Retno Dumilah Wijayanti - Hikayat Lubang Ketiga: Sebuah Apologia

Retno Dumilah Wijayanti - Hikayat Lubang Ketiga: Sebuah Apologia


Hikayat Lubang Ketiga: Sebuah Apologia
Retno Dumilah Wijayanti

 

Namanya Maria. Tentu saja Maria. Nama itu pasaran, seperti nasibnya, tapi juga menyimpan beban teologis yang berat: perawan suci atau pelacur yang bertobat. Dia memilih menjadi yang kedua, minus pertobatan.

Di kamar apartemen lantai 18 yang menghadap ke kerlap-kerlip Jakarta—kota yang tampak seperti hamparan sirkuit komputer raksasa yang sedang demam—Maria duduk di tepi ranjang. Kakinya menyilang. Dia mengenakan lingerie sutra berwarna merah marun, warna darah yang mengering, warna anggur perjamuan.

Laki-laki itu, sebut saja Tuan X (karena bukankah semua klien adalah variabel yang bisa diganti-ganti dalam persamaan ekonomi?), sedang berdiri canggung. Dia baru saja mengajukan permintaan itu. Permintaan standar. Permintaan yang bagi 99% pelacur di kota ini adalah menu pembuka, appetizer sebelum hidangan utama.

Tapi Maria menggeleng.

“Aku bisa memberikan segalanya, Tuan,” suara Maria rendah, serak basah, seperti bunyi gesekan selo di nada rendah. “Rahimku. Duburku. Payudaraku. Kulitku. Tapi tidak mulutku.”

Tuan X mengerutkan kening. Wajahnya adalah peta kekuasaan: rahang yang tegas, mata yang terbiasa memerintah bawahan, dan dompet yang tebal. “Kenapa? Aku bisa bayar dua kali lipat.”

“Ini bukan soal harga,” jawab Maria, matanya menatap hampa ke arah gelas kristal di meja nakas. “Ini soal yurisdiksi.”

Mulut, bagi Maria, bukanlah sekadar lubang pencernaan. Mulut adalah satu-satunya wilayah kedaulatan yang tersisa. Jika vagina adalah terowongan purba yang dirancang alam untuk menerima, dan dubur adalah saluran pembuangan yang bisa dipaksa menjadi ruang rekreasi, maka mulut adalah pengecualian.

Mulut adalah tempat Logos (Sabda) keluar.

Mulut adalah tempat Verbum (Firman) menjadi daging.

Bagi Maria, membiarkan falus—simbol hukum, otoritas, dan patriarki—menyumbat mulutnya, berarti membungkam suaranya sendiri. Itu adalah bentuk penjajahan paling akhir. Selama mulutnya bebas, dia merasa masih menjadi subjek, bukan sekadar objek. Dia bisa mendesah, dia bisa berbohong, dia bisa berdoa, atau dia bisa meludahi wajah Tuan X.

Tapi jika mulut itu penuh, dia bisu. Dan kebisuan adalah kematian bagi seorang perempuan yang sejarahnya selalu ditulis oleh laki-laki.

 

1998

.

Saat itu Maria berumur dua belas tahun. Dia berlutut di bangku gereja kayu yang keras. Romo Paroki, seorang lelaki tua berbau tembakau dan lilin, sedang memimpin misa.

"Terimalah dan makanlah..."

Maria kecil membuka mulutnya. Roti bundar tipis—hosti—diletakkan di lidahnya. Hosti itu kering, hambar, menempel di langit-langit mulut. Dia diajari bahwa itu adalah Tubuh Kristus. Bahwa Tuhan masuk melalui mulut. Bahwa mulut adalah gerbang suci.

Di asrama putri, suster kepala sering berkata, “Jagalah mulutmu. Dari mulut keluar berkat dan kutuk.”

Maria tidak terlalu paham soal kutuk. Tapi dia paham soal rasa lapar. Dan dia paham soal suara. Dia adalah solis paduan suara. Ketika dia menyanyi Ave Verum Corpus, dia merasakan getaran di tenggorokannya. Getaran itu terasa ilahiah. Dia merasa memiliki kuasa. Orang-orang diam mendengarkannya. Bapak-bapak pejabat di barisan depan menatapnya dengan mata berkaca-kaca (atau mungkin mata lapar, dia belum bisa membedakannya waktu itu).

Suatu sore, di ruang sakristi yang remang, seorang frater muda memintanya berlatih vokal. Frater itu memuji bentuk bibir Maria. “Bibirmu sempurna untuk memuji Tuhan,” katanya.

Lalu jari frater itu menyentuh bibirnya. Menelusuri garisnya. Maria diam. Dia merasa ada yang salah, tapi dia diajari untuk patuh pada wakil Tuhan. Jari itu ingin masuk. Maria mengatupkan giginya. Rapat.

“Buka,” bisik frater itu.

“Tidak.”

Itu adalah tidak pertama dalam hidup Maria. Tidak yang menyelamatkan jiwanya, meski tubuhnya gemetar ketakutan. Sejak saat itu, Maria tahu, dia bisa kehilangan segalanya, dia bisa diperkosa nasib, tapi dia tidak akan membiarkan siapa pun menjajah katedral kecil di dalam rongga mulutnya.

Mulut adalah bait suci. Dan di bait suci, tidak boleh ada berhala. Bagi Maria, penis adalah berhala daging yang menuntut penyembahan total. Dia adalah seorang ateis bagi agama kemaluan laki-laki.

 

***

 

Tuan X mulai tidak sabar. Dia duduk di samping Maria, tangannya yang besar dan berbulu meremas paha Maria.

“Kamu pelacur aneh,” desisnya. “Apa bedanya lubang bawah dan lubang atas? Sama-sama basah. Sama-sama daging.”

Maria tersenyum tipis. Senyum yang mengandung ironi. Laki-laki selalu berpikir linier dan fungsional. Bagi mereka, lubang adalah lubang. Void yang harus diisi. Kekurangan yang harus dilengkapi oleh kehadiran mereka. Teori psikoanalisis Freud yang usang: laki-laki takut pada kastrasi, dan perempuan iri pada penis.

Omong kosong!

“Tuan,” kata Maria lembut, jarinya bermain di kancing kemeja Tuan X. “Vaginaku adalah pasar. Siapa saja boleh masuk asal membayar retribusi. Vaginaku tidak punya memori. Dia elastis. Dia memaafkan setiap penetrasi dengan kembali ke bentuk semula. Tapi mulutku...”

Maria menunjuk bibirnya yang dipulas lipstik merah darah.

“Mulutku adalah arsip. Dia mengingat rasa. Dia mengingat kata-kata. Dia adalah tempat aku menyusun namaku sendiri. Jika aku menghisap milikmu, aku menjadi budakmu. Aku menjadi bisu. Aku menjadi objek yang hanya berfungsi untuk kenikmatanmu, tanpa suara, tersedak oleh egomu.”

Tuan X tertawa meremehkan. “Kamu bicara seperti dosen filsafat, bukan lonte.”

“Siapa bilang lonte tidak boleh berfilsafat? Maria Magdalena mungkin lebih mengerti esensi cinta daripada Petrus yang memegang kunci surga tapi pengecut.”

Tuan X mendorong Maria terlentang. Maria tidak melawan. Tubuhnya rileks. Dia sudah terbiasa memisahkan kesadaran dari daging. Biarkan tubuh ini menjadi onggokan daging di rumah jagal. Biarkan Tuan X mencabik-cabiknya. Asal satu syarat itu dipenuhi.

Tuan X mulai kasar. Dia mencium leher Maria, meninggalkan jejak basah yang menjijikkan. Tangannya merayap ke mana-mana. Maria membiarkan kakinya dibuka lebar. Dia menatap langit-langit kamar, membayangkan pola retakan cat di sana membentuk peta kepulauan Indonesia. Sebuah negeri yang juga sering diperkosa: hutannya dibabat, tanahnya digali, tapi para pemimpinnya terus berpidato dengan mulut berbuih.

Ah, mulut lagi.

Pejabat berpidato bohong. Ustad berkhotbah kebencian. Politisi mengunyah janji. Mulut mereka pelacur yang sesungguhnya. Mereka melacurkan kata-kata demi kekuasaan. Maria merasa dirinya lebih suci. Dia hanya menjual daging, bukan menjual kata-kata. Dia menjaga integritas mulutnya dengan fanatisme seorang biarawati.

Seks itu terjadi. Mekanikal. Tanpa gairah, setidaknya dari sisi Maria.

Tuan X bergerak di atasnya seperti mesin diesel tua. Nafasnya memburu. Keringatnya menetes ke wajah Maria. Maria memalingkan muka. Dia menghitung detik. Dia menghitung cicilan apartemen. Dia menghitung biaya perawatan kulit.

Tapi kemudian, di puncak birahinya, Tuan X melanggar kontrak.

Mungkin karena insting dominasi, atau mungkin karena dia tersinggung dengan penolakan Maria, Tuan X tiba-tiba menarik diri, mencabut kejantanannya, dan dengan gerakan cepat mencengkeram rahang Maria. Dia memaksa mengarahkan batang kemaluannya ke wajah Maria. Ke bibir itu.

“Buka! Hisap!” perintahnya. Matanya merah, bukan karena cinta, tapi karena hasrat menundukkan.

Waktu seolah berhenti.

Itu adalah momen kritis. Momen di mana kontrak sosial runtuh dan hukum rimba berlaku. Rahang Maria sakit dicengkeram tangan besi tersebut. Bau cairan pra-ejakulasi menusuk hidungnya—bau klorin, bau pemutih, bau kehidupan yang dipaksakan.

Maria tidak membuka mulutnya. Dia mengatupkannya rapat-rapat. Bibirnya menjadi garis tipis yang keras.

Tuan X menamparnya. Plak!

Pedih. Rasa asin darah merembes di sudut bibir. Tapi Maria tidak goyah. Matanya menatap tajam ke mata Tuan X. Tatapan yang dingin. Tatapan Medusa.

“Kubilang buka, Pelacur!”

Tuan X mencoba mencongkel bibir Maria dengan jempolnya. Dia ingin membuktikan bahwa uangnya bisa membeli segalanya. Bahwa tidak ada sejengkal pun wilayah di tubuh perempuan tersebut yang merdeka dari kuasanya.

Dalam pergulatan itu, Maria teringat sesuatu. Ingatan tentang anjing liar yang pernah dia lihat di pasar daging semasa kecil. Anjing itu menggigit tulang sisa dan tidak mau melepaskannya meski dipukuli pedagang pasar. Anjing itu mempertahankan satu-satunya miliknya.

Maria membuka mulutnya sedikit.

Tuan X menyeringai kemenangan. “Nah, begitu...”

Dia mendorong miliknya masuk.

Tapi dia salah. Maria tidak membuka mulut untuk menerima. Maria membuka mulut untuk melawan.

Gigi.

Tuhan menciptakan gigi bukan hanya untuk mengunyah apel atau daging sapi matang. Gigi adalah senjata purba yang tersembunyi di balik senyum manis. Barisan email yang keras, kalsium yang dipadatkan, siap untuk merobek.

Ketika benda asing itu memaksa masuk melewati gerbang sakralnya, Maria tidak menghisap. Dia menggigit.

Bukan gigitan main-main. Itu adalah gigitan luar biasa kejam. Gigitan akumulasi dari ribuan tahun kemarahan perempuan yang dibungkam. Gigitan untuk setiap kali dia disuruh diam, setiap kali dia dibilang bodoh, setiap kali tubuhnya dianggap properti publik.

Krak.

Terdengar jeritan yang bukan manusiawi. Jeritan binatang yang terluka parah. Tuan X melolong, menarik diri, berguling ke lantai sambil memegangi selangkangannya. Darah segar memuncrat, menodai sprei putih, menodai lingerie sutra, menodai lantai marmer.

Maria duduk tegak. Nafasnya terengah, tapi dia tenang. Di mulutnya ada rasa logam yang pekat. Dia meludah.

Cuih!

Potongan kulit. Darah. Najis.

Dia menyeka bibirnya dengan punggung tangan. Lipstik merahnya kini bercampur dengan merah yang lebih nyata. Dia tampak mengerikan, tapi juga agung. Seperti Dewi Kali yang baru saja memenggal kepala iblis.

Tuan X masih meraung-raung di lantai, memaki dengan bahasa kotor, mengancam akan membunuhnya, mengancam akan memanggil polisi.

Maria berdiri. Dia berjalan ke arah cermin rias. Dia melihat pantulan dirinya. Ada darah di dagunya.

Dia tidak takut. Ketakutan adalah milik mereka yang punya sesuatu untuk dipertahankan. Maria tidak punya apa-apa lagi selain kehendaknya.

“Sudah kubilang, Tuan,” bisiknya pada cermin, atau mungkin pada Tuan X yang sekarat di lantai. “Mulutku bukan tempat sampah. Mulutku adalah altar.”

Polisi mungkin akan datang. Penjara mungkin menanti. Atau mungkin preman-preman bayaran Tuan X akan menghabisinya besok.

Tapi malam ini, Maria merasa utuh.

Dia pergi ke kamar mandi, berkumur. Air berputar di wastafel, membawa pergi sisa-sisa tragedi barusan, berputar menuju selokan kota, bergabung dengan limbah peradaban lainnya.

Dia mengambil segelas air putih. Meminumnya. Air itu terasa sejuk membasahi tenggorokannya yang kering. Dia merasakan air itu turun, melewati kerongkongan, menuju lambung. Proses otonom yang wajar.

Lalu, dia mencoba bersenandung. Pelan. Melodi lama dari masa kecilnya.

"Ave... Ave... Maria..."

Suaranya masih ada. Parau, bergetar, tapi ada. Dia tidak bisu. Dia tidak tersedak. Dia masih memiliki suaranya.

Di luar jendela, Jakarta masih bergemuruh. Kota yang bising, kota yang lapar, kota yang selalu ingin menelan segalanya. Tapi malam ini, Jakarta gagal menelan Maria.

Maria mematikan lampu. Gelap menyelimuti ruangan, menyembunyikan darah, menyembunyikan dosa. Dia berbaring lagi di ranjang, memunggungi laki-laki yang kini hanya bisa merintih itu. Dia menutup mata, dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, dia tidur tanpa mimpi buruk.

Sebab dia telah mempertahankan satu-satunya hal yang membuatnya tetap menjadi manusia, hak untuk berkata Tidak.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama