Kucing yang Menghilang di Tepi HujanADG
Mencintai istri kakakku bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Tidak ada kembang api, tidak ada gempa bumi, dan tidak ada peringatan dini dari semesta. Perasaan itu datang seperti endapan debu halus yang jatuh di atas rak buku tua di sudut ruangan yang jarang dimasuki orang. Kau tidak menyadarinya selama berbulan-bulan, mungkin bertahun-tahun, sampai suatu hari kau menyapukan jarimu di sana dan menyadari seberapa tebal debu itu telah menumpuk.
Hari
itu hari Minggu di pertengahan November. Hujan turun dengan ketekunan yang
membosankan, jenis hujan yang seolah-olah berniat menghapus warna dari seluruh
kota. Aku sedang duduk di meja makan mereka, memandangi piring porselen yang
menyisakan tulang-tulang ikan dan saus lemon yang mulai mengering.
Di
ujung meja, Raka—kakakku sedang berbicara tentang fluktuasi harga nikel dan
rencana ekspansi pabriknya ke Vietnam. Suaranya berat dan penuh percaya diri,
jenis suara yang tidak membutuhkan persetujuan orang lain untuk tetap terdengar
benar. Kakakku adalah tipe pria yang memakan kehidupan dengan lahap, mengunyah
tulang-tulangnya, dan menyisakan remah-remah bagi orang sepertiku.
“Kau
mendengarkanku?” tanya dia, sambil menuangkan sisa anggur merah ke gelasnya.
“Tentu,”
jawabku bohong. Aku sedang mendengarkan suara hujan yang memukul jendela kaca,
dan mendengarkan napas Elena yang duduk di seberangku.
Elena
tidak banyak bicara malam itu. Dia mengenakan sweter abu-abu longgar yang
membuatnya terlihat lebih kecil dari aslinya. Dia seperti kucing yang tersesat
dan memutuskan untuk tinggal di rumah seseorang bukan karena dia menyukai
pemiliknya, tapi karena di luar terlalu dingin. Dia mengupas buah pir dengan
pisau kecil, gerakannya lambat dan metodis, seolah mengupas kulit buah adalah
satu-satunya hal yang masuk akal di dunia yang kacau ini.
Tiba-tiba,
ponsel Raka berdering. Nada dering standar yang keras dan mendesak.
“Maaf,
aku harus mengangkat ini,” gumam Raka, lalu bangkit dan berjalan menuju ruang
kerja, meninggalkan pintu sedikit terbuka. Suaranya berubah menjadi lebih
formal, namun tetap dominan.
Keheningan
segera mengisi ruang makan begitu Raka pergi. Keheningan yang padat dan basah.
Aku
berdiri, berniat membantu membereskan meja. Elena juga berdiri. Kami membawa
tumpukan piring kotor ke dapur tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Di dapur,
suara hujan terdengar lebih jelas. Seekor kucing belang, aku lupa namanya—mungkin
Mackerel atau sesuatu yang berhubungan dengan ikan—sedang tidur di atas lemari
pendingin, ekornya menjuntai ke bawah seperti pendulum yang mati.
Aku
berdiri di depan wastafel, menyalakan keran air. Elena berdiri tepat di
sebelahku, mengambil piring yang sudah kubilas untuk dikeringkan dengan kain
lap. Aroma tubuhnya tercium samar-samar di antara bau sabun cuci piring. Wangi
yang mengingatkanku pada hutan pinus di pagi hari, atau mungkin wangi kertas
surat yang disimpan terlalu lama di dalam laci kayu.
“Hujannya
awet sekali,” kata Elena tiba-tiba. Suaranya pelan, seolah dia berbicara pada
dirinya sendiri.
“Ya,”
jawabku. “Sepertinya akan turun sepanjang malam.”
“Kadang
aku merasa hujan ini tidak akan pernah berhenti,” katanya lagi. Dia berhenti
mengelap piring. Matanya menatap kosong ke arah jendela dapur yang gelap. “Kadang
aku merasa seluruh rumah ini sebenarnya sudah tenggelam di dasar laut, dan kita
hanya belum menyadarinya.”
Aku
mematikan keran air. Tiba-tiba suara air yang mengalir menghilang, menyisakan
kekosongan yang membuat telinga berdengung.
“Kau
tidak bahagia?” tanyaku. Pertanyaan itu keluar begitu saja, melompati pagar
logikaku.
Elena
menoleh padaku. Jarak wajah kami mungkin hanya tiga puluh sentimeter. Aku bisa
melihat pantulan lampu dapur yang redup di pupil matanya yang gelap. Dia tidak
menjawab. Dia hanya menatapku dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan, campuran
antara kelelahan dan permintaan tolong yang bisu.
Dia
mengulurkan tangannya untuk mengambil gelas anggur terakhir dari tanganku. Saat
itulah terjadi.
Jari-jarinya
bersentuhan dengan jari-jariku.
Itu
bukan sentuhan yang dramatis. Kulitnya dingin, kulitku hangat. Tapi di detik
kulit kami bertemu, aku merasakan sesuatu bergeser di dalam otakku. Rasanya
seperti mendengar bunyi klik pelan dari kunci pintu yang terbuka di
ruang bawah tanah yang gelap. Sebuah pintu yang seharusnya tetap terkunci
selamanya.
Hasrat
itu muncul bukan dalam bentuk nafsu yang kasar, melainkan dalam bentuk
kesadaran yang menyakitkan. Aku menyadari betapa kesepiannya dia. Dan betapa kesepiannya
aku. Dan betapa kakakku—dengan segala kesuksesan dan suara kerasnya—tidak
pernah benar-benar menyentuh wanita di depanku ini, tidak seperti bagaimana aku
ingin menyentuhnya sekarang juga.
Kami
membeku selama beberapa detik, tangan kami sama-sama memegang gelas anggur yang
rapuh itu. Jika salah satu dari kami menekan sedikit saja lebih keras, gelas
itu akan pecah dan melukai kami berdua.
“Kakakmu
orang baik,” bisik Elena, tapi dia tidak menarik tangannya.
“Orang
baik tidak selalu bisa melihat hal-hal yang penting di depannya,” jawabku,
suaraku terdengar serak, asing di telingaku sendiri.
Dari ruang kerja, terdengar tawa kakakku yang
menggelegar menanggapi lelucon rekan bisnisnya. Tawa itu terdengar begitu jauh,
seolah berasal dari planet lain. Di dapur sempit ini, realitas telah menyusut
hanya menjadi aku, Elena, dan gelas anggur yang menjadi jembatan rapuh di
antara dosa dan kewarasan.
Aku
tahu ini salah. Logikaku berteriak bahwa ini adalah pengkhianatan paling kejam,
seorang adik menginginkan milik kakaknya. Tapi saat itu, di bawah tatapan mata
Elena yang berkabut, moralitas terasa sama tidak bergunanya dengan payung rusak
di tengah badai topan.
Aku
tidak menarik tanganku. Dan yang lebih menakutkan, Elena juga tidak melepaskan
gelas itu. Dia hanya menatapku, dan untuk pertama kalinya, aku melihat debu itu
beterbangan di udara, menyesakkan napas, tapi anehnya, aku ingin menghirupnya
dalam-dalam.
***
Raka
terbang ke Singapura pada hari Rabu pagi untuk konferensi perbankan,
meninggalkan rumah dalam penguasaan keheningan mutlak. Dia memintaku datang
setiap sore untuk memeriksa Mackerel, kucing belang yang dinamai berdasarkan
ikan yang paling sering ia curi dari meja dapur. Itu tugas yang sederhana.
Masuk, isi mangkuk makanan, ganti pasir, pastikan rumah tidak terbakar, lalu
pulang.
Namun,
pada hari Kamis sore, Mackerel menghilang.
Aku
sudah memanggil namanya di setiap sudut rumah, memeriksa kolong sofa, lemari
pakaian, bahkan di balik mesin cuci. Nihil. Kucing itu lenyap seolah-olah dia
telah menemukan celah di dinding realitas dan menyelinap ke dimensi lain.
Saat
Elena pulang dari kelas merangkai bunganya, aku harus menyampaikan kabar itu.
Dia tidak panik. Dia hanya meletakkan tasnya di meja dan menatap pintu kaca
yang mengarah ke halaman belakang. Langit di luar berwarna abu-abu lebam, jenis
warna yang kau lihat pada kulit buah yang mulai membusuk.
“Ayo
kita cari,” katanya pelan.
Kami
keluar ke halaman belakang. Hujan sudah berhenti, tapi udara masih basah dan
berat. Rumput di halaman terasa dingin menembus sol sepatuku. Elena memakai jas
hujan kuning milik kakakku yang terlalu besar untuk tubuhnya, membuatnya
terlihat seperti anak kecil yang tersesat dalam petualangan yang tidak ia
inginkan. Aku memegang senter, menyorotkan cahayanya ke semak-semak basah dan
pagar kayu yang berlumut.
“Mackerel!”
panggil Elena. Suaranya tidak keras, lebih seperti gumaman pada angin.
Kami
berjalan menyusuri batas pagar, bahu kami sesekali bersentuhan. Setiap kali itu
terjadi, aku merasakan sengatan aneh yang merambat ke tulang belakangku. Bukan
listrik, lebih seperti rasa ngilu yang kau rasakan saat minum air es dengan
gigi berlubang.
Kami
mencari selama satu jam tanpa hasil. Kucing itu tidak ada di mana pun.
Akhirnya,
kami menyerah dan kembali ke dalam rumah. Kami duduk di lantai ruang tengah,
bersandar pada sofa kulit Italia yang mahal namun tidak nyaman. Pakaian kami
lembap. Rambut Elena menempel di keningnya yang pucat.
Tanpa
bertanya, aku berjalan ke lemari minuman dan mengambil sebotol Cutty Sark.
Aku menuangkannya ke dalam dua gelas pendek tanpa es. Wiski murahan itu terasa
kasar di tenggorokan, tapi hangat di perut.
Aku
memutar piringan hitam secara acak. Suara terompet Chet Baker mengalun
pelan, 'Almost Blue'. Musik itu menggantung di udara seperti asap rokok
yang tidak mau pergi.
“Kau
tahu,” kata Elena tiba-tiba, menatap gelas wiskinya. “Kadang aku merasa aku
juga bisa menghilang seperti Mackerel.”
Aku
menoleh padanya. “Apa maksudmu?”
“Menghilang
begitu saja. Tanpa suara. Tanpa jejak.” Dia memutar gelasnya. “Raka... dia
tidak melihatku. Dia melihat 'Istri Raka'. Dia melihat fungsi, bukan manusia.
Jika aku menghilang besok dan digantikan oleh hologram yang bisa tersenyum dan
menyeduh kopi, kurasa dia tidak akan menyadari perbedaannya sampai seminggu
kemudian.”
Kata-katanya
begitu sepi hingga membuat dadaku sakit.
“Aku
melihatmu, Elena,” kataku. Kalimat itu keluar sebelum sempat kusaring.
Elena
menoleh perlahan. Matanya yang gelap menangkap tatapanku dan menahannya di
sana. Di luar, angin kembali menderu, menggoyangkan dahan pohon yang
memukul-mukul jendela seperti tangan hantu yang ingin masuk.
"Benarkah?"
tanyanya, hampir berbisik. “Apa yang kau lihat?”
“Aku
melihat seseorang yang kesepian. Seseorang yang sedang menunggu hujan berhenti,
padahal dia tahu hujan itu ada di dalam kepalanya sendiri.”
Elena
terdiam. Sudut bibirnya bergetar sedikit. Dia meletakkan gelasnya di lantai.
Gerakannya lambat, seolah waktu telah melambat di sekitar kami. Dia menggeser
tubuhnya sedikit lebih dekat padaku. Aroma hujan dan parfum jeruk nipis itu
kini bercampur dengan bau tajam wiski.
“Aku
lelah menjadi transparan,” bisiknya.
Saat
dia mendekatkan wajahnya, aku tahu kami sedang melintasi sebuah perbatasan.
Sebuah garis imajiner yang memisahkan dunia yang waras dan teratur dengan hutan
belantara yang gelap dan kacau. Aku tahu di seberang garis ini ada jurang
penyesalan yang dalam. Ada pengkhianatan terhadap saudaraku sendiri.
Tapi
logika tidak bekerja di ruang hampa ini.
Ketika
bibirnya menyentuh bibirku, rasanya tidak seperti di film-film romantis. Tidak
ada ledakan orkestra. Ciuman itu terasa asin, sedikit dingin, dan putus asa.
Itu adalah ciuman dua orang yang sedang tenggelam dan saling berpegangan satu
sama lain agar tidak terseret arus sendirian.
Tanganku,
yang seolah bergerak atas kemauannya sendiri, menyentuh tengkuknya, merasakan
kulit halusnya yang dingin. Dia mendesah pelan, suara yang terdengar seperti
robekan kecil pada kain sutra.
Pakaian
kami terlepas bukan dengan gairah yang terburu-buru, melainkan dengan
kepasrahan yang aneh, seolah-olah kami sedang melepaskan kostum panggung yang
berat setelah pertunjukan panjang yang melelahkan.
Saat
sweter abu-abunya jatuh ke lantai, Elena tampak begitu rapuh di bawah cahaya
lampu jalan yang menyusup lewat celah tirai. Kulitnya pucat, hampir seperti
porselen yang disimpan terlalu lama di lemari gelap. Ada tahi lalat kecil di
bahu kirinya, sebuah titik hitam di hamparan putih yang sunyi, yang entah
kenapa mengingatkanku pada satu-satunya bintang di langit malam yang mendung.
Aku
menyentuh bahunya. Kulitnya sejuk, kontras dengan udara ruangan yang mulai
memanas karena napas kami. Dia tidak menunduk malu, tapi juga tidak menatapku
dengan nafsu. Matanya terbuka lebar, menatap lurus ke dalam mataku, mencari
sesuatu, mungkin pengampunan, mungkin pembenaran, atau mungkin sekadar
bayangannya sendiri.
Ketika
kami akhirnya menyatu, rasanya seperti memasuki sebuah ruangan yang sangat
tenang.
Tidak
ada kembang api. Tidak ada ledakan. Yang ada hanyalah perasaan tenggelam
perlahan ke dasar kolam yang dalam. Dunia di luar sana—hujan, bisnis nikel
Raka, kucing yang hilang, moralitas masyarakat—semuanya melarut dan menjauh,
menjadi suara-suara bising yang teredam oleh ketebalan air.
Gerakan
kami lambat, hampir seperti ritual kuno yang koreografinya sudah tertulis dalam
kode genetik kesepian kami. Aku merasakan tulang rusuknya di bawah telapak
tanganku, naik dan turun seirama dengan napasnya yang mulai memburu. Itu adalah
ritme kehidupan yang selama ini tersembunyi di balik senyum sopan dan
percakapan basa-basi di meja makan.
“Elena,”
bisikku, atau mungkin aku hanya memikirkannya. Namanya terasa berbeda saat
diucapkan dalam keadaan sedang bersatu badan. Bukan lagi nama istri kakakku,
tapi nama dari sebuah konsep abstrak tentang kerinduan.
Dia
melingkarkan kakinya di pinggangku, menarikku lebih dekat ke dalam dirinya. Dan
di momen itu, aku menyadari bahwa kami tidak sedang bercinta untuk kenikmatan
semata. Kami sedang berusaha saling mengisi lubang besar yang menganga di dada
kami masing-masing. Kami seperti dua potongan puzzle dari dua set kotak
berbeda yang dipaksakan untuk menyatu; tidak pas, menyakitkan, tapi entah
bagaimana bisa terkunci rapat.
Aroma
tubuhnya—campuran keringat tipis, sabun, dan aroma samar jeruk nipis itu—membuat
mabuk indra penciumanku. Itu adalah aroma rahasia. Aroma yang seharusnya hanya
milik kakakku. Pikiran itu sempat muncul sebentar—bayangan wajah kakakku—tapi
segera terhapus oleh desahan pelan Elena di telingaku. Suara itu begitu jujur,
begitu telanjang, hingga membuat hatiku ngilu.
Di
latar belakang, piringan hitam Chet Baker terus berputar, terompetnya
melengking sedih, seolah mengiringi dosa kami dengan nada pengampunan.
Saat
puncaknya tiba, itu tidak terasa seperti letusan gunung berapi. Itu terasa
seperti bendungan yang jebol. Sebuah keruntuhan yang sunyi. Aku merasakan Elena
mencengkeram punggungku erat-erat, kuku-kukunya menekan kulitku, seolah dia
takut akan hanyut jika melepaskanku. Kami berdua gemetar, bukan hanya karena
pelepasan fisik, tapi karena beban emosional yang tumpah ruah di ruang sempit
di antara tubuh kami.
Kami
terdiam setelahnya. Napas kami perlahan kembali normal, berbaur dengan suara
hujan yang masih mengetuk jendela.
Aku
tetap di sana, memeluknya di atas karpet ruang tengah yang kasar, tidak ingin
bergerak. Karena aku tahu, detik di mana aku melepaskannya, realitas akan
kembali menyerbu masuk. Raka akan kembali menjadi kakakku. Dia akan kembali
menjadi kakak iparku. Dan apa yang baru saja kami lakukan akan berubah nama
dari cinta menjadi pengkhianatan.
Tapi
untuk beberapa menit yang berharga ini, di dalam kepompong waktu yang kami
curi, kami hanyalah dua manusia yang mencoba menghangatkan diri di tengah badai
yang dingin.
***
Cahaya
matahari pagi masuk melalui celah tirai seperti pisau bedah yang tajam,
membedah ruangan itu tanpa ampun. Debu-debu terlihat melayang di udara, gelas
wiski kotor di atas lantai, dan lekukan di karpet tempat tubuh kami berbaring
semalam, semuanya terlihat begitu vulgar di bawah terang siang hari.
Aku
terbangun dengan rasa sakit tumpul di belakang kepala. Elena sudah tidak ada di
sampingku.
Aku
menemukannya di dapur. Dia mengenakan kemeja putih kakakku yang kebesaran,
berdiri membelakangi cahaya, menyeduh kopi. Suara mesin kopi yang mendesis
terdengar sangat keras di telingaku yang masih berdengung.
“Kucingnya
sudah kembali,” kata Elena tanpa menoleh. Nada bicaranya datar, seolah dia
sedang memberitahukan ramalan cuaca.
Aku
berjalan tertatih ke pintu belakang. Benar saja. Di sana, di ambang pintu kaca,
duduk Mackerel. Kucing belang itu sedang menjilati kaki depannya dengan tenang.
Bulunya kering sempurna, seolah hujan badai semalam tidak pernah menyentuhnya.
Dia menatapku sekilas dengan mata kuningnya yang angkuh, tatapan yang seolah
berkata, “Aku tahu apa yang kalian lakukan, dan aku tidak peduli.”
Keberadaan
kucing itu membuatku mual. Kehilangannya adalah alasan kami melintasi batas,
dan kepulangannya yang tiba-tiba membuat dosa kami terasa seperti lelucon
kosmik yang tidak lucu. Seolah semesta sengaja menciptakan celah waktu hanya
untuk menjebak kami, lalu menutupnya kembali saat pagi tiba.
“Minumlah,”
Elena menyodorkan cangkir kopi hitam.
Kami
berdiri di dapur, menyesap cairan pahit itu dalam diam. Tidak ada pelukan pagi.
Tidak ada pembicaraan tentang “apa arti semua ini?”. Kami berdua tahu,
membicarakannya hanya akan membuat realitas menjadi terlalu nyata untuk
ditanggung.
Pukul
sepuluh pagi, telepon rumah berdering. Itu kakakku.
Elena
mengangkatnya, dan aku melihat transformasi yang mengerikan. Postur tubuhnya
tegak, suaranya berubah ceria dan ringan.
“Ya,
Sayang. Penerbangannya lancar? ... Oh, benarkah? ... Mackerel? Dia ada di sini,
tidur di sofa... Ya, dia (merujuk padaku) baru saja mampir sebentar untuk
mengecek keran air.”
Dia
berbohong dengan kefasihan yang alami. Atau mungkin, itu bukan kebohongan.
Mungkin bagi Elena, wanita yang mengerang di pelukanku semalam dan wanita yang
berbicara di telepon sekarang adalah dua entitas yang benar-benar terpisah.
Kakakku
pulang sore harinya. Dia membawa cokelat mahal dari bandara Changi dan cerita
membosankan tentang investor asing. Aku duduk di sofa yang sama—tempat di mana
dua puluh jam lalu aku menelanjangi istrinya—dan mendengarkan ceritanya sambil
mengangguk sopan.
“Kau
terlihat lelah,” kata dia sambil menepuk bahuku keras-keras. “Kurang tidur?”
“Mungkin,”
jawabku. “Atau karena mimpi buruk.”
Aku
melihat Elena duduk di samping kakakku, tersenyum tipis sambil mengupas apel. Kakakku
melingkarkan lengannya di bahu Elena, sebuah gestur kepemilikan yang alami.
Dulu, pemandangan seperti itu hanya membuatku iri. Sekarang, pemandangan tersebut
membuatku merasa memiliki rahasia gelap yang beratnya seperti batu di dalam
perutku.
Seharusnya
cerita ini berakhir di sini. Dengan penyesalan, lalu kami berhenti dan kembali
ke jalan yang benar. Itu yang akan terjadi di novel penuh pesan moral.
Tapi
hidup, seperti yang sering kubayangkan, lebih mirip labirin tanpa pintu keluar.
Kami
tidak berhenti.
Seminggu
kemudian, saat kakakku pergi bermain golf, aku kembali ke rumah itu. Bukan
untuk kucing, bukan untuk keran air. Tapi untuk hal itu.
Hubungan
kami berubah menjadi sesuatu yang mekanis namun adiktif. Seperti seseorang yang
terus menekan tombol di mesin judi meski tahu dia akan bangkrut. Kami bertemu
di celah-celah waktu yang sempit, satu jam di siang hari, tiga puluh menit
sebelum kakakku pulang kantor.
Setiap
kali selesai melakukannya, rasa bersalah itu datang. Ia datang seperti air
pasang yang naik perlahan, merendam paru-paruku, membuatku sulit bernapas. Aku
membenci diriku sendiri. Aku membenci caraku menatap mata kakakku dan tersenyum
palsu. Aku membenci fakta bahwa aku telah menjadi pencuri di rumah keluargaku
sendiri.
Namun,
rasa benci itu tidak cukup kuat untuk menghentikanku.
Cinta—atau
apapun nama penyakit ini—telah bermutasi. Ia bukan lagi tentang kupu-kupu di
perut. Ia adalah tentang keputusasaan untuk merasakan sesuatu di dunia yang
terasa semakin abu-abu. Saat aku bersama Elena, rasa sakit itu adalah
satu-satunya hal yang meyakinkanku bahwa aku masih hidup.
Malam
ini, aku duduk sendirian di apartemenku yang sempit. Piringan hitam Chet
Baker kembali berputar, jarumnya menggores permukaan vinil, menciptakan
suara kretek-kretek yang terdengar seperti api kecil yang membakar sisa-sisa
kewarasanku.
Ponselku
bergetar di atas meja. Satu pesan masuk dari Elena. Hanya satu kata:
"Besok?"
Aku
menatap layar itu lama sekali. Aku tahu di ujung sana ada jurang. Aku tahu
suatu hari nanti, kakakku akan tahu, atau Elena akan bosan, atau aku akan
hancur sepenuhnya. Tapi tanganku bergerak sendiri, seolah digerakkan oleh
dalang tak terlihat di langit-langit kamar.
Aku
mengetik balasan: "Ya."
Aku
meletakkan ponsel dan memandang ke luar jendela. Hujan mulai turun lagi,
membasahi kota yang tidak pernah benar-benar bersih. Aku seperti kucing yang
telah berjalan terlalu jauh ke dalam hutan, dan sekarang, jalan pulang sudah
tertutup semak belukar yang tak tertembus. Aku hanya bisa terus berjalan masuk,
semakin dalam, menuju kegelapan yang menungguku di pusat labirin.
