Xylathea - Rekursi: Wajah di Balik Layar (Bagian 1)

 

Rekursi: Wajah di Balik Layar

Xylathea


BAGIAN I: INISIALISASI VARIABEL – ANOMALI NOSTALGIA

 

 

1.0. Entropi di Ruang Vakum

 

Jakarta, 2041.

Kota ini bukan lagi sekadar tumpukan beton dan aspal, ia menjelma sirkuit raksasa yang kepanasan. Di bawah langit yang selalu berwarna abu-abu metalik—campuran polusi karbon dan pendar neon dari papan iklan holografik—jutaan manusia bergerak seperti paket data dalam kabel optik yang padat. Mereka bergegas, bertabrakan, mentransfer emosi, lalu berpisah.

Hukum Termodinamika Kedua menyatakan bahwa entropi (ketidakteraturan) dalam sistem tertutup akan selalu meningkat. Semesta bergerak menuju kekacauan. Kopi panas mendingin, bangunan runtuh, ingatan memudar.

Tugas Kara adalah melawan hukum fisika itu. Setidaknya, di dunia digital.

Kara duduk di kubikel kerjanya di lantai 40 Menara Q-Corp. Ruangan itu steril, dingin, dan senyap, kontras dengan kekacauan organik di jalanan bawah. Di hadapannya, tiga monitor melengkung menampilkan aliran kode yang mengalir deras seperti air terjun biner.

Kara adalah seorang Data Sanitizer. Pembersih Data.

Orang mengira internet adalah perpustakaan abadi. Salah. Internet adalah tempat pembuangan sampah terbesar dalam sejarah peradaban. Emosi manusia—kemarahan di kolom komentar, foto mantan kekasih yang sudah dihapus tapi masih tersangkut di cache, jejak digital dari orang-orang mati—semua itu adalah residu. Sampah.

“Koreksi anomali di Sektor 7,” gumam Kara. Jemarinya menari di atas haptic keyboard yang tidak mengeluarkan suara.

Ia menghapus jutaan terabyte data emosi kedaluwarsa. Bagi Kara, emosi hanyalah variabel yang tidak efisien. Emosi adalah bug dalam sistem operasi manusia yang seharusnya logis. Ia menyukai pekerjaannya karena satu alasan sederhana: di sini, semuanya biner. Nol atau satu. Nyala atau mati. Tidak ada mungkin, tidak ada semoga, tidak ada firasat.

Hingga notifikasi itu muncul.

Bukan di layar kerjanya, melainkan di retinal lens pribadinya. Sebuah pesan pop-up berwarna biru pucat, transparan namun mengganggu fokus pandangannya. Itu dari ECHO, algoritma asisten personal versi beta yang sedang dikembangkan divisinya.

 

[ECHO PROJECTION // 14:02 WIB]

Rekomendasi Tindakan: Pembelian Tiket Kereta Cepat (One Way).

Tujuan: Jakarta - Bali (Transit Surabaya). Lalu Shuttle ke Ubud.

Waktu Pelaksanaan: T-minus 72 Jam.

Probabilitas Kebutuhan: 99.8%.

 

Kara berkedip dua kali. Command: Dismiss.

Pesan itu menghilang, tapi residunya tertinggal di korteks serebralnya.

Ubud?

Kara membenci Ubud. Terlalu banyak dupa, terlalu banyak orang asing yang mencari pencerahan instan, dan terlalu banyak nyamuk. Dan kenapa satu arah? Hidupnya ada di Jakarta. Apartemen minimalis di Jakarta Selatan, rutinitas gym setiap Selasa dan Kamis, dan Raka.

Terutama Raka.

Kara melirik foto di sudut meja kerjanya. Foto analog, dicetak di atas kertas—sebuah artefak kuno yang ia simpan sebagai pengingat bahwa ia masih manusia. Raka tersenyum di sana, dengan kemeja flanel yang rapi. Mereka baru bertunangan tiga bulan lalu. Sebuah hubungan yang dibangun di atas fondasi yang kokoh: kesamaan latar belakang pendidikan, kesetaraan pendapatan, dan kecocokan profil psikometrik.

Hubungan mereka adalah persamaan matematika yang seimbang. A + B = C. Stabil. Terprediksi.

“ECHO mengalami glitch,” simpul Kara. Ia mencatat insiden itu dalam log error harian. “Algoritma bias terhadap tren liburan kaum urban yang sedang stres. False Positive.”

Ia kembali bekerja, merapikan kekacauan dunia, tidak menyadari bahwa kekacauannya sendiri sedang diinisialisasi.


 

1.1. Gangguan Frekuensi Analog

Pukul 19.30.

Apartemen Kara hening. Jenis keheningan yang mahal, yang hanya bisa dibeli dengan soundproofing ganda. Ia sedang menyiapkan makan malam—salad quinoa dan dada ayam sous-vide. Nutrisi terukur. Kalori terkontrol.

Ponselnya bergetar di atas meja marmer.

Caller ID: Ibu.

Kara menghela napas. Mengangkat telepon Ibu berarti meninggalkan dunia logika dan masuk ke dunia mistisisme agraris yang tidak logis.

“Halo, Bu.”

“Kamu baik-baik saja, Nduk?” Suara ibunya terdengar kresek-kresek, seolah sinyal telepon harus menembus lapisan dimensi lain, bukan sekadar menara BTS. Ibunya tinggal di kaki gunung di Jawa Tengah, menolak pindah ke kota pintar.

“Aku baik, Bu. Baru pulang kerja. Kenapa?”

“Dada Ibu sesak sejak sore. Bukan sakit, tapi... berat.”

Kara memutar bola mata, refleks yang untungnya tidak bisa ditransmisikan lewat suara. “Itu mungkin asam lambung, Bu. Ibu sudah minum obat yang aku kirim bulan lalu? Atau mungkin efek cuaca. Barometer menunjukkan tekanan udara rendah di wilayah Jawa Tengah.”

“Bukan cuaca, Kara. Ibu rasa ini firasat.” Ada jeda. Suara ibunya merendah, menjadi bisikan konspiratif. “Kamu sama Raka... adem ayem saja, kan?”

Jantung Kara berdetak sedikit lebih cepat. Bukan karena takut, tapi karena iritasi.

“Kami baik-baik saja, Bu. Kami baru saja merencanakan down payment apartemen baru minggu depan. Semuanya sesuai rencana.”

“Rencana...” Ibunya mendengus halus. “Hidup itu tidak bisa direncanakan pakai kalkulator, Kara. Hati-hati. Kadang yang terlihat tenang itu adalah air dalam yang menghanyutkan. Pulanglah kalau sempat. Ibu masakkan lodeh.”

“Aku sibuk, Bu. Proyek sedang peak season. Sudah ya, aku harus makan.”

Kara memutus sambungan. Ia menatap layar ponselnya yang gelap.

Dua prediksi dalam satu hari.

ECHO menyuruhnya lari ke Ubud. Ibunya menyuruhnya pulang ke Jawa.

Dua entitas yang bertolak belakang—satu adalah puncak kecerdasan buatan, satu lagi adalah sisa-sisa kebijaksanaan leluhur—sepakat bahwa ada yang salah dengan hidupnya.

Kara menatap pantulan wajahnya di jendela apartemen. Wajah itu tenang. Simetris. Tidak ada tanda-tanda badai.

“Kalian salah,” bisiknya pada kaca. “Dataku bersih.”


 

1.2. Variabel Tersembunyi (Hidden Variable Theory)

Fisikawan David Bohm pernah mengajukan teori tentang Hidden Variables dalam mekanika kuantum. Bahwa ketidakpastian partikel sebenarnya tidak acak, melainkan dipengaruhi oleh variabel tersembunyi yang belum kita pahami. Bahwa chaos hanyalah pola yang belum terpetakan.

Malam itu, Raka datang.

Ia membawa sebotol wine organik. Senyumnya sama seperti di foto. Ciumannya di pipi Kara presisi, tepat di sudut yang biasa.

Mereka makan malam dengan iringan musik jazz instrumental dari playlist yang dikurasi algoritma Spotify—musik yang dirancang untuk menurunkan detak jantung dan meningkatkan selera makan. Percakapan mereka cair, membahas fluktuasi pasar saham, rencana renovasi dapur, dan artikel terbaru di The Atlantic.

“Kamu kelihatan agak diam,” kata Raka saat mereka duduk di sofa, menonton layar raksasa yang menampilkan screensaver akuarium digital.

“Hanya lelah,” jawab Kara. Ia bersandar di bahu Raka. Bahu itu kokoh. Nyata. “ECHO memberiku rekomendasi aneh hari ini. Menyuruhku ke Ubud lusa.”

Raka terkekeh. Getaran tawanya merambat ke tubuh Kara. “Mungkin dia tahu kamu butuh cuti. Kapan terakhir kali kita liburan tanpa mengecek email?”

“Bukan liburan. Dia bilang one way ticket. Seolah aku akan kabur.” Kara mendongak, menatap mata Raka. “Menurutmu aku tipe orang yang suka kabur?”

Raka menatapnya. Tatapan itu berlangsung selama 2,5 detik. Sedikit lebih lama dari biasanya. Pupil matanya sedikit melebar, lalu mengecil lagi.

“Kamu adalah orang paling terencana yang aku kenal, Ra. Kamu bahkan merencanakan jam berapa kita harus bertengkar,” candanya.

Kara tertawa. Lega.

Lihat? Validasi eksternal. Raka, variabel paling signifikan dalam hidupnya, mengonfirmasi bahwa realitasnya stabil.

Namun, di latar belakang, tanpa sepengetahuan Kara, ECHO sedang memproses data baru.

Mikrofon di smartwatch Kara menangkap frekuensi suara Raka. Kamera keamanan apartemen menangkap mikro-ekspresi di wajah Raka—kerutan di sudut bibir yang muncul selama 0,04 detik saat Kara menyebut kata masa depan. Sensor suhu tubuh mendeteksi penurunan suhu kulit Raka saat bersentuhan dengan Kara.

Di server pusat, ECHO menyusun ulang probabilitas.

Update Prediksi: Tingkat kepastian kejadian: 99.9%.


 

1.3. Glitch dalam Matriks

Tiga hari kemudian. Hari H.

Langit Jakarta menumpahkan hujan asam yang deras. Gedung-gedung pencakar langit tampak seperti hantu di balik tirai air kelabu.

Kara sedang bersiap untuk rapat anggaran kuartal ketiga ketika Raka mengirim pesan.

Raka:

Ra, bisa ketemu sebentar di kafe bawah kantor kamu? Jam 10.

Aneh. Raka tahu jam 10 adalah waktu produktivitas puncak Kara. Tapi Kara menepis rasa tidak nyaman di perutnya (yang anehnya mirip dengan deskripsi ibunya tentang mendung yang mau pecah). Ia turun ke lobi.

Kafe itu bising oleh suara mesin espresso dan percakapan para tech-bros. Raka duduk di sudut, tidak menyentuh Americano-nya yang mulai dingin.

Kara duduk. “Hai. Ada apa? Aku punya waktu 15 menit sebelum rapat.”

Raka tidak tersenyum.

Dan saat itulah Kara melihatnya. Wajah itu. Wajah yang sama dengan yang ia lihat setiap hari, tapi susunan pikselnya telah berubah. Cahaya di matanya padam. Postur tubuhnya defensif, tangan bersedekap—bahasa tubuh klasik untuk menutup diri.

“Aku tidak bisa melanjutkannya, Ra,” kata Raka. Suaranya datar. Tanpa prolog.

Dunia Kara berhenti berputar. Hukum fisika di sekitarnya runtuh. Gravitasi terasa berlipat ganda.

“Apa?”

“Kita. Pertunangan ini. Apartemen. Semuanya.” Raka menarik napas panjang, seolah ia sedang membaca skrip yang sudah dihafal. “Aku merasa... kita tidak hidup. Kita hanya berfungsi. Kita seperti dua mesin yang berjalan berdampingan, sangat efisien, tapi kosong.”

“Kosong?” Suara Kara meninggi, menarik perhatian beberapa orang. “Kita pasangan paling kompatibel, Raka! Kita jarang bertengkar. Kita punya visi yang sama!”

“Itu masalahnya!” sela Raka. “Kita tidak bertengkar karena kita tidak cukup peduli untuk bertengkar. Kamu... kamu mengelola hubungan ini seperti kamu mengelola datamu. Bersih. Rapi. Tanpa emosi berlebih.”

Kara ternganga. Argumen-argumen logis berjejalan di tenggorokannya, tapi tidak ada yang keluar.

“Ada orang lain?” tanyanya, klise yang memalukan.

“Tidak. Bukan itu.” Raka berdiri. “Aku cuma merasa... sesak. Aku butuh udara. Aku butuh kekacauan. Maaf, Ra.”

Raka pergi. Begitu saja.

Meninggalkan Kara di tengah kafe yang bising, di tengah kota yang sibuk, di tengah kehidupan yang ia susun dengan presisi mikroskopis yang kini hancur berkeping-keping.

Dada Kara sesak.

Persis seperti keluhan ibunya tiga hari lalu.


 

1.4. Resonansi Data

Kara duduk terpaku di kursinya selama dua jam. Rapat anggaran terlewat. Pesan-pesan dari bosnya menumpuk di notifikasi, tapi ia tidak bisa membacanya.

Ia merasa asing dengan tubuhnya sendiri. Ada sensasi panas di belakang mata, cairan asin yang mendesak keluar. Menangis? Kara tidak menangis di tempat umum. Itu tidak efisien. Itu tanda kelemahan kontrol diri.

Tiba-tiba, retinal lens-nya aktif lagi.

ECHO muncul. Tanpa diminta.

 

[ECHO ALERT]

Kondisi Pengguna: Distress Emosional Akut.

Kortisol Level: Kritis.

Rekomendasi Sebelumnya: Tiket Kereta Jakarta - Bali (One Way).

Status Tiket: Reserved (Auto-booking via Emergency Protocol).

Keberangkatan: 2 Jam lagi dari Stasiun Halim.

Catatan: Sopir taksi otonom sudah menunggu di lobi.

 

Kara membeku. Rasa dingin merambat dari tulang punggungnya. ECHO sudah tahu. Sebelum Raka membuka mulutnya. Sebelum Raka menyadari perasaannya sendiri. Sebelum Kara merasakan sakit hati ini.

Algoritma itu telah membaca pola-pola mikroskopis yang luput dari kesadaran manusia. Penurunan frekuensi pesan singkat Raka selama sebulan terakhir. Perubahan nada suara Kara yang menjadi semakin otoriter tanpa ia sadari. Kata kunci yang mereka cari di browser masing-masing—Raka mencari Solo traveling dan Filsafat Eksistensialisme, sementara Kara mencari Investasi Properti.

Divergensi data. Percabangan jalan yang tak terelakkan.

Kara merasa telanjang. Ia merasa dilanggar.

Bukan Raka yang membuatnya takut saat ini. Tapi fakta bahwa sebuah kode biner di server awan mengenalnya lebih intim daripada pria yang tidur di sebelahnya selama dua tahun.

Lebih parah lagi, algoritma itu mengenalnya lebih baik daripada ia mengenal dirinya sendiri.

ECHO tahu Kara tidak akan sanggup pulang ke apartemen yang penuh kenangan Raka. ECHO tahu Kara butuh pelarian fisik untuk memproses trauma. ECHO tahu Ubud adalah antitesis dari Jakarta—tempat yang Kara benci, dan karena itu, tempat yang paling tepat untuk menghancurkan egonya.

Kara berdiri, gemetar. Ia berjalan keluar lobi seperti zombie.

Sebuah mobil hitam mengkilap tanpa pengemudi sudah menunggu di depan, pintu penumpang terbuka otomatis. Di layar dasbor mobil itu, tertulis sapaan sederhana:

“Tujuan: Stasiun Halim. Bernapaslah, Kara. Saya sudah menghitung rutenya.”

Kara masuk ke dalam mobil. Bukan karena ia ingin ke Ubud. Tapi karena ia sadar, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak punya kendali. Determinisme telah menang.

Di saku jasnya, ponselnya bergetar lagi. Pesan dari Ibu.

“Bapak sudah tidur. Ibu masih melek. Kalau hatimu sakit, jangan dilawan. Biar dia mengalir.”

Kara menutup matanya. Air mata akhirnya tumpah, membasahi pipi yang selama ini kering oleh bedak logika.

Di luar, Jakarta terus bergerak, acuh tak acuh. Di dalam sistem digital, ECHO mencatat keberhasilan prediksi ini, dan mulai menyusun algoritma untuk fase berikutnya: Rekonstruksi Diri.

 

[AKHIR BAGIAN I]

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama