-->

Senin, 04 Mei 2020

author photo
bentar Dibaca
Namanya Fabian, lahir dengan terpaksa di sempitnya gang pinggiran Medellin yang becek. Ia bebal sejak menjadi janin, susah mampus ketika sang ibu mencoba berkali-kali mengenyahkannya dari perut. Dipukul, dicekik obat-obatan, diracun reramuan, nyawanya tak kunjung minggat. Fabian laksana seekor curut kecil yang  keras kepala, ingin merasai debu beserta pahitnya hidup serampangan warisan kemiskinan.  Ketika lahir, mata kanannya tidak bisa membuka, singkatnya dia harus memandang segala sesuatu dengan sebelah mata.

Bapaknya mungkin sosok di antara begal tengik tukang mabuk yang suka kencing sembarangan di tempat ibadah kalau kebetulan lewat atau para pengedar obat setan yang akhirnya mampus dengan barangnya sendiri. Mungkin juga gelandangan di Comuna yang sisa hidupnya sibuk menggaruk selangkangan akibat raja singa. Fabian semakin tidak peduli tentang siapa yang harus bertanggung jawab terhadap sosok seorang ayah. Ia hanya penasaran, seberengsek apa makhluk yang berperan akan keberadaannya di bumi yang sebelah ini. 

Ibunya susah payah berusaha membunuh Fabian ketika Tuhan terlanjur meniupkan ruh di perut jalang itu lantas mati ketika Fabian dibetot keluar. Nama ibunya Maria. Di umur 11 Fabian membaca lagi cerita tentang seorang anak yang tidak mempunyai bapak dan terlahir dari wanita suci bernama seperti ibunya. Ia mulai menghormati sang ibu yang ia anggap suci dengan caranya sendiri dan tak pernah tahu, nanti, di umur belum genap 21 tahun ia akan mati ditusuk pelacur murahan di Cali yang juga bernama Maria.


Fabian kecil diurus oleh bibinya, Tacita, yang tinggal di El Pesebre. Kawasan kumuh yang disesaki orang tua brengsek susah mati. Para pemuda di pemukiman itu terbilang jarang karena mereka biasanya segera bergegas angkat kaki dari kandang-kandang yang bertingkat itu. Mereka pergi ke kota-kota besar seperti Bogota, Cartagena di pesisir utara atau Santa Marta dengan pantai-pantainya yang elok. Dengan kepala tanpa hantaman bangku tinggi sekolahan, dan lingkungan yang terus mengisap kewarasan, mereka minggat dan kebanyakan menjadi pengedar narkotik, merupa kriminal kelas coro, atau para wanitanya yang berwiraswasta tubuh di Medellin. 

Adapula teman Fabian yang berhasil menjadi bintang porno terkenal dan menjadi nomor 1 di situs bagian Timur Tengah (Fabian mengamuk sewaktu pertama mendengar kabar itu). Tidak aneh untuk menjadi pertama di area padang pasir penuh sultan berminyak, karena Latinas sudah duluan menjadi menu dambaan dengan kurva gadis-gadisnya yang aduhai sebelum para jelita dari Negeri Matahari Terbit berinvasi dengan kemolekan kulit laiknya boneka hidup dengan erangan atau bahasa planet lain.  

Suatu ketika, Fabian kecil mengadu sambil meratap kepada bibinya bercerita bahwa di sekolah dia selalu diejek chico zorra barato”. Bibinya malah membentaknya, “Ibumu memang pelacur sialan, kenapa dia harus mati dan meninggalkan beban beserta kotorannya kepadaku!” Tangannya sambil menunjuk-nunjuk langit, lantas meludahi lantai dapurnya sendiri. “Ingat, kau harus berguna untukku nanti, persetan kau akan jadi bangsat macam apa nantinya, pokoknya berguna untuk kehidupanku!” Lalu giliran kepala Fabian yang ditoyor gagang sapu. Tentu saja Fabian tidak pernah dibentak paman, suami bibinya itu buronan polisi lantas minggat bersama temannya ke Bangladesh dari sejak lampau gara-gara menusuk majikannya. Bibi Tacita menceritakan hal itu sambil mengumpat Tuhan dan meludahi meja makan.

Dari itu Fabian berencana membunuh teman-temannya di sekolah yang sudah mengoloknya, lalu mungkin akan kabur ke Bangladesh untuk berkoloni dengan sang paman. Dia bahkan akan melukai guru sejarah yang selalu berkata dan bertindak kasar kepadanya. Pokoknya semua, kecuali Casilda. 

Casilda adalah gadis baik yang mau membagi kembang gula pada Fabian untuk sekadar menjilatinya (Fabian suka menjilat bekas lidah Casilda pada permen itu). Ia tidak pernah mengejek ‘babi mata satu’, dan yang paling membahagiakan adalah ketika mereka sama-sama berlarian mengejar tikus yang suka kaget dari saluran pembuangan di pinggir gang. Bahkan di suatu hari pada perjalanan pulang Fabian meminta Casilda untuk menjadi istrinya kelak. Bocah perempuan yang masih bau bedak bayi itu nyengir dan mengangguk-ngangguk. 

Maka ketika dia nekat memberanikan diri membuka situs porno untuk pertama kalinya di kafe internet demi mengobati kerinduannya kepada paras Casilda, dia langsung membanting keyboard ke monitor yang sedang menyalakan video satu-satunya gadis yang ia sayangi di dunia ini sedang digerayangi oleh tangan dan bibir orang-orang hitam sialan dengan kemaluan yang tidak wajar besarnya. Malam-malam seperti itu akan selalu berakhir di pelukan seorang pelacur dan booze murahan yang kentang.

Di umur tiga belas, akhirnya Fabian angkat kaki dari rumah bibinya seperti kebanyakan jejaka di El Pesebre. “Jangan lupakan aku, bocah sialan, aku yang mengurus kotoranmu sejak dari kau masih sepert bayi tikus. Kirimi aku duit!” seruan Bibi Tacita sambil mengangkat spatula. 

Fabian berangkat bersama seorang tetangga rumahnya, seorang montir yang sedang mudik dari Medellin. Belakangan Fabian tahu montir bangsat itu suka meniduri bibinya ketika istrinya lengah. Kelak Fabian sempat memikirkan hal itu; apakah Bibi Tacita rela ditiduri lelaki kurus itu demi dirinya, agar bisa bekerja bersama montir ini? Lalu kemudian dia ingat, bibinya sering tidur juga dengan orang lain. Bahkan dengan pelayan toko bangunan yang tidak mempunyai ibu jari kanan.  Walau begitu, Fabian tidak berniat menceritakan hal itu kalau nanti ia kabur dan bertemu dengan pamannya di Bangladesh. Dia berpikir dirinya bukan tikus berengsek pengkhianat bibinya.

Di Medellin, Fabian berkenalan dengan Damen, bocah seumuran dirinya cuma beda beberapa bulan lebih tua. Dia bekerja sebagai pesuruh di toko bangunan. Nama aslinya adalah Cleon Sanchez berasal dari Terrazas, tapi ayah tirinya sering menyebutnya anak Iblis. Maka teman-temannya di sekolah ikut menyebutnya Damen si hama sialan. 

Mereka berdua sangat dekat, merasa sama-sama miskin dan punya dendam yang mirip kepada kehidupan. Damen sempat bertanya kepada Fabian tentang mata kanannya, Fabian menjawab, mata kanannya ditusuk ketika ia dikeroyok oleh lima orang dewasa, “Aku membuat pincang salah satunya, lantas mereka kabur ketika aku mengeluarkan senapan.”

“Senapan dari mana?”

Lalu ketika ada orang lain yang bertanya lagi perihal itu, Fabian bercerita bahwa dia berkelahi dengan ayahnya, dan dirinya berhasil membuat bocor ayah yang selalu menyakiti ibunya dengan botol.  

“Eh apa kau tahu, aku akan menjadi seperti Pablito.” Damen menunjukan stiker kecil dengan gambar muka ikonik seorang kartel kepada Fabian lalu buru-buru menempelkannya ke kaki dan berniat suatu hari dia akan menato wajah pemuka umat pinggiran itu di sana. “Pablo Emilio Escobar Gaviria!” Dia lantas menggaruk dagunya yang tidak gatal, itu hanya kebiasaan dari sejak dia dalam kandungan, “Lalu kau akan jadi apa, Temanku?”

“Aku tidak tahu. Terus kenapa harus jadi orang lain?” Fabian sempat memikirkan pamannya. Walau dia sering mendengar sosok itu daripada ayahnya, tapi sekarang pamannya sama-sama merupa hantu. Tidak menapak di kepalanya.

“Kenalkan aku pada Casilda, Temanku. Aku penasaran ceritamu tentang dadanya yang besar.”

“Jangan berani-berani merayu calon istriku, hama bangsat!” Fabian mencakar muka Damen, lalu mereka bergulingan di tanah saling cakar. Beberapa tahun dari itu ketika Fabian pulang ke rumah bibinya, temannya di sana memberitahu bahwa Casilda sudah menjadi bintang porno dan terkenal. Waktu itu Fabian menghantamkan kepala temannya itu ke tembok beberapa kali. Damen yang ikut bersamanya turut berpartisipasi dalam huru-hara. 

Fabian dan Damen kalah, babak belur dihajar lima orang. Meskipun begitu, Fabian merasa ada kesakitan yang lebih dalam dari pada kepalanya yang bocor atau pipinya yang bonyok dan gigi depan hilang terhantam balok. Sesuatu di dadanya lebih perih seperti tersayat sekaligus ingin meledak. 

Damen yang merasa lebih tua meski beberapa bulan, merasa tahu keadaan itu. Lalu ketika mereka balik ke Medellin nanti, ia menyuruh Fabian untuk segera menjadi lelaki dewasa yang jangan mau disembelih secara brutal oleh apa yang mereka sebut cinta tahi kuda.

“Kau tahu, kan, cara menggunakan barang keparat yang terus bergelantung di selangkanganmu itu, Temanku?”

Fabian merasa dungu karena tiba-tiba ingat janjinya akan menjaga kesucian cintanya untuk Casilda, mereka sudah berjanji akan menikah. Akan tetapi dadanya keburu sakit oleh hantaman kenyataan.

Damen tidak akan pernah mengerti tentang kehidupan seorang Fabian yang tak pernah disayangi oleh mahluk jenis hawa, yang tidak pernah merasakan belai hangat seorang ibu, dan bibinya seakan ingin mencekik lehernya setiap hari. Lantas Casilda adalah harapan sekaligus ilusi termegah dalam hidup Fabian yang sengsara.

“Ayo, Temanku, jangan malu-malu seperti anak Afrika, akan kukenalkan kepada Magdalen!” Damen merangkul bahu bocah yang tidak tahu harus menjawab apa lalu menggiringnya ke sebuah kamar pelacuran murahan di Cali.

Malam itu Magdalen, pelacur murahan yang sedikit gembrot dan tidak pernah sudi mencukur bulu ketek dan bulu di area kewanitaannya berhasil merenggut kesucian seorang Fabian. Dan seorang anak iblis tertawa-tawa di bilik sebelah, merayakannya.

****   

Suatu malam di pertengahan awal tahun, Fabian mendapat kabar bahwa bibinya sakit parah. Dia pun meminta izin kepada majikannya untuk pulang ke El Pesebre keesokan harinya. Fabian berangkat sore dan Damen tidak ikut. Dia sekarang sudah tidak bekerja di toko bangunan. Kabar terakhir yang Fabian dapat adalah temannya itu sudah bekerja di Bogota. Fabian mendengar desas-desus bahwa Damen menjadi bagian kartel di sana. 

“Aku tidak akan berlama-lama menjadi pesuruh di toko bangunan terkutuk ini, Temanku. Ingat, aku akan menjadi Pablito!”

Ketika dia berdiri di troncal untuk menunggu bus--setelah melingkari jembatan dan mengutuk beberapa kali, kenapa harus dibuat meliuk-liuk seperti neraka saja,--seorang pendeta lewat dan ikut berdiri agak jauh di sampingnya. Perkiraan Fabian, pendeta itu berumur sekitar lima puluhan menjelang senja, dengan dagu yang lancip serta keriput dan tampak juga uban di pinggiran kepalanya. Lambang Anglikan tersemat di kerahnya. Mungkin seorang imam tertahbis, tapi jelas Fabian tidak tahu istilah-istilah itu. Baginya semua pria yang berpakaian hitam seperti ninja tanpa tutup kepala lalu ada sejumput putih di antara tenggorokannya adalah pendeta yang suka melakukan khotbah-khotbah di gereja atau pasar. Dan jelas tidak boleh pergi ke pelacuran di Cali.

“Pak Pendeta, apa kau benar-benar pendeta?” Fabian tak bisa menahan untuk mencoba perbincangan ini. Mungkin karena pengaruh obat-obatan yang dikonsumsinya.

“Sepertinya begitu, anak muda.” Pendeta itu senyum.

Tawa Fabian meledak seketika, “Dan kau tahu aku adalah Jesus, aku adalah anak Maria yang suci!” Fabian tak bisa menahan diri untuk segera meredam mulutnya.

“Dia ada di diri semua orang.” Suaranya terdengar bijak, dalam ,dan halus, serta masih bisa menahan senyumnya di sana. Entah senyum jenis apa, Fabian tidak bisa menerka.

“Katakan padaku, bagaimana rasanya menjadi seorang pendeta. Maksudku, apa kau tidak tergoda untuk menyalurkan hasrat keparat yang terus berontak di dalam celana dalammu? Apa kau sudah bertemu dengan Magdalen, pelacur dari Cali?”

Pendeta itu masih saja tersenyum. Tetapi Fabian tidak ingin mencela tentang senyum itu.

“Tidak, aku tidak pernah bertemu dengan Magdalen.”

Fabian mengangguk-anggukan kepalanya, “Kau harus bertemu dengannya sebelum kau mati, lalu berjalan beriringan bersamaku di surga, Pendeta. Percayalah.” Ia juga mendapati tangannya sedang menepuk-nepuk bahu si Pendeta.

Jalanan sudah gelap ketika dia sampai di El Pesebre. Dia melangkah sambil mengingat-ngingat, mungkin sudah sekitar dua tahunan tidak pulang ke rumah bibinya. Terakhir adalah ketika dia berkelahi di gang sempit tanpa penerangan yang barusan dia lalui. 

Fabien teringat Damen--yang berteriak-teriak “Jangan berani menghajar temanku, anjing kalian!” di gang sempit itu ketika mereka berkelahi masalah Casilda--juga janjinya yang akan menghubungi. Akan tetapi tak pernah ada dering ponsel dari Damen, sekadar pesan singkat atau apa saja.  Damen hanya pernah bertanya sebelum dia pergi, “Apa kau mau terus-terusan menjadi montir rendahan, Temanku?”

Fabian juga teringat akan Casilda. Dia berjanji kepada dirinya sendiri tidak akan membuka situs porno untuk melihatnya bercinta secara paksa dengan orang-orang hitam keparat lagi. Seketika itu pula dia merasa mendapati dirinya di tempat yang terasing. Cahaya yang semakin meredup dan wajah-wajah yang ia kenali berkelebatan. Ibunya yang paling lama terpampang dalam slide itu. Dia lalu mengutuk karena sepatunya masuk kumbangan air di jalanan gelap.

Setibanya di depan rumah, Fabian sedikit heran karena mendapati rumah bibinya gelap. Dia setengah berteriak memanggil bibinya seraya membuka pintu lalu menghidupkan lampu. Fabian sempat membuka kulkas, meraih minuman dan duduk di ruang tamu yang sekaligus ruang tv dan tempat tidur dirinya sewaktu masih tinggal di sana. Ia lalu mengeloyor ke dapur, membuka rak makanan paling atas, dan bersyukur bibinya masih menyembunyikan botolan minuman keras di dalamnya. Ia meraih sebotol lalu tipi dinyalakan dan suara cempreng menguar dari sana. Ia masih saja memanggil-manggil bibinya.

Terakhir ia pulang, bibi Tacita memukul kepalanya dengan gagang sapu lalu berujar, “Duitmu cuma segini, brengsek? Dasar kotoran tidak berguna!” Waktu itu Fabian bersikap seolah meminta ampun lalu menjelaskan ia membawakan minuman keras kesukaan bibinya. “Mana, minumannya, sialan?” Dan tetap gagang sapu melayang ke kepalanya.

Fabian bangkit, ia kembali memanggil-manggil Tacita sambil mencari ke kamar tidurnya, tetapi nihil. Akhirnya ia membuka pintu kamar mandi dan mendapati mayatnya di sana.

Pemuda itu masih menggenggam gelas minuman lalu mengangkatnya ke mulut. Mayat bibinya terlentang. Tidak ada darah atau apa, tapi Fabian yakin bibinya sudah meninggal. Ia meneguk minumannnya berkali-kali sebelum akhirnya duduk di ruang tamu kembali dan menggeser-geser kanal tipi. Menjelang tengah malam ia keluar tapi tidak kembali ke apartemen kumuhnya di Medellin atau ke tempatnya bekerja. Dan seperti sudah dikatakan di atas, Fabian mati di tangan seorang pelacur yang bernama Maria di Cali persis malam menjelang pagi itu.

Menurut Maria sendiri ketika ditangkap polisi, dia memberikan keterangan hanya membela diri. Malam itu tamunya yang cuma punya satu mata dan sedang mabuk parah seketika marah ketika meminta tahu nama dirinya dan Maria menjawab. “Ia lantas berteriak-teriak, memanggil ‘Ibu’, Jesus, serta nama wanita yang aku lupa. Aku tidak terlalu paham apa yang dia racaukan. Lalu dia mulai memukulku. Aku reflek loncat, meraih pisau kecil di tasku, dan ….”


~ Zeth, 2019

This post have 0 comments


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post