Hermeneutika
Kebencian dan Seorang Perempuan yang Membaca Kant di Pesta Pernikahan
Retno
Dumilah Wijayanti
Kecerdasan, pada seorang laki-laki adalah aset, seperti penis yang panjang atau saldo bank yang gemuk. Ia menambah daya tawar di pasar reproduksi. Namun, kecerdasan pada seorang perempuan adalah tumor. Ia dianggap pertumbuhan sel yang berlebihan, sesuatu yang malignant, yang mengancam keseimbangan ekosistem patriarki.
Aku
tahu mereka membenciku.
Aku
bisa merasakannya saat aku masuk ke ruang rapat senat universitas. Bau
kebencian itu spesifik. Baunya seperti campuran kapur barus, keringat dingin
laki-laki yang terintimidasi, dan parfum bunga murahan dari ibu-ibu dosen yang
memilih jalur aman sebagai akademisi manis.
Ketika
aku mengoreksi argumen Profesor Hidayat tentang Etika Utilitarian dalam Kebijakan
Publik dengan mengutip data statistik kemiskinan struktural yang ia abaikan,
ruangan menjadi hening. Hening yang tajam.
Profesor
Hidayat, lelaki tua dengan ego setebal lemak di perutnya, tersenyum kecut. “Bu
Gendis ini... selalu terlalu kritis. Mbok ya sekali-kali ngalah.
Perempuan itu kalau terlalu pintar nanti laki-laki takut mendekat.”
Itu
dia. Mantra klasik itu.
Ancaman
tentang kesendirian.
Mereka
pikir kesendirian adalah neraka bagi perempuan. Mereka tidak tahu bahwa bagi
perempuan intelektual, kesendirian adalah sanctuary. Ruang suci di mana
aku tidak perlu mengecilkan volume otakku hanya agar laki-laki di sebelahku
tidak merasa impoten secara intelektual.
Masyarakat
kita mencintai perempuan yang cukup. Cukup cantik, cukup pintar (untuk
mengajari anak SD), tapi tidak boleh terlalu. Jangan terlalu mandiri,
jangan terlalu vokal, jangan terlalu pintar.
Aku
adalah definisi dari terlalu tersebut. Dan karena itu, aku adalah
monster.
***
Ponselku
bergetar di atas tumpukan buku Critique of Pure Reason. Pesan dari Ibu.
Singkat, padat, dan mengandung daya paksa feodal yang kuat.
“Pulang.
Adikmu, Laras, lamaran hari Sabtu. Jangan bikin malu. Pakai kebaya yang sudah
Ibu jahitkan. Jangan bawa buku.”
Laras.
Adikku yang normal. Dia 26 tahun, berbeda 12 tahun dariku, lulusan S1
Ekonomi yang bekerja sebagai teller bank, punya pacar seorang PNS di
Dinas Tata Kota, dan hobinya mem-posting foto makanan di Instagram
dengan caption “Blessed”.
Laras
adalah antitesis dari Gendis. Laras adalah perempuan ideal: penurut, manis,
tidak banyak tanya, dan rahimnya siap dibuahi. Ibu mencintainya dengan cinta
yang tulus. Ibu mencintaiku dengan cinta yang rumit, penuh kekhawatiran dan
rasa malu yang disembunyikan.
Aku
memesan tiket kereta. Bukan pesawat. Aku butuh transisi. Aku butuh melihat
lanskap Jawa yang bergerak di jendela untuk menyiapkan mental.
Di
kereta, aku tidak membaca novel pop. Aku membaca naskah kuno yang sedang
kuteliti: Serat Wadon Mangkir. Sebuah teks apokrif dari abad ke-18
tentang sekumpulan perempuan bangsawan yang menolak dipingit dan melarikan diri
ke hutan untuk belajar ilmu perbintangan.
Gerbong
eksekutif itu dingin. Di sebelahku duduk seorang laki-laki muda, mungkin start-up
founder, sibuk dengan Macbook-nya. Dia melirikku beberapa kali. Melirik
buku tebal di pangkuanku, lalu melirik wajahku yang tanpa make-up (aku
menolak topeng kosmetik).
“Berat
banget bacaannya, Mbak,” tegurnya. Basa-basi standar. Upaya flirting
yang canggung.
Aku
menoleh. Menurunkan kacamata. “Ini bukan bacaan berat. Ini sejarah pembebasan
yang gagal.”
“Oh...
oke.” Dia terdiam. Senyumnya luntur. Dia kembali menatap layarnya.
Lihat?
Semudah itu membunuh gairah laki-laki. Cukup dengan satu kalimat yang tidak
mengandung unsur submisif. Laki-laki ingin perempuan yang seperti cermin datar,
memantulkan bayangan mereka dua kali lebih besar. Aku adalah cermin retak yang
memantulkan realitas apa adanya.
***
Rumah
di Yogyakarta itu masih sama. Joglo tua dengan pendopo luas yang menyiratkan
sisa-sisa kejayaan masa lalu yang kini harus ditopang dengan uang pensiunan
Bapak dan kiriman gajiku dari Jakarta.
Janur
pengantin belum dipasang, tapi aura kesibukan sudah terasa. Para tetangga,
ibu-ibu rewang, sedang mengupas bawang di dapur belakang. Suara mereka
berdengung seperti lebah. Gosip. Bahan bakar utama kohesi sosial di desa.
Begitu
aku melangkah masuk, dengan celana panjang linen dan kemeja putih, dengungan
itu berhenti sejenak. Mata-mata itu memindaiku.
Itu
Gendis. Anak sulung yang tidak laku-laku.
Katanya
doktor, tapi kok nggak bisa masak.
Katanya
kaya, tapi kok bajunya seperti laki-laki.
Aku
tersenyum tipis. Senyum diplomatik. “Sugeng siang, Ibu-Ibu.”
“Eh,
Mbak Gendis... manglingi (membuat pangling). Kok makin kurus?” celetuk
Bu Tejo, tetangga yang mulutnya setajam silet. “Jangan terlalu mikir
berat-berat, to, Mbak. Nanti cepat tua.”
“Nggak
apa-apa tua, Bu Tejo. Yang penting bijaksana,” jawabku santai sambil berlalu
menuju kamar Ibu.
Di
belakangku, aku mendengar bisik-bisik. “Sombong ya...”
Di
kamar, Ibu sedang mematut diri di cermin. Kebaya beludru hitam membuatnya
tampak anggun sekaligus otoriter. Dia melihatku dari pantulan cermin. Tidak ada
pelukan hangat.
“Kamu
terlambat dua jam,” katanya.
“Kereta
ada gangguan di Cirebon, Bu.”
“Alasan.
Kamu pasti mampir toko buku dulu.” Ibu berbalik. Matanya meneliti tubuhku. “Kamu
nggak pakai korset? Perutmu itu lho... rata sih, tapi nggak ada bentuk-nya.
Perempuan itu harus punya lekuk.”
“Aku
bukan gitar, Bu.”
“Gendis!”
Ibu membentak pelan. “Tolong. Dua hari ini saja. Jadilah normal. Laras mau
nikah. Calon mertuanya orang terpandang. Jangan bikin ulah dengan
omongan-omongan anehmu itu. Kalau ditanya ‘kapan menyusul’, cukup senyum dan
bilang ‘doakan saja’. Jangan ajak mereka debat soal konstruksi sosial
pernikahan!”
Aku
menghela napas. Inilah harga yang harus kubayar untuk memiliki rahim yang sama
dengan Laras. Aku harus melakukan lobotomi temporer. Aku harus mematikan fungsi
kritis otakku demi harmoni.
“Mana
kebayanya?” tanyaku pasrah.
Ibu
menyerahkan bungkusan kain. “Warna pink salem. Biar kamu kelihatan lebih
muda dan feminin.”
Pink.
Warna yang diciptakan kapitalisme untuk menipu perempuan agar merasa lembut.
Aku membenci pink. Tapi aku menerimanya. Ini adalah kostum. Aku adalah
antropolog yang sedang melakukan observasi partisipatoris dalam ritual suku
primitif bernama Keluarga Jawa.
Malam
itu, saat acara midodareni, aku duduk di pojok. Mengamati.
Laras
duduk di tengah, dipajang seperti boneka porselen. Dia cantik. Wajahnya
bersinar oleh make-up mahal dan harapan naif tentang bahagia
selamanya. Dia dikelilingi teman-temannya yang cekikikan membahas malam
pertama.
Aku
merasa asing.
Keterasingan
ini bukan hal baru. Sejak SD, saat teman-temanku main boneka Barbie, aku
membaca ensiklopedia tentang dinosaurus. Aku terobsesi pada kepunahan. Barbie
adalah simbol keabadian plastik yang palsu, sementara dinosaurus adalah bukti
bahwa yang besar dan kuat pun bisa musnah.
Di
mata mereka, aku adalah anak yang tidak asik.
Di
mata guru, aku adalah murid yang membangkang karena sering mengoreksi fakta
sejarah.
Perempuan
intelektual sering kali dianggap tidak enak secara fisik dan emosional. Tubuh
kami dianggap kaku. Kami jarang tersenyum kalau tidak ada hal yang lucu,
sementara perempuan dituntut tersenyum default sebagai dekorasi ruangan.
Kami tidak pandai memijat ego laki-laki. Kami tidak mendesah manja.
Bahkan
dalam seks—ah, seks—aku teringat mantan pacarku, Pras.
Pras
meninggalkanku tiga tahun lalu. Alasannya? “Kamu di ranjang pun kayak dosen,
Ndis. Aku nggak bisa menikmati. Kamu menganalisis semuanya. Kamu nggak pernah
benar-benar berserah pasrah.”
Berserah
pasrah.
Kata
kunci dalam erotisme patriarki. Perempuan harus menyerah. Harus dikuasai. Harus
kehilangan kendali. Sementara aku? Aku selalu sadar. Bahkan saat orgasme,
korteks prefrontalku tetap menyala, mencatat sensasi, mengawasi durasi. Aku
tidak bisa mematikan pikiran. Dan itu membuat laki-laki merasa tidak berguna.
Mereka ingin menjadi pahlawan yang membuat perempuan hilang akal karena
kenikmatan. Tapi aku tidak pernah hilang akal.
Aku
memandang Laras. Dia pasti akan berserah pasrah. Dia akan menjadi istri yang
baik. Dia akan pura-pura bodoh agar suaminya merasa pintar. Dan masyarakat akan
mencintainya.
Lalu
seorang laki-laki mendekatiku. Om Darmo. Adik sepupu Bapak yang kaya raya
karena bisnis sawit tapi wawasannya sesempit gang tikus.
“Gendis,
kok sendirian aja? Nggak ada yang nemenin?” tanyanya dengan nada patronizing.
“Saya
ditemani pikiran saya sendiri, Om. Itu sudah cukup ramai,” jawabku sambil
menyesap teh melati.
Om
Darmo tertawa. Tawa yang meremehkan. “Pikiran... pikiran... perempuan itu
jangan terlalu banyak mikir. Nanti rahimnya kering. Tahu nggak, ada
penelitian—Om lupa baca di mana—kalau darah terlalu banyak ke otak, jatah ke
kandungan jadi berkurang.”
Ini
dia. Pseudo-sains yang dipakai untuk menindas.
Ingin
rasanya aku menyiram teh panas ini ke wajahnya dan memberikan kuliah dua jam
tentang vaskularisasi biologis dan mitos histeria abad ke-19. Tapi aku ingat
pesan Ibu. Jadilah normal.
“Wah,
Om Darmo hebat, ya, bisa baca penelitian. Saya malah baru dengar,” kataku
dengan nada sarkasme yang kubuat setipis mungkin, berharap dia tidak sadar.
“Makanya,
Ndis. Kurangi baca buku. Banyakin perawatan. Kamu itu sebenarnya manis lho,
kalau mau dandan sedikit dan nggak galak-galak. Sayang lho, gelar S3 tapi nggak
ada yang ngeloni (memeluk tidur).”
Darahku
mendidih. Ini bukan lagi soal basa-basi. Ini pelecehan verbal yang dibungkus
nasihat keluarga. “Terima kasih sarannya, Om. Tapi saya lebih suka tidur
memeluk gelar S3 saya daripada memeluk laki-laki yang wawasannya dangkal tapi
egonya setinggi langit.”
Ups!
Sinyal
bahaya. Aku melanggar protokol.
Wajah
Om Darmo merah padam. “Kamu ini... dibilangin orang tua malah ngeyel. Pantas
nggak laku!”
Dia
pergi dengan menghentakkan kaki. Aku kembali sendiri. Menang dalam perdebatan,
tapi kalah dalam kontes popularitas. Selalu begitu.
Aku
menyelinap keluar dari keramaian pesta. Aku butuh udara. Aku butuh rokok.
Aku
berjalan ke halaman belakang, ke dekat sumur tua yang sudah ditutup beton.
Langit Yogyakarta malam ini mendung. Tidak ada bintang.
Aku
mengeluarkan Serat Wadon Mangkir dari tas tanganku. Aku membacanya di
bawah lampu taman yang remang-remang.
...Maka
Nyai Ageng pun berkata kepada putrinya: “Jangan kau serahkan jiwamu pada
laki-laki yang hanya menginginkan dagingmu. Daging bisa busuk, tapi akal budi
adalah cahaya yang melampaui kematian. Lebih baik kau dianggap gila oleh dunia,
daripada kau menjadi waras tapi menjadi budak di dapurmu sendiri.”
Nyai
Ageng. Tokoh fiktif atau nyata? Entahlah. Tapi kata-katanya bergema melintasi
tiga abad, menembus dadaku.
Perempuan
yang berpikir selalu dianggap gila. Atau penyihir. Atau lesbian. Atau frigid.
Label-label itu adalah mekanisme pertahanan masyarakat untuk mengisolasi
anomali.
Tiba-tiba,
seseorang muncul dari kegelapan.
“Mbak
Gendis?”
Itu
calon suami Laras. Namanya Bayu. Laki-laki biasa. Wajahnya rata-rata, karirnya
rata-rata.
“Oh,
Bayu. Kenapa di sini? Bukannya kamu dilarang ketemu Laras dulu?”
“Iya,
Mbak. Saya cuma... cari angin. Di dalam panas. Banyak saudara yang nanya-nanya
gaji.” Dia tertawa canggung.
Dia
duduk di bangku beton, agak berjarak dariku. Dia tampak takut padaku. Wajar.
Laras pasti sudah cerita bahwa kakaknya adalah dosen galak.
“Mbak
Gendis... boleh tanya sesuatu?”
“Tanya
apa? Soal filsafat Jerman? Soal strukturalisme?”
“Bukan.
Soal Laras.” Bayu ragu-ragu. “Apakah Laras... bahagia?”
Aku
menatap Bayu. Pertanyaan yang menarik.
“Kenapa
kamu tanya saya?”
“Karena
Mbak kakaknya. Dan karena... Mbak kelihatan bisa melihat hal-hal yang orang
lain nggak lihat. Laras itu... dia selalu tersenyum. Tapi saya kadang merasa
dia tersenyum karena harus senyum. Bukan karena ingin.”
Aku
tertegun. Ternyata laki-laki rata-rata ini punya sedikit kepekaan.
“Bayu,”
kataku sambil menutup buku. “Laras itu produk yang sempurna dari didikan Ibu.
Dia diajari bahwa kebahagiaan perempuan terletak pada kemampuan menyenangkan
orang lain. Jadi, apakah dia bahagia? Mungkin dia sendiri nggak tahu definisi
bahagia versi dia. Dia cuma menjalankan skrip.”
Bayu
diam. Wajahnya tampak murung. “Terus saya harus gimana, Mbak? Saya sayang sama
dia.”
“Jangan
jadikan dia objek,” kataku tegas. “Jangan tuntut dia untuk selalu sempurna.
Izinkan dia untuk marah, untuk capek, untuk jelek, untuk berpikir. Kalau kamu
bisa melakukan itu, mungkin suatu hari dia akan menemukan kebahagiaan yang
asli, bukan yang plastik.”
Bayu
menatapku lama. Ada rasa hormat yang tumbuh di matanya. Rasa hormat, bukan rasa
takut.
“Terima
kasih, Mbak. Mbak Gendis ternyata nggak se-menyeramkan cerita orang-orang.”
“Oh,
percayalah, Bayu. Saya jauh lebih menyeramkan. Kamu cuma belum lihat sisi gelap
saya.” Aku tersenyum miring.
***
Hari
pernikahan. Akad nikah berjalan lancar. Laras menangis haru. Ibu menangis
bangga. Aku? Aku sibuk mencatat konstruksi kalimat dalam khotbah nikah Pak
Penghulu yang sangat patriarkis.
“Istri
adalah pakaian bagi suami... Istri harus taat...”
Bla
bla bla. Narasi penundukan yang diulang ribuan tahun sampai terdengar seperti
kebenaran ilahi.
Resepsi
siang hari lebih menyiksa. Musik campursari yang terlalu keras, tamu-tamu yang
makan dengan lahap, dan tentu saja, pertanyaan “Kapan nyusul?”.
Aku
duduk di meja VIP keluarga. Di sana ada Bude Ning (kakak Ibu), Pakde Sastro
(suami Bude Ning yang pensiunan tentara), dan beberapa kerabat sepuh.
“Gendis,”
suara Pakde Sastro menggelegar. “Kamu itu sudah S3, kerja di universitas bagus.
Gajimu pasti besar. Buat apa uang banyak kalau nggak ada suami yang ngatur?”
Aku
meletakkan sendokku. Dentingnya terdengar nyaring.
“Uang
saya untuk beli buku, Pakde. Dan untuk traveling. Dan untuk investasi
saham. Saya bisa mengatur uang saya sendiri, tidak butuh manajer keuangan
bernama suami.”
“Hah!
Sombong!” Bude Ning menimpali sambil mengunyah sate ayam. “Perempuan itu
kodratnya melayani. Kamu melawan kodrat. Lihat Laras. Dia mungkin cuma S1, tapi
dia sudah menyempurnakan agamanya. Kamu? Kamu itu cuma pintar teori. Kosong
jiwamu.”
Meja
itu menjadi arena pengadilan. Mereka semua menatapku. Tatapan-tatapan yang
menghakimi. Mereka ingin melihatku hancur. Mereka ingin melihatku menangis dan
mengakui bahwa hidupku menyedihkan.
Mereka
butuh aku menjadi menyedihkan agar pilihan hidup mereka yang konvensional
terasa benar. Keberadaanku yang sukses dan mandiri adalah tamparan bagi
validitas hidup mereka.
Aku
menarik napas panjang. Aku teringat Hannah Arendt. Teringat Simone de Beauvoir.
“Bude,
Pakde,” suaraku tenang tapi dingin, menusuk hiruk pikuk pesta. “Kodrat
perempuan itu melahirkan, menyusui, dan menstruasi. Itu biologis.
Sisanya—memasak, mencuci, melayani suami—itu bukan kodrat. Itu konstruksi
budaya. Itu pekerjaan yang tidak dibayar.”
Hening.
“Dan
soal jiwa yang kosong...” Aku menatap mata Bude Ning. “Saya mengisi jiwa saya
dengan ilmu pengetahuan, dengan pencarian kebenaran, dengan
pertanyaan-pertanyaan sulit. Mungkin bagi Bude itu kosong karena tidak ada
laki-laki di dalamnya. Tapi bagi saya, itulah kepenuhan. Saya tidak
mendefinisikan eksistensi saya berdasarkan siapa yang tidur di sebelah saya.”
“Kurang
ajar!" Pakde Sastro menggebrak meja. “Ibumu salah didik kamu! Disekolahkan
tinggi-tinggi malah jadi kurang ajar begini!”
Beberapa
tamu menoleh. Ibu tergopoh-gopoh datang, wajahnya pucat.
“Ada
apa ini? Mas, Mbak, ngapunten (maaf)...” Ibu mencengkeram lenganku.
Kukunya menancap sakit. “Diam kamu, Ndis. Masuk kamar!”
Aku
berdiri. Tegak. Aku merapikan kebayaku yang sesak.
“Tidak
usah disuruh, Bu. Aku memang mau pergi. Tempat ini terlalu sempit untuk otakku.”
Aku
berjalan keluar. Membelah kerumunan tamu undangan. Aku bisa merasakan tatapan
mereka. Tatapan benci. Tatapan jijik. Tatapan takut.
Perempuan
gila.
Perawan
tua stress.
Anak
durhaka.
Biarkan.
Biarkan mereka melabeliku. Label adalah cara orang-orang dangkal memahami
kompleksitas.
Aku
tidak menunggu resepsi selesai. Aku langsung ke stasiun. Mengganti kebaya
sialan itu dengan kaos oblong dan jins di toilet stasiun yang bau pesing.
Rasanya
melegakan. Seperti ular yang berganti kulit.
Kereta
akan membawaku kembali ke Jakarta. Kembali ke hutan beton, ke apartemenku yang
sepi, ke tumpukan buku yang tidak pernah menghakimiku. Beberapa saat setelah kereta
berangkat. Aku membuka laptop. Mulai menulis. Bukan jurnal ilmiah. Tapi sebuah
esai reflektif.
Kenapa
perempuan intelektual tidak disukai?
Karena
kami adalah pengingat bahwa tatanan sosial ini rapuh. Kami adalah 'glitch'
dalam matriks patriarki. Kami menunjukkan bahwa perempuan bisa hidup tanpa
validasi laki-laki, dan itu adalah teror terbesar bagi maskulinitas yang rapuh.
Mereka
menyebut kami dingin, karena kami tidak mau membakar diri kami untuk
menghangatkan ego mereka. Mereka menyebut kami sombong, karena kami tahu harga
diri kami dan menolak didiskon.
Aku
menerima kebencian itu sebagai lencana kehormatan. Kebencian mereka adalah
bukti bahwa aku melakukan sesuatu yang benar. Bahwa aku telah melampaui peran
yang mereka skenariokan.
Ponselku
bergetar. Pesan dari Laras.
“Mbak,
makasih ya sudah datang. Maafin Bude dan Pakde. Aku tahu Mbak benar. Aku sayang
Mbak. Mbak adalah idolaku, meski aku nggak berani jadi kayak Mbak.”
Aku
tersenyum. Kali ini senyum yang tulus. Air mata menetes satu bulir. Cepat-cepat
kuhapus. Perempuan intelektual tidak boleh cengeng, kan?
Di
luar jendela, sawah-sawah berganti menjadi pabrik-pabrik. Langit desa yang luas
berganti menjadi langit kota yang sempit dan berpolusi. Aku kembali ke
habitatku. Ke dalam kesendirian yang riuh oleh gagasan.
Aku
mengambil Serat Wadon Mangkir lagi. Membaca baris terakhir:
...Dan
perempuan itu pun berjalan sendiri menembus hutan, ditemani oleh
bintang-bintang yang ia beri nama sendiri. Ia tidak punya suami, tidak punya
anak, tidak punya tanah. Tapi ia memiliki Semesta di dalam kepalanya.
Aku
menutup mata. Kereta melaju kencang. Roda besi beradu dengan rel, menciptakan
irama yang konstan.
Dug-jess...
dug-jess...
Musik
bagi mereka yang berjalan sendiri. Simfoni bagi perempuan-perempuan yang
memilih untuk tidak disukai, demi mencintai dirinya sendiri secara utuh.
***
Jakarta
menyambutku dengan hujan.
Apartemenku
gelap saat aku masuk. Hanya lampu indikator modem yang berkedip-kedip hijau,
seperti mata hantu digital. Aku melempar tasku ke sofa.
Aku
membuat kopi hitam tanpa gula.
Aku
berdiri di balkon lantai 25. Di bawah sana, kemacetan Jakarta tampak seperti
aliran lava merah lampu rem dan putih. Jutaan manusia bergegas pulang ke rumah,
ke keluarga, ke kehangatan yang sering kali palsu.
Apakah
aku iri?
Jujur.
Ada 5% bagian dari diriku yang iri. Bagian mamalia purba yang merindukan
sentuhan kulit, yang merindukan suara napas lain saat tidur. Biologi memang
bajingan. Hormon oksitosin tidak peduli pada gelar doktormu.
Tapi,
95% bagian diriku—bagian yang rasional, bagian yang telah tercerahkan—merasa
lega.
Aku
bebas.
Aku
tidak perlu bertanya “Mas mau makan apa?”. Aku tidak perlu pura-pura bodoh saat
diskusi politik. Aku tidak perlu menyembunyikan buku-buku Marx dan Foucault di
bawah meja.
Aku
bebas menjadi Gendis yang utuh.
Dan
jika harga dari keutuhan ini adalah kebencian... so be it. Maka biarlah
aku dibenci. Biarlah aku menjadi dongeng yang menakutkan bagi anak-anak
perempuan mereka: “Belajarlah yang rajin, tapi jangan terlalu pintar kayak
Tante Gendis, nanti nggak laku.”
Aku
menyesap kopiku.
Di
meja kerjaku, draf buku baruku menunggu. Judulnya: Ontologi Perempuan Sunyi.
Aku
duduk. Menyalakan lampu baca. Dan mulai menari. Bukan dengan tubuh, tapi dengan
jari-jari di atas keyboard. Tarian yang tidak butuh penonton, tidak
butuh tepuk tangan, dan tidak butuh pasangan.
Karena
bagi perempuan intelektual, orgasme tertinggi adalah saat sebuah gagasan yang
rumit akhirnya menemukan bentuk kalimat yang sempurna.
Dan
malam ini, aku akan mengalami orgasme itu berkali-kali.
