ADG - Kolam Renang Tanpa Air di Musim Kemarau


Kolam Renang Tanpa Air di Musim Kemarau
ADG

 

 

Melayani suamiku, Pras, bukanlah sebuah tindakan cinta, dan bukan pula sebuah penderitaan. Jika harus mendefinisikannya, aku akan menyebutnya sebagai bentuk birokrasi domestik. Rasanya mirip dengan pergi ke kantor kelurahan untuk memperpanjang kartu identitas: kau datang, kau menunggu giliran, kau menandatangani dokumen, dan kau pulang dengan perasaan lega karena kewajiban itu sudah selesai untuk lima tahun ke depan.

Hanya saja, dalam pernikahanku, kewajiban itu datang setiap Selasa dan Jumat malam.

Malam itu adalah Selasa yang lembap. AC di kamar kami berdengung pelan pada suhu 24 derajat, menciptakan iklim buatan yang steril. Pras bergerak di atasku dengan ritme yang konsisten. Dia adalah pria yang baik, seorang arsitek lanskap yang teliti, yang tahu persis di mana harus menanam pohon kamboja agar akarnya tidak merusak fondasi. Dia memperlakukan tubuhku dengan prinsip yang sama: efisien, terukur, dan tanpa kejutan.

Aku menatap langit-langit kamar. Ada retakan rambut halus di sudut gipsum yang baru kusaadari minggu lalu. Bentuknya seperti sungai yang mengering di peta buta. Sambil merasakan berat tubuh Pras dan napasnya yang mulai memburu di telingaku, pikiranku justru melayang ke daftar belanjaan besok pagi. Deterjen cair. Telur. Susu UHT.

“Hana,” bisik Pras. Suaranya serak, tanda dia hampir sampai.

“Ya,” jawabku. Suaraku datar, otomatis.

Ketika dia selesai, dia mengecup keningku, kecupan stempel tanda persetujuan, lalu berguling ke sisi kiri. Dalam tiga menit, dengkuran halusnya sudah mengisi ruangan. Aku tetap terjaga, merasa tubuhku seperti ruangan kosong yang baru saja dibersihkan oleh jasa cleaning service: rapi, higienis, tapi sama sekali tidak berpenghuni. Tidak ada jejak jiwa yang tertinggal di sana. Hanya ada sisa keringat dingin dan bau lateks samar.

Aku bangun, pergi ke kamar mandi, dan membasuh diri. Di cermin, aku melihat wajah wanita berusia tiga puluh dua tahun yang matanya terlihat seperti kolam renang tanpa air di musim kemarau. Kering.

Perubahan itu terjadi dua hari kemudian, pada Kamis sore yang mendung. Sebuah truk pindahan berhenti di rumah sebelah yang sudah kosong selama enam bulan.

Aku sedang menyiram tanaman lidah mertua di teras depan—tanaman yang kusukai karena mereka tidak menuntut kasih sayang—ketika gerbang rumah sebelah terbuka. Seorang wanita keluar.

Dia berbeda dari segala sesuatu yang ada di kompleks perumahan kami yang kaku dan simetris. Namanya Kalya. Itu yang kemudian kutahu.

Kalya mengenakan gaun terusan longgar berwarna terracotta yang memperlihatkan bahunya. Rambutnya diikat asal-asalan dengan jepit kayu, menyisakan anak rambut yang menempel di lehernya yang berkeringat. Dia membawa piring berisi kue.

“Halo,” sapanya. Suaranya rendah, sedikit serak, seperti suara gesekan senar cello yang dimainkan pelan. “Saya tetangga baru. Maaf mengganggu, saya membuat terlalu banyak cinnamon roll.”

Dia berjalan mendekat ke pagar pembatas setinggi pinggang yang memisahkan halaman kami. Aku meletakkan selang air dan berjalan menghampirinya, menyeka tanganku yang basah ke daster warna cokelat.

“Terima kasih,” kataku. “Saya Hana.”

“Saya Kalya.”

Dia menyodorkan piring itu. Saat aku menerimanya, ujung jari kami bersentuhan.

Di dunia novel romantis picisan, mungkin akan digambarkan ada ledakan atau kembang api. Tapi ini bukan itu. Saat kulitnya menyentuh kulitku, aku merasakan sengatan statis yang aneh. Bukan kejutan listrik, tapi lebih seperti perasaan saat kau mencelupkan tangan ke dalam air hangat di tengah udara dingin. Nyaman, tapi mengejutkan sistem sarafmu.

