Langsung ke konten utama

23:49- 04:53

Clock by Svetlana Sewell


23:49
Bram tiba-tiba bangun, padahal baru sekitar dua jam yang lalu matanya berat, lelap lenyap. Kesadarannya terseret, dipaksa masuk dan terjebak di dunia tempat Freddy Krueger—si jelek keriputan yang doyan menclok di lampu merah, mengganggu orang buta tak berdaya dengan cakar besi hadiah natalan dari santa sebelum dia tercatat sebagai anak bandel dari tahun ke tahun—berada.  Mungkin.

Bram bangkit, merayap mencari minum, menyalakan rokok lalu berjalan malas ke kamar mandi.

Hujan masih berjatuhan riang di tanah terkutuk sekitar, dibungkus gelap dan dingin yang tak peduli. Saat ini tempat kos-kosan 3x4 Bram bagai antartika berdebu yang penuh dengan tikus kutub dan kecoa kutub. Temannya, Anoa Kutub sedang pulang ke rumah yang jaraknya hanya satu setengah jam menggunakan motor. HOMSWITHOM. Ia mudik rutin dua kali seminggu untuk sekedar menyetor durja dan mengabarkan bahwa dia layak disebut ‘masih hidup’ oleh ibunya yang over protective. Atau mungkin ibunya hanya ingin menunjukan kekuasaanya masih berlaku pada rumah dan penghuninya, karena kadang ibunya membuat peraturan tak penting dan semua keturunannya harus patuh begitu juga dengan Bapak Anoa Kutub. O, Mamak Anoa Kutub. Betapa gila dunia dan rantai perkembangbiakannya.

Memang saat ini sedang musim hujan, Bram (sungguh nama ini seperti penjahat kelas menengah ke bawah di zaman Barry Prima masih ganteng dan ikhlas memberantas kejahatan) sendirian sekarang. Itu kalau penyakit flu yang sedang memeluknya tidak dihitung, kasur dosa tipis merahnya, kecoa kutub yang disebut di atas, dan tikus kutub pengecut yang saban kali menunjukan eksistensinya di tempat tinggal sewaan terkutuknya itu. Sebut saja begini keadaannya: Bram sakit, sendirian, musim hujan, ruangan petakan sempit yang berdebu, dan dia harus bangun di tengah malam gila. Indahnya.

Ya, Bramono (akhirnya nama versi panjang yang masuk akal ketemu) kesepian, dan harus menyadarinya. Hal itu yang membuatnya lebih merasa mati: kesepian.

Halo malam yang panjang.

Dia berdiri menyalakan rokok lain, beringsut membuat segelas susu lalu duduk kembali di pojokan ruang. Rokok disesap dalam-dalam sambil tangan lainnya menggenggam segelas susu dingin: tak ada air panas karena dispenser rusak. Lalu gelas susu diletakan di lantai, dan headset menyumpal telinganya, menjejalinya dengan lagu-lagu sendu, rapuh, ngajak mampus. Dia ingin menikmati keadaan itu, sangat. Seperti berwisata sebentar ke firdaus dan bebas merokok di dalamnya. Itu pun kalau surga tidak ber-AC atau di sana ada pengeras suara besar yang mendendangkan sealbum tembang Ungu.

Bram sekarang-sekarang sedang dan selalu merasa iri kalau temannya si Engkus (nama aslinya Markus, si Anoa kutub itu) bilang mau pulang ke rumahnya. Sedikit meringis memikirkan itu; hangatnya rumah, orang-orang dekat yang peduli dan kamar pribadi yang bau pesing dan baju kotor dengan tempelan poster-poster norak menempel di dinding.

Empat tahun Bram mencoba mematikan arti keluarga, menenggelamkannya dalam gelas plastik penuh anggur murahan di pinggiran jalan, di antara kerinduan kepada keluarga dan bau mulut teman yang muntah dengan setan menduduki kepalanya. Apalagi kalau bulan puasa datang, misal sewaktu Lelaki Kesepian itu sendirian mencari makanan buat sahur, lalu melewati rumah yang ramai, yang penghuninya sedang menyiapkan santap sahur. Di rumah itu pasti ada anak kecil yang pura-pura mati ketika dibangunkan sama mamak-nya, bapak yg terkantuk sehabis ngeronda - atau pembantu yang menguap panjang di dapur sambil memikirkan THR. Mereka berkumpul dalam satu meja penuh kasih sayang dan juga rasa ngantuk. Tikus dan kecoa di rumah itu pasti lebih sehat, bahagia, sejahtera, lebih higienis dan bergizi dibandingkan dengan tikus dan kecoa yang ada di kosannya pikir Bram sambil meringis.

Datang waktu buka puasa, sama saja. Bram lebih sering sendirian untuk makan gorengan kolesterol tingkat tinggi murahan. Jelantah penyakitan itu lumer ke pojok-pojok jantung yang berat dan lambat memompa darah, dialirkan ke seluruh tubuh dan otak dengan membawa pesan perdamaian untuk menenangkan perasaan lapar dan ketiadaan. Tapi tetap saja dadanya sakit, pengap dan kadang membuat lapar tak berani menantang perutnya lagi. Setidaknya, nikotin lebih leluasa ikut teralirkan oleh darah waktu itu, pikirnya.

Dulu pernah hampir satu tahun- sewaktu dia tak mempunyai uang lebih untuk ngekos dan harus tidur di tempat kerjaannya- Bram tidur hanya dialasi kardus. Hanya kardus selembar tanpa bantal, tanpa selimut, apalagi memeluk guling atau boneka babi. Imbasnya dia sukses sering masuk angin, sering bangun di tengah malam hampir pagi lalu ngerokin punggung sendiri pake Ponds pelembab. Kerokan yang elit, nyiksa dan tak berguna. Sebelum tidur lagi dia menerka-nerka harga hand body yang paling murah untuk mengganti ponds pelembab pendongkrak pede yg tadi terpaksa nyasar ke punggung.

Dari Ponds itu ketahuan, Bram ingin ganteng, bukan ingin tak masuk angin.

Tapi waktu itu dia tak peduli, tak bertemankan sepi seperti sekarang, padahal dulu keadaannya lebih memalukan. Mungkin karena dia baru saja menginjakkan sepatu murahannya di kota metrofullsetan, kota yang panas dengan aroma individualistis yang menyengat. Dia masih merasa bangga, bisa lepas dan pergi dari kutukan kampung halamannya. Bram dungu waktu itu percaya kalau orang yang mau merasakan (bukan menemukan) arti hidup haruslah mampir atau mati di sini, di kota metrofullsetan.

Bram berbekal keyakinan bahwa orang Jawa (Jawa Tengah) memang harus tahan gores, tahan di mana saja, tahan di empat musim(Musim Bebas Beternak, Musim Pengamen Maksa, Musim Razia PSK, Musim FPI, mungkin). Sedikit bangga mengingat bapaknya adalah keturunan Jawa, sedangkan ibunya keturunan orang sunda. Orang sunda yang katanya pemalas, sopan, adem ayem, 'nurut wae', 'tuturut munding', dan tidak akan tahan lama-lama di negeri orang. Coba culik orang sunda ke Mars, mereka pasti tetap bisa pulang.

02:47
Rokok habis susu putih habis, Bram masih kesepian dan sekarang bercampur kelaparan.

Dia raih lagi ponsel jadulnya yang sekarang sedang memutarkan Incubus I Miss U - lagu cengeng kesukaan yang meneriakan aku rindu kamu-aku rindu kamu di reffnya- membikin mual di otak saja sebenarnya. Lalu suara Kurt terdengar dengan lagunya 'Lithium'. Pemuda pesakitan itu lantas berpikir: andai dia bisa mencuri atau sekedar meminjam 'boddah' dini hari ini dari vokalis Nirvana itu, mungkin boddah bisa menemaninya tidur, mungkin tak sedingin dan tak sesepi ini dan sejuta mungkin yang lainnya. Tapi dia tidak akan berbuat bodoh untuk tidur telanjang bersama mahluk yang tak diketahui bentuk hidungnya itu.


04:53
Bram tak peduli dan pasrah menutup mata di atas kasur merah tipis bau dosa dengan lalu lintas kecoa di sampingnya. Tak lama, dengan napas terengah, Bram berusaha lari dari kejaran Freddy Krueger dan si Boddah yang telanjang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Thor dan Manis Pahitnya Perjuangan di Wattpad

Halo Thor di sini—bukan! Siapa saya? Tidak penting. Yang penting pembahasan saya mengenai dunia jingga yang terkenal bin fenomenal. Siapa lagi kalau bukan Wattpad. Menurut akun Wattpad Indonesia (@Indonesia) diperkirakan jumlah penggunanya ada jutaan. Gak percaya, nih tengok pernyataannya:
Kau, kau bayangin sajalah, gimana rasanya berkubang dengan jutaan kepala dalam satu situs. Menyesakkan? Menyebalkan? Atau malah bikin ketombe di kepala makin bertambah?
Waktu pertama kali nyemplung di wattpad, saya langsung merasa minder dengan akun-akun yang pengikutnya (atau bahasa kerennya followers) mencapai ratusan ribu. Bahkan banyak buku yang bertebaran tertancap views sekian juta. Wow sekali. Saya takjub. Betapa besarnya massa yang bisa didapatkan di wattpad.
Tapi besarnya kuantitas tidak serta merta memajukan kualitas. Banyak buku yang—katakanlah jutaan views—tadi menyalahi aturan tata bahasa, tanda baca, dan tanda-tanda alam lainnya. Alias berantakan. Meski begitu, pembaca mereka tetap kelapa…

Pencuri Mimpi, Ahmad Tohari dan Mimpi-mimpi

Sebenarnya, liburan Natal kemarin, saya pengen ke Jogja. Alasannya sih deket dan saya engga ada rencana macem-macem selain minggat dari rumah. Kalau ada orang yang tanya, tempat spesifik mana yang pengen saya datengin, saya bakal jawab Goa Pindul. Alasannya, saya pengen main air. Alasan kedua, saya pengen lompat ke air.  Alasan ketiga, saya engga punya jawaban lain selain tempat itu. Tapi Jo—temen satu komunitas di Dimensi Kata—nyaranin kalau sebaiknya saya enggak pergi ke Goa Pindul pas liburan panjang soalnya bakal rame banget. Meminjam istilah Jo, ‘ramenya kayak cendol.’
Waktu itu awal Desember, jadi yang ada di pikiran saya waktu itu hanya Jogja. Dari pembicaraan para begundal di grup Dimensi Kata, akhirnya saya tahu rencana liburan mereka. Saya waktu itu iseng provokasi Jo buat main ke rumah Ahmad Tohari di Jatilawang. Iya, Ahmad Tohari ini penulis favoritnya Jo. Saya enggak nyangka, ajakan iseng diiyakan oleh Jo. Hari itu juga, saya suruh Jo untuk pesan tiket ke Purwokerto tan…

SABDA

Sabda


Sabda namaku. Gadis dengan lidah kelu. Sudah takdir setiap kata yang harusnya kuucap, kutarikan dengan gerak tangan yang gemulai, dengan sorot mata yang mengikuti setiap kata, mengeja sunyi pada pusaran waktu yang terasa panjang.
Sabda bermakna kata atau ucapan, nenek memberikannya pada hari.dimana seorang perempuan bernama Lastri berjuang. Meletakkan nyawa di atas altar takdir. Namun Tuhan menyayangi perempuan yang harusnya kupanggil ibu, dan mengundangnya pada jamuan makan malam. Mengandeng tangan Ibu mengajaknya menuju nirwana. Tangisku pun pecah ketika tak kutemukan setetes air susu pada sesap pertama. Lalu diam menjadi serenada panjang yang menemani usiaku.
Tak pernah kutahu bunyi hujan atau suara piring yang jatuh. Entah berdentum atau berdesing. Semua hanya sunyi yang bergerak. Suara nenekpun tak terdengar, aku hanya bisa membaca bibirnya yang bergerak. Kuikuti rimanya karena satu jawab saja  tak pernah bisa kulepas. Mengendap di hati dan tercekat di tenggorokan. Akulah …