Review [Novel] Bilangan Fu: Legenda yang Menjaga

Review novel Bilangan Fu karya Ayu Utami




Judul buku : Bilangan Fu
Penulis : Ayu Utami
Jumlah halaman : 552
Penerbit : KPG tahun 2008

Baca via iPusnas.

Bicara soal karyanya Ayu Utami, tidak akan ada habisnya. Soalnya, paduan fiksi yang diramu ibu-ibu yang satu ini memang tidak pernah sederhana.

Karya Ayu Utami pertama yang saya baca ialah Saman. Meski sinopsis di sampul belakang menceritakan bahwa ini adalah kisah persahabatan yang memiliki cinta pada laki laki yang sama, namun pada pemaparannya Saman jauh sekali dari inti cinta-cintaan.

Bilangan Fu pun setipe dengan Saman. Dengan tipuan sinopsis yang terlihat sederhana, buku ini penuh dengan gagasan gado-gado yang mengusik pemikiran. Mulai dari soal takhayul kejawen, kritik atas praktik kekerasan ala militer, sampai pada eksploitasi alam ada di dalam buku ini.

bilangan fu ayu utami

Sinopsis

Kisah ini diawali dengan sahabat sesama pemanjat tebing yang memiliki pandangan berbeda, Yuda dengan pemikiran modernisme-nya dan Parang Jati dengan spiritualisme kritis-nya. Kedua sahabat ini saling berinteraksi dengan cara yang amat menarik, saling mempengaruhi namun tetap saling menjaga.

Kisah mereka diawali dengan perseteruan di antara keduanya soal cara memanjat, Yuda yang awalnya memilih metode artificial climbing, mulai terpengaruh oleh Parang Jati dengan idealismenya yang mencintai ibu bumi. Selain bergulat dengan curamnya tebing Watugunung, mereka juga harus mengahadapi konflik spiritual yang terjadi di masyarakat sekitar.

Peristiwa hilangnya mayat seorang penduduk yang dianggap sakti mengawali kekisruhan antara kelompok masyarakat desa yang masih percaya takhayul dengan kelompok monoteisme. Kelak perihal ini akan dimanfaatkan oleh perusahaan penambang batu kapur setempat untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya.

Kerusuhan kembali terjadi ketika desa mulai diteror oleh sekelompok ninja yang memburu para tetua agama. Meski sudah dicegah, ternyata tetua agama tetap berhasil dibunuh oleh kelompok misterius tersebut. Mayat yang dikubur pun mendadak ikut menghilang, menambah nuansa mencekam di antara penduduk desa.

Lalu, kapan nih dibahas soal tema Bilangan Fu yang jadi judul bukunya?

Pembahasan bilangan Fu ada di dalam pikiran tokoh utama, Yuda, yang sedang memperjuangkan keingintahuan mengenai perihal ini. Berawal dari mimpi, ia merasa bahwa ini adalah bilangan mistis, pertengahan antara nol dan satu, yang akan mengantarnya kepada petualangan dan juga pergulatan pemikiran.

Latar Novel Bilangan Fu

Latar tempat kisah ini kebanyakan di pegunungan karst, Watugunung, lokasi yang menjadi tempat pemanjatan tokoh Yuda dan teman-temannya. Gagasan penulis perihal spiritualisme kritis dimuntahkan lewat tokoh Parang Jati yang idealis.

Saya akui, karakter Parang Jati memang luar biasa dengan kompleksitas pikiran, ia mampu membawa Yuda, sekaligus pembaca untuk banyak merenungi soal definisi benar dan salah dengan berbagai sudut pandang. Bersama pembaca yang juga berevolusi, Yuda pun ikut memperluas pandangan, memahami maksud dari takhayul desa yang selama ini ia anggap bodoh.

"Takhayul memiliki tujuan yang lurus namun tidak jalan yang lurus.
Sedangkan, modernisme memiliki jalan yang lurus tapi tidak tujuan yang lurus."

Seringkali, takhayul adalah alat yang dipakai untuk kepentingan bersama, sedangkan modernisme seringkali dipakai untuk kepentingan individu. Itu adalah penggalan kalimat dari buku ini yang sangat membekas buat saya.

Dengan membaca Bilangan Fu, saya jadi banyak berpikir soal diri yang suka menganggap remeh ritual yang sudah ketinggalan zaman. Padahal ada makna dan maksud, sekaligus fakta yang akan membuat tercengang.

Meski alur novel ini maju mundur, tapi hal ini tidak menggangu plot cerita, justru menambah keasyikan dalam menikmati setiap rentetan kisah yang sudah disusun penulisnya. Kisah masa lalu yang cukup saya suka yaitu ketika penulis menceritakan soal Parang Jati kecil yang mampu menjadi provokator halus sekelompok anak SMP yang sedang dilanda kekesalan.

Tokoh Parang Jati yang sering jadi sentral gagasan dalam buku ini, banyak memberikan paparan atas sudut pandang yang baru dalam menyikapi takhayul. Di mana ada kalanya kita sebagai manusia untuk bisa berperilaku spiritualisme kritis, dengan tetap menghormati budaya lama, dan menahan kebenaran untuk tetap berada di pundak. Karena pada nyatanya, dunia tidak berjalan pada warna hitam dan putih. Terlepas dari setuju atau tidak atas gagasan spiritualisme kritis ini, tak bisa dipungkiri bahwa gagasan ini luar biasa.

Konflik Militerisme

Ini juga jadi poin penting untuk dibahas dalam kisah ini, ketika desa mengalami teror dari sekelompok ninja yang tidak jelas asal-usulnya. Berdasarkan dari kisah yang juga terjadi di Jawa Timur, kelompok ini pun meneror para pemuka masyarakat.

Lewat tokoh Parang Jati yang diciptakan sangat antipati pada militerisme, "Bilangan Fu" menuntun kita pada kecurigaan adanya campur tangan militer dalam peristiwa teror ini. Walaupun tentu saja dalang di baliknya tak terungkap sampai akhir buku.

Setelah membaca ini, saya baru tahu bahwa ini adalah kisah nyata yang terjadi di Banyuwangi pasca runtuhnya orde baru. Meski tentu saja, motif dan pelakunya juga masih jadi misteri sampai sekarang. Dengan membaca fiksi seperti ini, Saya merasa seperti diajak untuk membuka mata pada sejarah negara, bahkan pada kisah yang terburuk sekalipun. Bukankah kita harus paham sejarah agar sejarah yang buruk tidak terulang?

Buat saya Bilangan Fu luar biasa, mencampuradukkan gagasan serta perasaan pembaca. Meski banyak konten sejarahnya, buku ini jauh dari kesan membosankan. Mungkin ini efek dari tokoh Parang Jati yang begitu mempesona, lebih mempesona dibandingkan babang aktor Korea.

Artikel ini pernah diposting di blog Rian Andini pada tanggal 9 Februari 2019 di resensiriri.com

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama