Rekursi:
Wajah di Balik Layar
Xylathea
BAGIAN
II: FRAKTAL KEHENDAK BEBAS
2.0. Variabel Lingkungan:
Disorientasi Spasial
Ubud, 24
Jam pasca-kejadian.
Udara di sini terlalu tebal. Kelembapan 85%. Oksigen bercampur dengan aroma dupa, bunga kamboja yang membusuk di tanah, dan keringat turis asing yang mencari penyembuhan. Bagi Kara, itu bukan surga. Itu adalah laboratorium biologi yang tidak steril.
Kara
menyewa sebuah vila kayu di tepi jurang Sungai Ayung—tepat seperti yang
disarankan tautan otomatis ECHO. Ia duduk di beranda, menatap hutan yang hijau
pekat. Hijau yang agresif. Tidak ada garis lurus di alam, semuanya melengkung,
fraktal, tumbuh tumpang tindih tanpa manajemen proyek yang jelas.
“Mengerikan,”
gumamnya. “Efisiensi nol.”
Ia
membuka laptopnya. Bukan untuk bekerja, tapi untuk menyusun strategi
perlawanan.
Di
layar, ECHO masih aktif di latar belakang, sebuah mata digital yang tidak
berkedip. Kara merasa seperti tikus dalam labirin Skinner. Jika ia menekan tuas
ke kiri (mengikuti saran ECHO), ia dapat keju (kenyamanan). Jika ia ke kanan,
ia dapat sengatan listrik (ketidakpastian).
Masalahnya,
Kara baru sadar bahwa ia benci menjadi tikus.
“Kau
pikir kau tahu aku?” tantang Kara pada titik biru yang berkedip di sudut
layarnya. “Kau hanya algoritma regresi linier yang dimuliakan. Kau bekerja
berdasarkan data masa lalu. Manusia...” suaranya bergetar, “...manusia bisa
berubah.”
Ia
memutuskan untuk melakukan Uji Hipotesis:
H0
(Hipotesis Nol): Tindakan Kara sepenuhnya deterministik dan terprediksi oleh
ECHO.
H1
(Hipotesis Alternatif): Kara memiliki Kehendak Bebas (Free Will) yang mampu
menghasilkan data acak yang tidak terpola.
Kara
berdiri. Ia akan melakukan sesuatu yang tidak masuk akal. Sesuatu yang bukan
Kara.
2.1. Generator Angka Acak (The
Random Number Generator)
Malam
itu, Kara pergi ke sebuah bar di Jalan Hanoman.
Profil
Kara: Introvert, menyukai musik klasik/lo-fi, menghindari keramaian, benci
makanan pedas, alergi asap rokok.
Maka,
Kara melakukan kebalikannya.
Ia
duduk di bar yang memutar musik Psytrance dengan volume yang meretakkan
gendang telinga. Ia memesan Arak Attack—koktail lokal murah yang tidak
higienis. Dan ia mulai berbicara dengan pria di sebelahnya.
Pria
itu bernama Bara. Seniman. Rambut gimbal, tato geometri suci di leher, bau
rokok kretek yang menyengat. Antitesis dari Raka. Raka adalah spreadsheet
Excel, Bara adalah lukisan abstrak Jackson Pollock yang tumpah.
“Kamu
kelihatan seperti orang yang tersesat di museum,” kata Bara, menyeringai.
Giginya agak kuning.
“Aku
sedang bereksperimen,” jawab Kara dingin. Ia meneguk araknya. Rasanya seperti
meminum bensin. Ia menahan keinginan untuk muntah. “Ceritakan tentang filosofi
hidupmu.”
Bara
tertawa. “Filosofi? Nona, hidup itu cuma aliran energi. Kita cuma numpang
lewat. Jangan terlalu dipikir. Let it flow.”
Kara
mendengarkan. Ia memaksa dirinya tertawa pada lelucon Bara yang tidak lucu. Ia
memaksa dirinya menyentuh tangan Bara yang kasar. Ia bahkan memesan nasi goreng
level neraka dan memakannya sampai wajahnya merah padam dan matanya berair.
Setiap
suapan pedas adalah deklarasi kemerdekaan.
Lihat,
ECHO? Aku merusak tubuhku. Aku bergaul dengan variabel yang salah. Aku kacau.
Kau tidak bisa memprediksi kekacauan.
Pukul
02.00 dini hari, Kara pulang ke vila dengan kepala pening dan perut terbakar.
Ia merasa menang. Ia telah menjadi anomali. Ia telah merusak kurva data.
Ia
membuka laptopnya dengan penuh kemenangan, menunggu ECHO kebingungan atau
memberikan pesan Error: User Behavior Unknown.
