Kenangan-kenangan Kenanga


.

Muncul kenanga di atas nisan bagian kepala di area pekuburan tanpa ada yang tahu siapa penanamnya. Makam itu baru tiga bulan di sana. Semeter sudah tinggi kenanganya. Setiap kepala makam selalu ditumbuhi kenanga, seolah mereka tumbuh karena menyerap sari-sari pikiran manusia yang sudah lapuk. Atau bisa saja mereka yang mati telah hidup kembali, berwujud pohon kenanga. Tinggi menjulang sambil mengawasi kerabat yang ditinggalkan dari ketinggian wilayah pekuburan.

Tak ada satu pun semboja yang menghuni pekuburan sebagaimana mestinya. Bangsa semboja telah mendapat tempat di pelataran perumahan di sekitar pekuburan. Mereka gantikan posisi kenanga yang dulu bercokol menjadi pagar hidup di sepanjang pematang sawah yang disingkirkan jajaran rumah yang kian rapat.

Kemunculan kenanga-kenanga itu tentu tak jadi bahan perdebatan penghuni perumahan. Justru yang jadi bahan gunjingan adalah mulai dipatoknya harga tanah per meter untuk tempat tinggal mayat mereka kelak dengan harga tak wajar oleh pengelola makam yang baru. Begitu terjual, tanah makam diberi tanda. Lambat laun tanda-tanda yang tertancap di tanah mengusir keberadaan kenanga satu per satu.

Juru kunci makam telah memohon secuil tanah untuk sekadar berpijaknya kenanga. Paling tidak ada yang menaungi tanah kubur dari panasnya mentari dan memayungi ketika hujan renyai. Sayangnya uang lebih sanggup bicara banyak daripada batang pohon yang tiap waktunya gugurkan sampah daun dan bunga-bunga.

“Kamu kira pemakaman tak butuh biaya perawatan? Kamu kira jalan mendaki menuju makam ditanggung pemerintah? Kamu kira itu semua bisa dibayar pakai kenanga? Lagi pula, bukannya lebih mudah bagimu merawat makam yang tak banyak pohonnya? Toh bulananmu tak ikut terpotong. Waktu bersih-bersihmu justru berkurang.”

Tanggapan yang diberikan pengelola makam membuat juru kunci manggut-manggut pasrah. Sesungguhnya dia lebih bahagia melihat pusara yang bertaburkan kembang setiap hari. Rasanya bahagia ketika barisan makam terlihat habis dikunjungi sanak saudara seperti hari-hari menjelang hari raya. Andai bisa cemburu, jenazah pun ingin cemburu sebab yang hidup hanya peduli dengan kehidupan. Sedang yang mati dibiarkan saja menikmati kematian tanpa dibiarkan sedikit mengintip apa yang tertinggal.

Manusia mati hanya raganya. Tiada yang tahu bahwa sari-sari pikirannya, kenangannya, diserap diam-diam oleh biji-biji tua yang muda kembali dalam tunas-tunas. Lantas bertumbuhlah kenanga-kenanga dari kenangan-kenangan yang tak pernah mati, mencungkil patok pembatas yang mengusir kenanga pendahulunya.

Juru kunci manggut-manggut menahan senyum ketika pengelola makam mulai lelah membabat kenanga yang kembali tinggi setiap kali ia datang mengunjungi. Pun orang-orang yang ia suruh.

“Izinkan mereka tumbuh, Pak. Dibabat ratusan kali pun mereka tetap akan tumbuh. Sebab mereka hidup dari sari-sari kenangan yang tak pernah mati dari orang yang telah mati.”


***


“Bagaimana juru kunci itu bisa tahu kalau kenanga-kenanga itu hidup dari kenangan orang mati?”

“Mendekatlah. Hirup aromanya dalam-dalam setiap kembang dari setiap pohon. Rasakan getir dan manisnya kenangan hidup mereka. Tuhan tak pernah ciptakan segala hal sama persis. Begitu pun aroma kembang kenanga.”

Masih kuingat bagaimana seorang pencari kenanga mengajariku menerjemahkan kenangan orang dari wewangian kenanga. Bertahun-tahun hingga rasanya semua sudah menua dan pencari kenanga itu lama pula tak terlihat. Sedangkan aku masih menikmati wewangian kembang di pekuburan setiap terang. Sekali kuhirup, rentetan cerita membanjir di pikiranku. Ada rindu yang masih menggantung. Ada sayang yang terus membayang. Ada dendam membara, tanah pun tak sanggup meredam. Ada kasih yang tak putus menanti. Ada ambisi yang tak kenal kata mati. Ada benci menggerogoti hati hingga sendi-sendi.

Cerita mereka membikin candu. Suka cita para kenanga sebab ada pendengar yang rela berlama-lama menghirup kenangan, membuat mereka berkembang tak henti-henti. Satu per satu kenangan tiap makam telah kuketahui, kecuali makam di bibir bukit yang tak dinaungi kenanga hidup. Hanya tersisa tunggul pungur di dekatnya yang kurasa dulu adalah pohon kenanga terbesar di sini.

Makam itu terlihat paling tua di antara yang lainnya. Nisannya saja tak bernama. Atau mungkin bernama tapi hilang dikikis hujan. Kucoba mencari kenangan makam tanpa nama dari kenangan-kenangan kenanga di makam lain. Mungkin saja mereka ada yang mengingat tentang siapa dia. Dari semua yang ada, kusimpulkan bahwa makam-makam di sini penghuni baru akibat bencana longsor yang menimpa tempat tinggal mereka. Tak ada yang punya kenangan tentang siapa penghuni makam tanpa nama. Kenanga-kenanga yang tumbuh liar di bawah bukit pekuburan juga tak memberiku petunjuk.

Ada kekosongan di dalam makam tanpa nama yang justru membuatku penasaran. Mengapa kenanga tak hidup di atas kepala makamnya? Mungkinkah penghuni makam dulu hidup tanpa sedikit pun menyimpan kenangan?

“Masih menikmati kenangan-kenangan orang mati ya? Betah sekali. Sampai kapan kamu terus di sini mendengar cerita mereka?”

Pencari kenanga itu muncul kembali setelah sekian lama pergi. Menghirup dan memunguti kenanga-kenanga yang berguguran ke dalam bakul di punggungnya.

“Sampai aku bisa menghabiskan seluruh kenangan barisan makam di sini. Nyatanya setiap kembang menceritakan hal-hal berbeda sepanjang hidup mereka. Sedangkan hidup mereka sama panjangnya dengan hidupku. Jadi, mungkin selama belum bisa menghabiskan kisah-kisah mereka, aku ingin hidup.”

Pencari kenanga tersenyum. Tapi aku tahu, senyum itu ditarik oleh simpul kesedihan yang terus membelenggu.

“Bapak sudah lama mengambil kenanga di sini. Apa kenanga di bibir bukit sana pernah terlihat tumbuh?”

“Tak pernah.”

“Kenapa?”

“Mungkin kenanga tak sanggup menyerap kenangan-kenangan jenazah di dalamnya.”

“Atau mungkin kenangan-kenangannya dibiarkan hidup kembali dalam raganya. Mungkin saja raganya tumbuh terus seperti kenanga-kenanga. Tak pernah benar-benar mati. Apa Bapak tahu itu makam siapa?”

Mata kami saling beradu. Aku melihat kengerian terpancar di muka si pencari kenanga. Dia tak bisa ucapkan apa pun padaku selain selamat tinggal.

Esoknya, lubang baru digali dekat makam tanpa nama. Aku turut membantu penggalian itu. Ketika kutanya makam siapa ini? Para penggali kubur mengatakan lubang ini untuk lelaki tua pencari kenanga. Belum sempat dia menjawab rasa penasaranku tentang makam yang kini bertetangga dengannya, waktu begitu cepat mengambilnya. Begitu cepat pula kenanga tumbuh di atas kepala makam pencari kenanga.


***


Pengelola makam tak berhenti membersihkan makam dari pohon kenanga sampai akarnya. Ucapan si juru kunci tentulah tak masuk akal. Jika bukan juru kunci yang menanami, mana mungkin kenanga itu terus tumbuh?

“Percayalah, Pak, saya bisa mendengar cerita masa hidup mereka melalui aroma kembang di setiap pusara. Kenangan mereka tak bisa dibunuh.”

“Langka sekali bakatmu. Kalau kamu bisa mengajariku, baru aku percaya kalau kenanga-kenanga itu tumbuh dari kenangan orang mati.”

“Ini bukan bakat, Pak. Ini kepekaan rasa. Dan mungkin hanya saya yang punya kepekaan seperti ini.”

“Ya selama kamu belum bisa mengajariku, selama itu pula aku percaya kalau kenanga-kenanga di sini kamu yang menanam. Bukan tumbuh dari kenangan.”

