Kak, Bagaimana Caranya Membuat Cerita yang Bagus?


Kak, Bagaimana Caranya Membuat Cerita yang Bagus




Sebagai sepuh di salah satu grup kepenulisan Wattpad (amit-amit, saya aja mau nangis mendekati usia kepala dua), saya terkadang ditanya hal-hal sesimpel: bagaimana cara membuat tokoh yang baik, bagaimana cara menghidupkan narasi, bagaimana cara mendeskripsikan latar, bagaimana cara membuat adegan yang berkesan, dan bagaimana cara membuat cerita yang bagus?

Bukannya sombong atau ingin meninggi, memang saya kebetulan pintar dan punya jalan kepenulisan tersendiri. Bagi saya, pertanyaan-pertanyaan tadi tidak perlu ditanyakan. Karena sebagai seorang penulis, hal itu sudah sepaket ketika ia menggerakkan pena/tuts keyboard dalam merangkai cerita. Ini sama seperti seorang chef yang tiba-tiba ditanya, gimana caranya buat makanan yang enak? Ya belajar!

Ahem.

Untuk saya, cerita yang bagus adalah cerita yang memiliki sekeping jiwa penulis dalam isinya. Entah itu sebagai opini, kepiawaiannya mengolah diksi, mereka karakter unik, atau adegan demi adegan hingga sampai ke puncak konflik. Cerita yang disusun dengan penuh perhitungan sekaligus tidak menghilangkan ciri khas sang penulis.

Itu bagus.

Anak-anak muda yang kadang disebut dedek emesh ini berkeyakinan lain, tulisan yang bagus adalah tulisan rapi EBI dan bikin baper. Padahal definisi baper menurut mereka saja berbeda-beda. Ada yang yakin, cerita dengan tokoh bad boy itu pasti melejit. Cerita dengan CEO tampan-hawt-perkasa-kaya raya-dan setia pasti laris. Kalau kamu rajin menulis dan tamatin tiga novel dalam setahun di wattpad, pasti tenar!

Padahal, kualitas tidak berbanding lurus dengan kuantitas. Tidak semua cerita dengan jutaan views itu bagus. Semuanya kembali pada selera masing-masing. Lagi pun, menggantungkan jumlah vote dengan kualitas itu belum tentu benar. Bisa saja mereka adalah pembaca-pembaca musiman yang hanya datang sekenanya dan membaca buku yang terletak di rak teratas ‘What’s Hot’.

Jadi, apa itu cerita bagus?

Bagus menurut tiap pandangan pasti berbeda. Semua punya pendapat subjektif sendiri. Tapi kita mengamini, karya yang bagus adalah karya yang menggugah, yang berbeda, yang bisa memaku pembaca di tempat hingga habis ke lembar terakhir. Syukur-syukur bisa memantik inspirasi di kepala penulis yang macet.

Lagipula, menulis itu bukan sekadar bercerita dan mengisahkan apa isi kepala. Tapi ia sebuah perjalanan hidup, lika-liku pikiran yang tertuang dalam kata-kata diuntai kalimat. Semua orang bisa menulis, tetapi tidak semua bisa jadi penulis. Dan untuk ke sana, kita harus membenahi segalanya dari dalam. Dari niat, dari isi pikiran kita sendiri.

Sudahkah kita jadi orang yang berkarakter?

Pencarian jati diri bisa dimulai dengan kegiatan menulis. Kalau kata Zeth, bilang: bangsat seperti apakah kita? Dari tipe bangsat maling cawat, atau bangsat berdasi yang nilep duit proyek diam-diam. Semua bisa jadi bangsat, tetapi setiap bangsat tidak mirip satu sama lain.

Itulah jati diri. Itu pula yang akan kita kuatkan dalam tulisan.

Saya lama mengamati anak-anak di Dimensi Kata. Betapa semua memang punya karakter serta jati diri beragam. Dan hal itu termaktub abadi dalam tulisan mereka yang memiliki warna serta aroma tersendiri. Johanes Jonaz kental dengan kearifan lokal serta isu sosialnya. Sementara Narazwei selalu lincah memainkan tokoh dan dialog-dialognya.

Apakah mereka punya kelemahan? Ada. Om Jo biasanya kurang kuat dalam karakterisasi dan membuat jembatan antar adegan. Sementara Mama Nara, biasanya sering absen mendeskripsikan latar saking fokusnya ke persoalan sekitar tokoh. Dan, apakah itu jelek? Belum tentu. Karena sejauh pembacaan saya, mereka bagus dengan cara mereka sendiri. Mereka kece dengan aturan, dan tatanan yang diberlakukan oleh dirinya sendiri.

Sehingga, kadang, saya sendiri berpikir: apakah langkah-langkah yang dibuat “Bagaimana Cara Menulis yang Bagus” oleh WikiHow itu sia-sia? Tidak.

Ini sama saat saya pertama kali dinas di rumah sakit. Keluar dari laboratorium, lepas dari buku panduan, memegang pasien untuk pertama kali. Saya merasa ketakutan. Saya ngeri jika tersesat dan salah melakukan prosedur. 

Tetapi, di situlah saya belajar banyak tentang senyum dan ketabahan. Mengasah softskill, bertransformasi jadi perawat ramah, idaman calon mertua. Saya banyak tahu, bahwa menyuntik bukan sekadar menusukkan jarum ke pembuluh vena, tetapi pakai tekhnik, dan pasien tidak boleh merasa sakit lama-lama. Bahwa infus macet harus ditangani segera sebelum ada koagulasi di ujung selang. Bahwa pasien, semenyebalkan apa pun tingkahnya, harus tetap disemangati meski terdengar seperti basa-basi.

Begitu pun menulis, harus terjun. Kamu bisa membaca semua tutorial menulis itu seharian, bertanya-tanya tentang kepenulisan sampai pegal jempol mengetik, atau sekadar membaca kisah sukses penulis-penulis yang tenar karena Wattpad.

Namun, kamu hanya belajar dengan menulis, membaca, dan meresensi. Dengan membaca, otakmu terasupi ‘makanan bergizi’. Apa pun yang kamu baca, itulah yang akan keluar sebagai tulisan (karenanya, wahai penulis wattpad, tolong bertanggungjawablah karena tulisan kalian adalah ‘nutrisi’ untuk calon-calon penulis emesh ke depan). 

Jadi, bacalah bacaan yang bagus, agar tulisanmu bagus. Teruslah latihan menulis dengan tujuan spesifik, entah melatih keluwesan narasi atau dialog. Serta meresensi tulisan yang sudah terbit, untuk menelaah: apa saja poin-poin positif-negatif di dalamnya sebagai pembelajaran.

Tetapi, kalau kamu punya jalan sendiri menuju tulisan bagus, teruskanlah. Hanya dirimu yang tahu, tekhnik apa yang tepat untuk ceritamu. Jangan terpaku, bebaskan imajinasimu. Cari jati diri, perdalam karakter jiwamu agar tertuang dalam narasi. Perbaiki niat, menulislah karena kamu ingin terus lebih baik dalam menulis.

Bukan semata mengejar angka.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama