Binatu
Koin, Ikan Mas, dan Simfoni Putaran Terakhir
ADG
Aku
berhenti tidur nyenyak sekitar pertengahan Oktober, tepat ketika angin muson
mulai membawa hujan yang tak kunjung berhenti ke kota ini.
Istriku,
Sarah, adalah orang yang memiliki kemampuan tidur yang membuatku iri sekaligus
merasa terhina. Dia bisa meletakkan kepalanya di bantal pada pukul sepuluh
malam, menarik napas panjang tiga kali, dan klik, dia padam. Seperti
televisi yang kabelnya dicabut dari stopkontak. Tidak ada mimpi, tidak ada
gerakan gelisah, hanya tidur yang efisien dan produktif.
Aku
sering berbaring di sampingnya, mendengarkan ritme napasnya yang sempurna.
Masuk, keluar. Masuk, keluar. Ritme itu begitu stabil hingga aku merasa sedang
tidur di sebelah mesin pendingin ruangan buatan Jepang, bukan manusia.
Kehidupan
pernikahan kami pun seperti itu. Stabil. Efisien. Kami sudah menikah empat
tahun. Kami tidak pernah bertengkar hebat. Kami tidak pernah saling melempar
piring. Kami membayar tagihan tepat waktu, kami pergi ke bioskop setiap Sabtu
malam, dan kami bercinta dengan jadwal yang disepakati bersama. Sarah bekerja
sebagai manajer HRD di sebuah perusahaan logistik, dan aku bekerja sebagai
penyunting teknis untuk buku manual peralatan elektronik.
Kami
adalah pasangan pinggiran kota yang ideal. Kami adalah potret keberhasilan
kelas menengah.
Tapi
di malam-malam bulan Oktober itu, aku mulai merasa bahwa udara di dalam rumah
kami perlahan-lahan menipis. Rasanya seolah-olah dinding rumah menyerap oksigen
setiap kali Sarah menghembuskan napas dalam tidurnya. Aku akan terbangun pukul
dua pagi dengan dada sesak, menatap langit-langit kamar yang gelap, dan merasa
bahwa aku sedang dikubur hidup-hidup dalam kenyamanan.
Jadi,
aku mulai keluar.
Awalnya
hanya duduk di teras. Lalu berjalan ke minimarket 24 jam. Hingga akhirnya, aku
menemukan tempat itu.
Sebuah
binatu koin bernama “Blue Bubble” yang terletak tiga blok dari apartemen
kami. Tempat itu buka 24 jam. Dindingnya dicat putih steril yang mulai
menguning, lantainya keramik kotak-kotak hitam putih yang mengingatkanku pada
papan catur raksasa, dan ada aroma konstan dari deterjen lemon sintetis dan
pelembut pakaian lavender.
Di
sana, di bawah lampu neon yang berdengung pelan seperti lebah yang sekarat, aku
menemukan kedamaian yang aneh.
Aku
mulai membawa pakaian-pakaian yang sebenarnya masih bersih dari lemari. Kemeja
kerja, sarung bantal, handuk. Aku akan memasukkannya ke dalam mesin cuci nomor
4 (selalu nomor 4, karena putarannya terdengar paling stabil), memasukkan koin,
dan duduk di kursi plastik oranye yang keras.
Aku
akan menonton pakaian-pakaianku berputar.
Ada
sesuatu yang hipnotik dari gerakan memutar itu. Pakaian-pakaian itu terlempar,
jatuh, basah, dibilas, dan diputar lagi. Rasanya seperti melihat kehidupan itu
sendiri yang direduksi menjadi siklus pencucian. Kotor, dicuci, bersih, kotor
lagi. Tanpa tujuan, hanya repetisi.
Sarah
tidak pernah tahu. Aku memberitahunya bahwa aku mendapat proyek menyunting buku
manual mesin turbin dari Jerman yang mengharuskanku bekerja di ruang kerja
sampai pagi. Dia percaya. Dia selalu percaya pada efisiensi kerja.
Dan
begitulah rutinitas baruku terbentuk. Sampai wanita itu datang.
Saat
itu adalah malam Selasa di awal Desember. Hujan turun dengan intensitas yang
membuat jalan aspal terlihat seperti sungai hitam.
Pukul
02.15 pagi. Aku sedang membaca ulang novel lama karya Raymond Chandler sambil
menunggu putaran bilas selesai. Pintu kaca binatu terbuka. Lonceng kecil di
atas pintu bergemerincing.
Seorang
wanita masuk.
Dia
mengenakan jas hujan transparan murahan yang meneteskan air ke lantai.
Rambutnya hitam, dipotong pendek sebahu, basah dan menempel di pipinya yang
pucat. Usianya mungkin akhir dua puluhan, atau awal tiga puluhan. Wajahnya
bukan jenis wajah yang akan kau ingat jika kau berpapasan di stasiun kereta
yang sibuk. Wajah itu... transparan. Seolah-olah dia bisa menghilang
jika kau tidak memusatkan perhatianmu padanya.
Dia
membawa keranjang cucian kecil berwarna biru. Tapi bukan itu yang menarik
perhatianku.
Di
tangan kirinya, dia memegang sebuah kantong plastik bening yang diikat karet
gelang. Di dalam kantong plastik yang berisi air itu, berenang seekor ikan mas
koki.
Ikan
itu berwarna oranye menyala, dengan perut buncit dan ekor yang melambai-lambai
elegan. Sebuah titik warna yang mengejutkan di tengah dunia yang serba abu-abu
dan putih.
Wanita
itu tidak menatapku. Dia berjalan menuju mesin cuci nomor 7 (tiga mesin dari
tempatku), memasukkan beberapa potong pakaian—sebuah cardigan, dua
pasang kaus kaki, dan sebuah syal, lalu memasukkan koin.
Setelah
mesin mulai menderu, dia duduk di kursi plastik tepat di seberangku. Dia
meletakkan kantong plastik berisi ikan mas itu di pangkuannya, menjaganya
dengan hati-hati seolah itu adalah bom nuklir yang tidak stabil atau jantung
manusia yang siap ditransplantasikan.
Kami
duduk dalam diam selama sepuluh menit. Hanya suara dengung mesin cuci dan suara
hujan yang memukul kaca jendela.
Aku
mencoba kembali membaca buku, tapi mataku terus melirik ke arah kantong plastik
itu. “Ikan mas itu berenang berputar-putar di dalam ruang sempitnya. Kiri,
kanan, atas, bawah.
“Namanya
Leo,” kata wanita itu tiba-tiba.
Aku
mengangkat kepala. Dia sedang menatapku. Matanya gelap, jenis mata yang
menyerap cahaya alih-alih memantulkannya.
“Maaf?”
“Ikan
ini,” katanya sambil mengangkat sedikit kantong plastiknya. “Namanya Leo.
Seperti Leo Tolstoy. Atau Leo si zodiak singa. Terserah kau mau
menginterpretasikannya yang mana.”
Suaranya
rendah dan sedikit serak, seperti suara seseorang yang sudah lama tidak
digunakan untuk berbicara.
“Kenapa
kau membawanya ke binatu?” tanyaku. Itu pertanyaan bodoh, tapi di jam 2 pagi,
kecerdasan bukanlah prioritas.
Dia
tersenyum tipis. Sangat tipis. “Karena dia tidak suka ditinggal sendirian di
apartemen saat hujan. Dia punya kecemasan akan perpisahan.”
“Ikan
punya kecemasan?”
“Semua
makhluk hidup yang sadar bahwa mereka terkurung dalam kotak kaca pasti punya
kecemasan, Tuan...?”
“Banyu,”
kataku berbohong. Namaku sebenarnya Aji. Tapi di binatu ini, aku merasa nama
asliku tidak berlaku.
“Banyu,”
ulangnya, seolah mencicipi kata itu di lidahnya. “Nama yang cocok untuk cuaca
seperti ini. Aku Mara.”
“Hai,
Mara.”
Dia
kembali menatap ikannya. “Leo suka suara mesin cuci. Getarannya. Kurasa itu
mengingatkannya pada arus laut. Meskipun dia ikan air tawar yang tidak pernah
melihat laut, mungkin memori genetik nenek moyangnya masih ada.”
“Mungkin,”
jawabku.
Kami
tidak bicara lagi malam itu.
Ketika
cucianku selesai, aku memindahkannya ke mesin pengering. Mara masih duduk di
sana, menatap Leo yang berenang berputar-putar. Saat aku selesai melipat
pakaianku yang hangat, Mara masih menunggu putaran bilasnya.
“Sampai
jumpa, Banyu,” katanya tanpa menoleh saat aku mendorong pintu keluar.
“Sampai
jumpa, Mara. Dan Leo.”
Malam
itu, saat aku kembali berbaring di samping Sarah yang masih tertidur pulas
dalam posisinya yang kaku, aku memikirkan ikan mas itu. Aku memikirkan
bagaimana rasanya hidup di dalam kantong plastik, dibawa menembus hujan, hanya
untuk melihat pakaian berputar di dalam tabung logam.
Untuk
pertama kalinya dalam berbulan-bulan, aku tertidur dengan mudah.
***
Pertemuan
itu menjadi ritual.
Setiap
malam, antara pukul dua sampai pukul empat pagi, Mara akan datang. Selalu
dengan jas hujan transparan, selalu dengan cucian yang sedikit (terkadang aku
curiga dia hanya mencuci ulang baju yang sama), dan selalu membawa Leo dalam
kantong plastik.
Kami
jarang berbicara panjang lebar. Hubungan kami dibangun di atas fondasi
keheningan dan suara latar white noise dari mesin cuci.
Kami
berbagi kopi kalengan dari mesin penjual otomatis di sudut ruangan. Kopi itu
rasanya seperti gula bakar dan air logam, tapi di binatu ini, rasanya seperti ambrosia.
“Apa
pekerjaanmu?” tanyanya suatu malam, di minggu ketiga pertemuan kami.
“Aku
memperbaiki kalimat orang lain,” jawabku. “Aku membuat instruksi cara mematikan
oven microwave. Terdengar tidak masuk akal, bukan?”
“Terdengar
membosankan.”
“Sangat.
Dan kau?”
“Aku
penjaga museum suara,” katanya.
Aku
tertawa. “Itu bukan pekerjaan nyata.”
“Tentu
saja nyata. Aku bekerja di perpustakaan arsip radio nasional. Tugasku
mendengarkan rekaman wawancara orang-orang yang sudah mati, membersihkan suara kresek-kresek-nya,
dan mendigitalkannya. Aku menghabiskan delapan jam sehari mendengarkan hantu
berbicara.”
Aku
menatapnya. Di bawah lampu neon yang dingin, Mara terlihat seperti hantu itu
sendiri.
“Mungkin
itu sebabnya kau membawa Leo,” kataku. “Kau butuh sesuatu yang hidup tapi tidak
berisik.”
Mara
mengetuk pelan kantong plastiknya. Leo merespons dengan mengibaskan ekor. “Mungkin.
Atau mungkin karena aku merasa Leo dan aku sama.”
“Sama
bagaimana?”
“Kami
berdua menunggu.”
“Menunggu
apa?”
“Menunggu
seseorang memecahkan plastik ini dan membiarkan kami tumpah ke tempat yang
lebih besar. Atau menunggu oksigennya habis. Entahlah.”
Kalimat
itu menggantung di udara.
Aku
mulai merasa bahwa binatu ini bukan lagi sekadar tempat mencuci baju. Ia adalah
sebuah kapsul waktu. Atau mungkin lubang cacing. Sebuah ruang liminal
yang terputus dari dunia nyata di luar sana.
Di
dalam sini, tidak ada tagihan hipotek. Tidak ada Sarah yang bertanya kapan kami
akan mulai mencoba punya anak. Tidak ada tetangga yang memotong rumput dengan
mesin bising di hari Minggu pagi.
Di
sini, hanya ada aku, Mara, Leo, dan pakaian yang berputar.
Aku
mulai menyukai Mara. Bukan cinta yang romantis dan berapi-api. Aku tidak ingin
menidurinya. Keinginan itu terasa vulgar dan merusak estetika hubungan kami.
Aku hanya ingin berada di dekatnya. Aku ingin menyerap kesedihannya yang
tenang, karena kesedihannya terasa kompatibel dengan kehampaanku.
Suatu
malam, aku membawa dua batang cokelat. Aku memberikan satu padanya.
“Terima
kasih,” katanya.
Kami
makan cokelat sambil menonton mesin pengering berputar. Kemeja-kemejaku yang
berwarna putih dan biru berjatuhan di balik kaca bundar.
“Kau
sudah menikah?” tanyanya tiba-tiba. Dia melihat cincin di jari manisku.
“Ya.”
“Dia
bahagia?”
“Dia...
efisien,” jawabku. “Dia tidur nyenyak. Dia punya rencana lima tahun ke depan.
Dia tahu persis apa yang dia inginkan untuk makan malam besok lusa.”
“Dan
kau?”
“Aku
merasa seperti astronot yang talinya putus saat spacewalk. Aku melayang
perlahan menjauhi pesawat induk, melihat bumi semakin kecil, tapi radionya mati
jadi aku tidak bisa berteriak.”
Mara
menoleh padaku. Tatapannya intens. “Itu metafora yang bagus, Banyu. Sedih, tapi
bagus.”
Dia
menggeser kursinya sedikit lebih dekat. Lutut kami hampir bersentuhan. Bau
hujan dari jas hujannya tercium samar.
“Kau
tahu,” bisiknya. “Kadang aku berpikir mesin cuci ini adalah portal. Jika kita
masuk ke dalamnya pada putaran yang tepat, dengan kecepatan sentrifugal yang
tepat, kita bisa keluar di tempat lain. Tempat di mana kita tidak perlu merasa
seperti astronot yang putus tali.”
“Dan
di mana itu?”
“Mungkin
di dalam kantong plastik Leo,” katanya sambil tersenyum miring. “Dunia yang
sempit, tapi setidaknya airnya jernih.”
***
Kehidupan
gandaku mulai menggerogoti realitas.
Siang
hari, aku menjadi zombie. Aku duduk di depan komputer, menyunting kalimat “Pastikan
kabel ground terpasang dengan benar” berulang kali, sementara pikiranku
melayang ke binatu. Wajah Sarah mulai terlihat buram bagiku. Saat dia berbicara
tentang rencana liburan akhir tahun ke Bali, suaranya terdengar seperti berasal
dari bawah air.
“Kau
terlihat pucat akhir-akhir ini,” kata Sarah suatu pagi saat sarapan. Dia
mengoleskan selai stroberi ke roti panggang dengan presisi yang menakutkan.
Rata di setiap sudut.
“Proyek
Jerman ini melelahkan,” jawabku.
“Kau
harus minum vitamin. Nanti aku belikan.”
“Terima
kasih.”
Aku
menatapnya. Dia cantik. Rambutnya berkilau, kulitnya terawat. Dia adalah istri
yang sempurna. Tapi aku merasa sedang melihat manekin di etalase toko. Aku
ingin memecahkan kaca etalase itu, mengguncang bahunya, dan berteriak: Apakah
kau sadar kita sedang sekarat pelan-pelan? Apakah kau sadar bahwa tidur
nyenyakmu itu menghinaku?
Tapi
tentu saja aku tidak melakukannya. Aku hanya memakan roti panggangku.
Malam
itu, aku pergi ke binatu lebih awal. Pukul satu pagi.
Aku
butuh melihat Mara. Aku butuh melihat ikan mas itu. Aku butuh validasi bahwa
aku masih nyata.
Tapi
Mara tidak datang.
Pukul
dua. Pukul tiga. Pukul empat.
Kursi
di seberangku kosong. Mesin cuci nomor 7 diam, pintunya menganga hitam seperti
mulut yang lapar.
Kepanikan
mulai merayap di leherku. Aku menyadari bahwa aku tidak tahu apa-apa tentang
dia. Aku tidak tahu nama lengkapnya. Aku tidak tahu di mana dia tinggal. Aku
tidak tahu nomor teleponnya.
Dia
hanyalah hantu yang muncul saat hujan.
Aku
pulang dengan perasaan hancur. Pakaianku yang sudah dicuci dan dikeringkan
terasa berat di dalam keranjang, seolah-olah aku sedang membawa batu nisan.
Malam
berikutnya, aku datang lagi. Nihil.
Malam
ketiga. Nihil.
Aku
mulai merasa gila. Apakah Mara benar-benar ada? Atau dia hanya manifestasi dari
insomnia dan kesepianku? Apakah aku sudah berhalusinasi menciptakan teman
imajiner lengkap dengan ikan masnya?
Seminggu
berlalu. Hujan berhenti turun. Langit malam menjadi jernih dan dingin.
Aku
memutuskan untuk mencoba satu kali lagi. Ini akan menjadi malam terakhir. Jika
dia tidak datang, aku akan berhenti ke binatu. Aku akan kembali tidur di
samping Sarah. Aku akan menerima nasibku sebagai astronot yang mati lemas.
Pukul
02.30 pagi. Pintu binatu terbuka.
Jantungku
melompat.
Tapi
bukan Mara yang masuk. Hanya seorang pria tua tunawisma yang masuk untuk
menghangatkan diri sebentar lalu diusir oleh penjaga shift malam yang
jarang terlihat.
Aku
menunduk, menatap lantai keramik kotak-kotak. Mataku terasa panas.
Lalu
aku melihatnya.
Di
atas meja lipat di sudut ruangan, di balik tumpukan majalah lama yang tidak
pernah dibaca orang. Ada sebuah kantong plastik bening.
Aku
berdiri, kakiku gemetar, dan berjalan mendekat.
Itu
Leo.
Ikan
mas itu masih di sana. Airnya sedikit keruh. Dia berenang pelan, hampir tidak
bergerak, siripnya terkulai lemas. Ada secarik kertas post-it kuning
yang ditempel di plastik itu.
Tulisan
tangannya kecil dan miring:
“Untuk
Banyu.
Ternyata
mesin cucinya bukan portal. Itu cuma mesin cuci.
Aku
harus pergi. Bukan ke tempat lain, cuma... pergi.
Tolong
jaga Leo. Dia suka lagu jazz dan tidak suka suara keras.
Jangan
jadi astronot selamanya.”
Tidak
ada nama. Tidak ada penjelasan. Aku memegang kantong plastik itu. Dingin.
Aku
melihat ke sekeliling binatu. Kosong. Hanya dengungan lampu neon dan putaran
mesin cuci nomor 4 milikku yang tersisa lima menit lagi.
Mara
telah pergi. Dia meninggalkan satu-satunya hal yang dia jaga dengan obsesif,
yang berarti dia tidak berencana untuk kembali. Atau mungkin, dia memutuskan
bahwa Leo lebih aman bersamaku daripada bersamanya.
Aku
menempelkan kantong plastik itu ke pipiku. Aku ingin menangis, tapi air mataku
tertahan di tenggorokan, membeku menjadi gumpalan keras.
***
Membawa
pulang Leo adalah pelanggaran protokol terbesar dalam pernikahanku. Sarah tidak
suka binatang peliharaan. “Bulu rontok,” katanya dulu. “Bau. Merepotkan.”
Tapi
pagi itu, saat aku pulang pukul empat pagi, aku membawa masuk kantong plastik
itu. Aku mencari vas bunga kaca besar yang tidak pernah dipakai di lemari
dapur. Aku mengisinya dengan air, memindahkan Leo ke dalamnya.
Aku
meletakkan vas itu di atas meja nakas di sisi tempat tidurku.
Saat
Sarah bangun pukul enam pagi, dia melihatnya.
Dia
mengerjabkan mata, menatap ikan mas oranye yang berenang di dalam vas bunga
kristal di samping lampu tidur.
“Apa
itu?” tanyanya. Suaranya serak khas bangun tidur.
“Ikan
mas,” jawabku. Aku sedang duduk di tepi tempat tidur, masih mengenakan pakaian
semalam.
“Aku
tahu itu ikan mas. Kenapa ada di sini?”
“Aku
menemukannya,” kataku.
“Menemukannya?
Di mana? Di jalan?”
“Di
binatu.”
Sarah
menatapku, lalu menatap ikan itu, lalu menatapku lagi. Keningnya berkerut. Dia
tampak seperti sedang mencoba memproses data yang tidak sesuai dengan algoritma
pemrogramannya.
“Di
binatu,” ulangnya.
“Ya.
Seseorang meninggalkannya.”
“Dan
kau membawanya pulang?”
“Ya.”
“Kenapa?”
Aku
menatap Leo. Ikan itu menatap balik ke arahku dengan matanya yang bulat dan
tanpa ekspresi. Dia tampak tenang. Mungkin dia sudah menerima nasibnya pindah
dari kantong plastik ke vas bunga.
“Karena
dia sendirian,” jawabku pelan. “Dan dia butuh oksigen.”
Sarah
terdiam lama. Dia melihat ikan itu berenang berputar. Kiri, kanan. Membentur
dinding kaca, berbalik.
Biasanya,
Sarah akan marah. Dia akan bicara tentang kebersihan, tentang tanggung jawab,
tentang betapa absurdnya memungut ikan dari binatu.
Tapi
pagi itu, sesuatu yang aneh terjadi.
Sarah
menghela napas panjang. Bahunya turun. Dia mengulurkan tangan, menempelkan
jarinya ke dinding vas kaca. Leo berenang mendekati jari Sarah, mungkin mengira
itu makanan.
“Dia
cantik,” gumam Sarah.
Aku
terkejut. “Ya. Namanya Leo.”
“Leo,”
Sarah tersenyum tipis. Senyum yang jarang kulihat. Senyum yang tidak efisien.
Senyum yang sedikit... sedih. “Halo, Leo.”
Sarah
menoleh padaku. Matanya bertemu dengan mataku. Dan untuk pertama kalinya dalam
berbulan-bulan, aku melihat ada orang di sana. Di balik manajer HRD yang kaku,
di balik tidur yang sempurna, aku melihat istriku. Dan dia tampak lelah. Sama
lelahnya denganku.
“Kau
tidak tidur lagi semalam?” tanyanya lembut.
“Tidak.”
“Kau
pergi ke binatu itu lagi?”
“Ya.”
Sarah
tidak bertanya tentang proyek Jerman. Dia sepertinya tahu, atau mungkin dia
sudah tahu sejak lama tapi memilih diam. Dia menggeser tubuhnya, memberiku
ruang di tempat tidur.
“Sini,”
katanya. “Berbaringlah sebentar sebelum kau harus kerja.”
Aku
ragu sejenak, lalu naik ke tempat tidur. Aku berbaring di sampingnya. Tapi kali
ini, ada vas kaca berisi ikan mas di antara kami, di atas nakas, menjaga kami.
Aku
memejamkan mata. Aku mendengar suara napas Sarah. Masih teratur, tapi tidak
lagi terdengar seperti mesin. Terdengar seperti manusia yang mencoba bertahan
hidup.
Dan
aku mendengar suara lain. Sangat pelan. Suara kecipak air kecil saat Leo
bergerak di dalam vasnya.
Suara
itu menenangkan.
Mara
sudah pergi. Aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Dia tetap menjadi
misteri, sebuah bab yang hilang dari buku kehidupanku. Tapi dia meninggalkan
Leo. Sebuah jangkar kecil berwarna oranye yang menahanku agar tidak hanyut
sepenuhnya ke angkasa luar.
“Selamat
tidur, Banyu,” bisik Sarah.
Aku
tidak mengoreksi namaku. Aku membiarkannya memanggilku apa saja.
Di
luar jendela, matahari pagi mulai terbit, pucat dan malu-malu. Tapi di dalam
kamar ini, di bawah pengawasan seekor ikan mas yang ditinggalkan, aku akhirnya
memejamkan mata dan membiarkan diriku tidur.
Dan
untuk pertama kalinya, aku tidak bermimpi tentang pakaian yang berputar. Aku
bermimpi tentang berenang di laut lepas, tanpa dinding kaca, tanpa kantong
plastik.
Hanya
air. Biru dan tak berujung.