“Kemari, Pak. Mendekatlah. Hirup aromanya dalam-dalam setiap kembang dari setiap pohon. Rasakan getir dan manisnya kenangan hidup mereka. Tuhan tak pernah ciptakan segala hal sama persis. Begitu pun aroma kembang kenanga.”

Pengelola makam mencoba menghirup tapi tak ia rasakan apa-apa kecuali wangi kenanga yang sama.

“Sepertinya pikiranmu mulai terganggu. Mungkin karena terlalu banyak kumpul orang mati. Ini kenanga biasa. Wanginya juga biasa. Tak ada rasa apa-apa. Akan kubersihkan semua kenanga di sini. Jangan coba-coba menanaminya lagi.”

“Terserah Bapak. Anda yang mengelola. Saya hanya penjaga. Tapi saya minta satu saja sisakan tunggul kenanga besar yang sudah mati di sana. Jangan coba-coba mencabutnya, Pak.”

“Memang kenapa? Ada penunggunya?”

Senyum tulus si juru kunci meluluhkan pandangan skeptis pengelola makam pada segala macam kepercayaan turun-temurun tentang pekuburan. Sejak perbincangan itu, juru kunci memilih menjauh tiap kali pengelola makam datang. Namun ketika makam tua tanpa nama dan tunggul kenanga dibongkar, juru kunci terpaksa mendekat.

“Kenapa makam dan tunggul kenanga ini dibongkar, Pak?”

“Ini makam tak jelas penghuninya. Tak tahu siapa keluarganya. Kamu pun yang tiap hari menjaganya saja tak tahu ini makam siapa. Aku ingin meratakannya kembali. Tunggul ini pula, tempatnya bisa dijual pada orang yang pasti mati.”

“Bapak tak bisa seenaknya membongkar walaupun makam ini tak jelas penghuninya, tak ada keluarganya.”

“Kamu lihat sendiri. Ini makam kosong! Makam fiktif.”

Pengelola makam begitu antusias melihat kenyataan bahwa memang tak ada isi di makam tanpa nama.


***


Aku berhenti menghirup satu kembang yang tumbuh di kepala makam pencari kenanga. Dia memberiku jawaban. Makam tanpa nama itu kosong. Tapi kekosongan itu masih menimbulkan pertanyaan. Kuhirup kembali kembang lain dari makam pencari kenanga.


***


Juru kunci itu ditemukan tak bernapas di pondok kecil tempatnya biasa beristirahat selepas lelah menjaga pekuburan. Dia mati dalam kesedihan sebab makam tanpa nama dibongkar. Pengelola makam terpaksa menguburkannya di tempat yang sama persis dengan makam yang telah ia bongkar.

Kesedihan juru kunci menular tanpa sebab ke hati pengelola makam. Lantas menumpuk menjadi ketakutan dan menjelma kenyataan di malam yang naas saat hujan tak menunjukkan tanda berhenti selama lima hari. Kenyataan itu mengubur semua yang hidup di sekitar si pengelola makam. Perbukitan yang mengelilingi perumahan tempat tinggal pengelola makam longsor. Separuh tanah pemakaman di atas bukit pun amblas. Tapi makam tanpa nama itu masih bertahan. Sama seperti pengelola makam yang dibiarkan bertahan hidup hanya untuk bersaksi bahwa kenanga-kenanga itu memang tumbuh dari kenangan orang mati.

Kawasan perumahan kini menjadi lahan kenanga. Tiada lagi yang menghuni kecuali sisa-sisa mayat yang tak pernah ditemukan dan ditumbuhi kenanga. Si pengelola makam tak berhenti mencari sanak saudaranya yang hilang dengan menghirup aroma kembang kenanga di setiap pohon dan menyimpan kembang itu di bakul yang selalu dibawanya. Sayang, rasanya tak sepeka juru kunci yang mampu menghirup kenangan dari kenanga. Sepertinya memang hanya dia yang punya kepekaan rasa itu. Sampai si pengelola makam temukan kembali dia yang kehilangan kepekaan. Pengelola makam itu hanya mengembalikan kalimat yang dulu pernah diajarkan juru kunci padanya. Maka ingatlah kembali dia akan bakat yang dulu disebutnya kepekaan rasa.

Ketika pengelola makam itu bertetangga dengan makam tanpa nama yang dihuni juru kunci, tahulah ia bahwa tetangganya tak pernah ada di rumah. Itu sebab makamnya kosong. Penghuninya lebih suka jalan-jalan menghirup kenangan dalam aroma kenanga dan menerjemahkannya dalam sebuah cerita.










Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama