-->

Senin, 08 Januari 2018

author photo
bentar Dibaca

Sebenarnya, liburan Natal kemarin, saya pengen ke Jogja. Alasannya sih deket dan saya engga ada rencana macem-macem selain minggat dari rumah. Kalau ada orang yang tanya, tempat spesifik mana yang pengen saya datengin, saya bakal jawab Goa Pindul. Alasannya, saya pengen main air. Alasan kedua, saya pengen lompat ke air.  Alasan ketiga, saya engga punya jawaban lain selain tempat itu. Tapi Jo—temen satu komunitas di Dimensi Kata—nyaranin kalau sebaiknya saya enggak pergi ke Goa Pindul pas liburan panjang soalnya bakal rame banget. Meminjam istilah Jo, ‘ramenya kayak cendol.’

Waktu itu awal Desember, jadi yang ada di pikiran saya waktu itu hanya Jogja. Dari pembicaraan para begundal di grup Dimensi Kata, akhirnya saya tahu rencana liburan mereka. Saya waktu itu iseng provokasi Jo buat main ke rumah Ahmad Tohari di Jatilawang. Iya, Ahmad Tohari ini penulis favoritnya Jo. Saya enggak nyangka, ajakan iseng diiyakan oleh Jo. Hari itu juga, saya suruh Jo untuk pesan tiket ke Purwokerto tanggal 23 Desember. Saya cari informasi hotel yang murah buat Jo. Saya kabarin Dilla Meyda—temen kami sesama penulis storial—kalau Jo mau main ke Purwokerto. Saya juga langsung nelpon Ahmad Tohari untuk berkunjung ke rumahnya tanggal 24 Desember 2017. Beruntungnya, Beliau ada di rumah hari itu.

Urusan tiket kereta dan hotel buat Jo udah beres, janjian dengan Ahmad Tohari udah selesai. Tapi salah satu kekhawatiran saya waktu itu adalah cuaca. Awal Desember ini, cuaca sedang buruk-buruknya. nyaris hujan terus tiap hari. Kalau sampai hari-H ternyata cuaca enggak bersahabat, mau enggak mau kami harus sewa mobil. Tapi menjelang keberangkatan ke Purwokerto, matahari sedang cerah. Jo sungguh beruntung.

Kami sama-sama berangkat tanggal 23 Desember dan sampai di Purwokerto setelah maghrib, sedangkan Jo sampai ke Purwokerto tanggal 24 Desember dini hari. Jauh-jauh hari, Jo ngabarin saya, katanya mau nginep di stasiun karena waktunya nanggung. Saya iyain aja. Sengaja saya suruh Jo biar dia enggak tidur di boarding room. Alasannya, saya pengen jemput Jo pas subuh, trus motoin dia pas lagi molor, trus share ke grup Dimensi Kata. Tapi rencana saya gagal karena Jo akhirnya nyari hotel di dekat stasiun. Dia enggak bisa tidur karena berisik. Hasyemm!

Tanggal 24 Desember sekitar pukul 07.00 pagi, Dilla line saya, katanya udah siap berangkat. Saya bilang ke dia, Jo masih molor, tapi dia milih berangkat aja. “Ntar kalo kegasikan, saya bablas aja ke Purwokerto,” kata Dilla.

Sekitar jam 08.00 pagi saya jemput Jo. Dia bilang dia nungguin di stasiun. Saya berangkat lewat atas dan menemukan manusia kribo itu ada di depan kuburan, bukan di depan stasiun.  Untungnya saya lewat atas, jadi langsung ketemu.

Sekiar jam 08.30, kami sampai di Gor Satria. Saya ajak Jo sarapan di sana. Baru duduk sebentar, Dilla ngabarin kalau dia sudah sampai di tempat kami janjian. Tapi dasar emang kami belum sarapan, Dilla saya suruh nunggu. Setelah sarapan selesai, saya antar Jo buat ambil manuskrip novel Kembang Kawiasari dan ranselnya, lalu balik lagi untuk ngedrop ke hotelnya Jo yang baru.

Sekitar jam 10.30 siang, baru kami berangkat ke Jatilawang. Ini kali kedua saya berkunjung ke rumah Ahmad Tohari. Pertama kalinya saya datang ke rumahnya tahun 2012 lalu ketika jadi panitia ospek fakultas. `Berbekal ingatan yang seadanya, nanya teman, dan ngecek peta, saya jadi petunjuk jalan Jo yang nyetir di depan.

Di tengah jalan, ponsel saya mati. Saya jadi engga bisa berkomunikasi dengan Dilla lewat line. Akhirnya, di Rawalo, kami berhenti, Jo nanya posisi Dilla di mana. Sesekali kami nanya sama orang kalau nemu persimpangan. Jam 12 kurang sedikit, kami sampai. Dilla udah di depan rumah Pak Tohari. Dia menunggu kami selama dua jam. Selama dua jam pula dia diliatin ibu-ibu di seberang jalan.

Saya senang banget akhirnya bisa ketemu Dilla. Tahun lalu, pas saya masih di Purwokerto, Dilla ngajakin saya ketemu. Tapi waktu itu momennya kurang tepat. Saya baru banget selesai event dan setelahnya musti evaluasi. Dan saat ini, momennya tepat, berada di tempat yang tepat pula. Di teras rumah Ahmad Tohari.

Rumah itu masih sama seperti lima tahun yang lalu. Pohon manggis itu masih di depan rumah dan masih hijau. Kami mengucap salam dan Ibu Tohari menyambut kami duluan. Enggak lama kemudian, Pak Tohari muncul. Wajah ramah dan teduhnya cukup membuat kami senang.

“Saya Tutut, Pak, yang kemarin janji mau ke sini,” kata saya sambil menjabat tangannya, “ini, Jo yang dari Surabaya. Kalau yang ini Meyda, teman kami dari Cilacap.”

Kami berlima duduk di beranda. Jo dan Meyda langsung menyerahkan novel Ronggeng Dukuh Paruk (RDP) untuk ditandatangani. Saya membawa antologi Pencuri Mimpi untuk diberikan kepada Beliau dan menjelaskan sekilas buku itu. Jo juga menyerahkan skripsi ‘Kembang Kawisari’ yang sudah dicetak. Tebalnya 1/2 rim lebih, Sodara-sodara.

“Buku kalian jangan lupa ditandangani, ya,” kata Beliau.
Pengen nangis

Wah, saya surprise sekali. Saya dan Jo langsung menantadangani Pencuri Mimpi dan menyerahkan ke Beliau. Abis itu, Pak Tohari mengajak kami foto bersama. Cekrek, gantian, cekrek gantian. Well, Pak Tohari engga mau diajak selfi.
Maafkan kerudung hamba yang serampangan

Jo dan Meyda paling excited. Saya enggak pernah lihat orang sebahagia itu. Jo kayak anak kecil yang dikasih sepeda setelah bertahun-tahun dipamerin sepeda oleh teman-temannya. Meyda? Well, kayaknya dia capek setelah nungguin kami. Haha.
Dilla, Pak Tohari dan Ibu, dan Jo

Pembicaraan kami berlanjut. Pak Tohari berbicara tentang bahasa Indonesia. Beliau ini sepertinya kesal dengan ulah menteri yang kelakuannya kurang ajar.

“Kenapa musti ‘try out’? Kenapa engga latihan aja?” Beliau terlihat tegas sekali, “Saya waktu itu diundang Jokowi ke istana, saya sampaikan kegelisahan saya tentang kenapa kok banyak masyarakat engga pede menggunakan bahasa Indonesia. Dan Jokowi jiwanya emang luar biasa. Kami diundang untuk didengar pendapatnya.”

Sama seperti pertemuan saya sebelumnya, pendapat Pak Tohari selalu membuat saya merenung panjang. Beliau juga berpesan, bahwa belajar bahasa asing itu penting, tapi jangan lupa pergunakan bahasa Indonesia dengan baik.

Kami bertiga mendengarkan dengan baik, kadang sesekali menimpali sembari tertawa. Percayalah, entah sudah berapa kali saya bertemu dengannya, sampai sekarang saya masih takjub mendengar pemikirannya.

Waktu itu adzan dhuhur berkumandang. Pak Tohari izin untuk sholat Dhuhur. Saya dan Meyda hari ini kompakan dapet bulanan, jadilah kami berempat (bersama Bu Tohari) masih tetap di beranda. Dari pembicaraan kecil ini pula saya tahu kalau Bu Tohari adalah orang pertama yang membaca tulisan suaminya sebelum diserahkan ke penerbit atau koran. Wah, saya takjub. Selama ini saya malu kalau tulisan saya dibaca keluarga saya. Hehe.
Foto di depan perpustakaan Ahmad Tohari. Maaf kami norak


Beberapa menit kemudian, Pak Tohari selesai sholat dhuhur. Dan, tempat ngobrol kami pindah ke ruang makan. Iya, kami diajak makan siang. Suatu kehormatan sekali bisa makan siang bersama.
“Makan dulu seadanya. Adanya kayak gini. Kami enggak pernah mengada-ngada, bahkan kalau presiden pun yang datang ke rumah ini,” katanya, “mumpung masih muda, makan yang banyak. Kalau saya sudah enggak bisa makan banyak. Saya kena diabet,”

Saya sempat sedih mendengarnya. Pelan-pelan, saat saya menyuapkan nasi ke mulut, saya berdoa banyak-banyak, biar Pak Tohari dan keluarganya selalu sehat.

Dan di ruang makan ini, obrolan kami berlanjut. Kali ini kami membahas novel-novelnya. Mulai dari Ronggeng Dukuh Paruh sampai Kubah. Beliau bercerita tentang bagaimana proses membuat tulisan yang bagus. Menurut Beliau, tulisan yang bagus perlu latihan, enggak instan.

 “Kalau kalian ingin tulisan kalian bagus, konsepnya ada tiga; baik, benar dan anggun. Untuk baik dan benar ini gampang, untuk menjadi anggun, ini yang perlu proses, katanya. “Saya banyak belajar dari tulisan-tulisan Gunawan Muhammad, Mochtar Lubis. Saya pelajari bagaimana tulisannya bisa sebagus itu,”

Kami bertiga menimpali dengan beberapa penggalan novel karya Beliau. Sejauh ini, saya masih takjub dengan deskripsi, ‘Pohon yang kena hujan itu seperti perawan mandi basah’. Ketika saya menunjukkan kalimat ini, Beliau langsung berkata, “kalau itu dari Bekisar Merah.”

Saya tertawa. Saya pikir Beliau bakalan lupa.

Setelah makan selesai, kami kembali lagi ke beranda depan. Pembicaraan masih berlanjut. Kami diberi wejangan banyak untuk terus menulis. Beliau menyarankan kalau bisa nulis pake aliran realis. "Sebenarnya tidak masalah nulis pake aliran lain seperti surealis, tapi kalau semua penulis muda menulis seperti itu, lalu siapa yang akan menuliskan hal-hal di dekat kita?" Beliau juga menceritakan tentang kesedihannya tentang rendahnya minat literasi di Indonesa. Menurut Beliau, negara akan bermartabat ketika masyarakatnya banyak membaca buku. Mendengar penuturannya, saya jadi ingat lunturnya impian saya untuk membuat taman bacaan di rumah semasa SMA dulu.

Kami diberi semangat untuk tetap menulis. Bahkan ketika Jo memberikan ‘skripsi’nya itu, Beliau menerima dengan senang hati.

“Iya, nanti akan saya coba baca. Setelah saya analisis, saya akan kasih endorsment.”

Jo senang sekali. Tapi sayangnya pertemuan ini harus kami sudahi. Hampir pukul dua siang. Kami bertiga sempat diskusi mau ke mana sebelum akhirnya memutuskan untuk ke Bendungan Serayu.
“Mas Yohanes mainlah ke Baturaden. Tempatnya bagus,” kata Pak Tohari.

“Baik, Pak.” Jawab Jo.

Kami bertiga pamit. Arah mata angin membawa saya ke Rawalo, tepatnya di Bendungan Serayu. Di sana ngapain? Tentu saja gosip. Haha


Purwokerto-Kebumen 2018




1 comments:

avatar
Unknown delete 9 Januari 2018 08.45

Aku setuju, bahasa Indonesia bagaimana pun rasa dan rupanya, ia tetaplah Ibu kita.
Kita tidak bisa memilih seorang Ibu atau menggantikannya, tapi kita bisa membuatnya bangga, serta kita bisa berbangga hati karena lahir olehnya.

Reply


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
This Is The Oldest Page