Langsung ke konten utama

Resep Cupcake Sederhana Tanpa Dilan

Ini bukan Dilan yang romantis, yang membuat jantung hati dedek gemes ketar-ketir. Bukan pula Romeo yang rela menenggak racun demi Juliet, atau Jack yang bersedia kedinginan dan tenggelam demi keselamatan Rose. Ini hanya buku sederhana berjudul Monyet Cokelat.

Monyet Cokelat - Shin Elqi

Buku ini saya tulis sekitar satu tahun lalu, demi mengikuti sebuah lomba, dan kalah dengan cara yang tak saya pahami. Dan demi rayap-rayap yang suka sekali menggerogoti draf di folder-folder lama. Saya menyelamatkannya dari situasi dimakan hidup-hidup dan memindahkannya ke Google Play Books.
Berikut cuplikan 14+1 kisah yang berada di buku tersebut:

1. Monyet Cokelat.

Untuk pertama kali dalam hidupnya Adhy ingin jadi monyet. Bukan karena ia sudah bosan hidup jadi manusia, atau hendak menjadi bukti terbalik dari teori evolusi yang pernah dikemukakan oleh Darwin. Pun ia tidak sedang dirasuki oleh makhluk gaib, atau pernah diculik alien yang mengubah susunan syarafnya untuk sebuah eksperimen. Alasan dirinya ingin jadi monyet cukup sederhana. Qia menyukai binatang itu.

2. Bilangan Bulat.

"Rasa alami, murni, jujur," kata Dikta.
"Apapun makanan yang telah diolah, semuanya berasal dari bahan-bahan yang berbeda. Baik bentuk dan rasa awalnya. Seperti cupcake stroberi tadi. Ia berasal dari berbagai bahan, seperti: gula tepung, margarin, telur, selai stroberi, maizena, baking powder, vanila, butter cream, dan bahan lainnya. Tapi buah ceri di atasnya, rasa manis dan aromanya, serta rasa khas yang ia miliki berasal dari dirinya sendiri. Mungkin, segala sesuatu itu berasal dari berbagai hal, tapi di akhir, aku ingin mendapatkan rasa yang alami, murni, dan jujur. Di kehidupan pun, aku ingin seperti itu."

3. Aritmetika.

Di sisi lain, Nuri merasa Satria merencanakan sesuatu seperti yang dilakukan oleh Irwan dulu, ketika mereka masih kelas satu. Cowok berkacamata yang tahun ini jadi salah satu anggota OSIS itu menggunakan jasa Kotak Cinta untuk menembak Ira. Meski tidak tahu siapa target Satria, tapi Nuri merasakan kesedihan kecil di hatinya. Ia akan kehilangan satu teman lagi. Mungkin tidak tepat dibilang kehilangan. Ia masih bisa bersama Ira, melakukan sesuatu seperti yang biasa dilakukan dua sahabat, hanya saja waktunya jauh lebih sedikit, tidak seperti ketika tidak ada kata pacar di obrolan mereka. Sekarang, ia juga harus kehilangan setengah waktunya bersama Satria, teman baru yang ia dapat.

4. Interval.

"Kamu jadian dengan Krisna?"
Pertanyaan yang membuat Thiza sadar akan sesuatu. Ia sangat suka berada di samping Krisna, seperti ia berada di samping Lisa, karena ia bisa jadi dirinya sendiri. Namun, Krisna dan Lisa berbeda meski sama-sama bisa disebut teman. Hingga pada akhirnya ia menemukan perbedaan yang lain.

5. Lumer.

Ketika sahabatnya berharap tanggal 14 segera datang, Hayati ingin tanggal itu menghilang. Serupa satu tahun yang lalu, dua tahun yang lalu, dan tahun-tahun yang telah berlalu. Apa bedanya tanggal 14—menurut remaja kebanyakan sebagai tanggal istimewa—di bulan Februari tersebut dengan tanggal-tanggal yang lain. Hari-hari yang lain. Setiap orang bisa menyatakan cintanya di setiap waktu. Di setiap kesempatan. Tak harus menunggu hari yang berasal dari sejarah kelam tersebut.

6. Genggaman Tangan.

Dua musim telah kita lewati dengan bergandengan tangan. Aku masih ingat saat pertama kali kau merentangkan tangan yang gemetar itu padaku, dengan wajah memerah, dan pandangan mata menjelajah kerikil di depan kelas, rerumputan, atau lantai marmer.
Mata itu tidak sanggup memandangku, sebagaimana dulu ketika kita adalah seorang teman. Dan kulihat bibirmu tertutup setelah mengatakan ingin menggandengku dengan rasa berbeda. Bukan seorang teman lagi, tapi sepasang kekasih.

7. Tali Jodoh.

"Kenangan hanya cukup di dalam ingatan dan hati. Kalau menempatkannya di suatu barang, kelak kenangan itu akan menyakitimu," katanya ketika aku bertanya kenapa ia melakukan hal itu.
Aku masih bisa melihat kesedihan di mata Ibu. Kakek adalah ayahnya. Orang tua terakhir yang meninggalkan dirinya, setelah Nenek satu tahun yang lalu. Sekarang keluarga yang ia punya hanyalah keluarga yang ia bangun bersama Ayah.

8. Sekotak Cinta.

Ketika Ika membuka pintu rumah, ia melihat wajah Dewi yang cerah dengan senyum yang meliuk indah di bibir sahabatnya tersebut.
"Aku sedang jatuh cinta," kata Dewi.
Ika tidak bisa untuk tidak merasa senang. Sebulan yang lalu Dewi datang ke rumahnya dengan wajah sedih, dan bekas air mata di pipi.
"Aku diputusin," katanya waktu itu.
Bagaimana waktu bisa mengubah kesedihan itu menjadi kebahagian seperti sekarang ini, sungguh sulit untuk dipahami.

9. Rainbow.

"Kau sedang apa?"
"Melihat pelangi," jawab gadis itu tanpa mau repot-repot membuka matanya.
Erwin melihat langit yang mendung. Tidak ada pelangi di sudut mana pun.
"Kau mungkin sedang melihat langit sekarang," kata gadis itu lagi. "Mencari-cari di mana pelangi yang kumaksud, tapi tak menemukannya."
Erwin mengangguk.
"Pelangi yang kulihat berada di sana." Gadis tersebut kini membuka matanya seraya menunjuk langit. "Kau hanya bisa melihatnya dengan menggunakan imajinasi."

10. Gaun Merah Sederhana.

Vita mulai merasa warna merah tidak cocok dengan warna kulitnya yang kuning langsat. Warna itu hanya cocok untuk kulit putih, seperti milik Mei. Tapi dirinya sudah terlanjur berada di rumah, setelah sebelumya memilah-milah puluhan gaun dengan warna berbeda di toko Tante Lastri. Hingga akhirnya ia menjatuhkan pilihannya pada gaun merah tersebut.

11. Bunga dan Cokelat.

"Perempuan secantik Kakak, masa tak punya pacar?"
Kau akan terkejut saat tahu pertanyaan itu diajukan oleh anak laki-laki yang belum genap sepuluh tahun. Ia pun menuduh aku berbohong. Aku ingin sekali mengatakan padanya bahwa sekarang aku sedang dalam perjalanan untuk menemuimu. Namun, aku masih ingin melihat wajah curiganya yang lucu itu. Wajah yang mengingatkan diriku padamu tujuh belas tahun lalu, ketika aku hendak ikut bermain bola di tanah lapang Pak Usman.

12. Goresan Rasa.

Anehnya, Santi mulai merasa kesepian. Tak ada lagi Kevin yang kadang menunggunya di depan gerbang, baik saat pagi hari atau jam pulang. Tak ada lagi Kevin yang membayari makanannya, memberi bunga, cokelat, dan mengirimi pesan yang selalu mendoakan yang terbaik untuk dirinya. Santi tiba-tiba merasa rindu dengan cowok menyebalkan itu.

13. Reuni Hati.

Jika Rita harus menyebut siapa dari teman kelasnya yang tidak berubah setelah sepuluh tahun, ia akan mengatakan Ratna.
Ia memang harus mengakui bahwa Ratna masih Ratna yang dulu. Rambutnya masih dipotong sebahu, tubuhnya masih ramping, kacamata masih setia bertengger di atas hidungnya, dan wajah itu tidak ada yang berubah, kecuali aura kedewasaan yang terpancar dari sana. Padahal teman kelasnya itu telah menikah selama tujuh tahun, dan melahirkan dua anak. Namun masih terlihat seperti gadis umur belasan.

14. Hati yang Terbalut.

Kenapa pacar tidak seperti teman? Kenapa ia mudah lepas dari tangan, sementara teman selalu tergenggam apa pun yang terjadi? Kalau begitu, lebih baik ia pacaran dengan seorang teman saja.


Bonus:

15. Gadis Bola Basket.

Lagu milik AKB48 yang keluar dari radio tua dekat jendela berhenti tepat ketika pintu ruangan terbuka. Gadis berambut panjang muncul sambil melihat ke dalam, dan tampak kecewa saat tidak melihat apa yang ia cari, tetapi ia tetap masuk. Sementara radio tua itu mulai mengalirkan lagu baru: Kizuitara Kataomoi (saat kusadar ini cinta bertepuk sebelah tangan) dari Nogizaka46.

Bunga dan Cokelat - Shin Elqi

Cerpen Bonus tak ada hubungannya dengan cokelat atau romantisme, tapi tetap ada unsur romansa di dalamnya. Walau lagi-lagi, berbeda dengan 14 cerpen yang sudah ada. Bisa dikatakan, ini adalah penawar dari manis-pahitnya cerpen yang sudah hadir terlebih dahulu. Atau racun yang akan mengisap semua kenangan manis itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Thor dan Manis Pahitnya Perjuangan di Wattpad

Halo Thor di sini—bukan! Siapa saya? Tidak penting. Yang penting pembahasan saya mengenai dunia jingga yang terkenal bin fenomenal. Siapa lagi kalau bukan Wattpad. Menurut akun Wattpad Indonesia (@Indonesia) diperkirakan jumlah penggunanya ada jutaan. Gak percaya, nih tengok pernyataannya:
Kau, kau bayangin sajalah, gimana rasanya berkubang dengan jutaan kepala dalam satu situs. Menyesakkan? Menyebalkan? Atau malah bikin ketombe di kepala makin bertambah?
Waktu pertama kali nyemplung di wattpad, saya langsung merasa minder dengan akun-akun yang pengikutnya (atau bahasa kerennya followers) mencapai ratusan ribu. Bahkan banyak buku yang bertebaran tertancap views sekian juta. Wow sekali. Saya takjub. Betapa besarnya massa yang bisa didapatkan di wattpad.
Tapi besarnya kuantitas tidak serta merta memajukan kualitas. Banyak buku yang—katakanlah jutaan views—tadi menyalahi aturan tata bahasa, tanda baca, dan tanda-tanda alam lainnya. Alias berantakan. Meski begitu, pembaca mereka tetap kelapa…

[Mini Review] Novel Karung Nyawa

Karung Nyawa adalah novel horor-misteri lokal yang digarap dengan apik oleh Haditha. Tak main-main dengan konsep lokal yang diusungnya, bahkan penamaan bab pun menggunakan ejaan hitungan Jawa.  Dialog-dialognya kental dengan bahasa Jawa logat sehari-hari, renyah, tapi juga langsung tembus ke masalah, jadi ngalir banget. 
Berikut ini adalah kesanku setelah membaca Karung Nyawa karya Haditha.

Pencuri Mimpi, Ahmad Tohari dan Mimpi-mimpi

Sebenarnya, liburan Natal kemarin, saya pengen ke Jogja. Alasannya sih deket dan saya engga ada rencana macem-macem selain minggat dari rumah. Kalau ada orang yang tanya, tempat spesifik mana yang pengen saya datengin, saya bakal jawab Goa Pindul. Alasannya, saya pengen main air. Alasan kedua, saya pengen lompat ke air.  Alasan ketiga, saya engga punya jawaban lain selain tempat itu. Tapi Jo—temen satu komunitas di Dimensi Kata—nyaranin kalau sebaiknya saya enggak pergi ke Goa Pindul pas liburan panjang soalnya bakal rame banget. Meminjam istilah Jo, ‘ramenya kayak cendol.’
Waktu itu awal Desember, jadi yang ada di pikiran saya waktu itu hanya Jogja. Dari pembicaraan para begundal di grup Dimensi Kata, akhirnya saya tahu rencana liburan mereka. Saya waktu itu iseng provokasi Jo buat main ke rumah Ahmad Tohari di Jatilawang. Iya, Ahmad Tohari ini penulis favoritnya Jo. Saya enggak nyangka, ajakan iseng diiyakan oleh Jo. Hari itu juga, saya suruh Jo untuk pesan tiket ke Purwokerto tan…