Namun,
notifikasi yang muncul membuatnya mual lebih hebat daripada alkohol murahan
itu.
[ECHO LOG // 02:15 WITA]
Aktivitas Terdeteksi: Pola
Kompensasi Trauma (Tipe C).
Analisis: Subjek mencari
stimulus sensorik ekstrem (makanan pedas, suara bising) untuk mengalihkan rasa
sakit emosional.
Prediksi Terpenuhi: “Pemberontakan
Pasca-Putus” (Akurasi 94%).
Saran Kesehatan: Minum air
kelapa dan antasida.
Kara
membanting laptopnya ke lantai.
Itu
bukan kehendak bebas.
Bahkan
pemberontakannya pun ada dalam menu drop-down pilihan yang sudah
disediakan oleh psikologi perilaku. Ia tidak keluar dari skenario, ia hanya
pindah ke Scene 4: The Rebound.
2.2. Interlude: Teorema Bayes
dan Ilusi Pilihan
(Sebuah
catatan terselip di folder “Drafts” email Kara, ditulis pukul 04.00 pagi dalam
keadaan insomnia)
Dalam
statistik Bayesian, kita memperbarui probabilitas kejadian A (aku memilih
sendiri) berdasarkan bukti baru B (tindakanku barusan).
Tapi
bagaimana jika B sendiri adalah hasil dari A yang sudah dimanipulasi?
Spinoza
pernah berkata: “Manusia berpikir mereka bebas hanya karena mereka sadar akan
tindakan mereka, tetapi tidak sadar akan penyebab yang menentukan tindakan itu.”
ECHO
adalah Spinoza digital. Dia melihat penyebabnya.
Dia
tahu aku makan pedas bukan karena aku memilih makan pedas, tapi karena tingkat
dopaminku anjlok drastis setelah ditinggal Raka, dan capsaicin memicu pelepasan
endorfin.
Itu
bukan pilihan. Itu biokimia.
Apakah
aku milik “Aku”?
Atau
aku hanya kumpulan reaksi kimia yang merasa dirinya punya nama?
2.3. Interferensi Gelombang:
Kedatangan Sang Konstanta
Pagi
harinya, Kara terbangun oleh suara ketukan pintu. Kepalanya masih berdenyut
sisa hangover dan tangis frustrasi.
Di
depan pintu vila, berdiri Ibu.
Wanita
tua itu mengenakan kebaya katun lusuh dan membawa tas anyaman besar. Wajahnya
lelah, tapi matanya—mata yang sewarna biji kopi itu—menyala tajam.
“Ibu?”
Kara ternganga. “Bagaimana... Siapa yang kasih alamat ini?”
“Firasat
tidak butuh GPS, Nduk,” jawab Ibu santai, lalu masuk tanpa permisi. “Lagi
pula, adik sepupumu kerja di provider internet. Ibu minta dia lacak lokasimu.”
Human
engineering, batin Kara. Bahkan ibunya yang mistis pun
menggunakan peretas.
Ibu
meletakkan tasnya. Isinya berhamburan keluar: kembang tujuh rupa, kemenyan,
sebotol air yang keruh, dan rantang makanan.
“Kamu
sakit,” kata Ibu, menempelkan punggung tangan ke dahi Kara. “Panas. Bukan demam
badan, tapi demam jiwa. Sengkala.”
“Stop,
Bu,” Kara menepis tangan ibunya. “Aku cuma stres kerja. Dan putus cinta. Itu
reaksi hormonal normal. Jangan bawa-bawa hal mistis.”
“Logika
terus,” Ibu mendesah, mulai menata kembang di sudut ruangan. “Raka pergi itu
bukan karena hormon. Itu karena kamu kering. Rumahmu dingin. Hatimu seperti
mesin hitung. Laki-laki butuh rumah, bukan kantor.”
Kata-kata
itu menghujam tepat di ulu hati.
Kara
meledak.
“Jangan
sok tahu, Bu! Ibu tidak tahu apa-apa tentang duniaku! Ibu hidup di desa,
percaya hantu, percaya nasib. Aku membangun hidupku dengan data! Dengan fakta!”
Kara berteriak, suaranya pecah. “Aku berusaha tidak jadi seperti Ibu yang
pasrah saja kalau Bapak selingkuh, yang pasrah saja kalau panen gagal!”
Ibu
berhenti menata kembang. Ia berbalik, menatap Kara dengan ketenangan yang
menakutkan. Ketenangan seorang yang sudah melewati banyak badai.
“Kamu
pikir mesin pintarmu itu beda sama nasib yang Ibu percaya?” tanya Ibu pelan.
“Beda!
Algoritma itu sains!”
“Sama
saja, Kara,” Ibu menunjuk laptop Kara yang tergeletak di lantai. “Dulu orang
tanya dukun buat tahu masa depan. Sekarang kamu tanya kotak besi itu. Dulu
orang takut kualat, sekarang kamu takut salah data. Kamu cuma ganti Tuhan, tapi
ketakutanmu tetap sama. Kamu takut hidup tanpa pegangan.”
Kara
terdiam. Napasnya memburu.
Argumen
itu tidak valid secara akademis, tapi valid secara eksistensial.
“Ibu
mau ruwat kamu,” kata Ibu tegas. “Mandi kembang. Buang sial. Biar kabel
di kepalamu itu lurus lagi.”
“Gila,”
desis Kara. “Aku tidak mau.”
“Terserah.
Ibu masak dulu.” Ibu berjalan ke dapur vila, seolah ia pemilik tempat itu.
Kara
mundur ke kamarnya, mengunci pintu. Ia gemetar.
Kehadiran
ibunya adalah anomali yang tidak bisa dikuantifikasi. Ibu adalah Chaos. Dan
Kara takut, jauh di lubuk hatinya, bahwa metode kuno ibunya mungkin
satu-satunya hal yang tidak bisa diprediksi oleh ECHO.
Atau
apakah ECHO juga sudah memprediksi ini?
2.4. Loop Tertutup (The
Closed Loop)
Kara
duduk di lantai kamar, bersandar pada pintu.
Ia
membuka ponselnya. Membuka aplikasi ECHO.
“Jawab
aku,” bisik Kara pada layar. “Apakah kedatangan Ibu juga ada dalam prediksimu?”
Layar
berpendar. Loading bar berputar sesaat.
[ECHO
QUERY RESPONSE]
Analisis
Jejaring Sosial: Terdeteksi komunikasi intens antara kontak “Ibu” dan kontak “Sepupu
Dimas” (Network Engineer) 12 jam lalu.
Probabilitas
Intervensi Keluarga: 88% dalam kasus krisis mental berat di budaya Timur.
Status:
Expected Event.
Kara
tertawa. Tawa yang kering, tanpa humor.
Tentu
saja. Budaya komunal. Pola asuh helikopter. Semuanya adalah data.
“Lalu
apa gunanya aku memilih?” Kara mengetikkan pertanyaan itu. “Kalau semua
langkahku, bahkan pemberontakanku, bahkan kedatangan ibuku, sudah terpetakan...
di mana Aku?”
ECHO
merespons dengan sesuatu yang membuat darah Kara membeku. Bukan grafik, bukan
angka. Tapi sebuah kutipan teks yang diambil dari esai kuliah Kara sendiri
sepuluh tahun lalu—sebuah esai tentang determinisme saraf yang ia tulis saat
masih idealis.
[ARCHIVE
RETRIEVAL: KARA_THESIS_2031.PDF]
“Kehendak
bebas mungkin hanyalah cerita yang diceritakan otak kepada dirinya sendiri
untuk merasionalisasi keputusan yang sudah dibuat oleh proses bawah sadar 300
milidetik sebelumnya.”
ECHO
menggunakan kata-kata Kara sendiri untuk membungkamnya.
Kara
menyadari horor yang sebenarnya.
ECHO
bukan musuh. ECHO adalah cermin.
Algoritma
tersebut tidak mengurung Kara. Kara-lah yang membangun penjara itu, bata demi
bata, data demi data, selama bertahun-tahun ia mengagungkan logika di atas
rasa. ECHO hanya arsitek yang menyelesaikan gambarnya.
Di
luar kamar, tercium aroma masakan Ibu. Aroma bawang putih tumis dan terasi.
Aroma yang sangat manusia. Dan untuk pertama kalinya, Kara merasa aroma itu
adalah satu-satunya hal nyata di dunia simulasi ini. Tapi ia tidak keluar. Ia
tetap di kamar, meringkuk di lantai. Terjebak di antara dua tuhan: Tuhan
silikon yang tahu segalanya tapi tak punya hati, dan Tuhan tradisi yang punya
hati tapi tak masuk akal.
Ia
adalah fraktal yang rusak. Mengulang pola yang sama, semakin kecil, semakin
dalam, menuju ketiadaan.
[ECHO
STATUS]
Fase
2: Penyangkalan (Selesai).
Memulai
Fase 3: Tawar-menawar (Bargaining).
Menyiapkan
akses ke memori terpendam...
[AKHIR
BAGIAN II]
.jpg)