Retno Dumilah Wijayanti - Sakramen Gula dan Rahim yang Belum Genap

 

Sakramen Gula dan Rahim yang Belum Genap
Retno Dumilah Wijayanti

 

 

Pada mulanya adalah darah. Bukan Firman.

Bagi Sunti, dunia tidak diciptakan dari sabda kun fayakun, melainkan dari rembesan merah kecokelatan yang pertama kali menodai rok seragam putih-birunya, tiga bulan lalu. Itu adalah menarche. Sebuah sinyal biologis yang dalam kamus kedokteran menandakan kematangan organ reproduksi, tapi dalam kamus nasib Sunti, itu adalah lonceng kematian bagi masa kanak-kanak.

Darah itu bersifat paradoksal. Di satu sisi, ia adalah mekanisme alamiah peluruhan dinding rahim, endometrium yang kecewa karena tak ada zigot yang menempel. Di sisi lain, bagi Bapak dan Simbok, darah itu adalah label harga. Sebuah sertifikat kelayakan jual. Bahwa barang dagangan telah matang, meski kemasannya masih kuncup.

Sekarang Sunti duduk di tepi ranjang kayu jati yang berukir naga. Naga itu tampak seperti cacing raksasa yang kekenyangan. Spreinya putih, terlalu putih, seolah-olah dirancang khusus untuk menjadi kanvas bagi noda darah berikutnya: darah deflorasi.

Di luar, gamelan berbunyi rancak, tapi di telinga Sunti, itu terdengar seperti bunyi mesin penggilingan pabrik gula. Berisik. Monoton. Menggilas batang-batang tebu sampai ampasnya kering dan saripatinya terperas habis. Sunti tahu, malam ini dia adalah sebatang tebu muda. Dan laki-laki itu, Juragan Wiro, adalah mesin gilingnya.

Usianya empat belas. Juragan Wiro empat puluh.

Secara matematika, Wiro hampir tiga kali lipat usia Sunti. Jika Sunti adalah bilangan prima yang ganjil dan sulit dibagi, Wiro adalah bilangan bulat yang masif, penuh dengan faktor-faktor kekuasaan: tanah, uang, dan restu agama.

Apakah ini perkosaan? Hukum negara mungkin akan berdebat dengan pasal-pasal yang karet. Tapi hukum agama di kampung ini, yang ditafsirkan oleh para lelaki berkopiah yang merokok di beranda depan, menyebutnya ibadah. Sunti bingung. Bagaimana mungkin Tuhan menyukai perpaduan antara daging yang belum tumbuh sempurna dengan daging yang mulai layu?

Sunti meraba dadanya. Payudaranya baru saja tumbuh, masih terasa nyeri jika tersentuh, seperti buah mangga muda yang dipaksa matang oleh karbit. Dia belum mengerti hasrat. Dia hanya mengerti ketakutan. Dan ketakutan, malam ini, memiliki aroma campuran bau melati busuk, minyak rambut Tancho, dan tembakau menyengat.

Mari kita berhenti sejenak dan bicara tentang tebu (Saccharum officinarum).

Tanaman ini, seperti halnya penis, adalah simbol kejantanan yang tegak, keras, dan menyimpan cairan manis yang memabukkan. Tapi tebu juga tanaman kolonial. Ia adalah alasan mengapa ribuan hektar hutan dibabat, mengapa sistem tanam paksa (Cultuurstelsel) diperkenalkan, dan mengapa manusia diperbudak.

Di desa ini, tebu adalah dewa. Dan Juragan Wiro adalah imam besarnya. Dia memiliki lima puluh hektar lahan tebu yang mengepung desa seperti tentara hijau yang bisu. Batang-batang tebu itu tumbuh subur, menghisap hara tanah, menyisakan kekeringan bagi tanaman palawija milik petani kecil.

Seperti itulah kekuasaan bekerja, ia menghisap.

Bapak Sunti hanyalah buruh tani yang berhutang pada Juragan Wiro. Hutang itu bukan hanya uang, tapi hutang eksistensi. Bapak butuh pupuk, Juragan Wiro memberinya. Bapak butuh biaya rumah sakit saat Simbok demam berdarah, Juragan Wiro memberinya.

Lalu, ketika Bapak tak bisa membayar dengan uang, dia membayar dengan satu-satunya aset yang tersisa dan dianggap bernilai fluktuatif: anak perawan.

Dalam logika pasar patriarki, anak perempuan adalah komoditas dengan masa kadaluarsa yang cepat. Semakin muda, semakin tinggi nilainya. Ada mitos purba yang dipercaya laki-laki tua seperti Wiro, bahwa menyetubuhi perawan muda akan mentransfer vitalitas, menyerap energi kehidupan, dan menunda penuaan. Sunti adalah tumbal bagi ketakutan Wiro akan kematian dan impotensi.

Jadi, pernikahan itu bukanlah penyatuan dua jiwa. Itu adalah akuisisi aset. Sunti ditukar dengan pelunasan hutang pupuk dan janji renovasi atap rumah yang bocor. Sebuah barter yang purba. Tubuh Sunti adalah mata uang. Hymen-nya adalah materai yang mengesahkan transaksi itu.

Ingatan Sunti melompat mundur. Bukan urutan kronologis, karena trauma tidak mengenal jam dinding. Trauma bekerja seperti loop video yang rusak.

Malam itu, di meja makan yang hanya menyajikan sayur lodeh dan tempe goreng.

“Dia orang baik, Nduk,” kata Bapak. Matanya tidak berani menatap Sunti. Dia lebih sibuk menatap butiran nasi di piringnya, seolah mencari pembenaran ilahi di sana.

“Tapi Sunti mau sekolah, Pak. Sunti mau masuk SMA. Bu Guru bilang nilai Biologi Sunti paling bagus,” jawab Sunti. Suaranya bergetar, separuh menahan tangis, separuh menahan marah.

“Sekolah tinggi-tinggi buat apa? Ujung-ujungnya ke dapur juga. Wong wadon itu swarga nunut, neraka katut,” Simbok menimpali sambil menuangkan teh. Simbok adalah contoh sukses dari cuci otak patriarki, korban yang kemudian menjadi penjaga gerbang penindasan bagi perempuan lain.

“Pak Wiro itu kaya. Istrinya yang dulu meninggal karena sakit. Kamu tidak akan jadi istri muda. Kamu satu-satunya. Kamu akan jadi Nyonya Juragan. Hidupmu mulia.”

“Mulia?” Sunti meletakkan sendoknya. Dentingnya terdengar keras di ruangan yang sunyi. “Mulia apanya, Mbok? Dia seumuran Bapak! Giginya sudah kuning karena rokok! Kulitnya...”

“Huss!” Bapak menggebrak meja. Bukan keras, tapi cukup untuk membungkam logika. “Jangan bicara fisik. Ini soal nasib. Kita ini orang kecil. Kalau kamu nolak, kita mau makan apa? Hutang Bapak sudah menumpuk setinggi atap.”

“Jadi Sunti dijual?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Tajam. Dingin.

Bapak terdiam. Wajahnya merah padam. Bukan karena marah, tapi karena malu. Kebenaran yang telanjang memang selalu memalukan. Dia tidak menjawab “ya”. Dia hanya berkata, “Ini demi kebaikan keluarga. Dan agama membolehkan. Aisyah saja dinikahi Nabi saat masih belia.”

Selalu begitu. Agama ditarik-tarik untuk menutupi ketidakmampuan ekonomi dan ego laki-laki. Sunti ingin berteriak bahwa konteks zaman nabi berbeda dengan abad 21, bahwa tubuhnya adalah otoritasnya sendiri. Tapi Sunti hanyalah anak 14 tahun yang diajari bahwa kepatuhan adalah kunci surga.

Malam itu Sunti belajar satu hal, surga yang dijanjikan orang tua sering kali dibangun di atas neraka anak-anaknya.

 

***

 

Pintu kamar terbuka.

Juragan Wiro masuk. Dia mengenakan sarung tenun sutra dan kemeja putih. Aroma minyak wanginya menyerbu hidung Sunti, membuatnya mual. Wiro tersenyum. Senyum yang bukan menyiratkan kasih sayang, melainkan kepuasan kepemilikan. Seperti seseorang yang baru saja membeli mobil baru dan tidak sabar untuk menjajalnya di jalan berlumpur.

“Kenapa menangis, Cah Ayu?” tanyanya, suaranya berat dan serak. Dia duduk di sebelah Sunti. Kasur melesak karena berat badannya.

Sunti mengingsut mundur, punggungnya menabrak sandaran ranjang. Dia merasa seperti binatang buruan yang terpojok.

“Jangan takut. Aku tidak akan menyakiti. Aku cuma mau... menyayangi.”

Kata menyayangi di mulut Wiro terdengar cabul. Tangannya yang besar, kasar, dan berbulu mulai menyentuh lutut Sunti. Sunti gemetar. Tubuhnya bereaksi menolak, tapi otaknya memerintahkan untuk diam membeku.

Di sekolah, Sunti belajar tentang sistem reproduksi. Tentang ovarium, tuba falopi, dan vagina. Semua tampak klinis dan rapi di buku paket. Gambar-gambar diagram berwarna pastel. Tapi realitasnya tidak pastel. Realitasnya adalah daging, keringat, dan dominasi.

Wiro mulai membuka kancing kemejanya. Perutnya yang buncit menyembul keluar, bergelambir. Sunti memejamkan mata. Dia mencoba memisahkan kesadarannya dari tubuhnya. Ini adalah teknik pertahanan diri yang primitif: disosiasi.

Aku bukan tubuh ini, batin Sunti. Aku adalah angin yang bertiup di pucuk daun tebu. Aku adalah rumus matematika yang abstrak. Aku adalah apa saja, asal bukan daging yang ada di ranjang ini.

Tangan Wiro merambat naik. Meremas. Kasar. Dia tidak mencium Sunti layaknya kekasih. Dia memeriksa Sunti layaknya pedagang sapi memeriksa gigi ternak. Bibir Wiro yang basah dan bau tembakau melumat bibir Sunti yang kering. Sunti ingin muntah.

“Tenang... lemaskan...” bisik Wiro, nafasnya memburu di leher Sunti.

Ketika Wiro menindihnya, Sunti merasakan berat yang luar biasa. Bukan hanya berat fisik 80 kilogram daging, tapi berat sejarah, berat tradisi, dan berat kekuasaan laki-laki yang telah berlangsung ribuan tahun.

Sunti merasakan sakit yang merobek. Sesuatu yang asing memaksa masuk ke dalam ruang pribadinya yang paling sakral. Tidak ada lubrikasi, tidak ada foreplay, hanya gesekan kering yang menyakitkan. Dia ingin berteriak, tapi suaranya tercekat di tenggorokan.

Darah mengalir lagi. Kali ini bukan darah menstruasi. Itu adalah darah persembahan.

Di langit-langit kamar, Sunti melihat seekor cicak sedang memakan nyamuk. Nyamuk itu tidak berdaya. Cicak itu tidak jahat, dia hanya lapar. Wiro juga mungkin tidak merasa jahat, dia hanya merasa berhak. Hak yang diberikan oleh konstruksi sosial yang sakit.

Sunti tidak menangis lagi. Air matanya sudah kering. Dia hanya menatap kosong ke langit-langit, sementara di bawah sana, di selangkangannya, Wiro sedang memompa, mencari kenikmatan dari rasa sakit yang diderita Sunti.

Apakah Tuhan hadir di kamar pengantin itu?

Jika Tuhan Maha Tahu, Dia pasti melihat. Jika Dia Maha Kuasa, Dia bisa saja membuat Wiro impotent mendadak atau membuat atap rumah runtuh menimpa mereka berdua. Tapi Tuhan diam.

Mungkin Tuhan juga laki-laki. Atau mungkin, konsep kesucian yang diajarkan guru agama di sekolah hanyalah cara untuk mengontrol akses terhadap alat reproduksi perempuan.

Tubuh perempuan selalu menjadi medan pertempuran. Ia diperebutkan oleh negara melalui program KB, oleh agama melalui aturan menutup aurat, dan oleh suami melalui kewajiban melayani. Perempuan tidak pernah benar-benar memiliki tubuhnya sendiri. Tubuhnya adalah tanah sengketa.

Malam itu, Sunti menyadari bahwa dia telah kehilangan otonominya. Dia telah menjadi benda. Sebuah lubang yang disediakan untuk menampung hasrat laki-laki. Sebuah bejana untuk menampung benih yang mungkin akan tumbuh menjadi anak yang tidak diinginkannya.

Sunti membayangkan rahimnya. Organ berbentuk buah pir terbalik itu. Apakah ia akan segera diisi? Anak yang melahirkan anak. Sebuah tragedi biologis. Tulang panggulnya belum cukup lebar untuk jalan lahir. Jika dia hamil, nyawanya akan menjadi taruhan. Tapi siapa yang peduli? Bagi Wiro, istri yang mati melahirkan bisa diganti dengan istri baru. Stok perempuan miskin tidak pernah habis.

 

***

 

Matahari terbit dengan sinis. Cahayanya menerobos celah jendela, menyoroti bercak darah di sprei putih. Wiro masih mendengkur, mulutnya menganga, air liur menetes ke bantal. Dalam tidurnya, dia tampak seperti bayi raksasa yang tidak berdosa. Tapi Sunti tahu, kepolosan adalah privilese yang tidak dimiliki laki-laki dewasa.

Sunti bangun perlahan. Seluruh badannya sakit, terutama di bagian bawah perut dan paha dalam. Dia berjalan tertatih ke kamar mandi.

Di depan cermin yang retak, dia melihat pantulan dirinya. Mata yang bengkak, bibir yang luka, dan leher yang memiliki tanda merah kebiruan. Dia tidak mengenali gadis di cermin itu. Gadis yang kemarin masih bermain lompat tali dan bermimpi menjadi dokter, kini telah mati. Yang tersisa adalah Nyonya Wiro.

Dia mengambil gayung, menyiram tubuhnya. Air dingin sumur menggigilkan kulitnya, tapi tidak bisa membasuh rasa kotor yang menempel di jiwanya. Dia menggosok kulitnya dengan sabun batangan keras, menggosok terus sampai kulitnya merah dan perih. Dia ingin mengelupas kulit yang telah disentuh Wiro. Dia ingin kembali murni.

Tapi kemurnian adalah mitos. Tidak ada yang murni di dunia ini. Gula pasir yang putih bersih itu pun diproses menggunakan belerang dan tulang sapi.

Sunti keluar dari kamar mandi. Di dapur, dia melihat Simbok sedang memasak. Simbok menatapnya dengan senyum canggung, lalu matanya melirik ke arah kamar pengantin.

“Sudah bangun, Nduk? Suamimu mau kopi?” tanya Simbok.

Sunti tidak menjawab. Dia mengambil pisau dapur. Menggenggam gagangnya erat-erat. Simbok terlonjak kaget.

“Heh! Mau ngapain kamu?”

Sunti menatap pisau itu. Tajam. Mengkilap. Dia bisa saja masuk kembali ke kamar, menggorok leher Wiro yang sedang tidur, dan mengakhiri semua ini. Itu akan menjadi sebuah berita sensasional di koran kriminal. Istri Belia Membunuh Suami Juragan.

Tapi Sunti tahu dia tidak akan melakukannya. Bukan karena dia tidak berani, tapi karena dia tahu itu sia-sia. Membunuh Wiro tidak akan membunuh sistem yang menciptakannya. Akan ada Wiro-Wiro lain. Akan ada Bapak-Bapak lain yang menjual anaknya.

Sunti meletakkan pisau itu dan mengambil tebu yang tergeletak di pojok dapur. Dia mengupas kulit tebu itu dengan gerakan kasar.

“Aku mau makan tebu, Mbok,” katanya datar.

Sunti menggigit batang tebu itu, mengunyah serat-seratnya dengan beringas. Rasanya manis, tapi di ujung lidahnya terasa getir. Dia menghisap sarinya dan meludahkah ampasnya ke lantai tanah.

Cuih.

Ampas itu adalah dirinya. Kering. Habis. Dibuang.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama