-->

Rabu, 08 Januari 2020

author photo
bentar Dibaca
Judul: Bucin dan Kentang Goreng

Penulis: Zeth

Genre: Metro Pop
----------------------
“Kenapa kita harus jadian?” Maharani merundukkan kepala, sekilas hanya untuk menghidu mug bercorak semanggi putih berisi kopi tanpa mencecapnya. Lantas tangannya meraih cemilan kentang goreng yang segera dilemparkan ke paras lelaki di depannya. Potongan kentang itu jatuh ke permukaan meja setelah mengenai muka si Lelaki.

“Karena ini kehendak semesta, melodrama kita juga sudah ditatah para malaikat di dalam kitab suci Lelium…,” nadanya seperti seorang penyair yang membacakan puisi di depan para gelandangan Maharashtra. Lelaki itu lantas memungut potongan kentang goreng yang terjatuh dari mukanya tadi dan memakannya. “Juga yang paling penting adalah aku sudah memakan kentang goreng pemberianmu. Seperti hikayat Aerix kuno tentang Bikhal yang rela memakan apel beracun untuk kekasihnya, Irenel. Padahal Bikal tahu apel itu beracun.”

Sekarang si Lelaki berusaha menjagal kentang goreng lain dari piring lawan bicaranya, namun usahanya gagal, akhirnya ia beralih ke sloki espressonya sendiri.

“Begitu, ya?” Maharani semakin menjauhkan lopak keramik agung berisi kentang goreng sakral dari jangkauan si Lelaki. “Tapi aku nggak suka lelaki bodoh macam Bikhal. Dan Irenel hanya perawan suci yang selalu bingung.” Mug kopi sekarang dinaikkan ke mulut, namun gadis itu cuma mencecap sedikit-sedikit. “Eh, kapan-kapan ajak aku ke Sidharta, Sam. Americano(1*) di sana enak banget, padan dengan Mild. Tapi sungguh Irenel itu perawan malang naif nan cerewet.”

“Sansa Stark(2*) juga naif.”

“Sampai Lady Winterfell itu bertemu dengan Ramsay Bolton, anak haram yang mengadokan kenyataan via jalur belakang.”(3*) Maharani sedikit bergidik ketika mengucapkannya.

“Kadang aku ingin menjadi naif, beranggapan semuanya akan baik-baik saja nantinya, sebangsa percaya dogma cinta itu tak harus memiliki lantas jadi pembenaran nasib. Hidupku normal, lurus, rajin mendendangkan lagu Ungu, punya anak bangsat lalu pupus.”

“Kamu ini bucin, naifnya jangan setengah-setengah.”

“Perasaan memang selalu menjebak…”

“Nggak, tapi lebih ke harapan yang selalu tak bisa kita kontrol." Maharani mendorong potongan kentang goreng banyak-banyak ke mulutnya, "walau sudah berjanji nggak akan pernah berharap tapi tetap saja, satu atau seribu jenis kamerad, proletariat pun elite tetap tersandung juga. Bahkan pada sosok yang belum pernah ditemuinya. Shit, aku butuh air putih sekarang.”

Lelaki yang dipanggil Sam itu lantas mengangkat gelasnya ke depan, “Untuk segala harapan, klien bangsat dan kentang goreng yang sakral!”

Maharani menyambutnya, ikut mengangkat mug, “Untuk kopi yang enak di pagi hari, dan diskon besar-besaran Alibaba!"

“Cheers.”

“Bullshit, ya, kita.”

“Hihihi.”

Di kafe tempat mereka bersenda sedang diadakan live music. Beberapa lampu sorot kecil sudah sedari tadi menembak sosok pendendang tembang pada stage kecil di pojokan kafe. Ia sedang syahdu melanggamkan Oasis, Don’t Look Back in Anger secara melankolis. Maharani dan beberapa pirsawan lain coba khusuk bertembang di bagian reff-nya(4*). Mungkin hanya Sam yang tidak mau-mauan ikut larut kehingaran. Ia cuma bergumam kepada ponsel yang sedang dibukanya, “Nobody can wait, pain always doin their shitte, mate.” Di saat itulah tangannya baru berhasil membegal kentang goreng sakral, saat sang dewi lengah.

Selesai ngemil dan ngopi, nyanyi-nyanyi sumbang dan bullshit-an, mereka memutuskan berciuman di pelataran parkir yang gelap.

Di kamar, nada pesan ponsel meringking ketika Maharani selesai menggosok gigi. Gadis itu membukanya lantas segera beralih ke aplikasi pemutar musik. Setelah memainkan playlist baru yang sudah ia susun malam kemarin juga menyetel sleep timer-nya, ia pun merebah badan di tempat tidur dan berusaha untuk segera lelap. Pesan pendek dari Sam berupa ucapan selamat tidur dan betapa ia senang akan malam ini tak ia balas.

….......

Sam tahu bahkan meyakini Maharani bukanlah perkara soal hubungan tak jelas yang akan berakhir tiga bulanan seperti yang sudah-sudah. Ini juga bisa jadi soal parade sakit hati dan hari-hari minggu yang mendung.

Seperti tadi pagi, Sam mendapati ucapannya semalam tak berbalas. Ia lantas memindai kotak masuk di ponselnya, menggulir hampir semua pesan yang pernah ia kirim dan memang tak banyak yang Maharani balas.

Selesai menyeduh kopi dan melihat jam yang menunjuk angka sembilan kurang, Sam memutuskan untuk menelepon.

“Udah sampe kantor?”

“Udah, cuma ragaku. Jiwaku masih di kasur. Eh, di parkiran semalam deng. Hahaha”

"Love you." Sam keceplosan.

"I know, Sam."

Kenapa harus bilang love you segala? Lantas ia ingat dengan istilah para generasi salah fitrah sekarang, baper. Menjijikan sekali.

Sedari dulu temannya kerap menasihati Sam untuk memilah dedara lain alih-alih tetap menyirami mimpi-mimpi purba bersama Maharani.

Sam bahkan ingat perkataan temannya, “Maharani itu fatamorgana, Sam, ghoib kayak pantat peri. Tapi gadis ini," temannya menunjuk foto seorang gadis di ponsel, "adalah, ibaratkan, sebuah hadiah lotere dari nasib yang kemarin nertawain lu.”

“Nasibku emang gimana?”

“Payah. Dasar bucin melankolik.”

“Bangsat.”

Katanya, namanya adalah Jasmine, 23 tahun. Selebihnya Sam memilih tidak tahu. Karena bisa jadi mereka ini adalah rantai makanan teman-temannya dulu.

Mungkin benar, ada saatnya untuk berhenti mengejar sosok dewi pemilik kentang nan sakral itu.

Ketika itu Jasmine mengiyakan tatkala diajak bersua di salah satu coffee shop yang terletak di tengah kota. Sam sengaja memilih kafe itu karena katanya tempat tinggal Jasmine tidak jauh dari sana.

Dari pertemuan mereka tidak ada hal yang bisa diceritakan sebenarnya. Seperti film-film sampah beranggaran murah yang tidak layak naik rak. Namun teman Sam menelepon terus saja mendesak kepingin tahu.

“Baiklah, aku nggak suka ketawanya, pemikirannya pun nggak dalam. Iya, aku nggak bisa nyalahin tentang lagu kesukaannya apa, genre film yang ia sebutkan pas aku tanya. Aku bahkan mengurungkan niat untuk menanyakan siapa penulis favoritnya.”

“Lu beneran asshole, Sam. Nggak bisa kayak gitu. Terlalu picky. Lu kira apa yang lu bisa dapetin dengan segala pertanyaan tai anjing kek gitu, lu udah bisa tahu semuanya tentang seorang cewek dengan itu semua?

“Tentu aja nggak bisa, tapi seenggaknya aku tahu garis mana yang akan bersinggungan ketika aku bersamanya. Kau tau lagu....”

“Persetan," potong temannya, "padahal mungkin gue, sebagai teman yang maha baik, cuma pengen lu bisa ngewe aja, sih."

“Bangsat. Yaudah, mabok, yuk….”

“Well, gue bawa Bacardi, then.”

Tidak sampai di sana, setelah beberapa kali pertemuan yang dirancang oleh temannya, mungkin keempat, Sam dipertemukan dengan wanita yang bernama Mariana. Bahkan ia yang mengatur tempat mereka bertemu.

Mariana terbilang gadis jangkung semampai. Mengingatkan Sam pada Uma Thurman dari film Kill Bill, yang saking jangkungnya, Tom Cruise yang pendek sampai ogah main film bersama beliau.

Sam pun yakin Mariana menjalani program diet ketat yang juga ditopang oleh berbagai merk obat yang wajib ditelan tiap subuh. Cakep. Apalagi mukanya tirus dengan bibir yang sensual, disokong mata yang terlihat sayu tipikal fetish temannya.

”Kamu pernah ke sini?” Mariana bertanya sambil meletakkan tas berwarna krem lugas di atas meja.

"Rasanya belum." Sam mengedarkan pandangan. Tempat makan itu memberikan kesan minimalis dengan konsep industrialis ala Skandinavia. Sam malah baru sadar mejanya didominasi oleh marmer hitam.

"Cozy, kan?"

Sam mengangguk.

Mariana memang bilang mereka akan bertemu setelah jam pulang kerja, maka terlihat pakaiannya masih berupa setelan blazer berwarna nila yang padan dengan mata kalung dan gelangnya yang berwarna cenderung cerah. Mungkin untuk menutupi usianya, pikir Sam. Akan tetapi ia lupa ucapan temannya yang maha baik tentang berapa usia Mariana. Tiga puluhan? Lebih?

"Tadinya aku mau ngajak ke Le Quatre sih, yang…. emmm, lupakan.”

Kesananya Sam sadar, Mariana selalu mengucap kata itu di akhir kalimat sepenggalnya; “lupakan” atau “tapi itu nggak penting.”

Setelah haha-hehe formalitas, basa nan basi , dan makanan yang tidak tandas di meja, akhirnya Sam bertanya, “Pernah berapa kali, dicomblangin begini?” Sam tentu saja memperhatikan Mariana yang berkali-kali mengeluarkan ponselnya dari tas, walaupun benda itu tidak berdering. Dia cuma sekadar buka lockscreen, slide medsos, melihat jam, mungkin, lantas mengembalikannya lagi ke dalam tas.

"Emm, cari tempat ngerokok aja, yuk."

Akan tetapi mereka mereka malah berakhir di apartemen Sam; bergulingan di lantai, berciuman dekat TV, saling mengejar ujung birahi di sofa, bergelinjang di antara renyukan paperwork, desain gambar dan serakan gelas-gelas bekas kopi.

"Punya kondom, kan?"

Hasrat, lenguhan, ciuman di berbagai area campur keringat, akhirnya tertandaskan di atas tempat tidur. Sam merasa sebelum sampai ke sana kakinya menyenggol sesuatu dan ia pun mendapati pecahan beling di lantai juga genangan kopi.

“Aku tidak pernah sebelumnya seperti ini.”

“Dan akupun tidak men-judge apa-apa.” Sam memberikan sigaret yang baru ia nyalakan kepada Mariana yang masih setengah telanjang. Lalu ia mencucuh batangan lain untuknya sendiri.

Saat asap rokok mulai mengembus keluar dari mulut, mereka seakan sudah dibekali kesadaran; hubungan ini hanya akan sampai di tempat tidur dan hanya malam itu. Sam dan Mariana tidak pernah bertemu atau saling mengirim pesan lagi setelahnya.

Setelah kejadian itu ia meminta kepada temannya untuk berhenti mencomblangi dirinya. Ia hanya meminta dibawakan Bacardi saja bila sedang perlu. Lantas Sam kembali kesurupan sang Maharani.

Sekarang jam 12 siang, setelah Sam selesai mengerjakan projekan dan segera mengirimnya ke klien lewat email ia pun berusaha menelpon Maharani. Dengan perasaan kadung malu karena tadi pagi sudah keceplosan bilang love you. Namun gadis itu tidak mengangkat. Setelah panggilan ketiga tiada jawaban, ia terpaksa menyeret tubuhnya sendiri ke dapur untuk menyeduh kopi lagi sambil teriak-teriak, “Sakit ini, perih ini, butuh kopi, kameraaaad.”

….….

“Sam, kamu tahu jenis-jenis kesepian?”

Sebenarnya Sam sedikit tidak menyangka Maharani akan menghubunginya lagi selama ini. Sudah sebulan lebih dari terakhir mereka bertemu dan bercumbu di pelataran parkir. Dulu juga sering begini, Maharani timbul tenggelam. Tapi paling lama dua mingguan. Kadang Sam berpikir, gadis ini berkongkalikong dengan nasib untuk mengencingi kepalanya. Namun kali ini rasanya Maharani tak seperti biasanya, ia muram sekali.

“Aku tak pernah mendefinisikan kesepian. Karena tahu kalau aku sudah mengakui kesepian dan mulai mengenalnya, untuk sekarang, aku pasti kemakan.”Sam suka akan mata gadis ini yang bening, mata yang menyiratkan pemiliknya adalah seseorang yang tahu harus melakukan apa dalam hidupnya. Rambut ikal sebahu yang katanya akan ia akan potong pendek-pendek, tapi belum. Juga kepada bentuk mukanya yang agak bulat. Akan tetapi Sam paling menyukai bentuk bibir dan suara Maharani. Dan yang dirasa paling liar adalah pikirannya, bucin melankolik itu tak pernah bisa menebaknya sama sekali. Ada kedalaman yang tak pernah bisa ia tembus.

Maharani menyesap dalam-dalam batang nikotin yang diapit jemarinya. Matanya memandang kosong ke atas. Sedang Sam lebih memilih mengalihkan pandangannya ke luar jendela, melihati kendaraan, gedung-gedung yang tinggi nan jauh. Ia merasakan jeda dan hening yang lebih lama dari biasanya.

“Kesepian itu…” Maharani mengangkat kakinya ke tempat duduknya yang lumayan lebar. Sekarang posisinya bersila. “Semisal aku sedang menonton film, dan sesuatu hal kecil terjadi di dalam adegannya, sesuatu yang menurutku lucu, kemudian aku refleks menggumamkan sesuatu hal yang lucu juga, tapi tidak ada siapapun di sampingku untuk menertawakannya. Saat itu aku tahu aku jalang pendengki sialan yang sangat kesepian.”

Sam sedikit tak menyangka ketika melihat airmata mengalir begitu saja dari mata gadis di depannya. Sedang mulutnya terus saja mengeluarkan asap rokok barang sebentar.

“Kamu hanya merindukan seseorang, kan?” Sam mulai menyalakan rokoknya lagi, “mungkin karena merasa rindu kepada hal yang tidak mungkin, kamu jadi merasa kesepian dan terpuruk sendiri.”

Sam rasanya bisa menebak ini tentang seseorang di masalalu Maharani. Sosok yang begitu idealnya di wanita pujaan Sam.

“Aku udah bilang kamu lelaki bodoh, Sam?”

“Udah.”

“Terus mau terus nunggu aku berubah pikiran?”

“Iya.”

“Meskipun alasannya nanti aku menerimamu dengan alasan kesepian?”

Sam mengangguk.

“Bego.” Maharani mulai menurunkan kembali kakinya.

“Kamu yang bego.”

“Jelas kamu. Udah tahu aku nggak bisa nerima kamu, tapi masih aja terus berharap ke aku.”

“Kamu yang bego. Kamu harusnya udah bisa ngehadapi kenyataan dan move on dari keadaan sekarang. Dari kapan begini, udah dua tahun, tiga tahun? Mau sampai kapan? Aku bakalan bahagiain Kamu, Ran. Kamu tinggal buka hati kamu.”

“Kamu nggak tahu aku. Kamu nggak tahu apapun. Jangan sok-sok-an bacot kamu bakalan bahagiain aku.”

“Dan kamu sendiri tahu dan bisa baca keadaan nanti? Kamu keras banget jadi cewe. Kamu nggak sadar aku yang selalu ada buat kamu. Teman-temanku udah pada bilangin lebih baik tinggalin kamu, tapi aku tetep bertahan.” Shit, Sam sadar harusnya tidak bilang hal menjijjikan seperti itu.

Entah rokok ke berapa yang Maharani nyalakan, tapi Sam jelas tahu mata gadis di hadapannya tambah sembab.

“Oh, jadi udah ngerasa ngelakuin pengorbanan? Nggak ada yang nyuruh kamu bertahan, kamu bisa ikutin saran teman-teman kamu. Make lagi cewek di apartemen kamu. Jangan nyalahin aku!"

“Mantan kamu nggak bakalan bangkit dari kubur!”

“Oh…”

Ada jeda dan hening lebih-lebih dari sebelumnya dan itu jelas menyiksa. Sam melihat Maharani bangkit setelah segera mematikan rokoknya yang masih panjang di asbak. Tanpa mengucapkan apa-apa.

Sam juga tidak bisa mengucapkan sepatah kata apapun. Ada sedikit lega dan penyesalan di akhirnya. Ia merasa seharusnya tak ucapkan kata-kata yang terakhir. Atau seharusnya ia tak berkata apa-apa tadi.

Berhari-hari setelah itu Sam mencoba hubungi Maharani, rasanya ia perlu minta maaf. Tapi sekarang ia tak pernah membalas panggilan atau pesan Sam. Pernah suatu ketika Sam pergi ke kantor tempat Maharani bekerja, namun gadis itu tak turun untuk menemuinya. Sam nekat menunggunya di parkiran gedung, tetap saja nihil.

Lantas pada suatu hari Sam membuat kaget temannya. Bucin melankolik itu tiba-tiba berteriak-teriak setelah muntah di toilet. “Sam, lu kesurupan apa, bangsat?”

“Sidharta! Shidarta!” Sam sempoyongan mencoba meraih ponselnya, namun gagal. Sebelum terkapar ia muntah duluan di karpet. Bangsar melankolik itu tak sadarkan diri di atas muntahannya sendiri. “Sidharta.”

“Apa urusannya sama Budha?” Temannya berusaha meraih botol Bacardi, namun ia tak berhasil, badannya mengajaknya rebahan. “Aduh, ampun, Budha.”

Berkali-kali pada waktu jam pulang kantor Sam pergi ke Kafe Sidharta. Ia jelas berharap akan bertemu Maharani di sana. Akan tetapi usahanya tetap nihil. Setelah beberapa bulan ia mulai mengurangi frekuensinya dari setiap hari jadi ke setiap minggu, lama-lama jadi seingatnya saja.

Entah pada bulan ke berapa. Kadung jadi kebiasaan pergi ke kafe tersebut, ia berangkat setelah jam menunjukan pukul 5 sore. Sekalian dia membawa laptop dan beberapa paperwork-nya dan memikirkan akan mencicipi Long Black barang segelas.

Sam sedikit kaget sewaktu sedang berjalan dari halte busway, ia melihat Sidharta yang dikenal dengan jendela segitiga besar menyorot ke jalan kini menampakan seorang gadis yang ia kenal. Sam tahu meskipun dari kejauhan, gadis itu pasti sedang menyesap Americano.

Lama ia berdiri di seberang kafe tersebut sambil terus memperhatikan gadis yang sedang duduk di balik jendela tersebut. Nampak rambut gadis itu kini sudah dipotong pendek-pendek seperti yang ia rencanakan dulu. Tapi badannya kelihatan sedikit kurus.

Sam mengeluarkan bungkusan nikotin, mencucuhnya satu dan mulai melangkahkan kaki. Namun lelaki itu berjalan ke arah sebaliknya, menjauh dari jendela kaca segitiga besar di seberang. Lantas menghilang seperti asap rokok tersapu angin bercampur asap kenalpot kendaraan, dan hiruk pikuk manusianya.



| footnote
_________________
1. Americano adalah minuman kopi espresso dengan tambahan air panas. Namanya diambil dari cara orang Amerika meminum espresso. Konon, penyebutan americano adalah sebagai lelucon dan ejekan terhadap orang-orang Amerika yang suka espresso-nya dibuat lebih encer.

2. adalah karakter fiksi ciptaan penulis Amerika, George R. R. Martin dalam karyanya—seri novel fantasi epik A Song of Ice and Fire (Game of Thrones)

3. Ramsay and Sansa's wedding night - Game of Thrones S05E06

4. Liriknya: And so, Sally can wait She knows it's too late as we're walking on by Her soul slides away But don't look back in anger I heard you say (berhubungan dengan gumaman Sam setelahnya).


*Gambar diambil dari pinterest

This post have 0 comments


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post