Kona




Dangau itu menjadi saksi bisu bangkit dan runtuhnya sebuah kepercayaan. Mambang kuning menggelimantang. Mengubah segala warna pada raga si gadis yang menunggu petang. Rambut ikalnya tak lagi dikepang dua seperti biasa. Terurai, seperti rasanya pada lelaki yang menasbihkan dirinya sebagai kegelapan. Lantas mengumpamakan si gadis seperti bintang.
Dalam lamunan, gadis itu mulai paham mengapa lelaki itu memanggilnya Star. Bukan karena dia terpengaruh dengan bahasa para kolonialis di negerinya. Namun karena sebuah alasan yang saat ini ia genggam.

Sebelumnya ia begitu bangga ketika seluruh warga kampung memanggilnya begitu. Kini ia merindukan nama kecil pemberian almarhum kedua orang tuanya. Sayang, ketika ia menginginkan semua orang kembali menyebutnya Siti, mereka hanya mengecimus. Mereka bilang nama itu sudah tak sejalan dengan zaman. Tetapi sebuah nama ada bukan tanpa sebab. Nama adalah pertanda segalanya.

Senja merangkak turun. Haruskah Star mengubah namanya menjadi Siti? Kembali pada nama yang dianggap kuno bagi masyarakat? Dan melanggar sumpah setianya pada lelaki yang menamainya?
Desas-desus tentang hubungan Star dengan lelaki yang terpaut dua dasawarsa itu memang bukan warta baru. Gadis pemilik lahan tembakau yang tak pernah memperhatikan penampilannya itu justru mengalihkan dunia Mastarawijono. Duda yang nyaris berkepala empat di tahun depan. Mereka sering menghabiskan waktu bersama di penghujung terang di dangau ini. Dialah orang yang mengubah Siti menjadi Star, dan mewartakannya pada dunia.

“Apa been yakin bik keputusan jieh, Bing[1]?(Apa kamu yakin dengan keputusanmu?)” Sentuhan lembut terasa di pundaknya. Membuat Star harus menjawab penuh kepastian.

“Nggih, Paklik.”

“Been gik tak yakin, Bing. (Kamu masih belum yakin.)”

Star tertunduk. Ia kembali menyibukkan diri melinting kertas papir[2] yang diisi rajangan tembakau kering dan bubuk kemenyan. Sekeras apa pun ia menutupi, tak mungkin bisa membohongi Paklik Togog. Lelaki sepuh yang ditakuti seluruh penduduk Dusun Bengkonang. Lelaki yang selama tujuh belas tahun membesarkannya dengan penuh kasih, meski masyarakat menggelarinya Dukun Santet Bengkonang.

“Paklik tak perlu menerawang isi hati dan pikiranmu. Cukup melihat berapa kali kau menyelipkan rokok di telinga, aku sudah tahu berapa persen keraguanmu, Bing.”

“Benarkah Mas Raw yang melakukannya, Paklik? Aku masih tak percaya dia yang sudah menyantet bapakku dan menimpakan kesalahannya pada Paklik.”

“Paklik tak menyuruhmu untuk memercayai. Carilah bukti dulu. Lagi pula, mungkin sudah kutukan dari zaman baheula jika yang bernama Togog selalu digelapkan.”

“Paklik pasti tahu ini sejak lama. Lantas kenapa Paklik membiarkanku selalu dekat dengan Mas Raw?”

“Karena aku tahu hatimu mengarah ke mana. Jangan telan mentah-mentah perkataan Mukiyo. Sepertinya dia sudah berhasil memengaruhimu, Bing. Harusnya kau lihat berapa gadis yang sudah termakan gombalan Mukiyo. Pemuda sontoloyo itu terus mengincarmu sekarang.

“Jika kau memang ingin mencari bukti, malam inilah saat yang tepat. Lelaki yang kau sayangi itu akan membuka sebuah ruangan di malam purnama setiap bulan Rebba[3]. Kau akan dapatkan buktinya di sana. Tak akan ada warga yang memerhatikanmu memasuki rumah Mastarawijono. Mereka terlalu sibuk menyiapkan keperluan upacara Ghadisa[4]. Tapi ingat, Bing, apa pun hasilnya jangan kau membencinya atau bahkan membenci dirimu sendiri. Karena sesungguhnya baik buruk itu hanya soal sudut pandang.”

Paklik Togog kembali mengenakan caping gunung dan menutupi sebagian wajahnya dengan cadar hitam. Menyembunyikan mata juling dan bibir sumbingnya. Lantas meninggalkan Star dalam kebimbangan.
Gadis itu terus menyelitkan rokok lintingannya di kedua telinga. Jatuh, ia selipkan kembali. Semakin petang, bertambah gusarlah dia. Bagaimana jika benar lelaki yang diam-diam ia sayangi itu memang membunuh bapaknya dengan cara yang tak lazim?

Sudah banyak bukti yang mengarah pada Raw. Tetapi hal mendasar yang membuat nyali Star menciut justru hanya berupa nama panggilan. Raw selalu memaksa Star memanggilnya Rau. Bukan dengan akhiran huruf w tapi u. Sungguh itu bukan nama yang indah untuk diucapkan.

Dalam setiap nama, terselip keinginan sang pemberi nama. Sedangkan Star tak pernah menginginkan Raw berubah menjadi Rau. Sosok raksasa penelan cahaya yang selalu dikisahkan bapaknya semasa kecil. Anehnya, hanya dongeng itulah yang masih menancap hingga kini.

Kebahagiaan hakiki itu muncul ketika dunia menasbihkanku sebagai kegelapan. Dalam rengkuhanku, engkau jauh lebih bersinar.

Semakin diingat, kalimat Raw semakin menimbulkan tanya. Akankah Raw menelan kehidupan Star, jika gadis itu tahu yang sebenarnya? Atau dia cukup berdiam diri saja, pasrah dan mengabaikan segala bukti tanpa harus melihatnya sendiri?

“Belum tentu ia yang melakukannya. Hanya masuk ke dalam ruangan itu tak akan membuatnya membenciku.”

Star meyakinkan diri dan beranjak dari dangau tepat setelah azan magrib berkumandang. Lampu warna-warni gemerlapan di kanan-kiri jalan perkampungan. Setiap teras rumah yang ia lalui, tampak ramai warga yang mempersiapkan sesaji untuk menyambut acara puncak Ghadisa.

Dugaan Star, Raw sibuk mempersiapkan diri. Sebab malam ini akan ada arak-arakan pertunjukkan tarian sakral dimulai dari lapangan desa. Sedangkan Raw satu-satunya penari yang tak bisa digantikan. Tanpa kehadirannya, ritual ini tak akan sempurna.

Sejak perkenalannya lima tahun lalu, Star selalu terpesona di kala Raw menarikan salah satu tarian sakral saat purnama bulan Rebba. Ia merasakan aura magis menyelimuti Raw di balik tarian Topeng Kona[5]-nya. Kesakralannya begitu terasa ketika setiap kali Raw menari, purnama selalu hilang ditelan mendung gelap. Menambah kelamnya suasana malam.

Pernah suatu ketika Star menanyakan mengapa hanya Raw yang selalu menarikan Topeng Kona. Star ingat Raw menjawab dengan senyum penuh arti bahwa bapaknya yang menginginkan. Dan kelak jika Raw menginginkan anaknya menggantikan posisinya, maka kemampuan itu akan menghilang sendiri dari tubuh Raw.

“Lah siap, Bing? Dimmah sajhennah?(Sudah siap, Nak? Mana sesajimu?)” Sapaan dari wanita paruh baya menyadarkan lamunan Star.

“Gik tak kabbi, Mak, perak rokok messel se lah siap. (Belum semuanya, Mak. Baru rokok lintingan ini yang sudah siap.)” Star menunjukkan tas plastik hitam.

“Majuh, reng oreng lah berangkat ka lapangan dhisah. (Ayo, orang-orang sudah berangkat ke lapangan desa.)”

“Mak jelen kadek beih. (Mak duluan saja.)”
Beberapa wanita dan anak-anak berkerudung mengikut di belakang wanita paruh baya itu. Masing-masing dari mereka membawa penampan bambu berisi macam-macam jajanan pasar.

Star berbelok ke jalan setapak yang kanan-kirinya dihiasi rumpun bambu kuning. Aroma bunga kenanga dan kantil sudah menyambutnya. Gadis itu berhenti sejenak, mengambil beberapa kuntum kenanga dan kantil untuk melengkapi sajennya. Dari tempatnya, Star melihat Paklik Togog sibuk menyiapkan sesuatu di teras rumah.

“Assalamualaikum, Paklik.” Star mencium tangan kanan lelaki tersebut seperti biasa.

“Bagaimana keputusanmu, Bing?”

“Aku siap, Paklik.”

“Apa yang akan kau lakukan jika benar dia melakukan perbuatan itu?”

“Aku akan menuntut balas, Paklik.”
Paklik Togog justru terkekeh. “Bagaimana caramu? Ilmu bela dirimu masih payah, Bing. Sedangkan dia jauh di atasmu. Ditambah lagi dia keturunan Mbah Singo, leluhur desa ini yang terkenal sakti. Bukan hanya kemampuan menarinya saja yang diturunkan, tapi ilmu kanuragannya juga.

“Berapa kali sudah kuperingatkan untuk terus mengasah kemampuanmu? Tapi jawabanmu hanya, ‘nanti, Paklik; besok, Paklik; aku capek, Paklik’, malas kok dibudidaya.”

“Tapi aku masih punya akal, Paklik. Minimal aku tahu kelemahannya.”

“Pergilah sekarang, Bing. Hati-hati.”

“Aku akan segera kembali sebelum Mas Raw mulai menari.”

“Berikan sesaji ini padanya sebelum kau menyelinap.”

Star menerima tampah yang hanya berisi kembang tujuh rupa dengan irisan pandan, kemenyan, beras kuning dan anglo kecil beserta arangnya. Star menambahkan  rokok lintingannya di atas anglo.

“Aku menunggumu di bawah pohon beringin belakang rumah Mastarawijono.”

Star mengangguk. Bergegas ia berangkat. Benar dugaannya, di sana sudah ramai. Pinisepuh berkumpul di beranda rumah Raw yang berada tepat di barat lapangan desa. Bagaimana caranya ia bisa menyusup? Sedangkan satu-satunya pintu hanya ada di depan.

Dengan penampan yang dibawa, ia punya alasan untuk menemui Raw. Dari kejauhan, Star melihat lelaki yang tampak muda dari usianya itu sedang berdiri dan melambai padanya. Star merasa menjadi pusat perhatian para tetua ketika Raw menjemput dan mengajaknya ke dalam rumah.

“Mas, ini sajen yang sampean butuhkan.” Star menyodorkan bawaannya pada Raw.

“Ah, terima kasih. Tunggu dulu di sini, sebentar saja. Nanti kita berangkat bersama. Jangan jauh-jauh dariku.” Lelaki dengan beskap hitam dan sarung motif ketela itu mengelus lembut rambut Star, kemudian menyulut rokok lintingan buatan Star. “Racikanmu selalu nikmat, Star.”

Mata Star terus mengawasi langkah Raw ke bilik paling belakang. Sebelum memasuki ruangan, Raw tampak membuka salah satu daun jendela kupu tarung yang mengarah ke halaman belakang. Gadis tinggi semampai itu nyaris tak mampu bernapas. Ia berharap Raw tak memperhatikan bayangan hitam di bawah beringin.
Apa yang dilakukan Raw di dalam bilik, mengundang rasa penasaran Star. Beruntung seorang tetua meminta tolong padanya untuk memanggil Raw. Namun belum sempat ia melirik bagian dalam ruangan tersebut, Raw sudah muncul di hadapannya.

“Kenapa begitu gugup?”

“Ah, hanya kaget Mas. Sampean tiba-tiba muncul sebelum aku mengetuk pintu. Ehm ... mereka sudah menunggu sampean untuk memulai acaranya.”

Raw mengangguk. Ia pun menggandeng tangan Star menuju beranda. Bagaimana ia sanggup menyakiti lelaki yang selama ini menghidupinya? Tanpa Raw, mungkin Star tak akan pernah mengenyam pendidikan hingga jenjang menengah atas seperti teman-teman sebayanya. Lelaki itu telah mengangkat derajatnya bahkan memberikan berhektar-hektar lahan tembakau untuk Star.

Hubungan beda usia sungguh hal yang lumrah di kampungnya. Banyak kawan-kawan Star yang rupawan menjadi istri ke sekian atau hanya simpanan dari para pejabat desa dan tuan tanah. Meski dilihat dari rentang umurnya lebih pantas dianggap mbah daripada suami. Paceklik ekonomi berkepanjangan sungguh membuat siapa pun harus bertahan hidup, termasuk Star.

Sesungguhnya Star merasa beruntung. Raw sama sekali tak membatasi pergaulannya. Hanya saja, ia tahu jika kaki tangan Raw selalu mengawasi di setiap langkahnya.

“Kau memikirkan apa?” Pertanyaan itu mengembalikan kesadaran Star.

“Tak ada, Mas.”

“Jangan kira aku tak tahu kalau sedari kau datang, pikiranmu melayang ke mana-mana.”

“Sampean seperti dukun, Mas.” Star menyunggingkan senyum. Menambah ayu wajah manisnya yang dihiasi tahi lalat di bawah bibir.

“Aku lebih sakti dari dukun mana pun, Star. Menurut penerawanganku, sejak tadi kamu tak sadar jika pakai sandal beda pasangan.”

Merah padamlah muka Star ketika ia melihat sandal yang dipakainya memang tak sepasang. Sebelah kiri adalah terompah milik Paklik Togog. Raw terkekeh-kekeh dan mengelus punggung Star.

“Ambillah sandal di dekat jendela belakang.”

“Mas Raw berangkat saja dulu. Nanti aku menyusul.”

Star bernapas lega saat Raw menuruti kemauannya. Ia sudah berjalan bersama rombongan pinisepuh berpeci menuju tempat selamatan. Acara akan dimulai, Star harus menggunakan kesempatan emas ini.
Setengah berlari Star menuju bilik yang ia curigai sebagai tempat praktik ritual perdukunan. Aneh, pintu itu tak terkunci. Padahal dia yakin melihat Raw menguncinya tadi. Star ragu, jangan-jangan ada orang di dalam. Ia perlahan mundur dan merasa menabrak sesuatu. Sayang, sebelum ia sempat berbalik, pukulan benda tumpul di kepala bagian belakang membuat Star tak sadarkan diri.

“Ini demi kebaikanmu.” Hanya itu kalimat terakhir yang Star dengar dari sosok berjubah hitam.

Harum kembang bercampur kemenyan bakar membangunkan Star di dalam ruangan gelap selebar empat hasta. Sumber cahaya satu-satunya hanya terang purnama yang menyorot dari genteng kaca. Kepalanya masih pening akibat pukulan dari orang tak dikenal.

Tak ada petunjuk apa pun Star berada di mana. Di sekitarnya ada anglo besar yang sudah mengepul; tampah berisi aneka rempah, bunga, kemenyan, botol kecil berisi minyak, potongan bambu pethuk[6], kendi, tasbih dan sebuah keris yang berdiri tegak. Namun kotak kayu hitam usang di sudut ruangan, lebih menarik perhatian Star.

Dia memberanikan diri membuka kotak. Ternyata isinya hanya seperangkat pakaian tari Topeng Kona. Tahulah dia di mana sekarang berada. Star segera membongkar seluruh isi peti. Ia menemukan lembaran catatan lawas.

“Aku berharap catatan ini memberikan petunjuk tentangnya.”

Star mencoba meraba kata demi kata yang sulit ia pahami. Selain bahasanya kuno, tulisannya pun agak memudar. Di tambah lagi minimnya pencahayaan. Mulut Star terus membaca hingga akhir kalimat di lembar terakhir.

Ia mulai merasakan suhu udara menurun. Degup jantung Star bertambah cepat manakala asap dari anglo membentuk sesosok singa berjalan mengitarinya. Perlahan-lahan sosok singa mewujud menjadi lelaki berjenggot.

“Kau selanjutnya, Cucuku.”

Seketika seluruh ruangan dilingkupi asap. Sesuatu terasa memaksa masuk melalui ubun-ubun Star. Begitu berat hingga dia tersungkur dan berteriak kesakitan. Mulutnya komat-kamit merapal semacam mantra. Bola matanya berubah kelabu. Tangannya menggerayang, menarik tampah sesaji hingga tumpah. Star menjumputi kembang, mengunyah dan menyemburkannya.

Star sadar apa yang dilakukan, tetapi sesuatu telah mengendalikan raganya. Sekarang ia dituntun untuk mengenakan pakaian yang ia temukan dalam kotak hitam. Pada saat tangannya meraih topeng, Star berusaha melakukan penolakan. Harusnya bukan Star yang melakukan ini. Terlambat, dialah yang terpilih.

Pintu dibuka paksa dari luar. Beberapa orang terkejut melihat penampakan Star, termasuk Raw. Lamat-lamat gending Pas-kapasan seolah memanggil raga Star untuk mendatangi sumber suara tersebut. Ia menyeruak kerumunan di ambang pintu. Berlari ke lapangan desa yang dipenuhi warga Desa Blimbing Wuluh.

Sungguh penampilan Star menarik perhatian semua orang. Mereka segera menyingkir, memberi jalan gadis itu menuju bagian tengah lapangan. Di sana Star disambut tetua adat yang membawa pedupaan dan memantrainya. Topeng yang semula digenggam, terpaksa harus ia kenakan. Star tak punya daya untuk menolak. Dia menari dengan penuh kegagahan mengikuti alunan syahdu gending Pas-kapasan. Saat itulah purnama yang tadinya bersinar, hilang ditelan awan gelap.

Ketika alat musik tak lagi berbunyi, Star lambat laun mendapatkan kesadarannya kembali. Ia melihat sekeliling dari balik topeng. Begitu senyap. Star benar-benar tak sadar apa yang telah ia perbuat hingga mampu membungkam seisi desa. Satu hal yang ada dalam benaknya saat ini, menghilang dari semua yang mengenalnya. Berlarilah Star ke arah hutan sengon di timur lapangan. Banyak orang yang memanggil dan berusaha mengejarnya. Star tak peduli.

“Siti Mastariyah! Berhenti, Star! Berhenti sayang!”

Nama itu .... Suara itu .... Langkah Star sontak terpasak dengan bumi begitu mendengarnya. Seumur hidupnya ia tak tahu kepanjangan huruf M di belakang nama Siti dalam akta kelahirannya. Begitu pun huruf M di depan nama bapaknya. Tetapi lelaki yang memanggilnya barusan ....

“Sudah kuduga kau akan kecewa jika mengetahuinya. Tapi Paklik Togog terus mendesakmu mencari kebenaran, bukan? Pasti dia pula yang memaksamu memasuki ruanganku.”

Star tak sanggup menoleh. Ia malu pada dirinya sendiri. Bahkan mulai detik ini, ia takut melihat bayangannya dalam cermin.

“Bintang kecilku lebih bersinar dalam kegelapan. Mereka akan menghormatimu sekarang. Seperti mereka memuja leluhur kita.”

Tanpa menjawab, Star kembali berlari menuju dangau kesayangannya. Seorang lelaki bercaping telah menunggunya.

“Apa yang kau dapatkan, Bing? Masih sanggupkah kau membunuhnya?”

Tangis Star pecah. Ia lepas segala atributnya dan meringkuk di sudut dangau.

“Kenapa Paklik melakukan semua ini padaku?!”

“Hanya itu satu-satunya cara agar kau tahu dengan siapa kau berhubungan. Dia telah melepaskan kekuatannya untukmu. Kau yang terpilih melanjutkan tradisi. Bersinarlah dalam kegelapan.”

Star menggerung. Ia masih tak menyangka bahwa rasanya pada Raw bukan pada tempatnya.

*******

Catatan kaki:
1. Bing = Singkatan dari Jebbing. Sebutan kepada anak perempuan dalam bahasa Madura.
2. Kertas papir = Kertas yang dipakai untuk membuat rokok
3. Rebba = Sya’ban dalam tradisi Madura
4. Ghadisa = Ritual Bersih Desa yang berisi selamatan untuk roh leluhur dan ucapan syukur pada Sang Pencipta atas hasil bumi selama setahun.
5. Kona = Kuno (dalam bahasa Madura)
6. Bambu pethuk = Bambu yang memiliki ruas saling bertemu dan memiliki tuah tersendiri




Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama