Retno Dumilah Wijayanti - Hermeneutika Kebencian dan Seorang Perempuan yang Membaca Kant di Pesta Pernikahan

 


Hermeneutika Kebencian dan Seorang Perempuan yang Membaca Kant di Pesta Pernikahan
Retno Dumilah Wijayanti

 

 

Kecerdasan, pada seorang laki-laki adalah aset, seperti penis yang panjang atau saldo bank yang gemuk. Ia menambah daya tawar di pasar reproduksi. Namun, kecerdasan pada seorang perempuan adalah tumor. Ia dianggap pertumbuhan sel yang berlebihan, sesuatu yang malignant, yang mengancam keseimbangan ekosistem patriarki.

Aku tahu mereka membenciku.

Aku bisa merasakannya saat aku masuk ke ruang rapat senat universitas. Bau kebencian itu spesifik. Baunya seperti campuran kapur barus, keringat dingin laki-laki yang terintimidasi, dan parfum bunga murahan dari ibu-ibu dosen yang memilih jalur aman sebagai akademisi manis.

Ketika aku mengoreksi argumen Profesor Hidayat tentang Etika Utilitarian dalam Kebijakan Publik dengan mengutip data statistik kemiskinan struktural yang ia abaikan, ruangan menjadi hening. Hening yang tajam.

Profesor Hidayat, lelaki tua dengan ego setebal lemak di perutnya, tersenyum kecut. “Bu Gendis ini... selalu terlalu kritis. Mbok ya sekali-kali ngalah. Perempuan itu kalau terlalu pintar nanti laki-laki takut mendekat.”

Itu dia. Mantra klasik itu.

Ancaman tentang kesendirian.

Mereka pikir kesendirian adalah neraka bagi perempuan. Mereka tidak tahu bahwa bagi perempuan intelektual, kesendirian adalah sanctuary. Ruang suci di mana aku tidak perlu mengecilkan volume otakku hanya agar laki-laki di sebelahku tidak merasa impoten secara intelektual.

Masyarakat kita mencintai perempuan yang cukup. Cukup cantik, cukup pintar (untuk mengajari anak SD), tapi tidak boleh terlalu. Jangan terlalu mandiri, jangan terlalu vokal, jangan terlalu pintar.

Aku adalah definisi dari terlalu tersebut. Dan karena itu, aku adalah monster.

 

***

 

Ponselku bergetar di atas tumpukan buku Critique of Pure Reason. Pesan dari Ibu. Singkat, padat, dan mengandung daya paksa feodal yang kuat.

“Pulang. Adikmu, Laras, lamaran hari Sabtu. Jangan bikin malu. Pakai kebaya yang sudah Ibu jahitkan. Jangan bawa buku.”

Laras. Adikku yang normal. Dia 26 tahun, berbeda 12 tahun dariku, lulusan S1 Ekonomi yang bekerja sebagai teller bank, punya pacar seorang PNS di Dinas Tata Kota, dan hobinya mem-posting foto makanan di Instagram dengan captionBlessed”.

Laras adalah antitesis dari Gendis. Laras adalah perempuan ideal: penurut, manis, tidak banyak tanya, dan rahimnya siap dibuahi. Ibu mencintainya dengan cinta yang tulus. Ibu mencintaiku dengan cinta yang rumit, penuh kekhawatiran dan rasa malu yang disembunyikan.

Aku memesan tiket kereta. Bukan pesawat. Aku butuh transisi. Aku butuh melihat lanskap Jawa yang bergerak di jendela untuk menyiapkan mental.

Di kereta, aku tidak membaca novel pop. Aku membaca naskah kuno yang sedang kuteliti: Serat Wadon Mangkir. Sebuah teks apokrif dari abad ke-18 tentang sekumpulan perempuan bangsawan yang menolak dipingit dan melarikan diri ke hutan untuk belajar ilmu perbintangan.

Gerbong eksekutif itu dingin. Di sebelahku duduk seorang laki-laki muda, mungkin start-up founder, sibuk dengan Macbook-nya. Dia melirikku beberapa kali. Melirik buku tebal di pangkuanku, lalu melirik wajahku yang tanpa make-up (aku menolak topeng kosmetik).

“Berat banget bacaannya, Mbak,” tegurnya. Basa-basi standar. Upaya flirting yang canggung.

Aku menoleh. Menurunkan kacamata. “Ini bukan bacaan berat. Ini sejarah pembebasan yang gagal.”

“Oh... oke.” Dia terdiam. Senyumnya luntur. Dia kembali menatap layarnya.

Lihat? Semudah itu membunuh gairah laki-laki. Cukup dengan satu kalimat yang tidak mengandung unsur submisif. Laki-laki ingin perempuan yang seperti cermin datar, memantulkan bayangan mereka dua kali lebih besar. Aku adalah cermin retak yang memantulkan realitas apa adanya.

 

***

 

Rumah di Yogyakarta itu masih sama. Joglo tua dengan pendopo luas yang menyiratkan sisa-sisa kejayaan masa lalu yang kini harus ditopang dengan uang pensiunan Bapak dan kiriman gajiku dari Jakarta.

Janur pengantin belum dipasang, tapi aura kesibukan sudah terasa. Para tetangga, ibu-ibu rewang, sedang mengupas bawang di dapur belakang. Suara mereka berdengung seperti lebah. Gosip. Bahan bakar utama kohesi sosial di desa.

Begitu aku melangkah masuk, dengan celana panjang linen dan kemeja putih, dengungan itu berhenti sejenak. Mata-mata itu memindaiku.

Itu Gendis. Anak sulung yang tidak laku-laku.

Katanya doktor, tapi kok nggak bisa masak.

Katanya kaya, tapi kok bajunya seperti laki-laki.

Aku tersenyum tipis. Senyum diplomatik. “Sugeng siang, Ibu-Ibu.”

“Eh, Mbak Gendis... manglingi (membuat pangling). Kok makin kurus?” celetuk Bu Tejo, tetangga yang mulutnya setajam silet. “Jangan terlalu mikir berat-berat, to, Mbak. Nanti cepat tua.”

“Nggak apa-apa tua, Bu Tejo. Yang penting bijaksana,” jawabku santai sambil berlalu menuju kamar Ibu.

Di belakangku, aku mendengar bisik-bisik. “Sombong ya...”

Di kamar, Ibu sedang mematut diri di cermin. Kebaya beludru hitam membuatnya tampak anggun sekaligus otoriter. Dia melihatku dari pantulan cermin. Tidak ada pelukan hangat.

“Kamu terlambat dua jam,” katanya.

“Kereta ada gangguan di Cirebon, Bu.”

“Alasan. Kamu pasti mampir toko buku dulu.” Ibu berbalik. Matanya meneliti tubuhku. “Kamu nggak pakai korset? Perutmu itu lho... rata sih, tapi nggak ada bentuk-nya. Perempuan itu harus punya lekuk.”

“Aku bukan gitar, Bu.”

“Gendis!” Ibu membentak pelan. “Tolong. Dua hari ini saja. Jadilah normal. Laras mau nikah. Calon mertuanya orang terpandang. Jangan bikin ulah dengan omongan-omongan anehmu itu. Kalau ditanya ‘kapan menyusul’, cukup senyum dan bilang ‘doakan saja’. Jangan ajak mereka debat soal konstruksi sosial pernikahan!”

Aku menghela napas. Inilah harga yang harus kubayar untuk memiliki rahim yang sama dengan Laras. Aku harus melakukan lobotomi temporer. Aku harus mematikan fungsi kritis otakku demi harmoni.

“Mana kebayanya?” tanyaku pasrah.

Ibu menyerahkan bungkusan kain. “Warna pink salem. Biar kamu kelihatan lebih muda dan feminin.”

Pink. Warna yang diciptakan kapitalisme untuk menipu perempuan agar merasa lembut. Aku membenci pink. Tapi aku menerimanya. Ini adalah kostum. Aku adalah antropolog yang sedang melakukan observasi partisipatoris dalam ritual suku primitif bernama Keluarga Jawa.

Malam itu, saat acara midodareni, aku duduk di pojok. Mengamati.

Laras duduk di tengah, dipajang seperti boneka porselen. Dia cantik. Wajahnya bersinar oleh make-up mahal dan harapan naif tentang bahagia selamanya. Dia dikelilingi teman-temannya yang cekikikan membahas malam pertama.

Aku merasa asing.

Keterasingan ini bukan hal baru. Sejak SD, saat teman-temanku main boneka Barbie, aku membaca ensiklopedia tentang dinosaurus. Aku terobsesi pada kepunahan. Barbie adalah simbol keabadian plastik yang palsu, sementara dinosaurus adalah bukti bahwa yang besar dan kuat pun bisa musnah.

Di mata mereka, aku adalah anak yang tidak asik.

Di mata guru, aku adalah murid yang membangkang karena sering mengoreksi fakta sejarah.

Perempuan intelektual sering kali dianggap tidak enak secara fisik dan emosional. Tubuh kami dianggap kaku. Kami jarang tersenyum kalau tidak ada hal yang lucu, sementara perempuan dituntut tersenyum default sebagai dekorasi ruangan. Kami tidak pandai memijat ego laki-laki. Kami tidak mendesah manja.

Bahkan dalam seks—ah, seks—aku teringat mantan pacarku, Pras.

Pras meninggalkanku tiga tahun lalu. Alasannya? “Kamu di ranjang pun kayak dosen, Ndis. Aku nggak bisa menikmati. Kamu menganalisis semuanya. Kamu nggak pernah benar-benar berserah pasrah.”

Berserah pasrah.

Kata kunci dalam erotisme patriarki. Perempuan harus menyerah. Harus dikuasai. Harus kehilangan kendali. Sementara aku? Aku selalu sadar. Bahkan saat orgasme, korteks prefrontalku tetap menyala, mencatat sensasi, mengawasi durasi. Aku tidak bisa mematikan pikiran. Dan itu membuat laki-laki merasa tidak berguna. Mereka ingin menjadi pahlawan yang membuat perempuan hilang akal karena kenikmatan. Tapi aku tidak pernah hilang akal.

Aku memandang Laras. Dia pasti akan berserah pasrah. Dia akan menjadi istri yang baik. Dia akan pura-pura bodoh agar suaminya merasa pintar. Dan masyarakat akan mencintainya.

Lalu seorang laki-laki mendekatiku. Om Darmo. Adik sepupu Bapak yang kaya raya karena bisnis sawit tapi wawasannya sesempit gang tikus.

“Gendis, kok sendirian aja? Nggak ada yang nemenin?” tanyanya dengan nada patronizing.

“Saya ditemani pikiran saya sendiri, Om. Itu sudah cukup ramai,” jawabku sambil menyesap teh melati.

Om Darmo tertawa. Tawa yang meremehkan. “Pikiran... pikiran... perempuan itu jangan terlalu banyak mikir. Nanti rahimnya kering. Tahu nggak, ada penelitian—Om lupa baca di mana—kalau darah terlalu banyak ke otak, jatah ke kandungan jadi berkurang.”

Ini dia. Pseudo-sains yang dipakai untuk menindas.

Ingin rasanya aku menyiram teh panas ini ke wajahnya dan memberikan kuliah dua jam tentang vaskularisasi biologis dan mitos histeria abad ke-19. Tapi aku ingat pesan Ibu. Jadilah normal.

“Wah, Om Darmo hebat, ya, bisa baca penelitian. Saya malah baru dengar,” kataku dengan nada sarkasme yang kubuat setipis mungkin, berharap dia tidak sadar.

“Makanya, Ndis. Kurangi baca buku. Banyakin perawatan. Kamu itu sebenarnya manis lho, kalau mau dandan sedikit dan nggak galak-galak. Sayang lho, gelar S3 tapi nggak ada yang ngeloni (memeluk tidur).”

Darahku mendidih. Ini bukan lagi soal basa-basi. Ini pelecehan verbal yang dibungkus nasihat keluarga. “Terima kasih sarannya, Om. Tapi saya lebih suka tidur memeluk gelar S3 saya daripada memeluk laki-laki yang wawasannya dangkal tapi egonya setinggi langit.”

Ups!

Sinyal bahaya. Aku melanggar protokol.

Wajah Om Darmo merah padam. “Kamu ini... dibilangin orang tua malah ngeyel. Pantas nggak laku!”

Dia pergi dengan menghentakkan kaki. Aku kembali sendiri. Menang dalam perdebatan, tapi kalah dalam kontes popularitas. Selalu begitu.

Aku menyelinap keluar dari keramaian pesta. Aku butuh udara. Aku butuh rokok.

Aku berjalan ke halaman belakang, ke dekat sumur tua yang sudah ditutup beton. Langit Yogyakarta malam ini mendung. Tidak ada bintang.

Aku mengeluarkan Serat Wadon Mangkir dari tas tanganku. Aku membacanya di bawah lampu taman yang remang-remang.

...Maka Nyai Ageng pun berkata kepada putrinya: “Jangan kau serahkan jiwamu pada laki-laki yang hanya menginginkan dagingmu. Daging bisa busuk, tapi akal budi adalah cahaya yang melampaui kematian. Lebih baik kau dianggap gila oleh dunia, daripada kau menjadi waras tapi menjadi budak di dapurmu sendiri.”

Nyai Ageng. Tokoh fiktif atau nyata? Entahlah. Tapi kata-katanya bergema melintasi tiga abad, menembus dadaku.

Perempuan yang berpikir selalu dianggap gila. Atau penyihir. Atau lesbian. Atau frigid. Label-label itu adalah mekanisme pertahanan masyarakat untuk mengisolasi anomali.

Tiba-tiba, seseorang muncul dari kegelapan.

“Mbak Gendis?”

Itu calon suami Laras. Namanya Bayu. Laki-laki biasa. Wajahnya rata-rata, karirnya rata-rata.

“Oh, Bayu. Kenapa di sini? Bukannya kamu dilarang ketemu Laras dulu?”

“Iya, Mbak. Saya cuma... cari angin. Di dalam panas. Banyak saudara yang nanya-nanya gaji.” Dia tertawa canggung.

Dia duduk di bangku beton, agak berjarak dariku. Dia tampak takut padaku. Wajar. Laras pasti sudah cerita bahwa kakaknya adalah dosen galak.

“Mbak Gendis... boleh tanya sesuatu?”

“Tanya apa? Soal filsafat Jerman? Soal strukturalisme?”

“Bukan. Soal Laras.” Bayu ragu-ragu. “Apakah Laras... bahagia?”

Aku menatap Bayu. Pertanyaan yang menarik.

“Kenapa kamu tanya saya?”

“Karena Mbak kakaknya. Dan karena... Mbak kelihatan bisa melihat hal-hal yang orang lain nggak lihat. Laras itu... dia selalu tersenyum. Tapi saya kadang merasa dia tersenyum karena harus senyum. Bukan karena ingin.”

Aku tertegun. Ternyata laki-laki rata-rata ini punya sedikit kepekaan.

“Bayu,” kataku sambil menutup buku. “Laras itu produk yang sempurna dari didikan Ibu. Dia diajari bahwa kebahagiaan perempuan terletak pada kemampuan menyenangkan orang lain. Jadi, apakah dia bahagia? Mungkin dia sendiri nggak tahu definisi bahagia versi dia. Dia cuma menjalankan skrip.”

Bayu diam. Wajahnya tampak murung. “Terus saya harus gimana, Mbak? Saya sayang sama dia.”

“Jangan jadikan dia objek,” kataku tegas. “Jangan tuntut dia untuk selalu sempurna. Izinkan dia untuk marah, untuk capek, untuk jelek, untuk berpikir. Kalau kamu bisa melakukan itu, mungkin suatu hari dia akan menemukan kebahagiaan yang asli, bukan yang plastik.”

Bayu menatapku lama. Ada rasa hormat yang tumbuh di matanya. Rasa hormat, bukan rasa takut.

“Terima kasih, Mbak. Mbak Gendis ternyata nggak se-menyeramkan cerita orang-orang.”

“Oh, percayalah, Bayu. Saya jauh lebih menyeramkan. Kamu cuma belum lihat sisi gelap saya.” Aku tersenyum miring.

 

***

 

Hari pernikahan. Akad nikah berjalan lancar. Laras menangis haru. Ibu menangis bangga. Aku? Aku sibuk mencatat konstruksi kalimat dalam khotbah nikah Pak Penghulu yang sangat patriarkis.

“Istri adalah pakaian bagi suami... Istri harus taat...”

Bla bla bla. Narasi penundukan yang diulang ribuan tahun sampai terdengar seperti kebenaran ilahi.

Resepsi siang hari lebih menyiksa. Musik campursari yang terlalu keras, tamu-tamu yang makan dengan lahap, dan tentu saja, pertanyaan “Kapan nyusul?”.

Aku duduk di meja VIP keluarga. Di sana ada Bude Ning (kakak Ibu), Pakde Sastro (suami Bude Ning yang pensiunan tentara), dan beberapa kerabat sepuh.

“Gendis,” suara Pakde Sastro menggelegar. “Kamu itu sudah S3, kerja di universitas bagus. Gajimu pasti besar. Buat apa uang banyak kalau nggak ada suami yang ngatur?”

Aku meletakkan sendokku. Dentingnya terdengar nyaring.

“Uang saya untuk beli buku, Pakde. Dan untuk traveling. Dan untuk investasi saham. Saya bisa mengatur uang saya sendiri, tidak butuh manajer keuangan bernama suami.”

“Hah! Sombong!” Bude Ning menimpali sambil mengunyah sate ayam. “Perempuan itu kodratnya melayani. Kamu melawan kodrat. Lihat Laras. Dia mungkin cuma S1, tapi dia sudah menyempurnakan agamanya. Kamu? Kamu itu cuma pintar teori. Kosong jiwamu.”

Meja itu menjadi arena pengadilan. Mereka semua menatapku. Tatapan-tatapan yang menghakimi. Mereka ingin melihatku hancur. Mereka ingin melihatku menangis dan mengakui bahwa hidupku menyedihkan.

Mereka butuh aku menjadi menyedihkan agar pilihan hidup mereka yang konvensional terasa benar. Keberadaanku yang sukses dan mandiri adalah tamparan bagi validitas hidup mereka.

Aku menarik napas panjang. Aku teringat Hannah Arendt. Teringat Simone de Beauvoir.

“Bude, Pakde,” suaraku tenang tapi dingin, menusuk hiruk pikuk pesta. “Kodrat perempuan itu melahirkan, menyusui, dan menstruasi. Itu biologis. Sisanya—memasak, mencuci, melayani suami—itu bukan kodrat. Itu konstruksi budaya. Itu pekerjaan yang tidak dibayar.”

Hening.

“Dan soal jiwa yang kosong...” Aku menatap mata Bude Ning. “Saya mengisi jiwa saya dengan ilmu pengetahuan, dengan pencarian kebenaran, dengan pertanyaan-pertanyaan sulit. Mungkin bagi Bude itu kosong karena tidak ada laki-laki di dalamnya. Tapi bagi saya, itulah kepenuhan. Saya tidak mendefinisikan eksistensi saya berdasarkan siapa yang tidur di sebelah saya.”

“Kurang ajar!" Pakde Sastro menggebrak meja. “Ibumu salah didik kamu! Disekolahkan tinggi-tinggi malah jadi kurang ajar begini!”

Beberapa tamu menoleh. Ibu tergopoh-gopoh datang, wajahnya pucat.

“Ada apa ini? Mas, Mbak, ngapunten (maaf)...” Ibu mencengkeram lenganku. Kukunya menancap sakit. “Diam kamu, Ndis. Masuk kamar!”

Aku berdiri. Tegak. Aku merapikan kebayaku yang sesak.

“Tidak usah disuruh, Bu. Aku memang mau pergi. Tempat ini terlalu sempit untuk otakku.”

Aku berjalan keluar. Membelah kerumunan tamu undangan. Aku bisa merasakan tatapan mereka. Tatapan benci. Tatapan jijik. Tatapan takut.

Perempuan gila.

Perawan tua stress.

Anak durhaka.

Biarkan. Biarkan mereka melabeliku. Label adalah cara orang-orang dangkal memahami kompleksitas.

Aku tidak menunggu resepsi selesai. Aku langsung ke stasiun. Mengganti kebaya sialan itu dengan kaos oblong dan jins di toilet stasiun yang bau pesing.

Rasanya melegakan. Seperti ular yang berganti kulit.

Kereta akan membawaku kembali ke Jakarta. Kembali ke hutan beton, ke apartemenku yang sepi, ke tumpukan buku yang tidak pernah menghakimiku. Beberapa saat setelah kereta berangkat. Aku membuka laptop. Mulai menulis. Bukan jurnal ilmiah. Tapi sebuah esai reflektif.

Kenapa perempuan intelektual tidak disukai?

Karena kami adalah pengingat bahwa tatanan sosial ini rapuh. Kami adalah 'glitch' dalam matriks patriarki. Kami menunjukkan bahwa perempuan bisa hidup tanpa validasi laki-laki, dan itu adalah teror terbesar bagi maskulinitas yang rapuh.

Mereka menyebut kami dingin, karena kami tidak mau membakar diri kami untuk menghangatkan ego mereka. Mereka menyebut kami sombong, karena kami tahu harga diri kami dan menolak didiskon.

Aku menerima kebencian itu sebagai lencana kehormatan. Kebencian mereka adalah bukti bahwa aku melakukan sesuatu yang benar. Bahwa aku telah melampaui peran yang mereka skenariokan.

Ponselku bergetar. Pesan dari Laras.

“Mbak, makasih ya sudah datang. Maafin Bude dan Pakde. Aku tahu Mbak benar. Aku sayang Mbak. Mbak adalah idolaku, meski aku nggak berani jadi kayak Mbak.”

Aku tersenyum. Kali ini senyum yang tulus. Air mata menetes satu bulir. Cepat-cepat kuhapus. Perempuan intelektual tidak boleh cengeng, kan?

Di luar jendela, sawah-sawah berganti menjadi pabrik-pabrik. Langit desa yang luas berganti menjadi langit kota yang sempit dan berpolusi. Aku kembali ke habitatku. Ke dalam kesendirian yang riuh oleh gagasan.

Aku mengambil Serat Wadon Mangkir lagi. Membaca baris terakhir:

...Dan perempuan itu pun berjalan sendiri menembus hutan, ditemani oleh bintang-bintang yang ia beri nama sendiri. Ia tidak punya suami, tidak punya anak, tidak punya tanah. Tapi ia memiliki Semesta di dalam kepalanya.

Aku menutup mata. Kereta melaju kencang. Roda besi beradu dengan rel, menciptakan irama yang konstan.

Dug-jess... dug-jess...

Musik bagi mereka yang berjalan sendiri. Simfoni bagi perempuan-perempuan yang memilih untuk tidak disukai, demi mencintai dirinya sendiri secara utuh.

 

***

 

Jakarta menyambutku dengan hujan.

Apartemenku gelap saat aku masuk. Hanya lampu indikator modem yang berkedip-kedip hijau, seperti mata hantu digital. Aku melempar tasku ke sofa.

Aku membuat kopi hitam tanpa gula.

Aku berdiri di balkon lantai 25. Di bawah sana, kemacetan Jakarta tampak seperti aliran lava merah lampu rem dan putih. Jutaan manusia bergegas pulang ke rumah, ke keluarga, ke kehangatan yang sering kali palsu.

Apakah aku iri?

Jujur. Ada 5% bagian dari diriku yang iri. Bagian mamalia purba yang merindukan sentuhan kulit, yang merindukan suara napas lain saat tidur. Biologi memang bajingan. Hormon oksitosin tidak peduli pada gelar doktormu.

Tapi, 95% bagian diriku—bagian yang rasional, bagian yang telah tercerahkan—merasa lega.

Aku bebas.

Aku tidak perlu bertanya “Mas mau makan apa?”. Aku tidak perlu pura-pura bodoh saat diskusi politik. Aku tidak perlu menyembunyikan buku-buku Marx dan Foucault di bawah meja.

Aku bebas menjadi Gendis yang utuh.

Dan jika harga dari keutuhan ini adalah kebencian... so be it. Maka biarlah aku dibenci. Biarlah aku menjadi dongeng yang menakutkan bagi anak-anak perempuan mereka: “Belajarlah yang rajin, tapi jangan terlalu pintar kayak Tante Gendis, nanti nggak laku.”

Aku menyesap kopiku.

Di meja kerjaku, draf buku baruku menunggu. Judulnya: Ontologi Perempuan Sunyi.

Aku duduk. Menyalakan lampu baca. Dan mulai menari. Bukan dengan tubuh, tapi dengan jari-jari di atas keyboard. Tarian yang tidak butuh penonton, tidak butuh tepuk tangan, dan tidak butuh pasangan.

Karena bagi perempuan intelektual, orgasme tertinggi adalah saat sebuah gagasan yang rumit akhirnya menemukan bentuk kalimat yang sempurna.

Dan malam ini, aku akan mengalami orgasme itu berkali-kali.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama