Langsung ke konten utama

Thirty Things I Want To Do



Satu lagi buku antologi cerpen terbit di awal 2018! Buku ini berisi tiga puluh kisah menarik yang katanya cocok untuk kado hari kasih sayang, yang (katanya lagi) jatuh di tanggal 14 Februari.

Tiga penulis Dimensi Kata ikut andil di dalamnya; Narazwei, Tutut Laraswati, dan Johanes Jonaz. Sebenarnya, kumpulan cerpen ini adalah ide iseng Johanes Jonaz yang gaya-gayaan ikut kuis #30thingsIWantToDo dari internet. Idenya adalah menuliskan tiga puluh kegiatan yang akan dilakukan dalam tiga puluh hari secara spontan. Ia sudah berhasil menulisnya dalam blog pribadi, satu kegiatan setiap hari, selama tiga puluh hari.

Nah,  sebagai sebagai penulis yang juga aktif di platform kepenulisan storial.co, ia melempar ide ini kepada penulis lain. Tentunya dalam format berbeda. Ia menantang untuk mengembangkan tiga puluh ide yang sudah ia tentukan menjadi tiga puluh cerita fiksi. Dari situ, terkumpul dua puluh penulis yang ikut dalam proyeknya.

Pada suatu hari, penerbit Histeria tertarik untuk mencetak kumpulan cerita ini menjadi buku. Gayung pun bersambut, dan mulailah proses editing yang berdarah-darah dan berliku-liku. Beberapa cerita secara terang-terangan minta diganti, sebagian minta diedit. Tentu saja itu bukan proses gampang.

Namun, pada saatnya, semuanya terbayar sudah. Bahkan, CEO Storial.co memberi endorsment berbunyi,

Ide cerita yang cukup romantis, melakukan 30 hal bersama dia namun ditulis dengan berbagai genre dengan ciri khas penulisnya masing-masing. Cukup menyenangkan membaca kumpulan cerita pendek dari berbagai penulis muda yang berbakat. Favorit saya adalah Kado Natal Istimewa. Sedikit berbeda dari cerita lainnya, ide kisah natal ini cukup menyentuh dan terasa nyata. Tentunya kisah-kisah lain tidak kalah berkesan. 

Yes. Buku ini akhirnya terbit setelah perjalanan panjangnya.

Judul Buku : Thirty Things I Want To Do
Penulis : Storialita
Penerbit : Histeria
ISBN :978-602-6673-75-6
Harga di Pulau Jawa : 58.500

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Thor dan Manis Pahitnya Perjuangan di Wattpad

Halo Thor di sini—bukan! Siapa saya? Tidak penting. Yang penting pembahasan saya mengenai dunia jingga yang terkenal bin fenomenal. Siapa lagi kalau bukan Wattpad. Menurut akun Wattpad Indonesia (@Indonesia) diperkirakan jumlah penggunanya ada jutaan. Gak percaya, nih tengok pernyataannya:
Kau, kau bayangin sajalah, gimana rasanya berkubang dengan jutaan kepala dalam satu situs. Menyesakkan? Menyebalkan? Atau malah bikin ketombe di kepala makin bertambah?
Waktu pertama kali nyemplung di wattpad, saya langsung merasa minder dengan akun-akun yang pengikutnya (atau bahasa kerennya followers) mencapai ratusan ribu. Bahkan banyak buku yang bertebaran tertancap views sekian juta. Wow sekali. Saya takjub. Betapa besarnya massa yang bisa didapatkan di wattpad.
Tapi besarnya kuantitas tidak serta merta memajukan kualitas. Banyak buku yang—katakanlah jutaan views—tadi menyalahi aturan tata bahasa, tanda baca, dan tanda-tanda alam lainnya. Alias berantakan. Meski begitu, pembaca mereka tetap kelapa…

[Mini Review] Novel Karung Nyawa

Karung Nyawa adalah novel horor-misteri lokal yang digarap dengan apik oleh Haditha. Tak main-main dengan konsep lokal yang diusungnya, bahkan penamaan bab pun menggunakan ejaan hitungan Jawa.  Dialog-dialognya kental dengan bahasa Jawa logat sehari-hari, renyah, tapi juga langsung tembus ke masalah, jadi ngalir banget. 
Berikut ini adalah kesanku setelah membaca Karung Nyawa karya Haditha.

Pencuri Mimpi, Ahmad Tohari dan Mimpi-mimpi

Sebenarnya, liburan Natal kemarin, saya pengen ke Jogja. Alasannya sih deket dan saya engga ada rencana macem-macem selain minggat dari rumah. Kalau ada orang yang tanya, tempat spesifik mana yang pengen saya datengin, saya bakal jawab Goa Pindul. Alasannya, saya pengen main air. Alasan kedua, saya pengen lompat ke air.  Alasan ketiga, saya engga punya jawaban lain selain tempat itu. Tapi Jo—temen satu komunitas di Dimensi Kata—nyaranin kalau sebaiknya saya enggak pergi ke Goa Pindul pas liburan panjang soalnya bakal rame banget. Meminjam istilah Jo, ‘ramenya kayak cendol.’
Waktu itu awal Desember, jadi yang ada di pikiran saya waktu itu hanya Jogja. Dari pembicaraan para begundal di grup Dimensi Kata, akhirnya saya tahu rencana liburan mereka. Saya waktu itu iseng provokasi Jo buat main ke rumah Ahmad Tohari di Jatilawang. Iya, Ahmad Tohari ini penulis favoritnya Jo. Saya enggak nyangka, ajakan iseng diiyakan oleh Jo. Hari itu juga, saya suruh Jo untuk pesan tiket ke Purwokerto tan…