Kulitnya hangat. Sangat hangat. Dan sedikit lembap. Kontras dengan tanganku yang selalu dingin dan kering.

“Kau punya taman yang rapi sekali, Hana,” katanya sambil tersenyum. Matanya menyipit, membentuk bulan sabit. Dia tidak menatap mataku, dia menatap bibirku, lalu turun ke leherku, lalu kembali ke mataku.

“Suamiku arsitek lanskap,” jawabku kaku. “Dia suka keteraturan.”

“Ah, keteraturan,” Kalya tertawa kecil. “Aku buruk dalam hal itu. Hidupku berantakan.” Dia mengibaskan rambutnya, dan angin sore membawa aromanya ke arahku.

Itu bukan aroma parfum mahal yang biasa dipakai ibu-ibu kompleks. Itu aroma yang rumit. Campuran antara kayu cendana, tembakau manis, dan sesuatu yang sangat organik, seperti bau tanah basah setelah hujan pertama turun. Itu adalah aroma kehidupan. Aroma seseorang yang hidup, yang bernapas, yang berdarah.

Aku terpaku menatap lehernya. Ada butiran keringat kecil yang mengalir dari belakang telinganya, menelusuri garis rahang, lalu hilang ke balik kerah gaunnya. Untuk alasan yang tidak bisa kujelaskan secara logis, aku merasakan dorongan impulsif untuk menjulurkan tangan dan menyeka keringat itu dengan ibu jariku. Atau lebih gila lagi, menjilatnya.

Jantungku, yang biasanya berdetak dengan ketukan monoton 60 kali per menit, tiba-tiba melompat tidak beraturan.

“Hana?” panggilnya.

Aku tersentak kembali ke realitas. “Ya. Maaf. Terima kasih kuenya.”

“Sama-sama. Mainlah ke sebelah kalau kau bosan dengan keteraturan,” katanya sambil mengedipkan sebelah mata, lalu berbalik pergi.

Aku berdiri di sana memegang piring kue yang masih hangat, memandangi punggungnya yang menjauh. Cara dia berjalan santai, pinggulnya berayun sedikit tanpa pretensi, membuatku merasa seperti alien yang sedang mengobservasi manusia bumi.

Malam itu, Pras pulang kerja dan melihat kue itu di meja makan.

“Dari tetangga baru?” tanyanya sambil melonggarkan dasi.

“Ya. Namanya Kalya.”

“Enak?” Pras mengambil satu, menggigitnya. “Hmm. Terlalu banyak kayu manis. Sedikit pahit.”

Aku tidak memakannya. Aku hanya duduk di sana, memandangi remah-remah kue di bibir Pras, tapi pikiranku sepenuhnya berada di seberang tembok rumah.

Malam itu, saat kami tidur, Pras secara refleks melingkarkan lengannya di pinggangku. Kulitnya terasa kering dan akrab. Biasanya, sentuhan ini memberiku rasa aman yang membosankan. Tapi malam ini, kulit suamiku terasa asing. Kasar. Seperti kertas amplas yang menggesek kulitku.

Aku memejamkan mata, mencoba tidur, tapi aroma cendana dan tanah basah itu seolah menempel di rongga hidungku. Dalam kegelapan, aku menyadari bahwa retakan di langit-langit kamarku mungkin bukan sekadar retakan. Mungkin itu adalah celah di mana sesuatu yang berbahaya baru saja merembes masuk ke dalam hidupku. Dan yang paling menakutkan adalah, aku tidak ingin menambalnya.

 

***

 

Aku mulai menghabiskan waktu soreku di balkon lantai dua, bersembunyi di balik tirai tipis, memata-matai kehidupan di rumah sebelah.

Dari posisiku, aku bisa melihat Kalya di halaman belakangnya. Dia sedang menjemur pakaian. Dia mengenakan celana pendek denim usang dan kaos tanpa lengan yang terlalu besar, sehingga setiap kali dia mengangkat tangan untuk menjepit baju di tali jemuran, aku bisa melihat sekilas kulit pinggangnya yang berwarna sawo matang.

Ada sesuatu yang sangat alami dari cara dia bergerak. Dia tidak efisien seperti Pras. Dia sering menjatuhkan jepitan baju, mengumpat pelan sambil tertawa, lalu memungutnya dengan membungkuk sembarangan. Dia merokok sebatang rokok kretek sambil bekerja, abu rokoknya terkadang jatuh ke rumput.

Kontras sekali dengan hidupku yang steril. Di rumahku, bahkan debu pun tampaknya takut untuk mendarat sembarangan.

Saat melihatnya menyelipkan rambut ke belakang telinga, aku merasakan dorongan aneh di perutku. Bukan lapar, bukan mual. Lebih seperti rasa ngilu saat kau menekan luka lebam yang baru sembuh. Aku ingin berada di sana. Bukan untuk membantu menjemur pakaian, tapi untuk menjadi rokok yang terselip di bibirnya.

Malam itu hari Jumat. Jadwal rutin.

Pras pulang dengan membawa aroma dry cleaning dan kelelahan kantor. Kami makan malam dengan menu ikan kukus dan sayuran: sehat, hambar, dan membosankan. Pras bercerita tentang klien yang meminta taman bergaya Zen tapi tidak mau ada lumut. Aku mengangguk di tempat yang tepat, tersenyum di koma yang tepat.

Lalu kami naik ke tempat tidur.

Pras mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur yang temaram. Dia mendekatiku. Sentuhannya akrab, terlalu akrab, sampai-sampai tubuhku tidak lagi mendaftarkannya sebagai rangsangan, melainkan sebagai data. Tangan di pinggang. Bibir di leher. Tekanan di paha.

Biasanya, aku akan membiarkan pikiranku melayang ke daftar belanjaan atau retakan di langit-langit. Tapi malam ini berbeda. Bayangan Kalya di jemuran tadi sore—kulit pinggangnya, keringat di lehernya, aroma rokok kretek dan cendana—terus berputar di kepalaku seperti proyektor film yang rusak.

Saat Pras mulai menciumku, aku memejamkan mata rapat-rapat. Dan di dalam kegelapan, di balik kelopak mataku, aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan: aku mengganti peran.

Aku membayangkan bahwa tangan yang sedang menyentuh payudaraku bukanlah tangan Pras yang kasar dan berbau sabun antiseptik. Aku membayangkan itu adalah tangan Kalya. Jari-jari lentik dengan kuku pendek yang sedikit kotor karena tanah.

“Hana,” suara Pras berbisik di telingaku.

Tapi di dalam kepalaku, suara itu berubah menjadi suara alto yang serak. Suara Kalya.

Imajinasiku bekerja dengan ketajaman yang menakutkan. Tiba-tiba, berat tubuh di atasku bukan lagi tubuh laki-laki yang berat dan kaku. Aku merasakan kelembutan yang menekan, kurva yang bertemu kurva. Aku membaui aroma hujan dan kayu basah, bukan aroma AC dan aftershave.

Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, sebuah sakelar di dalam diriku dinyalakan.

Darahku berdesir. Napasku yang biasanya teratur kini menjadi pendek dan tajam. Aku mencengkeram punggung Pras—atau siapa pun yang ada di imajinasiku saat itu—dengan kekuatan yang mengejutkan diriku sendiri.

“Kau bersemangat sekali malam ini,” gumam Pras, nadanya terdengar senang, mungkin sedikit bangga.

Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa menjawab. Jika aku membuka mulut, aku takut nama yang keluar bukanlah namanya.

Aku menarik tubuh suamiku lebih dekat, tapi mataku terpejam semakin erat, seolah-olah kelopak mataku adalah satu-satunya bendungan yang menahan banjir ilusi ini agar tidak tumpah ke dunia nyata. Di dalam kepalaku, aku sedang berada di kebun sebelah, di atas rumput basah, dan Kalya sedang menatapku dengan mata gelapnya yang basah, bibirnya yang berasa tembakau manis menyapu leherku.

Ketika puncaknya datang, itu terasa seperti gelas kaca yang pecah di lantai keramik. Tajam. Menyakitkan. Dan melegakan.

Aku mengerang panjang, suara yang asing di telingaku sendiri. Tubuhku melengkung, dan untuk sesaat, aku benar-benar lupa bahwa ada laki-laki di ruangan itu.

Setelahnya, keheningan kembali.

Pras berbaring di sampingku, napasnya masih memburu. Dia tampak puas. Dia mengelus rambutku dengan lembut. “Itu... luar biasa, Hana. Kau luar biasa.”

Aku membuka mata. Cahaya lampu tidur kembali memperlihatkan realitas: dinding kamar yang dicat warna krem membosankan, lemari kayu jati yang kokoh, dan wajah suamiku yang tersenyum lugu.

Rasa bersalah menghantamku, tapi anehnya, itu bukan rasa bersalah karena telah mengkhianatinya. Itu rasa bersalah karena aku memanfaatkannya. Aku telah menjadikan tubuh suamiku sebagai boneka peraga, sebuah kanvas kosong yang kulukis dengan wajah wanita lain.

“Ya,” jawabku pelan, menarik selimut menutupi tubuhku yang tiba-tiba terasa dingin. “Luar biasa.”

Aku berbalik memunggunginya. Di luar jendela, aku mendengar suara angin menggesek dedaunan di pohon mangga tetangga. Aku membayangkan Kalya sedang tidur di rumah sebelah, mungkin hanya berjarak sepuluh meter dari tempatku berbaring.

Aku menyadari satu hal yang mengerikan malam itu. Aku bisa terus menjalani pernikahan hampa ini selamanya. Asalkan aku bisa menutup mata dan membawa Kalya ke dalam kegelapan bersamaku. Aku telah menemukan cara untuk bertahan hidup, tapi cara itu membuatku merasa seperti monster yang menyedihkan.

 

***

 

Kesempatan itu datang dua minggu kemudian, di sebuah Sabtu malam ketika langit memutuskan untuk menumpahkan seluruh isi perutnya ke atas kota.

Pras sedang di luar kota, meninjau proyek resor di Bali. Suami Kalya, seorang pria bernama Rian yang jarang terlihat, pergi memancing dengan teman-temannya. Sebuah kebetulan kosmik yang terasa seperti naskah drama yang ditulis dengan buruk, namun tetap kumainkan perannya.

Aku mengundang Kalya untuk minum wine.

Dia datang pukul delapan malam, berlari kecil menembus hujan dari pagar rumahnya ke teras rumahku, menutupi kepalanya dengan koran bekas. Saat dia masuk, dia membawa serta aroma ozon, angin basah, dan—tentu saja—wangi kayu cendana itu.

“Hujannya gila,” katanya sambil tertawa, menyeka butiran air di bahunya yang telanjang. Dia memakai gaun tidur sutra hitam yang dilapisi kardigan rajut longgar. Pakaian yang terlalu santai untuk bertamu, namun cukup sopan untuk tetangga. Atau begitulah logikanya.

Kami duduk di ruang tamu. Aku memutar piringan hitam Bill Evans, 'Waltz for Debby'. Piano jazz yang lembut mengalun, berusaha menyaingi suara guntur di luar.

Kami menghabiskan setengah botol Cabernet Sauvignon. Alkohol melarutkan lapisan basa-basi di antara kami. Kalya mulai bercerita tentang pernikahannya.

“Rian itu baik,” katanya, memutar gelas anggurnya. “Tapi dia seperti... seperti televisi yang menyala di ruangan kosong. Ada suara, ada gambar, tapi tidak ada yang benar-benar menonton.” Dia menatapku. “Kau mengerti maksudku, kan, Hana? Kehidupan yang... begitu-begitu saja.”

“Aku mengerti,” jawabku. Tenggorokanku terasa kering meski baru saja meneguk anggur. “Seperti menunggu sesuatu yang tidak akan pernah datang.”

Kalya terdiam. Dia menggeser duduknya di sofa, mendekat ke arahku. Lutut kami hampir bersentuhan.

“Kau tahu, Hana,” bisiknya. Matanya yang gelap, yang biasanya jenaka, kini terlihat keruh dan intens. “Kadang aku melihatmu dari jendela. Saat kau menyiram tanaman. Kau terlihat sangat... rapi. Tapi aku selalu bertanya-tanya, apa yang ada di balik kerapian itu? Apa kau juga berantakan di dalam, sama sepertiku?”

Jantungku memukul-mukul rusuk. Ini adalah momennya. Batas pagar tembok di luar sana sudah tidak ada artinya. Batas moral sudah kabur oleh anggur merah.

“Aku lebih dari sekadar berantakan, Kalya,” suaraku bergetar. “Aku kosong.”

Kalya mencondongkan tubuhnya ke depan. Jarak wajah kami kini hanya sejengkal. Aku bisa melihat pori-pori kulitnya, bulu matanya yang lentik, dan bibirnya yang sedikit terbuka, basah oleh anggur.

Dia mengulurkan tangan, menyentuh pipiku. Jarinya dingin, tapi meninggalkan jejak panas di kulitku. Dia tidak menarik tangannya. Ibu jarinya mengusap sudut bibirku pelan.

“Kosong itu berbahaya,” bisiknya. “Kosong minta diisi.”

Duniaku menyempit hingga hanya tersisa wajahnya. Napasnya menyapu wajahku, berbau manis dan hangat. Hasrat yang selama ini kupendam, yang kucuri diam-diam saat bersama suamiku, kini berdiri tepat di hadapanku. Nyata. Tiga dimensi.

Aku memejamkan mata, memiringkan kepala sedikit, siap untuk jatuh ke dalam jurang itu. Siap untuk menghancurkan pernikahanku, reputasiku, segalanya, demi merasakan bibir itu.

Kring!

Telepon rumah di meja sudut berdering. Suaranya nyaring, memekakkan telinga, memotong udara seperti pisau daging.

Kami berdua tersentak. Kalya menarik tangannya seolah tersengat listrik. Aku membuka mata, napasku tertahan.

Telepon itu terus berdering. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Itu pasti Pras. Dia selalu menelepon jam segini saat dinas luar.

“Kau... harus mengangkatnya,” kata Kalya. Suaranya berubah. Sihir itu pecah. Kabut ungu hasrat yang menyelimuti kami tersedot keluar ruangan dalam sekejap, menyisakan kami sebagai dua wanita canggung di sofa ruang tamu.

“Ya,” kataku, berdiri dengan kaki gemetar. “Sebentar.”

Aku berjalan ke telepon, mengangkat gagangnya. “Halo?”

“Halo, Sayang. Sudah tidur?” Suara Pras terdengar ceria, normal, sangat suami.

Aku menoleh ke belakang. Sofa itu kosong. Pintu depan sedikit terbuka, membiarkan angin malam masuk. Kalya sudah pergi. Hanya tersisa gelas anggur kosong dengan noda lipstik merah di bibir gelasnya.

Besoknya, Pras pulang. Kehidupan kembali ke setelan pabrik.

Pras membawakanku oleh-oleh daster batik dari Bali. Aku menyambutnya, mencium pipinya, membuatkan kopi, dan mendengarkan ceritanya. Semuanya berjalan sesuai skrip.

Kalya dan aku tidak pernah membicarakan malam itu. Saat kami berpapasan di depan rumah saat membuang sampah, kami hanya tersenyum sopan. “Pagi, Hana.” “Pagi, Kalya.”

Tapi ada yang berubah.

Sore itu, aku pergi ke pusat perbelanjaan di tengah kota. Aku masuk ke gerai parfum mahal, tempat di mana aroma wangi bercampur-aduk memusingkan kepala. Aku berjalan menyusuri lorong sampai aku menemukannya.

Parfum itu. Sandalwood dan tobacco.

Aku membelinya. Sebotol kecil yang harganya setara dengan uang belanja dapur dua minggu.

Malam harinya, sebelum Pras masuk ke kamar, aku melakukan ritual baruku.

Aku mandi, lalu diam-diam menyemprotkan parfum itu ke bantal tidurku—bukan bantal Pras, hanya bantalku. Sedikit saja. Cukup samar agar Pras tidak curiga, tapi cukup kuat untuk bisa kuhirup saat aku membenamkan wajahku di sana.

Malam itu, Pras meminta jatahnya lagi.

Aku menurut. Aku membiarkannya menyentuhku. Aku mematikan lampu.

Saat Pras mulai bergerak di atasku, aku membenamkan hidungku ke bantal. Aroma sandalwood itu menyeruak, membanjiri otakku.

Aku menutup mata. Dan seketika, kegelapan itu tidak lagi sepi. Di dalam kepalaku, aku tidak sedang berada di kamar tidurku yang membosankan bersama suamiku. Aku sedang berada di sofa ruang tamu, hujan turun deras di luar, dan Kalya tidak pernah pergi. Kalya ada di sana, menindihku, bibirnya yang berasa anggur menempel di leherku.

“Hana,” desah Pras.

Aku memeluk suamiku erat-erat, kuku-kukuku menancap di punggungnya. Aku mengerang, bukan untuknya, tapi untuk bayangan wanita yang kini hidup abadi di dalam kepalaku.

Aku telah menemukan kedamaianku. Sebuah kedamaian yang menyedihkan, memang. Aku adalah istri yang setia di permukaan, namun pelacur imajinasi di dalam kegelapan. Dan anehnya, sambil menghirup aroma parfum itu dalam-dalam, aku menyadari bahwa aku bahagia. Atau setidaknya, aku tidak lagi merasa kosong.

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama