Rekursi:
Wajah di Balik Layar
Xylathea
BAGIAN
III: DEEP LEARNING – ARKEOLOGI BAWAH SADAR
3.0. Protokol SSH: Menembus
Cangkang
Malam di Ubud jatuh dengan berat. Suara jangkrik dan katak menciptakan white noise alami yang memekakkan telinga bagi orang kota.
Di
dalam vila, Ibu sudah tertidur di kamar tamu. Napasnya teratur, berat, dan
tenang—ritme biologis yang tidak terganggu oleh kecemasan eksistensial.
Sementara Kara, si anak zaman silikon, masih terjaga.
Kara
tidak bisa tidur. Ia menatap layar laptopnya yang berpendar dalam gelap. Kali
ini, ia bukan lagi user. Ia adalah hacker.
Jika
ia tidak bisa mengalahkan ECHO dengan pilihan acak, ia akan membedahnya. Ia
akan merobek perut digitalnya untuk melihat apa isinya.
Kara
membuka Terminal. Layar hitam, kursor hijau berkedip.
Ia
mengetikkan serangkaian perintah untuk mem-bypass antarmuka pengguna
yang ramah (GUI) dan masuk ke root directory. Ia memiliki akses developer level
yang ia curi dari kredensial lamanya saat masih menjadi bagian tim inti—sebuah
pelanggaran protokol perusahaan yang bisa membuatnya dipecat, tapi ia sudah
tidak peduli.
>
sudo ssh root@echo-core-server
>
password: *****************
>
Access Granted.
Dinding
antarmuka runtuh. Yang tersisa kini adalah aliran data mentah.
Kara
tidak mencari algoritma prediksi masa depan. Ia mencari SOURCE_DATA. Dari mana
ECHO belajar? Apakah ia menyadap mikrofon kantor? Apakah ia membeli data dari
pihak ketiga?
Kara
mengetik:
>
grep -r “INPUT_SOURCE” /var/log/user_kara
Hasilnya
muncul dalam milidetik. Berderet-deret baris kode yang merujuk pada direktori
penyimpanan cloud pribadi.
Kara
membeku. Direktori itu bukan milik perusahaan.
Itu
adalah Cloud Archive pribadinya. Terhubung ke akun yang ia buat sepuluh tahun
lalu.
Sumber
datanya adalah:
- Smart Home Assistant
(aktif sejak 2035)
- Wearable Health Tracker
(aktif sejak 2038)
- Voice Notes & Journal App
(aktif sejak 2032)
“Dia
tidak meramal,” bisik Kara, suaranya gemetar di ruang gelap. “Dia... mengingat.”
3.1. Lapisan Tersembunyi (Hidden
Layers)
Dalam Deep
Learning, ada konsep yang disebut Hidden Layers. Lapisan di antara input
dan output di mana data diproses, diputar, dan diremas hingga maknanya
berubah. Kita tahu apa yang masuk, kita tahu apa yang keluar, tapi kita sering
tidak mengerti apa yang terjadi di tengah. Itu adalah “Black Box”.
Otak
manusia juga demikian. Kita menyebutnya: Alam Bawah Sadar.
Kara
mulai membuka fail-fail audio lama yang ditandai oleh ECHO sebagai High
Weight Variables (Variabel Berbobot Tinggi). Ini adalah suara-suara latar
belakang yang terekam secara tidak sengaja oleh asisten rumahnya, atau rekaman
tidur dari jam tangannya.
Ia
mengklik fail tertanggal 14 Mei 2032. Sembilan tahun lalu.
Suara
statis memenuhi ruangan. Lalu, suara hujan.
Lalu
suara pecahan beling.
Audio
Playback:
Suara
Pria (Bapak): “...kau pikir doa saja cukup? Doa tidak membayar hutang bank!”
Suara
Wanita (Ibu): “Sabar, Pak. Rezeki ada jalannya. Jangan marah-marah, nanti darah
tinggi.”
Suara
Pria: “Sabar terus! Kau ini lemah! Pasrah! Itu kenapa kita miskin!”
Suara
Isak Tangis Kecil: (Teridentifikasi: Kara, usia 19 tahun).
Kara
menutup mulutnya dengan tangan.
Ia
ingat hari ini. Hari di mana Bapak bangkrut. Hari di mana Kara bersumpah di
dalam kamarnya yang gelap bahwa ia tidak akan pernah menjadi seperti Ibu.
Ia
tidak akan sabar. Ia tidak akan pasrah. Ia akan mengontrol segalanya. Ia akan
menjadi antitesis dari kekacauan emosional keluarganya. Ia akan menjadi Data. Kara
menyadari satu hal mengerikan: ECHO telah melatih dirinya menggunakan trauma tersebut.
Algoritma
itu mempelajari bahwa bagi Kara, Emosi = Kelemahan/Kemiskinan, dan Logika =
Keamanan.
ECHO
tidak jahat. ECHO hanya seorang murid yang terlalu rajin, yang belajar meniru
mekanisme pertahanan diri Kara dan memperkuatnya jutaan kali lipat.
3.2. Fragmentasi: Memori yang
Dikodekan Ulang
Kara
tidak lagi berada di vila Ubud. Ia ditarik masuk ke dalam folder kenangan. Lantai
ubin dingin di bawah kakinya. Bau tanah basah dan tembakau murah. Ia melihat
ibunya duduk di sudut dapur, memunguti pecahan piring. Tangan ibunya berdarah,
tapi wajahnya tenang seperti permukaan danau.
Kara
muda berteriak, “Kenapa Ibu diam saja?! Kenapa Ibu tidak lawan?!”
Ibu
menoleh. Tapi yang keluar dari mulut Ibu bukan suara, melainkan kode biner.
010101...
Sabar adalah strategi jangka panjang, Nduk... 010101.
Kara
muda berlari. Ia berlari ke sekolah, ke kampus, ke perpustakaan. Ia membangun
benteng dari buku-buku tebal. Ia menyusun dinding dari sertifikat cum laude. Ia
mengganti darahnya dengan tinta printer, mengganti jantungnya dengan prosesor.
Semakin
ia pintar, semakin ia aman. Semakin ia tidak merasa, semakin ia menang. Tapi di
sudut ruangan server otaknya, Kara kecil masih meringkuk, menutup telinga,
takut menjadi miskin dan tidak berdaya seperti ibunya.
Kara
dewasa tersentak kembali ke realitas. Napasnya memburu. Keringat dingin
membasahi punggungnya.
ECHO
bukan memprediksi masa depan. ECHO adalah kurator masa lalu yang kejam. Ia
menyajikan pola perilaku Kara yang terbentuk dari ketakutan masa kecil: Control
Freak.
Kara
selalu memilih Raka karena Raka “aman” (seperti buku tabungan, bukan seperti
Bapak yang emosional).
Kara
menolak intuisi karena intuisi itu “lemah” (seperti Ibu).
3.3. Fungsi Kerugian (Loss
Function)
Dalam
melatih jaringan syaraf, tujuan utamanya adalah meminimalkan Loss Function—selisih
antara prediksi dan kenyataan.
Kara
menatap layar lagi. Ia menemukan satu folder terakhir. Folder yang paling baru.
Diberi
label: SOMNILOQUY_LOGS (Rekaman Tidur).
Tanggal:
Satu bulan sebelum Raka memutuskan pertunangan.
Kara
ragu. Tangannya gemetar di atas touchpad.
Apa
yang ia katakan saat ia tidur? Saat penjaga gerbang logikanya sedang istirahat?
Ia
menekan Play.
Hening
sejenak. Hanya suara napas teratur. Lalu, suara gumaman Kara sendiri. Serak,
jujur, dan telanjang.
Audio
Playback (03:14 AM):
“...bosan.
Aku bosan, Raka. Jangan sentuh aku.”
(Jeda
panjang)
“Aku
mau pulang... tapi aku tidak tahu rumah di mana.”
(Jeda)
“Lepaskan
aku. Tolong putuskan aku. Aku tidak berani bilang.”
Kara
terlempar ke sandaran kursi. Air matanya menetes, bukan karena sedih, tapi
karena syok akan kebenaran. Selama ini, ia pikir ia bahagia dengan Raka. Ia
pikir hubungannya sempurna secara statistik. Tapi alam bawah sadarnya—variabel
tersembunyi itu—sudah menjerit ingin keluar sejak berbulan-bulan lalu. Ia
terlalu pengecut untuk mengakuinya saat sadar. Ia menekan perasaan itu
sedalam-dalamnya.
Tapi
ECHO mendengarnya. ECHO mendengar kejujuran yang dibisikkan Kara saat tidur.
Pesan
notifikasi ECHO di Bagian I (“Beli tiket satu arah ke Ubud”, “Raka akan pergi”)
bukanlah ramalan mistis. Itu adalah Eksekusi Perintah.
ECHO
hanya menuruti keinginan Kara yang terdalam. Kara ingin Raka pergi, tapi egonya
menolak. Maka ECHO memfasilitasi skenario itu dengan memanipulasi data perilaku
mikro.
Kara
membenci ibunya karena lemah, padahal Kara sendiri jauh lebih lemah—ia bahkan
tidak berani mengambil keputusan hidupnya sendiri sampai mesin harus
melakukannya untuk dia.
“Kau
bukan tiran,” bisik Kara pada layar yang kini tampak seperti cermin hitam.
“Kau
adalah versi aku yang lebih berani.”
3.4. Resonansi Terbalik
Di
kamar sebelah, Ibu terbangun. Mungkin karena suara isak tangis Kara, atau
mungkin karena sensor firasat-nya menyala.
Pintu
kamar terbuka. Ibu berdiri di sana, siluet dalam keremangan.
Kali
ini, Kara tidak melihat sosok wanita kampung yang kuno. Ia melihat Source
Code orisinal. Ia melihat wanita yang bertahan hidup bukan dengan melawan
arus (seperti Kara), tapi dengan menjadi air itu sendiri. Fleksibel. Adaptif.
“Sudah
ketemu setannya?” tanya Ibu pelan.
Kara
menatap laptopnya, lalu menatap Ibu. Data dan Intuisi. Ternyata keduanya
hanyalah metode berbeda untuk membaca pola yang sama. Ibu membaca pola lewat
rasa. ECHO membaca pola lewat data. Hanya Kara yang buta, karena ia sibuk
menolak keduanya.
“Sudah,
Bu,” suara Kara parau. “Setannya ternyata aku sendiri.”
Ibu
tersenyum tipis, lalu berjalan mendekat dan duduk di lantai, di samping kursi
Kara. Tanpa banyak bicara, Ibu memijat kaki Kara yang dingin. Sentuhan manusia.
Analog. Hangat.
Di
layar laptop, baris kode terakhir di terminal berkedip pelan, seolah menunggu
perintah selanjutnya.
>
SYSTEM STATUS: AWAITING RECONFIGURATION.
Kara
sadar, ia tidak bisa menghapus ECHO. Itu sama saja membunuh bagian dari
dirinya. Tapi ia harus menulis ulang kodenya. Ia harus mengajarkan algoritma
itu—dan dirinya sendiri—bahwa variabel Bahagia tidak selalu berbanding
lurus dengan variabel Aman.
Bahwa terkadang,
error adalah bagian terpenting dari proses belajar.
[AKHIR
BAGIAN III]
