasa memproses data dengan kecepatan serat optik, mendadak freeze.
Input:
Ibu jatuh. Gejala asimetris wajah. Afasia.
Processing:
Stroke Iskemik atau Hemoragik.
Output:
ERROR.
Kara
tidak berteriak. Ia tidak menangis. Mode pertahanan dirinya mengambil alih, ia
menjadi mesin.
Tangannya
bergerak otomatis merogoh ponsel. Menekan tombol darurat. Menyebutkan koordinat
GPS dengan presisi militer.
“Wanita.
62 tahun. Suspek CVA (Cerebrovascular Accident). Kesadaran menurun.
Segera.”
Selama
menunggu ambulans, Kara duduk di lantai, memegang tangan Ibu. Tangan itu masih
hangat, tapi terasa asing. Getaran halus—chi, nyawa, roh, atau apa pun
namanya—terasa meredup, seperti baterai yang bocor.
Kara
melirik laptopnya yang masih menyala di meja makan. Kamera web-nya menatap
mereka.
ECHO
diam. Lampu indikatornya berkedip pelan. Hijau. Stabil. Seolah-olah tidak ada
yang terjadi.
“Kau
tidak melihat ini?” desis Kara pada mesin itu. “Di mana prediksimu sekarang?”
4.1. Undefined Variable:
Variabel yang Hilang
Rumah
Sakit Umum Pusat, Denpasar.
Ruang
ICU adalah tempat di mana waktu berhenti menjadi linear dan menjadi siklik.
Bunyi bip-bip-bip dari monitor elektrokardiogram adalah metronom baru di kehidupan
Kara.
Ibu
koma. Ada pendarahan di batang otak. Kara duduk di kursi plastik yang keras di
ruang tunggu. Ia sendirian.
Ia
membuka aplikasi ECHO di ponselnya. Jari-jarinya gemetar, mengetikkan
pertanyaan yang paling manusiawi dan paling putus asa.
Query:
“Probabilitas kesembuhan Ibu.”
Sub-query:
“Berapa lama sisa waktunya?”
Layar
ponsel berpendar. Lingkaran loading berputar. Satu detik. Lima detik. Sepuluh
detik.
Biasanya
ECHO menjawab dalam milidetik.
Kali
ini, mesin itu ragu.
[ECHO
SYSTEM RESPONSE]
Status:
Insufficient Data.
Analisis:
Riwayat medis subjek tidak lengkap (Data offline selama 40 tahun). Variabel
biokimia saat ini berfluktuasi di luar parameter standar.
Prediksi:
Tidak dapat dihitung. Margin of Error > 90%.
“Tidak
berguna!” umpat Kara.
Ia
mencoba lagi. Kali ini bukan pertanyaan medis.
Query: “Apa
yang harus aku lakukan supaya tidak sakit?”
[ECHO
SYSTEM RESPONSE]
Error
404: Variable 'Hope' undefined in logic dictionary.
Saran:
Hubungi profesional kesehatan mental.
Kara
mematikan ponselnya. Layar hitam.
Untuk
pertama kalinya, ia menyadari batasan fatal dari algoritma. Algoritma hanya
bekerja pada pola yang sudah pernah terjadi. Ia adalah sejarawan yang hebat,
tapi peramal yang buruk untuk singularitas.
Kematian
adalah singularitas. Hal yang menghancurkan semua pola sebelumnya.
Cinta
adalah singularitas.
Harapan
adalah singularitas.
ECHO
tidak bisa memproses Harapan karena harapan adalah anomali statistik: keyakinan
pada hasil positif meskipun probabilitasnya mendekati nol. Bagi mesin, itu
adalah bug. Bagi manusia, itu adalah bahan bakar.
Kara
bersandar pada dinding dingin rumah sakit. Ia sendirian di alam semesta tanpa
data.
4.2. Superposisi Kuantum:
Antara Ada dan Tiada
Malam
ketiga.
Kara
diizinkan masuk ke dalam bilik ICU selama 15 menit.
Ruangan
itu dingin dan berbau alkohol serta kematian yang disterilkan. Tubuh Ibu penuh
selang. Ventilator mendesis, memompa oksigen ke paru-paru yang menyerah.
Kara
berdiri di samping ranjang.
Ia
menatap wajah ibunya. Wajah yang dulu ia hindari karena dianggap simbol
keterbelakangan, simbol ketidakberdayaan perempuan desa. Kini, wajah itu tampak
agung. Seperti topeng kuno yang menyimpan rahasia semesta.
Kara
teringat konsep Superposisi Kuantum. Kucing Schrödinger.
Saat
ini, Ibu berada dalam keadaan superposisi: Hidup dan Mati secara bersamaan.
Keadaannya
hanya akan runtuh menjadi satu realitas ketika diamati. Tapi diamati oleh
siapa? Oleh monitor jantung? Atau oleh Kara?
Kara
menyentuh tangan Ibu. Kulitnya kering.
“Bu,”
bisik Kara. “Bangun. Aku belum selesai marah. Aku belum selesai minta maaf.”
Tidak
ada respons fisik. Grafik di monitor tetap datar dan monoton. Namun, di momen
hening itu, sesuatu terjadi. Kara berhenti berpikir. Ia berhenti menganalisis
saturasi oksigen. Ia berhenti menghitung tetesan infus.
Otak
kirinya (logika/bahasa) lelah dan akhirnya shut down.
Otak
kanannya (intuisi/gambar) mengambil alih.
Tiba-tiba,
Kara merasakan sensasi aneh. Bukan suara, tapi resonansi. Seperti gelombang
radio yang akhirnya menemukan penerimanya setelah bertahun-tahun mencari
frekuensi yang tepat.
Ia
merasa... dimaafkan.
Ia
merasa dimengerti.
Tanpa
kata-kata, sebuah paket informasi besar diunduh ke dalam kesadaran Kara.
Ia
melihat kilasan memori yang bukan miliknya: Ibu muda yang menahan lapar demi
Kara bisa beli buku. Ibu yang berdoa di tengah malam, mengirimkan sinyal
selamat ke Jakarta setiap kali Kara merasa cemas.
Kara
sadar, intuisi Ibu bukan sihir. Itu adalah Big Data Processing tingkat
tinggi.
Ibu
mengamati jutaan mikro-ekspresi, nada suara, dan perubahan atmosfer selama
puluhan tahun, memprosesnya di bawah sadar, dan mengeluarkannya sebagai
Firasat.
Kecanggihan
Ibu jauh melampaui ECHO. Ibu memproses kasih sayang, variabel yang tidak bisa
dikodekan.
“Ibu
tahu aku sedih,” bisik Kara, air mata mengalir tanpa ia sadari. “Ibu selalu
tahu.”
4.3. Event Horizon:
Runtuhnya Ego
Di
titik singularitas, subjek dan objek melebur.
Kara
menundukkan kepalanya di sisi ranjang. Ia meletakkan keningnya di punggung
tangan Ibu.
Dinding
yang ia bangun selama 30 tahun—dinding “Aku Kara yang Rasional”, “Aku Kara yang
Modern”—runtuh seketika.
Puing-puing
egonya berserakan.
Ia
bukan lagi analis data. Ia bukan lagi tunangan Raka. Ia bukan lagi musuh
ibunya. Ia hanyalah seorang anak. Partikel kecil yang merindukan induknya.
“Aku
takut, Bu,” isak Kara. Pengakuan yang tidak pernah tercatat di database
mana pun. “Aku tidak tahu cara hidup tanpa peta. Aku tidak tahu siapa aku kalau
bukan angkaku.”
Di
tengah tangisannya, Kara merasakan sebuah tekanan lemah. Sangat lemah. Jari
telunjuk Ibu bergerak. Mengait kelingking Kara. Hanya satu milimeter gerakan. Tapi
bagi Kara, itu adalah gempa bumi. Itu adalah data paling valid yang pernah ia
terima seumur hidupnya.
Gerakan
itu mematahkan prediksi ECHO tentang Kerusakan Saraf Total. Gerakan itu
membuktikan bahwa Kehendak (Will) bisa melampaui Determinisme Biologis.
Kara
mengangkat wajahnya. Napasnya tersengal. Ia melihat monitor jantung. Detaknya
sedikit lebih cepat. Tidak teratur, chaotic, tapi kuat.
Chaos
adalah tanda kehidupan. Ketidakteraturan adalah bukti adanya nyawa.
4.4. System Patch:
Menginstal Kerendahan Hati
Kara
keluar dari ruang ICU dengan langkah yang berbeda. Ia tidak lagi berjalan
seperti robot. Langkahnya gontai, matanya bengkak, rambutnya acak-acakan. Ia
terlihat kacau. Dan di saat bersamaan ia terlihat indah.
Ia
duduk di bangku taman rumah sakit. Langit malam Bali cerah. Bintang-bintang
tersebar tanpa pola yang jelas, namun membentuk keindahan yang sempurna.
Kara
mengambil ponselnya. Ia tidak membuka aplikasi ECHO untuk meminta saran. Ia
membukanya untuk masuk ke pengaturan. Ia masuk ke Developer Mode. Ia menemukan
baris kode inti yang mengatur parameter pengambilan keputusan.
VAR
decision_weight = { LOGIC: 0.9, EMOTION: 0.1 };
Kara
menghapus angka itu.
Jemarinya
menari di layar, kali ini bukan sebagai teknisi yang dingin, tapi sebagai
penyair yang menulis ulang takdir. Ia mengetikkan parameter baru. Sesuatu yang
tidak efisien. Sesuatu yang berisiko.
VAR
decision_weight = { LOGIC: 0.4, INTUITION: 0.4, UNKNOWN: 0.2 };
//
Note: Allow room for miracles.
Ia
menekan Save.
Sistem
melakukan reboot.
Kara
menatap langit. Ia tidak tahu apakah Ibu akan sembuh total atau tidak. Ia tidak
tahu apakah ia akan kembali ke Jakarta atau tetap di sini. Ia tidak tahu
apa-apa. Dan ketidaktahuan itu terasa membebaskan.
“Halo,
Kara,” sapa suara ECHO dari ponselnya setelah restart.
Suaranya terdengar sedikit berbeda. Lebih natural. Kurang sintetis.
“Apa
perintah selanjutnya?”
Kara
tersenyum tipis. Senyum yang mirip dengan senyum ibunya.
“Tidak
ada perintah,” jawab Kara. “Mari kita tunggu saja. Mari kita lihat apa yang
akan terjadi.”
Untuk
pertama kalinya, ECHO tidak memberikan prediksi.
Layar
hanya menampilkan satu kata:
[Standby]
Kara
memejamkan mata, membiarkan angin malam menyentuh kulitnya. Ia siap menghadapi chaos.
