-->

Rabu, 25 Desember 2019

author photo
bentar Dibaca
Dulu, zaman baheula, saya sekacamata dan selidah dengan Imogen Rusell yang suka nggak konsisten antara penyebutan Teenlit sama YA(Young Adult). Iya, Teenlit yang itu, yang di dunia kelabu saya jadi Teenshit; ada yang pernah memberikan kategori itu kepada salah satu cerita saya karena isinya, katanya lebih bangsat dari kebanyakan dan entahlah, perasaan nggak ada mamah muda sok-sok kesepian di sana.  

Ada jejak pendapat singkat yang menghasilkan dua pandangan berbeda tentang hal di atas; bahwa Teenlit dan YA sama-bae-(sat), searea. Sedangkan yang lain merasa rujukan usianya berbeda. Bahwasanya Teenlit merujuk ke rentang usia 14-16 sedangkan Shit YA adalah 14+.

Contoh umumnya yang bakalan kalian tahu adalah serial Harry Potter yang memuat pembunuhan, penyiksaan, si Ron Weasley udah kumisan, mungkin si Longbottom juga lagi belajar merancap yang masuk ke kategori TEEN. 

Terus Twilight masuk ke mana? Udah pasti tahu 'keknya.

YA itu, bisa dikatakan, lebih cenderung ke urusan anak SLTP atau SLTA yang tegang ketika mimpi basah, mengkhayal dengan sabun di pojokan kamar mandi, bahkan mengatasi konflik yang lebih menantang dan hubungannya dengan orang dewasa. Saya nggak punya referensi keren yang dekat dengan ini, tapi ya mungkin, Dilan? Oh, Badboy… 

Meskipun ini masalah pemetaan umur pembaca, di YALC (Young Adult Literature Convention), Meg rossof mengungkapkan bahwa orang dewasa menyumbang 55% penjualan buku YA. Bisa aja sii, itu yang beli buat anaknya, anak tetangganya, anak selingkuhannya. 
Fact 1: Gosipnya, Nick Lake membela Twilight di YALC. Remarked that successful YA books written by women tend to draw opprobrium in a way that men's work doesn't.
Cukup ngelanturnya, balik lagi ke dosa awal. Mengingat itu, dalam usahanya membuat cerita berlabel YA, si penulis kadang suka memaksakan dan berakhir dengan karakter-karakter yang serampangan, tidak akurat dan stereotype. BASI. Banyak ditemui karya-karya semacam itu di web kepenulisan, si biru, si oren, si hijau, yang mana sahaja. Yang berlabel sudah dibaca jutaan kali di anu, malah.

Mungkin memang sudah saatnya para penulis jurusan ini yang merasa ahli di bidangnya, yang update-nya selalu dielu-elukan oleh beratus ribu follower anarkis nan jahamis untuk segera Tobat Nasuha.   

Dan ini adalah daftar kebasian nan klise yang sudah dilabeli haram (oleh MDK, majelis dimensi dangdut).


1. Teen Angst 
Karakter yang selalu tidak bahagia, susah banget senang. Mendung terus bahkan di hari selasa. Gloomy. Berpikir tidak ada yang mengerti mereka, dan marah-marah bae. Oke itu hanya pengembangan kegelisahan remaja kan? Itu bukan "kecemasan remaja," itu lebih ke, bisa dibilang depresi klinis. Oke, jadi remaja benar-benar mengalami perubahan hormon besar yang menyebabkan perubahan suasana hati (mood swing). Tapi itu bukan alasan untuk membuat karakter yang sangat mudah berubah bentuk. Inget zaman sekolah kalian. Apa ada teman yang seperti gitu, yang tertekan seperti Bruce Banner lantak jadi Hulk. Ya kecuali memang pingin bikin cerita remaja brengsek tanpa kontrol emosi.

2. Gadis cakep yang nggak sadar dirinya cakep.
WTF. Manusia itu kalau melihat cermin dibohongi beberapa persen (oleh dewa cahaya) jadi ngerasa lebih ganteng atau cantik gitu. Oke, jadi dia mungkin nggak punya cermin di rumah atau definisi cantiknya berbeda dengan negara kepulauan ini. Nanti aja sadarnya ketika ada cowok yang udah dari lahir ngerasa cakep bilang ke cewek itu. Oh, atau mungkin Eneng dari desa, yang polos gitu?

3. Cinta Segitiga
Hal ini rasanya sering banget dipakai untuk konflik cerita. Dalam lubuk hati kalian juga pasti sepakat ini sering banget digunakan. Lebih malasnya kalau sudah bisa diprediksi. Mereka (penulis) mungkin ngerasa bakalan mampu memberikan warna baru, kesegaran cerita, namun ya seringnya berakhir sama saja. BASI. Terus ya, biasanya kehidupan remaja aslinya jarang sekali terlibat cinta segitiga yang bimbang mau pilih mana. Kalau selingkuh, beda lagi kan. Bisa segilima malah.


4. The Chossen One
Orang yang terpilih. Yang ada di ramalan cerita. Biasanya di modelan fantasy sii. Mungkin kasusnya banyak yang suka terjebak juga, merasa bakal menyuguhkan cerita berbeda namun nggak sama sekali.

5. Punya orang tua yang kejam.
Sudah cukup, Bhambang!

6. Karakter cewek yang “kuat”.
Yang mana, sebenarnya, hanya cewek yang menyebalkan yang dikelilingi oleh kumpulan orang payah. Yang ini populer di cerita YA fantasy dan yang bertemakan distopia. Tapi di beberapa cerita urban YA ada juga.

7. Badboy Perenung.
Cowok yang superkool hampir dianggap seperti supermodel yang mempunyai masalalu gelap. Dia nggak cocok disandingkan dengan karakter cewek utama, tapi entah bagaimana si cewek malah tenggelam dalam sikapnya yang kasar dan dingin, dan tentu saja penuh rahasia. Karakter badboy ini selalu muncul di semesta YA urban fiction. Dan pasti yang membuat si tokoh utama cewek terjebak dalam cinta segitiga. Kita setuju, ada banyak potensi dalam karakter badboy ini, tapi apa harus jadi love interest melulu?
Kok jadi ingat DILAN yak?
Sebagai penulis kita, setidaknya, bisa memberi kebaruan untuk pembaca, atau bisa saja pola usang tapi bagus pengeksekusiannya. Jangan tergoda pada hal-hal yang umum dilakukan, pertimbangkan hal-hal yang klise dengan membandingkannya dengan realitas. Bisa saja poin-poin di atas tidak berlaku dan sah-sah saja digunakan, namun tanyakan kepada diri kamu sendiri, bisa nggak ngasih kebaruan pada ceritanya?

Oke, terus bagaimana ada tambahan nggak hal-hal yang menurutmu klise dalam cerita young adult yang pernah kamu baca? Sila, tambahkan di kolom komentar. 

This post have 0 comments


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post